
The Jewels Restaurant
Daniel dan Serena baru saja tiba di sebuah restoran mewah yang tidak jauh dari hotel. Sepasang suami istri itu duduk di pinggiran jendela kaca yang berukuran besar. Restaurant itu ada di gedung tinggi yang menghadap langsung dengan Mount moiwa. Malam itu Daniel sudah mereservasi lantai yang kini mereka jadikan tempat untuk makan malam. Di lantai itu hanya terlihat Tama dan beberapa pengawal S.G.Group yang tampak berjaga.
Saat Serena tiba di tempat itu. Sudah ada beberapa menu spesial yang tersaji di atas meja. Ada minuman hangat juga minuman dingin. Bahkan hampir seluruh bagian meja itu kini dipenuhi dengan aneka makanan dan minuman. Ada dua buah lilin berwarna putih dan sekuntum bunga mawar di atas meja yang dekat dengan kursi Serena.
Wajah Serena tampak berseri malam itu. Perutnya yang lapar semakin mengugah seleranya untuk segera menyantap makanan yang ada di atas meja. Sejak tadi, memang perutnya sudah demo untuk makan. Bos mafia itu memang tidak pernah bisa menunda waktu makannya. Ia bahkan selalu terlihat tersiksa saat menunda jam makan daripada harus bertarung dengan musuhnya.
“Sayang, duduklah.” Daniel menarik kursi dengan senyum di bibirnya.
“Terima kasih, sayang. Ini sungguh indah.” Serena menatap keindahan kota yang kini ada di hadapannya. Bibirnya tersenyum dengan cukup indah malam itu. Walaupun dulu ia sering berkunjung ke tempat fantastis seperti ini, tapi malam ini terasa cukup beda. Serena berada di tempat ini bersama dengan pria berstatus suaminya.
“Mari kita makan, kau pasti sudah sangat lapar bukan?” Daniel duduk di kursi yang berada di hadapan Serena.
Daniel dan serena memulai makan malam romantis mereka dengan keheningan. Hanya ada aura bahagia malam itu. Dari sudut ruangan terdengar alunan piano yang cukup merdu. Lilin-lilin putih menyala dengan begitu indah.
Sambil mengunyah makanannya, Serena menatap tetesan-tetesan lilin itu. Seperti itu dulunya kehidupan yang ia punya. Hanya memiliki waktu sebatas lilin yang ada di hadapannya saat ini. Sebelum lilin itu habis, ia harus bisa berhasil mengalahkan musuhnya.
“Sayang ….” Daniel menyentuh lembut punggung tangan Serena saat melihat istrinya melamun.
“Ada apa?” tanya Daniel khawatir.
Serena menggeleng kepalanya pelan sambil mengukir senyuman indah, “Rasa mual itu hilang saat aku bahagia seperti ini.” Melanjutkan makan malamnya. Wanita itu tidak lagi mau membahas tentang masa lalunya.
“Benarkah? jika seperti itu, Aku akan membawamu jalan-jalan seperti ini setiap hari.” Daniel tersenyum penuh arti.
“Itu juga membuat staminaku bertambah setiap selesai melakukannya,” sambung Daniel tanpa peduli dengan reaksi Serena saat ini.
“Daniel … kenapa Kau berubah menjadi seperti ini sekarang.” Serena mengambil jus yang ada di hadapannya. Meneguknya dengan hati-hati.
Daniel hanya memasang wajah berseri saat mendengar perkataan istrinya. Pria itu benar-benar bahagia malam ini. Berada di dekat wanita yang hanya mencintainya sungguh satu kebahagiaan tiada tara.
Dari kejauhan. Tama tersenyum manis menatap adegan romantis yang ada di hadapannya. Pria itu sungguh iri melihat kebersamaan majikannya. Ingin sekali Tama juga merasakan rasa bahagia karena mencintai seperti itu.
“Semoga saja Biao dan Anna berjodoh dan melangkah hingga ke jenjang yang lebih serius.” Tama melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya mematung saat melihat sosok yang ia kenali muncul di balik pintu.
Biao baru saja tiba di restoran mewah tersebut. Pria itu berjalan dengan santai menuju ke arah Tama. Satu tangannya di masukan di dalam saku dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Apa semua berjalan lancar?” ucap Biao saat pria itu sudah tiba di samping Tama.
Tama memandang wajah Biao yang kini ada di sampingnya. Ada rasa bingung dengan kehadiran Biao malam ini, “Kenapa Kau ke sini?” ucap Tama mengeryitkan dahi.
“Apa Kau meninggalkan Nona Anna sendirian?” sambung Tama cepat.
“Aku tidak suka berlama-lama dengan wanita,” jawab Biao tanpa bersalah.
Tama menepuk dahinya pelan, “Biao, lihatlah Tuan Daniel.” Menunjuk ke arah Daniel dan Serena.
“Apa Kau pikir Tuan Daniel dulu mau berlama-lama dengan wanita?” Tama menatap wajah Biao dengan seksama.
“Tidak,” jawab Biao singkat.
“Lalu, sekarang Tuan Daniel justru tidak ingin meninggalkan Nona Serena. Bahkan ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama dengan Nona Serena.” Tama terlihat kesal saat gagal lagi menjodohkan sahabatnya dengan wanita pilihannya.
“Kau juga harus seperti itu. Dekat dengan wanita dan menikah dengan wanita juga. Jangan terlalu menutup diri saat kebahagiaan datang menjemputmu,” sambung Tama dengan wajah kesalnya.
“Tapi, Aku tidak suka dengan Anna. Sebagai wanita, ia tidak terlihat baik dan berhati tulus.” Biao memperhatikan wajah Serena.
“Hanya Nona Serena wanita yang ku kenal dengan sifat sempurna,” ucap Biao dengan senyuman.
“Biao, apa kau sadar dengan ucapanmu?” Tama memukul pundak Biao dengan cukup kuat.
“Nona Serena majikan kita. Istri Tuan Daniel. Apa kau lupa?” Tama mulai berpikiran kalau kini sahabatnya itu telah jatuh cinta pada istri Tuan mereka.
“Kau seharusnya tahu, kalau tidak ada wanita yang sama dengan Nona Serena. Wanita tangguh, pintar, kaya bahkan sangat cantik.” Tama terus mengeluarkan isi hatinya sambil mengejar langkah Biao dari belakang.
“Tidak harus kaya, cukup menarik saja sudah cukup,” celetuk Biao sambil terus mempercepat langkah kakinya.
.
.
.
Daniel dan Serena baru saja selesai melakukan ritual makan malam romantis mereka. Dengan senyuman indah, Serena mengambil bunga mawar yang ada di meja itu dan menghirupnya secara perlahan.
“Sejak dulu, Aku sangat suka dengan mawar merah ini.” Serena meletakkan mawar merah itu kembali ke tempatnya.
“Ya, Kau memiliki trauma yang cukup besar saat melihat benda yang sangat kau sukai sayang. Aku hampir gila saat melihatmu pingsan karena buket bunga itu.” Daniel tertawa kecil saat mengingat kekonyolannya dulu.
“Dari Mr. X?” celetuk Serena sambil menahan tawa.
Daniel menggeleng pelan, “Dia menyamar hanya karena tidak ingin ada yang tahu kalau identitas aslinya seorang mafia.” Dengan senyuman indah, Daniel mengecup punggung tangan Serena yang sejak tadi ada di genggamannya.
“Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan padaku Serena. Jika bukan karena dirimu, Aku tidak tahu bagaimana caranya mengihklaskan sesuatu. Melepaskan sesuatu demi kebahagiaan orang lain. Aku pria yang selalu ingin menang sejak dulu.” Menatap wajah Serena dengan seksama.
“Sejak hadirnya dirimu, Aku berubah menjadi pribadi yang mau mengalah.”
Serena tersenyum indah mendengar ungkapan hati suaminya malam itu. Dengan lembut, wanita itu menyentuh tangan Daniel dan mengusapnya perlahan.
“Sayang, karena dirimu juga Aku bisa berada di dunia indah seperti ini. Aku tidak lagi berada di dunia penuh darah dan pertarungan itu.”
“Aku mencintaimu Serena,” ucap Daniel pelan.
“Aku juga mencintiamu Daniel,” jawab Daniel dengan hati yang cukup berbunga-bunga.
“Sayang, Aku punya kejutan indah sebelum kita kembali ke hotel.” Daniel berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Serena. Pria itu mengulurkan tangannya di hadapannya Serena. Dengan hati yang cukup penasaran, Serena mengikuti perintah sang suami.
Daniel membawa Serena untuk berdiri di depan jendela kaca yang kini menghadap kota yang cukup indah. Lampu warna-warni itu terlihat seperti taburan bintang di angkasa.
Tidak terlalu lama berdiri di tempat itu. Terlihat bunga api yang menyala dengan indahnya. Warna-warni bunga api semakin sempurna saat Serena menatapnya dari ketinggian. Seperti sebuah air yang keluar secara tiba-tiba dari pusat kota.
“Daniel, ini sangat indah,” ucap Serena dengan hati penuh kebahagiaan.
“Aku sangat senang, jika kau senang.” Daniel memutar tubuh Serena agar wanita itu berdiri di hadapannya. Dengan lembut, Daniel menyentuh dagu istrinya agar bisa dengan bebas menatap wajah cantik wanita tangguh itu. Perlahan, Daniel melekatkan bibirnya dengan bibir Serena. Satu tangannya yang lain telah menahan pinggang Serena agar wanita itu melekat sempurna di tubuhnya.
Ciuman romantis itu terjadi sambil di saksikan bunga api yang tidak kunjung berhenti. Daniel memesan bunga api itu agar menyala selama satu jam penuh. Ceo makanan ringan itu tidak lagi peduli dengan biaya mahal yang harus ia bayar atas semua rencananya hari ini. Baginya, menatap senyum Serena tidak ada nilai yang bisa di bandingkan dengan itu.
Biao dan Tama berdiri sambil menatap bunga api yang kini bertebaran di angkasa. Ini pertama kalinya mereka harus menghabiskan uang begitu banyak hanya untuk melihat senyum bahagia Nona mudanya.
“Biao, Aku harap Kau segera membuka hatimu saat ini. Aku juga ingin memberikan kejutan romantis seperti ini kepada kekasihku nantinya.” Tama mendongakkan kepalanya tanpa mau memandang wajah Biao yang ada di sampingnya.
Biao menatap wajah Tama dengan tatapan penuh arti, “Aku akan membuka hatiku jika ada wanita yang berhasil merusak hariku nantinya. Hanya ada namanya yang mungkin akan Aku pikirkan di dalam hati ini. Tanpa paksaan, hatiku terbuka untuk menerimannya.”
Tama termenung mendengar perkataan Biao, “Apa Kau benar-benar Biao?” Menepuk pipi Biao dengan kuat.
“Hei, Aku ini Biao!” Biao menangkis tangan Tama yang sibuk memukul pipinya.
“Kenapa Kau bisa berubah romantis seperti ini,” sambung Tama dengan senyuman.
Biao mengukir senyuman yang memang hanya ia berikan kepada Tama selama ini. Di dalam hatinya yang paling dalam, pria dingin itu tidak mau mempersulit sahabatnya. Hanya saja, sampai detik ini belum ada wanita yang membuatnya tertarik. Berulang kali Biao sudah mencoba untuk mendekati wanita, tetapi belum ada wanita yang berhasil membuka hatinya yang terkunci rapat itu.
Maafkan Aku Tama. Aku tidak tahu kapan wanita itu datang. Tetapi, jika benar ada wanita yang seperti itu. Aku yang akan mengejarnya nanti. Tidak peduli, dia cinta padaku atau tidak. Aku akan berjuang untuk mendapatkannya.