Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 43



Pagi hari. Rumah Zeroun Zein.


Zeroun bangun dari tidurnya, perlahan ia duduk dan ingin beranjak dari tempat tidur. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perut. Zeroun memandang wajah Lukas yang kini berdiri di hadapannya.


Lukas menunduk hormat untuk menyapa Zeroun pagi ini, “Selamat pagi, Bos. Bagaimana keadaan anda pagi ini?”


“Apa yang terjadi?” Zeroun membuka selimut, melihat luka di perutnya. Memegang perban yang menutupi luka.


“Suasana menjadi kacau, Bos. Semua anak buah kita menyerang White Tiger, karena Wubin berbuat curang. Ia menusuk perut anda dengan belati. Saya membawa anda meninggalkan tempat itu dengan cepat.” Lukas menjelaskan semua kejadian yang terjadi tadi malam.


Zeroun kembali mengingat pertarungannya dengan Wubin. Ia menarik napas kasar, memandang ke arah lain.


Tok… Tok…


Seseorang mengetuk pintu sebelum memasuki kamar Zeroun. Pria paruh baya masuk ke dalam kamar. Pria itu adalah dokter pribadi Zeroun yang di pilih Lukas untuk merawatnya.


“Sebaiknya anda jangan terlalu banyak bergerak, Tuan. Luka anda lumayan dalam. Luka itu akan lama kering jika anda kembali bertarung.” Dokter itu meletakkan resep obat di atas meja.


“Terima kasih dokter.” Lukas menatap dokter itu dengan penuh hormat.


“Ya, tapi ingat pesanku.” Menatap sejenak ke arah Zeroun sebelum pergi meninggalkan kamar.


Zeroun kembali berbaring, ia memejamkan mata tanpa ingin berbicara lagi. Perutnya saat ini, benar-benar terasa sakit.


Lukas masih berdiri di samping tempat tidur, ia terus memandang wajah Zeroun.


Kau melakukan semua ini demi Nona Erena. Apa kau belum bisa melupakannya, Bos. Wanita itu tidak lagi mengingat dirimu. Ia sudah hidup bahagia dengan pria lain.


Lukas menunduk hormat, “Saya permisi, Bos.”


Lukas pergi meninggalkan kamar Zeroun. Hatinya di selimuti rasa kecewa yang begitu besar. Tapi tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini. Ia hanya bisa menonton, kesedihan yang kini di rasakan oleh Zeroun Zein.


***


Di rumah utama.


Daniel, Serena dan Shabira berkumpul di meja makan untuk sarapan. Baru lima menit mereka sarapan, Kenzo kembali datang ke rumah utama pagi itu. Meskipun ia sudah menghabiskan waktu yang banyak dengan Shabira, tapi rasa rindunya masih belum terobati.


“Kenzo, duduklah. Ayo kita sarapan.” Daniel menyambut kedatangan Kenzo dengan senyuman.


“Tentu Daniel. Aku ke sini hanya untuk sarapan dengan kalian.” Kenzo menarik kursi yang ada di samping Shabira.


“Apa kalian mau keluar?” Serena menatap wajah Shabira dan Kenzo secara bergantian.


“Ya, Kak. Ada urusan yang harus kami selesaikan.” Shabira mewakili jawaban Kenzo.


Kenzo hanya diam sambil tersenyum.


Aku tidak bisa memberitahu Serena, kalau kami akan ke rumah Zeroun untuk melihat keadaannya.


“Sayang, aku pergi kerja dulu.” Daniel beranjak dari duduknya.


Serena juga beranjak dari duduknya, ia ingin mengantar Daniel hingga pintu utama.


Daniel memandang piring serena yang masih berisi makanan, mengecup pucuk kepala Serena, “Habiskan sarapannya, temani Kenzo dan Shabira di sini.”


Serena tersenyum manis, “Hati-hati, sayang.”


Daniel berjalan ke arah pintu utama, diikuti Biao dan Tama di belakangnya. Serena kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda.


“Kak,” ucap Shabira dengan wajah serius.


“Ada apa?” Serena memandang wajah Shabira sambil tersenyum.


“Maafkan aku. Selama ini aku udah salah sangka dengan Tuan Daniel. Sejak tadi malam, aku mulai sadar kalau Tuan Daniel pria yang baik. Dia sangat menyayangi kakak.” Wajah Shabira dipenuhi rasa bersalah.


“Ya, Tuan Daniel sangat jauh berbeda dengan dirimu yang playboy itu.” Shabira memasang wajah cemberut.


“Kenapa jadi aku yang kena?” Kenzo mengerutkan dahinya.


Serena tersenyum menahan tawa. Ia kembali ingat kesalahan yang pernah ia perbuat dalam hubungan Kenzo dan Shabira.


“Kenzo, maafkan aku. Waktu itu aku berniat memisahkan hubungan kalian. Aku hanya khawatir dengan keselamatan Shabira.” Wajah Serena berubah sedih.


“Serena, Aku tidak mempermasalahkan soal itu lagi. Yang penting sekarang, Shabira sudah ada di sampingku lagi.” Kenzo memandang wajah Shabira dengan penuh cinta.


Wajah Shabira merona malu, ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga untuk menutupi rasa gugupnya pagi ini.


“Terima kasih, Kenzo. Karena kau sudah mengerti keadaanku waktu itu.” Serena mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.


“Kak, kami mau pergi dulu.” Shabira beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Serena.


Serena berdiri, dan memeluk Shabira sejenak, “Hati-hati ya.”


Shabira tersenyum manis, sebelum pergi meninggalkan Serena di ruang makan. Serena memandang kepergian Shabira dan Kenzo. Ia kembali duduk di kursi yang ada di meja makan sambil berpikir.


Suara handphone berdering. Serena mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Ia mengerutkan dahinya saat melihat nama Diva muncul di sana.


“Hallo, Diva. Ada apa? apa kau baik-baik saja?”


[Nona, maafkan saya. Hari ini saya tidak bisa bekerja. Angel sakit, demamnya sangat tinggi.]


“Angel sakit? apa kau sudah membawanya ke dokter?” Wajah Serena berubah panik.


[Sudah, Nona. Nona jangan khawatir.]


“Saya akan ke sana untuk melihat keadaan Angel. Jika ia masih sakit, kita akan membawanya ke rumah sakit.”


[Baik, Nona.]


Serena memutuskan panggilan masuk. Ia menghubungi Daniel dengan hati yang diselimuti rasa khawatir.


“Daniel, aku ingin pergi ke rumah Diva. Angel sakit, aku harus melihat keadaannya.” Serena diam sejenak untuk mendengar peraturan yang baru saja di buat oleh Daniel.


“Terima kasih, sayang.” Serena tersenyum manis, ia beranjak dari duduknya.


Serena berjalan cepat ke arah pintu utama, “Aku mau ke rumah Diva.” Perintah Serena pada pengawal yang kini berjaga di depan pintu.


“Baik, Nona.” Pengawal itu berjalan ke arah garasi untuk mengambil mobil dan mengatur beberapa pengawal yang akan mendampingi Serena.


“Aku lupa membawa dompet.” Serena berlari masuk ke dalam, untuk mengambil dompet dan keperluan lain yang ia butuhkan. Menjejaki anak tangga dengan begitu cepat dan ahli. Serena kembali lari ke arah pintu utama untuk segera menemui Angel.


Pak Han menunduk hormat saat berpapasan dengan Serena, “Nona, anda harus hati-hati. Anda bisa jatuh jika berlari seperti itu.”


“Saya terburu-buru, Pak Han. Saya khawatir dengan keadaan Angel.”


“Angel? apa yang terjadi dengan Angel, Nona?” tanya Pak Han bingung.


“Angel sakit, saya permisi dulu, Pak Han.” Serena berlari ke arah mobil meninggalkan Pak Han.


Pak Han masih diam mematung memandang kepergian Serena pagi itu.


“Anda sangat menyayangi anak kecil, Nona.”


Mobil Serena melaju dengan cepat. Diikuti lima mobil pengawal yang sudah disiapkan Kenzo untuk menjaga keselamatan Serena.


Terima kasih untuk Like. Komen positif. Vote poin dan Koin kalian.


Author sayang readers...