Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 23



Di Rumah Utama


Daniel tidur di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, sambil membayangkan wajah Serena. Hatinya sudah di penuhi dengan kerinduan. Meskipun baru setengah hari tidak bersama.


“Sayang, apa yang kini kau lakukan. Apa kau baik-baik saja? apa kau memikirkanku? apa kau sedang tertawa bersamanya?”


Semua pertanyaan memenuhi pikirannya saat ini. Berulang kali ia mencoba untuk memejamkan mata, tapi tidak pernah bisa. Daniel kembali duduk di atas tempat tidur. Ia mengambil handphone Serena yang tertinggal di atas meja.


“Kau meninggalkannya, karena tahu di sini ada sistem pelacak bukan. Kau memang wanita yang cerdas.”


Daniel mengaktifkan handphone Serena. Lagi-lagi dia harus kecewa, saat melihat handphone itu menggunakan password. Daniel membawa handphone itu keluar kamar. Di depan kamar, dua pengawal yang berjaga menunduk hormat saat melihat Daniel keluar kamar. Daniel tidak terlalu peduli. Ia terus berjalan menuruni anak tangga. Menuju ke kamar Tama yang terletak di lantai bawah.


Pak Han masih belum tidur, ia melihat Daniel dan mendatangi posisi Daniel saat ini. Pak Han membungkuk hormat, saat tiba di hadapan Daniel.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Pak han dengan sopan.


Daniel melangkah ke arah meja makan. Ia duduk dan meletakkan handphone Serena di atas meja.


“Panggilkan Tama!” perintah Daniel singkat.


Pak Han membungkuk hormat, “Baik, Tuan.” Pak Han berjalan ke arah kamar Tama.


Daniel masih duduk diam sambil memperhatikan layar handphone itu. Ia baru saja menyadari, kalau selama ini tidak pernah menyimpan nomor Serena. Daniel tersenyum tipis saat mengingat hal itu.


“Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


Tama sudah tiba di samping Daniel. Ia membungkuk hormat, sebelum menerima perintah Daniel.


“Tama, aku ingin membuka password handphone ini.” Daniel memegang handphone Serena di hadapan Tama.


“Itu handphone Nona Serena, Tuan.”


“Ya, aku tidak bisa membukanya,” jawab Daniel dengan wajah kecewa.


“Mari Tuan. Biar saya periksa.”


Daniel memberikan handphone itu kepada Tama, “Duduklah.”


Tama duduk di salah satu kursi yang berdekatan dengan Daniel. Pak Han membungkuk hormat, sebelum pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Daniel terus saja memperhatikan Tama mengutak-atik handphone Serena. Daniel percaya, kalau Tama bisa membantunya saat ini.


“Ini Tuan.” Tama memberikan handphone yang tidak lagi menggunakan password.


Daniel menerima handphone itu dengan satu senyuman, “Kau memang selalu bisa di andalkan.” Daniel memeriksa isi handphone itu dengan seksama. Dahinya mengkerut saat melihat satu panggilan keluar dari nomor yang tidak di kenal.


“Ada apa, Tuan?” tanya Tama saat mengetahui perubahan sikap Daniel saat ini.


“Aku yakin, ini nomor pria itu. Apa kita bisa mengetahui yang mereka bicarakan? dan posisi mereka saat ini dengan nomor pria ini?” Daniel menatap wajah Tama dengan penuh harapan.


“Saya akan mencobanya, Tuan. Saya ke kamar sebentar untuk mengambil laptop.” Tama beranjak dari duduknya. Ia pergi ke arah kamar.


Daniel masih fokus memperhatikan layar handphone Serena. Panggilan keluar yang hanya berdurasi satu menit itu, menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar bagi dirinya saat ini.


Pak Han muncul dari dapur, dengan membawa dua gelas teh. Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Pak Han membungkuk hormat, “Silahkan di minum, Tuan.”


“Terima kasih, Pak Han,” ucap Daniel tanpa memandang wajah Pak Han. Tatapan matanya terus ia fokuskan pada layar handphone.


“Saya permisi, Tuan.” Pak Han memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Daniel.


“Istirahatlah, Pak Han.” Daniel memandang punggung Pak Han yang sudah membelakangi dirinya.


Pak Han memutar tubuhnya lagi, dan membungkuk hormat, “Terima kasih, Tuan.”


Pak Han dan Tama saling berpapasan. Pak Han menuju ke arah dapur, sedangkan Tama ke arah Daniel. Tama meletakkan laptop miliknya di atas meja. Ia duduk dengan tenang sebelum mengaktifkan laptop itu.


“Mari, Tuan. Biar saya coba.”


Daniel memberikan handphone itu pada Tama. Ia sudah tidak sabar, mengetahui semua yang di bicarakan oleh Serena dan Zeroun.


Dengan sabar, Daniel menunggu Tama. Sesekali ia mengalihkan pandangannya ke setiap sudut rumah yang sudah terlihat sunyi.


“Apa Diva sudah kalian selidiki? apa dia bisa pulang sore?” Daniel menatap wajah Tama dengan tatapan serius.


“Sudah, Tuan. Sepertinya Diva wanita yang baik. Ia tidak akan mengancam kita saat ini. Sepertinya ide Nona Serena untuk mengijinkan Diva pulang sore, tidak salah.” Tama menjawab pertanyaan Daniel, sambil terus fokus pada layar laptopnya.


“Dia akan senang, jika bisa melihat Diva pulang sore.” Daniel tersenyum membayangkan senyuman manis milik Serena.


Daniel terdiam mendengarkan pembicaraan Serena dan Zeroun. Ia tersenyum saat selesai mendengarkan, “Ternyata semua ini karena Shabira.” Daniel menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Apa Nona Serena mengenal wanita bernama Shabira, Tuan?” tanya Tama dengan penuh rasa penasaran.


“Wanita itu tangan kanan Serena. Pernikahan Shabira dan Kenzo gagal, karena Serena melarang Shabira,” jawab Daniel santai.


“Apa wanita itu kabur dari pernikahannya, karena Nona Serena melarangnya, Tuan?”


Daniel mengangkat kedua pundaknya, “Aku kurang mengerti soal itu. Tapi saat ini, Serena merasa bersalah pada Kenzo. Ia ingin mengembalikan Shabira kembali pada Kenzo.”


“Semoga Nona Serena berhasil menemukannya,” Tama kembali fokus pada layar laptopnya. ia berusaha untuk melacak posisi Zeroun saat ini.


“Tuan, pria itu berada di negara Z. Di kota terpencil. Sepertinya kota ini juga tidak terdeteksi dari peta pemerintahan.” Tama memutar laptopnya, hingga layarnya menghadap ke arah Daniel.


“Apa Serena bersamanya? apa yang mereka lakukan di sana.” Daniel menatap layar laptop itu dengan seksama.


“Tuan, apa perlu saya kirim orang untuk menjemput Nona Serena?”


“Jangan, kita tunggu sampai besok malam. Jika dia tidak kembali, kita akan pergi untuk menjemputnya.” Daniel tersenyum tipis.


“Baik, Tuan.”


Daniel mengambil secangkir teh, yang di siapkan Pak Han, meminumnya perlahan. Hatinya sedikit tenang, ketika sudah berhasil melacak posisi Serena saat ini. Daniel meletakkan gelas itu kembali ke atas meja. Ia beranjak dari duduknya, lalu mengambil handphone Serena.


“Aku akan kembali tidur. Kau juga harus istrirahat, Tama. Besok kita akan kembali bekerja.” Daniel memutar tubuhnya membelakangi Tama.


“Baik, Tuan. Selamat beristirahat.”


Daniel terus berjalan menuju kamar. Meskipun ia sangat ingin menjemput Serena saat ini, tapi semua masih ia tunda. Ia tidak ingin merusak kepercayaan Serena. Hanya ini cara yang dimiliki Daniel, untuk membuktikan cintanya kepada Serena.


Tidur yang nyenyak di sana, Sayang. Cepat kembali bersamaku.


***


Di Negara Z.


Serena terbangun dari tidurnya. Hatinya terasa, ketika Daniel mengucapkan namanya. Serena melihat tangan Shabira yang melingkari tubuhnya. Ia mengambil tangan itu dan meletakkannya perlahan. Tubuhnya terasa sangat lelah. Serena duduk di ujung tempat tidur, menurunkan kakinya ke bawah.


“Daniel, aku yakin. Kalau saat ini kau pasti sedang memikirkanku.” Serena tersenyum. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar.


Serena melihat Lukas dan Zeroun tidur di atas kursi kayu yang panjang. Ia hanya memandang Zeroun dari kejauhan. Ia berjalan ke arah pintu untuk keluar dari sana. Serena memperhatikan lorong yang terlihat sunyi. Ia berjalan ke arah balkon yang mengahadap ke arah kota. Lokasi Serena saat ini berada di dataran tinggi. Dari balkon itu, pemandang kota di malam hari terlihat dengan begitu jelas.


“Apa yang kau lihat?” Suara Zeroun memecahkan lamunan Serena.


Serena melihat ke arah belakang. Ia tersenyum saat melihat Zeroun yang kini ada di belakangnya. Serena kembali memandang pemandangan kota itu.


“Aku hanya ingin mencari ketenangan. Selama ini, hidupku tidak pernah merasa tenang. Selalu di penuhi rasa takut dan khawatir. Shabira memang memilih tempat yang tepat. Di sini, semua tenang. Tidak akan ada yang berani mengusiknya.”


Zeroun berjalan ke samping Serena, ia memandang pemandangan yang sama dengan Serena, “Ketenangan? bagaimana ia mendapatkan ketenangan, saat berada jauh dari orang yang ia cintai?”


Zeroun menatap wajah Serena, ia bukan hanya bertanya tentang perasaan Shabira. Tapi pertanyaan itu mewakili isi hatinya saat ini.


Serena memandang wajah Zeroun, “Besok akan terasa sedikit sibuk. Sebelum kembali ke negara X, aku ingin ketenangan itu menetap di hatiku.” Serena memutar tubuhnya, dan berjalan pergi meninggalkan Zeroun.


Dengan cepat, Zeroun memegang tangan Serena. Mencegahnya untuk tidak pergi. Zeroun menarik tangan Serena, hingga posisi mereka saling berhadapan.


“Apa yang kau inginkan? Kenapa kau tidak bisa meninggalkan pria itu dan hidup bersamaku?” Zeroun menatap wajah Serena dengan penuh harapan, kalau Serena mau meninggalkan Daniel dan berbahagia bersama dirinya.


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melakukannya.”


Serena melepaskan genggaman tangan Zeroun, dan pergi meninggalkan Zeroun di sana. Buliran air mata kembali menetes. Dengan cepat, ia menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh.


Zeroun memandang punggung Serena dengan tatapan kecewa, “Kau wanita jahat, Erena!” Zeroun berteriak dengan keras. Ia membuang pandangannya dari Serena.


Terus benci aku seperti itu. Aku tidak akan sanggup meninggalkanmu, jika kau terus berbuat baik kepada diriku.


Serena kembali masuk ke dalam, dan menutup pintu perlahan.


Jangan nuntut Up mulu, tapi di Vote juga. Biar authornya seneng 😁😁


Yang pengen tanya2 soal nama artisnya, bisa masuk ke grub chat .


Terima kasih, author sayang readers...😘