
Beberapa pria bertubuh kekar, turun dari mobil dengan cepat. Menuju ke arah Serena, yang kini berdiri di pinggir jalan. Serena panik, dan tidak sempat lagi untuk berlari.
Satu pria berbadan paling besar, mengangkat serena dan meletakkan di pundaknya. Sekuat tenaga, Serena mencoba untuk memberontak. Tangannya memukul-mukul punggung pria itu, kakinya menendang keras sambil teriak Frustasi.
“Lepaskan aku! Siapa kau! Apa mau kalian!” teriak Serena berulang-ulang.
Tetapi tubuh pria itu sekeras batu, tidak bereaksi atas pemberontakan Serena. Serena di masukan ke dalam mobil dengan paksa. Mobil itu melaju dengan kencang, menembus kesunyian.
Hingga beberapa jam kemudian, mobil itu berhenti di sebuah dermaga. Serena di paksa turun dari mobil. Serena mulai memperhatikan keadaan sekitar, Serena berusaha untuk lari. Tetapi baru beberapa langkah, tangan sekeras batu itu menangkapnya lagi.
“Lepaskan!” teriak Serena yang semangkin frustasi.
Satu pria misterius muncul di belakang Serena, membungkam mulut Serena dengan obat bius. Serena tidak lagi sadarkan diri, tubuhnya terkulai lemas.
Pria berbadan besar itu menggendong Serena dengan mudahnya. Membawahnya masuk ke dalam boat kecil. Boat itu melaju kencang, menembus kabut malam. Serena di bawah ke sebuah pulau terpencil.
***
Serena terbangun di dalam kamar yang sangat asing bagi dirinya. Serena kembali mengingat, saat tubuhnya di tarik paksa oleh pria tidak di kenali. Serena memandang sekeliling kamar dan tidak menemukan jendela di sana.
Serena bangkit dari tempat tidur, dan melangkah pelan menuju ke arah pintu. Serena menghentikan langkah kakinya, saat handle pintu bergerak, dan pintu itu terdorong pelan. Serena terbelalak kaget, saat melihat sosok Zeroun yang kini muncul di hadapannya.
“Selamat malam, Erena sayang.” Tersenyum bahagia dan melangkah mendekat ke tubuh Serena.
Serena melangkah mundur untuk menghindari tubuh Zeroun, langkahnya terhenti saat tubuhnya sudah terpojok di dinding.
“Siapa kau sebenarnya? kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Serena cepat.
“Sayang, kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau tidak mengingatku?” ucap Zeroun yang semangkin mendekat.
“Mundur! jangan mendekat!” ancam Serena, melangkah mundur menjauhi Zeroun.
“Kita akan menikah sayang, kita akan bahagia.”
“Dasar pria gila! minggir!” teriak Serena tidak terima.
Belum sempat Serena menghindar dari hadapan Zeroun. Dengan cepat Zeroun menarik kedua tangan Serena, dan menggenggamnya dengan kuat.
Zeroun mencium Serena dengan cepat, Serena terus saja menolak ciuman itu dan memalingkan wajahnya dari hadapan Zeroun. Tapi Zeroun terus saja mencium Serena dengan paksa, tanpa memberikan jedah untuk Serena bernafas.
Rasa kesal dan rindu yang selama ini ia rasakan, kini ia lampiaskan kepada Serena. Zeroun benar-benar rindu dengan wanita yang kini ada di hadapanya.
Dengan sekuat tenaganya, Serena melepaskan tangannya dari genggaman Zeroun. Dan mendorong tubuh Zeroun untuk menjauhi tubuhnya saat ini.
“Kau mau kemana, Erena?” Tersenyum licik memandang Serena.
“Aku mau pergi dari sini!” jawab Serena cepat. Serena menghilangkan bekas ciuman Zeroun dengan tangannya.
“Kau milikku! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Erena!” jawab Zeroun dingin.
“Kau hanya bermimpi tuan, minggir!” ucap Serena cepat.
Serena semangkin merasa kesal, Serena menampar Zeroun dengan keras. Namun hal itu malah membuat Zeroun, kembali menciumnya dengan paksa. Hingga Serena tidak lagi memiliki kekuatan, untuk melawan tubuh Zeroun saat ini.
“Aku akan terus menciummu! Sampai kau kembali mengingatku!”
Serena diam untuk tidak lagi emosi. Karena emosinya saat ini tidak berguna, dan justru membuat Zeroun terus menciumnya.
Serena terus memandang kearah pintu, dan mengumpulkan sisa tenaga yang saat ini ia miliki. Dengan nafas yang tidak teratur, Serena memandang sebentar ke arah Zeroun.
Serena berlari kencang ke arah pintu. Larinya terhenti, saat genggaman Zeroun berhasil menghentikan langkah Serena. Zeroun menarik tubuh Serena dengan paksa, ke arah tempat tidur. Zeroun melemparkan tubuh Serena dengan cepat di atas tempat tidur.
“Kau tidak boleh pergi kemanapun!” bentak Zeroun dengan wajah merah padam.
“Aku tidak mengenalmu dan jangan menghalangi jalanku!” teriak Serena.
“Kita akan menikah! Kau hanya milikku, ingat itu!” ancam Zeroun dan berlalu pergi meninggalkan Serena di kamar.
Serena kembali menangis dengan posisi tidur di atas tempat tidur. Air matanya menetes deras membasahi seprei yang kini ia tiduri. Hatinya terasa sakit, saat mendapat perlakuan Zeroun saat ini. Serena berteriak dengan kuat di dalam kamar, dengan suara yang serak. Serena meneriakkan nama Daniel dengan keras.
Di depan kamar, Zeroun hanya berdiri tegab mendengar teriakan Serena. Hatinya terasa sakit, saat melihat tatapan benci di mata Serena terhadap dirinya. Namun, saat ini hatinya masih menyimpan rasa bahagia. Melihat wanita yang sangat ia cintai, masih hidup dan bisa berbicara di hadapannya.
“Aku akan membuatmu, untuk mengingat semuanya, Serena!” Berlalu pergi meninggalkan kamar Serena.
Zeroun duduk di dalam kamar dengan diam. Hatinya masih terus memikirkan Serena. Meskipun ia tahu, kalau Serena melupakannya bukan karena sengaja. Tapi, setiap kali ia menginggat pernikahan Serena dan Daniel, hatinya kembali terasa sakit.
Suara ketukan pintu membuat lamunannya pecah. Zeroun menatap kedatangan sosok pria yang sudah berhasil melakukan tugasnya.
“Selamat malam, bos.” Lukas menunduk hormat.
“Apa semua aman?” Mengalihkan pandangannya ke arah Lukas.
“Semua aman tuan. Ada sosok wanita yang menjadi tersangka, atas hilangnya nona Erena hari ini.”
“Wanita?”
“Ya, benar tuan. Wanita bernama Sonia. Dia juga merencanakan hal buruk untuk nona Erena.”
“Bagus, aku tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaanku dengan Erena.” Zeroun tersenyum tipis.
“Apa ada yang bisa saya lakukan lagi tuan?”
“Tidak ada. Antarkan makanan ke kamar Erena. Aku yakin, dia tidak akan mau makan walaupun lapar.” Menatap tajam ke arah Lukas, “Pastikan dia menghabiskan makan malamnya. Aku tidak ingin dia sakit.”
“Baik tuan.” Lukas melangkah mundur meninggalkan kamar Zeroun.
Zeroun beranjak dari duduknya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Senyum bahagia kembali muncul di wajahnya. Hatinya benar-benar bahagia, saat Serena sudah berada di sampingnya lagi.
Meskipun Serena belum mengingatnya, tapi Zeroun akan membawa Serena pergi jauh dari Daniel. Hidup bahagia dengannya, berdua selamanya. Zeroun memejamkan kedua matanya, untuk beberapa saat.
Matanya kembali terbuka, saat ia mendengar satu keributan. Zeroun beranjak dari tempat tidur dan melangkah cepat keluar kamar.
***
Serena melempar semua makanan yang baru saja di siapkan oleh seorang pelayan. Lukas yang juga ada di kamar itu, hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Pergi kau! Aku tidak mau makan! Dasar pria breng**k! Kenapa kau membawaku ke sini!” Serena terus mengeluarkan kata-kata makian kepada Lukas. Lukas hanya berdiri diam mendengarkan perkataan Serena.
Dia tidak memiliki kemampuan untuk membantah perkataan Serena.
Hingga Zeroun masuk dan menyaksikan kekacauan itu. Matanya memandang semua makanan yang berserak di lantai. Di samping tempat tidur, Serena berdiri tegab. Penampilannya sangat berantakan. Matanya terlihat membengkak, karena menangis terus-terusan.
“Apa yang kau lakukan, sayang.” Zeroun melangkah mendekat ke arah Serena.
Serena melangkah mundur untuk menghindari Zeroun. “Pergi kau! aku tidak ingin makan.”
Serena duduk di lantai dan kembali menangis. Zeroun mendekat ke tubuh Serena dan menarik tangan Serena untuk berdiri.
“Jangan menangis Erena.” Menghapus air mata Serena.
Namun, Serena menahan tangan Zeroun dan melemparnya dengan kasar.
“Jangan sentuh aku! tinggalkan aku!” Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh kebencian.
“Tinggalkan kami berdua!” Zeroun menyuruh Lukas dan pelayan itu keluar.
Pelayan itu baru saja siap membersihkan lantai. Zeroun kembali menatap wajah Serena, “Kau memang sangat keras kepala Erena! kau harus makan!”
“Untuk apa aku menuruti kemauanmu? Aku ingin kembali pulang!” Teriakan Serena bercampur dengan suara serak. Serena menahan tangis, saat menghadapi Zeroun.
“Pulang? ini juga rumahmu, Erena.”
“Aku mohon, lepaskan aku Zeroun. Apa salahku sampai kau memperlakukanku seperti ini?” Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh kesedihan. Zeroun tidak ingin banyak bicara, ia memalingkan wajahnya dari Serena, “Kenapa kau hanya diam?”
“Erena, kau akan mengetahuinya. Jika sudah mengingatnya. Aku tidak ingin menyakitimu. Makanlah, aku tidak ingin kau sakit.” Zeroun melangkah pergi meninggalkan Serena di kamar. Serena hanya memandang punggung Zeroun yang sudah menjauh.
“Siapa kau. Kenapa aku merasakan ada yang aneh, saat berada di dekatmu, Zeroun.”
Senyum 😁😁😁
Like, Komen dan Vote. 😘
Author sayang kalian yang komen...🤣🤣🤣