
Daniel beranjak dari duduknya di ikuti oleh Biao dari belakang. Kali ini ia ingin mengemudi mobil seorang diri, Daniel menyuruh Biao untuk tidak mengikutinya kembalinya ke rumah sakit. Satu permintaan yang tidak mudah untuk di patuhi oleh Biao.
Sepanjang lorong kantor sudah terlihat tidak berpenghuni, seluruh karyawan S.G.Group sudah menghentikan aktifitas pekerjaan mereka untuk kembali pulang ke rumah. Daniel masih berjalan cepat menuju ke arah parkiran mobil, di beberapa titik Daniel menemui security yang bertugas untuk menjaga keamanan kantor pada malam hari.
Meskipun saat ini Daniel dan Biao berada di mobil yang berbeda, namun laju kedua mobil itu masih beriringan. Mobil Biao masih berada di belakang mobil Daniel. Hati Biao akan terasa tenang saat ia sudah memastikan kalau Daniel sampai ke rumah sakit dengan selamat.
“Kau memang keras kepala Biao!” gumam Daniel dalam hati saat melihat keberadaan Biao dari balik kaca spion.
“Maafkan saya tuan, tapi saya tidak akan pulang ke rumah jika anda tidak pulang!” gumam Biao yang seolah mengerti isi hati Daniel.
Beberapa menit kemudian, mobil Daniel sudah tiba di parkiran rumah sakit. Biao juga baru tiba di parkiran yang sama dengan Daniel saat itu. Senyum kecil dari bibir Daniel menyambut kehadiran Biao yang terlihat berlari cepat untuk menghampirinya.
“Kau tau Biao, hukuman apa yang akan aku berikan jika aku melihat satu orang pembangkang seperti dirimu ada di hadapanku!” ancam Daniel dengan tatapan tajam pada Biao.
“Saya siap menerima hukuman itu tuan, selama saya masih bisa berada di samping anda.” jawab Biao yang sudah pasrah dengan hukuman yang akan segera ia dapatkan.
Daniel hanya diam tanpa ingin berkata-kata lagi, kakinya kembali ia langkahkan untuk menuju ke sebuah ruangan yang menjadi tempat istirahat Serena selama ini. Biao juga kembali mengikuti langkah Daniel dari belakang.
Beberapa pengawal terlihat berbaris rapi di depan kamar Serena, melihat kedatangan Daniel semua tertunduk hormat secara serentak. Tanpa memperdulikan para pengawal itu, Daniel menarik handle pintu dan mendorongnya secara perlahan.
Matanya terbelalak kaget saat melihat tuan dan Ny. Edritz sudah duduk manis, tepat di hadapan Serena yang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
“Daniel, kau sudah pulang sayang.” sapa Ny.Edritz yang beranjak dari duduknya.
“Mama disini juga, apa mama sudah lama berada di sini?” melangkah perlahan mendekat ke arah sebuah sofa di ikuti Biao dari belakang.
“Mama sudah lama menemani Serena, mama senang sekali bisa melihat Serena kembali membuka mata.” menatap Serena dengan penuh kasih.
Daniel hanya diam tanpa mau banyak bicara dengan sang ibunda, hatinya sudah tidak sama seperti dulu lagi. Perasaan kecewa masih membekas, sebelum ia berhasil menemukan kebenaran tentang Serena.
Serena hanya memandang diam melihat kedatangan Daniel, hatinya mulai bertanya-tanya dengan kejanggalan yang selama ini belum sempat untuk ia tanyakan kembali.
“Dimana Tama? Aku tidak pernah melihat Tama lagi. Apa dia bertugas di luar kota?” satu pertanyaan yang mengalihkan pandangan semua orang ke arah Serena.
Merasa ada yang salah dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, Serena hanya tertunduk dalam menatap ke arah selimut yang kini menutupi sebagian tubuhnya dari rasa dingin.
“Kenapa mereka memandangku dengan tatapan seperti itu.” batin Serena.
“Sayang, apa kau tidak tau. Apa yang telah terjadi pada Tama?” tanya Ny. Edritz yang ingin menjawab pertanyaan Serena.
Serena hanya menggeleng pelan, memang sejak Serena sadar. Tama tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Pengawal yang selalu berada di samping Daniel, hanya Biao.
“Tama sudah meninggal sayang….” ucap Ny. Edritz pelan.
Mata Serena terbelalak kaget, hatinya dipenuhi rasa kehilangan yang amat dalam. Semua kenangan yang pernah ia lalui dengan Tama, tiba-tiba muncul seperti sebuah film yang sedang berputar di dalam pikirannya. Serena kembali meneteskan buliran air mata atas rasa kehilangannya yang amat dalam.
“Apa yang terjadi ma? Kenapa Tama harus pergi secepat itu?” tanya Serena lagi dengan suara yang semangkin lirih.
“Kau baru saja sembuh Serena, jangan terlalu memikirkan masalah yang terlalu berat.” gumam Ny. Edritz yang mencoba untuk menenangkan pikiran Serena.
Daniel dan Biao hanya bisa diam tanpa mampu mengeluarkan satu katapun. Tangis Serena malam ini, kembali mengingatkan mereka pada Tama. Rasa rindu yang teramat dalam, memang selalu saja muncul di hati keduanya. Namun, semua itu sudah terbayar atas kepergian Arion yang menyusul Tama saat itu.
Tuan Edritz terlihat memandang Daniel yang masih terduduk di atas sofa, satu kata maaf ingin segera ia ucapkan untuk kembali merebut hati anak semata wayangnya itu. Namun keberanian belum juga muncul di dalam diri tuan Edritz. Rasa bersalahnya begitu dalam, karena secara terang-terangan ia menggagalkan rencana Daniel untuk membongkar masa lalu Serena.
“Biao, sebaiknya kau pulang bersama Diva!” perintah Daniel, yang masih tidak mau kalah dengan Biao.
“Tapi tuan, saya…” ucapannya terhenti, saat pandangan tajam Daniel mengarah pada dirinya detik itu juga. “Baik tuan, saya akan pulang bersama Diva.” memandang ke arah Diva untuk memberi satu perintah.
“Saya pulang dulu nona.” ucap Diva pelan sambil berlalu menghampiri Biao.
“Saya permisi tuan.” pamit Biao memberi hormat pada Daniel.
Daniel hanya mengangguk pelan, sebelum akhirnya ia mencoba untuk menyandarkan kepalanya pada sebuah sofa yang kini ia duduki.
“Maafkan mama Daniel, kau pasti sangat kecewa pada mama dan papa.” batin Ny.Edritz sedih.
“Ma…” sapa Serena pelan.
“Iya sayang!”
“Mama tidak pulang? Udah malam.” melihat ke arah jam dinding yang terletak di hadapannya.
“Iya sayang, mama dan papa juga mau pulang. Cepat sembuh ya sayang.” ucap Ny. Edritz dengan memberi satu pelukan hangat kepada Serena.
“Iya ma, hati-hati ya ma…pa…” melepas pelukan Ny. Edritz.
“Cepat sembuh Serena!” ucap tuan Edritz pelan, tuan Edritz kembali melirik ke arah Daniel yang sudah memejamkan mata. “Maafkan papa Daniel, papa akan menjelaskan semuanya. Jika waktunya sudah tepat!” gumamnya dalam hati sambil berlalu pergi.
Kamar yang tadi ramai, kini kembali terasa sunyi. Hanya ada Daniel dan Serena di dalamnya. Detik jam yang terpajang di dinding menjadi satu irama khas yang kini harus mereka dengarkan. Dari kejauhan, Serena menatap Daniel dengan teliti. Ingin sekali ia turun dari ranjangnya untuk memberi selimut pada tubuh Daniel yang terlihat sudah terlelap. Namun, luka tembakan itu masih terasa sakit tiap kali ia berusaha untuk melakukannya.
“Kau pasti sangat lelah Daniel, maafkan aku karena membuat satu kekacauan yang menyita banyak waktu berhargamu!” batin Serena yang melirik sebentar ke arah Daniel, sebelum ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Hari yang melelahkan telah dilalui semua orang hari ini. Malam menjadikan waktu untuk melampiaskan rasa lelah yang sudah tertumpuk sejak pagi. Mata yang berat memudahkan pemiliknya untuk segera berada di alam mimpi.
*
**
***
Senengnya bisa kasih 3 Bab buat reader tercinta❤.
Like, komen dan pastikan sudah di jadikan favorit ya.
Kalo minta satu ge boleh gk?
Vote ya readers....
***
**
*
.
.
.
Ada yang kepo sama judul bab selanjutnya.???
Author bisikin sedikit ya.
Bab 64 judulnya "Kunjungan Mr. X".
apa yang akan terjadi ya???
Bantu share Cinta Mafia ya.
Biar pembacanya bertambah 🤗🤗🤗
Kalo pembacanya banyak, authorny seneng bget up bnyk2....