
Jepang, Lapangan Udara Osaka. 10 Jam kemudian.
Jet pribadi milik Zeroun Zein mendarat dengan selamat. Tama dan beberapa pasukan S.G. Group sudah menyiapkan ambulan untuk membawa Serena. Mereka berbaris rapi di depan jet pribadi itu untuk menyambut kedatangan Tuan dan Ny. Edritz pada malam itu.
Kenzo menggendong tubuh Serena, sambil berlari dengan cepat. Shabira berlari di belakang Kenzo sambil mengusap air matanya. Tuan dan Ny. Edritz mendekati Tama yang berdiri tegab di lokasi itu.
“Selamat malam, Tuan.” Tama membungkuk hormat.
“Apa Adit sudah tahu?” tanya Ny. Edritz dengan wajah khawatir.
“Sudah, Nyonya. Dokter Adit sudah mempersiapkan semuanya untuk melakukan operasi Nona Serena.” Tama memandang ke arah Kenzo dan Shabira yang sudah masuk ke dalam ambulan.
“Mari, Nyonya. Kita akan mengikuti ambulan itu dari belakang.” Tama membawa Tuan dan Ny. Edritz ke arah mobil yang sudah ia persiapkan.
Walaupun hatinya di selimuti dengan penuh tanda tanya atas keberadaan Biao dan Daniel. Tapi, ia lebih memilih diam dan tidak berani untuk bertanya. Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengejar ambulan yang meluncur cepat di hadapannya.
“Tama, apa sudah ada kabar dari Jet pribadi kita di Thailand?” Tuan Edritz mengerutkan dahi dengan hati penuh kecemasan.
“Baru saja pihak maskapai menghubungi saya. Pesawat kita masih belum berangkat Tuan.”
“Daniel ….” Lagi-lagi tangisan Ny. Edritz pecah. Sudah 10 jam ia tidak memperoleh kabar tentang keberadaan Daniel.
Tama menghirup napas dengan cepat, ia tahu kalau sesuatu yang berbahaya pasti sedang terjadi. Walaupun terakhir kali Biao menghubunginya, mengatakan semua sudah baik-baik saja.
Pasti semua musuh yang dikatakan Sonia sudah tahu tentang keberadaan Nona Serena di rumah sakit itu. Mereka menyerang saat tahu kalau kondisi Zeroun masih lemah.
Beberapa jam sebelum jemput ke bandara.
Tama berjalan cepat menuju ke ruang perawatan Sonia. Tangannya terkepal kuat dan wajah yang menahan amarah. Ia baru saja mendapat kabar dari Biao kalau Sonia adalah dalang dari kasus pengeboman yang menimpah Serena.
Brakk!
Tama membuka pintu kamar itu dengan penuh emosi.
“Tama, apa yang kau lakukan?” Aldi dan Adit berdiri dari sofa yang sempat mereka duduki.
“Kau seharusnya tidak pantas untuk hidup, Sonia!” Tama berjalan mendekati tubuh Sonia.
“Tama, jangan lakukan itu.” Aldi menahan tubuh Tama agar tidak melukai Sonia saat itu.
“Lepaskan Tama, Aldi. Biarkan Tama memberiku hukuman, aku memang pantas mendapatkan hukuman atas perbuatanku selama ini.” Sonia meneteskan buliran air mata.
“Jangan memasang wajah menjijikkanmu itu, Sonia. Aku tidak akan pernah mempercayai semua ucapanmu saat ini.” Tama berteriak dengan kuat, hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu.
“Tama, sudahlah. Kata Biao Serena sudah sadar dan keadaannya sudah berangsur membaik.” Adit juga mendekati tubuh Tama, untuk menenangkan suasana hati Tama saat itu.
“Kau wanita yang licik, Sonia. Kau sama seperti Tuan Ananta.” Tama kembali mengingat penindasan yang dilakukan Tuan Ananta terhadap perusahaan S.G. Group saat itu.
“Ya, aku memang buruk. Aku bahkan tidak pantas untuk hidup di dunia ini.” Sonia melepas jarum infus yang menancap di tangannya.
“Sonia! jangan lakukan itu.” Aldi berlari mendekati tubuh Sonia. Ia menahan tubuh wanita itu agar tidak berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.
“Jangan halangi aku, Aldi. Aku memang pantas mati.” Sonia menangis sejadi-jadinya.
Aldi menarik tubuh Sonia ke dalam pelukannya. Memberikan ketenangan kepada Sonia saat itu.
Sedangkan Tama masih memandang Sonia dengan tatapan kebencian.
“Ayo, ikut aku.” Adit menarik Tama keluar meninggalkan ruangan itu.
Di depan kamar Sonia. Lorong rumahbsakit itu tidak terlalu ramai. Beberapa perawat masih terlihat berlalu lalang. Adit memperhatikan keadaan sekitar, sebelum mengeluarkan kata.
“Tama, apa yang kau lakukan? apapun masalah kalian, Sonia tetap pasienku. Aku akan melindungi semua pasien yang aku miliki.” Adit membuang napas kasar.
“Hari ini sudah tiga kali Sonia mencoba untuk bunuh diri. Dia terus-terusan menyesali semua perbuatannya terhadap Serena.” Wajah Adit berubah sedih.
“Apa kau membelanya saat ini?” Tama menatap wajah Adit dengan tatapan tidak suka.
“Tama, kau juga tahu bagaimana sifat Sonia.” Adit menepuk pelan pundak Tama.
“Kita berempat berada di satu kampus yang sama. Kita berteman dengan begitu akrab, dan saling menghargai. Kita berempat berada di jurusan yang berbeda satu sama lain.” Adit kembali mengenang masa-masa indahnya saat masih berada di bangku kuliah.
“Aku yakin, bahkan Daniel dan Biao juga gak mengetahui semua ini bukan? bisa saja sejak dulu Sonia memberi tahu Daniel atau Biao kalau Kita berempat adalah sahabat. Tapi, dia tidak melakukan semua itu. Dia masih menghargai persahabatan yang pernah terjalin di antara kita.” Adit berjalan ke arah kursi.
“Kau membenci Sonia dan memutus persahabatan kita semua, sejak ayah Sonia menyerang keluarga Edritz. Kau sangat menyayangi Daniel, hingga kecewa dengan perbuatan Sonia. Tapi, kemudian Sonia menghilang.” Adit mengukir senyuman tipis.
Tama masih berdiri memandang wajah Adit.
“Tanpa di sengaja, kalian bertemu lagi karena Aldi. Aldi mendekati Daniel agar bisa menjalin kerja sama dengan S.G.Group dan membantu Sonia untuk mendapatkan hati Daniel. Itu juga satu kesalahan yang dibuat oleh Aldi. Tanpa sengaja, aku di pilih menjadi Dokter pribadi untuk keluarga Edrizt Chen.” Adit
menyandarkan tubuhnya.
“Itu juga satu kebetulan. Kita berempat yang awalnya berpisah menjadi serpihan kaca, akhirnya kembali bersatu. Bahkan sejak awal tidak ada yang merencanakan semua ini.”
“Adit, maafkan aku. Aku selama ini
memandangmu seperti orang lain, aku tidak lagi menganggapmu sebagai shaabat.” Tama duduk di bangku yang ada di samping Adit.
“Kau benar, Adit. Takdir sudah
mempermainkan kita. Kita berempat bersahabat dan terpisah. Tapi, hari ini kita kembali bertemu dengan cara seperti ini. Tapi, perbuatan Sonia sudah di lewat batas. Kesalahannya tidak lagi bisa untuk dimaafkan. Ini sudah menyangkut nyawa orang lain.” Tama menatap wajah Adit dengan tatapan sedih.
“Kau benar, Tama. Tapi, apa kau tega melakukan hal itu kepada sahabatmu sendiri?” Adit menatap wajah Tama dengan seksama.
“Aku dan Aldi menyerahkan semua ini padamu. Karena kau yang paling dekat dengan keluarga Daniel Edritz Chen. Kami hanya bisa mendukung semua keputusan yang kau miliki.” Adit memukul pelan pundak Tama, sebelum beranjak dari duduknya.
Tama memperhatikan punggung Adit yang sudah menjauhi tubuhnya saat itu.
“Walaupun saudara, jika melakukan kesalahan yang melanggar hukum. Harus mendapat hukuman yang setimpal.” Tama berjalan ke arah kamar Sonia. Ia masuk ke dalam ruangan itu dengan hati yang tidak lagi emosi.
Aldi masih duduk di samping Sonia, menggenggam tangan wanita itu dengan perasaan sedih. Sonia menatap wajah Tama dengan takut.
“Tama, maafkan aku,” ucap Sonia pelan.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Sonia? kenapa semua musuh Nona Serena bisa menyerangnya seperti ini? apa yang bisa aku lakukan untuk mencegah semua ini dan menolong Nona Serena di sana.”
“Maafkan aku, Tama.” Buliran air mata menetes.
“Serena adalah pembunuh bayaran. Aku melacak semua identitas keluarga korban yang pernah dibunuh oleh Serena. Memberi tahu mereka foto Serena dan semua keterangan tentang Serena. Mereka dalam jumlah banyak, aku memberi ide kepada mereka ….” Mata Sonia terpejam dengan hati yang sangat sakit. Ucapannya terhenti.
“Apa ide yang kau berikan Sonia?” Aldi menggenggam erat tangan Sonia.
“Aku meminta mereka untuk mencari pembunuh bayaran yang paling hebat, untuk membunuh Serena. Walaupun malam ini selamat, ia akan diserang di pagi hari. Pagi selamat dia akan diserang pada siang hari dan begitu seterusnya. Saat ini Serena tidak akan memiliki jalan untuk lari dari musuh-musuh itu.” Sonia menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan aku, Tama,” sambung Sonia lagi.
“Kau melakukan semua ini karena cemburu padanya? Sonia, mereka sudah menikah, sudah sewajarnya mereka berdua saling mencintai.” Tama membuang tatapan matanya dari Sonia.
“Maafkan aku Tama, aku baru menyadari semuanya saat ini. Aku tahu kalau aku salah. Tapi, aku juga gak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Daniel dan Serena saat ini. Laura hanya sebuah pancingan agar kalian semua berada di Thailand. Karena semua musuh sudah menyiapkan perangkap di sana. Jepang sudah menjadi daerah kekuasaan Kenzo. Maka dari itu, mereka memilih Luara sebagai tempat untuk memancing Zeroun keluar.” Sonia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Maafkan aku Sonia, tapi jika semua perbuatanmu ini membuat orang terdekatku pergi. Aku yang akan menarik pistol untuk menghabisi nyawamu!” Tama memalingkan wajahnya sebelum pergi meninggalkan kamar Sonia.
***
“Tama, apa kau mendengar perkataanku?”
Tuan Edritz menyentuh tubuh Tama untuk menyadarkannya dari lamunan.
“Iya, Tuan ada apa?” Tama tersadar dari lamunanya.
“Sudah lampu hijau, kenapa kau tidak melajukan mobilnya. Kita sudah tertinggal jauh dengan ambulan itu.” Tuan Edritz menatap ke jalan depan yang sudah terlihat sunyi.
Tama memejamkan matanya untuk menahan rasa bersalah yang memenuhi pikirannya saat ini.
“Maafkan saya, Tuan.” Tama melajukan mobil itu ke arah rumah sakit.
Seandainya saja aku bisa mencegah Sonia sejak awal, semua ini tidak akan terjadi seperti ini.
Vote yg banyak... biar crazy up.😉