
Di rumah Mr. X…
Jam sudah menunjukkan ke angka 07.00 tepat. Mr. X mengancing kemeja putih yang saat ini ia kenakan dengan perlahan. Satu orang pengawal setia, terlihat berdiri di belakang Mr.X untuk membantu Mr.X memakai jas hitam favoritnya. Satu dasi di simpul dengan begitu rapi. Sepatu hitam yang mengkilat menyempurnakan penampilannya pagi ini.
Satu tatapan tajam menjadi ciri khas dirinya. Perlahan, ia melangkah ke sebuah meja yang terletak tidak jauh dari posisinya berada. Satu buah buket bunga mawar merah yang indah dan mewah, sudah ia siapkan sejak tadi. Entah apa yang kini ada di pikiran Mr.X, pilihan bunga mawar merah menjadi satu-satunya benda yang pilih saat ini. Benda yang sangat ingin ia berikan pada seorang wanita yang kini berstatus sebagai istri orang lain.
“Aku harus memberikan ucapan selamat pada wanita itu. Karena dirinya, Arion bisa musnah dari dunia ini.” gumam Mr.X pelan.
Kaki kanan memulai langkahnya untuk berangkat menuju ke satu alamat penting yang ingin ia kunjungi saat ini. Ribuan rasa penasaran sudah memenuhi isi kepalanya. Tarikan nafas yang kasar mengawali dirinya untuk mencari tau sebuah teka-teki antara Arion dan Daniel.
“Kita langsung ke rumah sakit!”, perintah Mr. X pada supir yang kini sudah siap untuk melajukan mobilnya ke alamat yang diinginkan sang majikan.
Aku sangat penasaran dengan istri anda, Tuan Daniel. Mr. X dalam hati dengan senyum tipisnya.
Mobil melaju dengan kencang menembus keramaian kota yang sudah dipenuhi banyak orang. Aneka kegiatan pagi sudah mulai berjalan normal sejak sang fajar kembali menyinari bumi. Beberapa orang yang mengenakan pakaian seragam juga sudah berlalu lalang memenuhi padatnya jalan raya.
Bukan hanya satu mobil yang kini melaju menuju rumah sakit. Empat mobil yang berisi pengawal-pengawal setia Mr.X juga sudah memenuhi posisi mereka masing-masing. Keselamatan sang majikan menjadi prioritas utama bagi mereka.
Tidak butuh waktu yang terlalu lama, kini rombongan Mr.X sudah tiba di parkiran rumah sakit. Perlahan ia turun dari mobil dengan menatap tajam kearah sekelilingnya. Memang pagi menjadi pilihan yang tepat bagi Mr.X untuk berkunjung. Selain rumah sakit yang masih terlihat sunyi, dia juga tidak perlu membung banyak waktu ketika harus meninggalkan pekerjaan di kantor yang sudah menanti dirinya.
Satu orang pengawal sudah berjalan di depan Mr. X untuk memberi petunjuk atas kamar istimewa yang saat ini ingin mereka kunjungi.
Sementara itu, di kamar Serena…
Masih dengan suasana canda tawa di antara semuanya. Untuk beberapa detik menegangkan mereka Daniel dan Biao mencairkan suasana hati dengan masuk dalam obrolan ringan yang diciptakan oleh Adit.
Satu deringan telepon, mengalihkan pandangan semuanya. Dengan wajah yang sudah tidak terbaca lagi, Biao mengangkat telepon dan melangkah menjauh dari yang lainnya.
“Baiklah, saya akan segera ke sana!” ucapnya singkat dengan tatapan wajah yang sudah tidak sama dari sebelumnya.
“Ada apa?” tanya Daniel yang sudah menaruh curiga atas perubahan sikap Biao saat ini.
“Mr. X sudah tiba tuan, beliau sudah ada di parkiran. Saya akan menyambutnya di sana.” sambil membungkuk hormat untuk meminta ijin dari Daniel.
Daniel hanya mengangguk pelan, hatinya juga sudah berubah derastis saat ini. Tatapan matanya kembali ia arahkan ke wajah Serena yang kini duduk di sampingnya. Entah apa yang akan terjadi beberapa menit lagi, tapi Daniel sudah menguatkan hatinya untuk menerima semua yang akan terjadi.
“Ada apa? siapa Mr. X itu Daniel?” tanya Serena bingung saat satu senyuman yang tadi melingkar di bibir Daniel, kini sudah tidak terlihat lagi.
“Seseorang ingin menjengukmu Serena.” jawabnya pelan.
“Mr.X yang baru saja kalian bicarakan?” tanya Serena lagi. “Siapa dia?” sambung Serena yang masih penasaran.
“Rekan bisnis, dia ingin menjengukmu karena kau adalah istri dari CEO perusahaan yang bekerja sama dengan dirinya.” jelas Daniel lagi.
‘Kenapa dia harus membawa kata CEO, sungguh menyebalkan. Dasar orang kaya!’ batin Serena dengan tatapan kesal kepada Daniel.
“Sebaiknya kau kembali berbaring Serena!” ucap Adit memberi perintah kepada Serena.
“Serena?” ulang Daniel.
“Ya, Serena. Bukankah nama istrimu Serena, Daniel?” jawab Adit dengan santai.
“Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan itu?” tanya Daniel tidak suka.
“Apa ada yang salah, jika Adit memanggilku dengan sebutan Serena?” tanya Serena mulai bingung.
Adit hanya tertawa lepas mendengar tuduhan Daniel, ini pertama kalinya ia melihat Daniel dekat dengan seorang wanita. Wanita yang berhasil mengubah hidup Daniel 180 derajat, sekaligus berstatus sebagai istrinya. Daniel tidak pernah perduli dengan hidup orang lain selain keluarga yang selalu ia cintai. Namun, satu panggilan akrab yang terjadi di antara Serena dan Adit. Membuat Adit kembali menyimpulkan, kalau sosok sahabat yang kini ada di hadapannya sedang cemburu.
“Baiklah, sebaiknya kita menghapus pertemanan di antara kita nona Serena.” gumam Adit meledek sambil melirik sebentar ke arah Daniel.
“Tapi kenapa?” tanya Serena dengan polos.
“Panggil aku dokter Adit!” mengedipkan matanya untuk memberi kode kepada Serena.
Serena kembali sadar atas keberadaan Daniel saat ini. Matanya terbelalak kaget, saat kini ia tau letak kesalahan yang baru saja ia lakukan.
‘Apa dia marah, karena aku dekat dengan pria lain selain dirinya!’ batin Serena yang sudah mengatur posisi tidurnya di atas ranjang.
“Aku harap, kau selalu tau batasanmu Dokter Adit!” ucap Daniel dengan satu tekanan peringatan.
“Baiklah, tuan Daniel yang terhormat.” jawab Adit santai yang kembali memulai ritual pemeriksaannya.
***
Biao sudah melangkah cepat untuk menemui rombongan Mr. X yang kini ada di parkiran. Meskipun kini isi hatinya ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Tidak jauh dari pandangan matanya, sudah terlihat rombongan Mr. X yang berjalan menuju ke arah dirinya kini berada.
Sambil menunduk hormat, Biao menyambut kedatangan rombongan Mr. X.
“Selamat pagi tuan, senang bertemu dengan anda.” sapa Biao pelan.
“Senang bertemu dengan anda lagi. Tuan Biao!”
Pandangan mata Mr. X terpusat pada sosok pria yang berjalan cepat menghampiri dirinya. Beberapa pengawal juga sudah terlihat mengeluarkan senjata yang sebelumnya mereka simpan. Satu kode yang diberikan Mr. X menghentikan semua pengawal setianya untuk menembak sosok yang kini semangkin dekat dengan posisi dirinya berada.
Biao juga membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok yang membuat Mr. X kembali menghentikan langkah kakinya. Matanya juga terbelalak kaget saat melihat sosok pria yang sudah tidak asing bagi dirinya, kini ada di depan matanya.
“Dimana kau menyembunyikannya!” teriak pria itu dengan emosi yang sudah berada di level tinggi dan genggaman tangan yang sudah mengepal kuat.
.
.
.
.
.
*
Ok, jangan Lupa like, komen, favorit dan vote.
yang belum kasih bintang 5, monggoh segera kasih.
Author sayang sama semua readers terbaikku…
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**