
Mobil itu melaju dengan cepat menembus terik matahari yang begitu panas. Ini pertama kalinya Daniel mengemudikan mobil sport dengan kecepatan tinggi. Wajahnya terlihat bahagia saat ia berhasil mengemudikan mobil itu dengan kecepatan maksimum di jalanan sunyi.
Serena hanya bisa tersenyum saat menlihat suaminya berteriak kegirangan. Sesekali ia menatap wajah angel lagi yang kini tertidur di pelukannya. Bocah kecil itu sangat suka tidur daripada menikmati perjalanan.
Daniel membawa Angel dan Serena menuju ke S.G.Group. Pria itu ingin membawa sang istri untuk menemaninya bekerja hari ini. Ia tidak ingin Serena terus-terusan bersedih memikirkan keadaan Angel.
Serena tersadar saat melihat jalan yang kini mereka lewati bukan jalan menuju ke arah rumah utama. Dengan bingung, wanita itu menatap wajah Daniel untuk menanyakan tujuan perjalanan mereka siang itu.
“Sayang, Aku hanya ingin mengajak dirimu dan Angel ke S.G.Group.” Daniel tahu arti tatapan bingung Serena saat itu.
Serena kembali bersandar dengan tenang, saat mendengar perkataan Daniel. Memperhatikan beberapa mobil hitam yang sejak tadi mengikutinya dari balik spion.
“Daniel, kenapa pengawal itu terus mengikuti kita?” tanya Serena dengan suara lembut.
“Mereka di bayar untuk melindungimu, Sayang. Jadi, kemanapun kau pergi mereka akan selalu ada.” Daniel juga melirik ke arah spion untuk memastikan kalau mobil hitam yang kini mengikutinya adalah pengawal milik S.G.Group.
“Sayang, dua minggu lagi kita akan pergi ke pulau. Kita akan bersenang-senang di pulau itu. Ada pantai yang sangat indah di sana,” sambung Daniel dengan wajah berseri-seri.
“Bagaimana dengan Angel?” tanya Serena dengan wajah bingung.
“Aku sudah menyiapkan baby sister untuk menjaga Angel. Angel akan baik-baik saja. Aku juga sudah menyuruh Pak Han menyiapkan kamar khusus untuk Angel.” Daniel menyentuh tangan Serena dengan lembut. Serena hanya tersenyum membalas sentuhan Daniel.
.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Daniel dan Serena sudah tiba di S.G.Group. Beberapa pengawal turun dari mobil dengan cepat untuk membukakan pintu mobil Daniel dan Serena.
Serena turun sambil menggendong tubuh Angel. Pengawal lainnya membuka bagasi mobil untuk mengambil stroller Angel yang tersimpan di dalamnya. Meletakkan Stroller itu di hadapan Serena. Dengan penuh hati-hati, Serena meletakkan tubuh Angel di dalam stroller. Wanita itu mengikuti langkah Daniel yang kini mengajaknya masuk ke dalam gedung S.G.Group.
Siang itu, kedatangan Serena di sambut dengan aura yang sedikit berbeda. Beberapa karyawan S.G.Group saling berbisik menceritakan status Serena. Di tambah lagi, saat itu Serena membawa Angel seperti putri kandung yang ia miliki. Sejak Serena hilang, kabar kalau Serena seorang mafia sudah menyebar luas ke telinga karyawan yang bekerja di S.G.Group.
Daniel menatap tajam, satu persatu wajah karyawan yang saat itu terlihat bergosip. Satu tangannya menggandeng pinggang Serena dengan mesra. Satu tangan lainnya terkepal kuat untuk menahan amarahnya. Ia tidak ingin membuat keributan di S.G.Group saat Serena ada di situ. Dengan penuh kesabaran, Daniel menunggu momen yang tepat untuk memberi hukuman pada karyawannya yang berani menceritakan istrinya.
Masih dengan hati yang berusaha tenang, Daniel membawa Serena masuk ke dalam lift. Hanya ada mereka bertiga di dalam lift itu. Sejak keluar dari dalam mobil, Serena tidak banyak mengeluarkan kata. Wanita itu masih terlihat sedih memikirkan kondisi kesehatan Angel.
“Sayang ….” Daniel mencium pipi Serena untuk memecahkan lamunannya.
Serena tidak ingin menjawab perkataan Daniel. Wanita itu memperhatikan lift yang sudah terbuka. Ia ingin mendorong stroller Angel untuk keluar dari dalam lift itu. Dengan gerak cepat, Daniel merebut stroller Angel dan mendorongnya dengan begitu santai.
Daniel membawa Serena menemui satu perawat wanita yang sudah ia siapkan. Perawat itu ia sewa dengan bayaran tinggi untuk menjaga Angel secara khusus. Perawa wanita itu duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari lift.
“Sayang, itu perawat yang akan merawat Angel selama kita pergi nanti.” Daniel mendekatkan stroller Angel ke tempat perawat itu berada.
“Selamat siang, Nona.” Perawat itu menunduk hormat menyambut kedatangan Serena.
“Mulai sekarang, kau sudah bisa mulai bekerja. Ini Angel, jaga Angel dengan baik.” Daniel melepaskan stroller yang sempat ia genggam.
“Kau bisa membawa Angel ke ruangan itu. Beri Angel makan atau susu sesuai dengan apa yang ia butuhkan.” sambung Daniel lagi.
“Baik, Tuan.” Wanita itu mengambil stroller Angel, mendorongnya ke arah ruangan yang sudah dipersiapkan oleh Daniel.
“Daniel, Aku ingin menemani Angel,” ucap Serena pelan.
“Sayang, tugasmu menemaniku. Nanti setelah kembali pulang, kau bisa bermain bersama Angel lagi.” Daniel merangkul pinggang Serena, membawa wanita masuk ke arah ruang kerja miliknya.
Di dalam ruangan kerja Daniel. Terlihat Tama dan Biao yang saat itu sibuk menyiapkan berkas-berkas penting. Kedua pria itu berdiri dan menunduk hormat saat melihat Daniel dan Serena yang baru saja tiba.
“Selamat siang, Nona,” ucap Tama dan Biao secara bersamaan.
“Siang,” jawab Serena tidak bersemangat.
Daniel menarik tangan Serena menuju ke kursi kerja miliknya. Perlahan ia mendorong tubuh Serena, agar wanita itu duduk di kursi kerja berwarna hitam itu.
“Sayang, duduk di sini dulu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Biao di luar.” Daniel berjalan lagi menuju kearah pintu. Biao mengikuti langkah Daniel dari belakang. Meninggalkan Tama dan Serena di dalam ruangan itu.
Serena mengambil foto wajahnya yang terpajang di meja kerja milik Daniel. Bibirnya tersenyum dengan begitu manis.
“Nona, apa anda baik-baik saja? anda terlihat sedikit kurang sehat.” Tama memperhatikan wajah Serena dengan penuh khawatir.
“Tama, apa kalian sudah mengirim orang untuk mencari Diva?” tanya Serena dengan wajah serius.
“Sudah, Nona. Kami sudah mulai mencari keberadaan Diva sejak semalam. Apa anda masih berharap, kalau Diva masih hidup, Nona?” tanya tama dengan hati-hati.
“Tama, aku tahu ini sedikit mustahil. Karena Laura memang wanita yang tidak memiliki hati. Tapi, hatiku mengatakan kalau Diva masih hidup. Ia bertahan di suatu tempat.” Serena meletakkan kembali foto wajahnya di atas meja Daniel.
“Tama, apa kau tahu bagaimana kehidupan Diva dulunya?” Serena menatap wajah Tama dengan begitu serius.
Tama menghentikan pekerjaannya. Wajahnya terlihat bingung saat Serena menanyakan masa lalu Diva. Sejak awal, Tama memang sudah mengetahui masa lalu Diva. Pria itu menyelidiki Diva dengan begitu teliti sebelum Pak Han membawanya masuk ke dalam rumah utama.
“Saya ….” ucapan Tama masih terhenti. Hatinya menyimpan keraguan untuk menceritakan masa lalu Diva kepada Serena.
“Apa kau mau menceritakannya padaku, Tama?” Serena semakin tertarik dengan ekspresi Tama siang itu. Wanita itu yakin, kalau Tama akan menceritakan semua info tentang masa lalu Serena.
“Nona, Sebenarnya Diva wanita yang baik. Ia pernah diperkosa oleh sekelompok preman hingga ia mengandung Angel. Diva terus-terusan mencoba untuk menggugurkan Angel saat itu. Tapi, seorang pria datang di dalam hidupnya. Hingga pria itu menikahi Diva dan mengakui Angel sebagai anaknya. Tapi, sepertinya keluarga dari pria itu tidak menyetujui hubungan mereka.”
Tama menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya.
“Hingga akhirnya pria itu meninggalkan Diva dan Angel. Lalu dalam waktu yang bersamaan, Pak Han mengenal Diva saat ia menolong Diva dalam bahaya. Sejak saat itu, Pak Han menjadi kasihan dengan kehidupan Diva. Ia menawarkan Diva untuk bekerja sebagai pelayan pribadi anda.” Tama menyimpan rasa bersalah karena sudah menceritakan masa lalu Diva tanpa seijin Daniel saat itu.
Serena menutup mulutnya dengan tangan. Buliran air mata menetes dari pelupuk matanya yang indah. Hatinya terasa sedih saat mendengar cerita sedih tentang kehidupan Diva di masa lalu. Kini, wanita itu tahu. Apa yang menyebabkan Diva tidak pernah ingin menceritakan tentang Ayah Angel yang sebenarnya. Wanita itu tidak snaggup untuk menceritakan kenyataan pahit yang pernah menimpah dirinya.
“Diva ….” ucap Serena dengan hati yang perih.
“Nona, Nona jangan menangis. Tuan Daniel bisa menyalahkan saya jika Nona menangis seperti ini.” Wajah Tama panik saat melihat Serena terus saja menangis tanpa henti.
Suara pintu terbuka. Dari balik pintu Daniel dan Biao muncul dengan wajah tidak bersahabat. Tama memukul kepalanya dengan penuh putus asa.
Habislah Aku.
Pasti Tuan Daniel akan menyalahkan ku saat ini.
“Sayang, apa yang terjadi?” Daniel melangkah cepat mendekati posisi Serena saat itu.
Biao berjalan ke arah Tama. Pria itu menepuk pundak Tama dengan tatapan curiga.
“Biao, Tama. Kalian boleh pergi.” Daniel menghapus buliran air mata yang menetes di wajah Serena.
“Sayang, ada apa?” tanya Daniel dengan penuh khawatir.
“Daniel, kenapa kau tidak pernah memberi tahuku tentang masa lalu Diva?” protes Serena dengan wajah kesal.
Daniel berdiri dari duduknya. Menatap punggung Biao dan Tama yang hampir menghilang dari balik pintu.
“Tama!” teriak Daniel dengan suara lantang.
“Matilah Aku,” ucap Tama sambil menghentikan langkah kakinya.
“Apa yang kau lakukan pada Nona Serena?” tanya Biao bingung.
“Aku menceritakan masa lalu Diva pada Nona Serena,” jawab Tama dengan suara pelan.
“Tama, kenapa kau menceritakannya sekarang. Nona Serena hari ini masih sedih memikirkan kesehatan Angel.” Biao juga menghentikan langkah kakinya.
Kedua pria itu memutar tubuhnya untuk berjalan menemui Daniel. Langkah kakinya terasa berat dengan wajah pucat penuh rasa bersalah.
“Daniel, jangan marah dengan Tama. Aku yang memaksanya untuk bercerita. Kalau bukan Tama yang memberi tahuku, Aku tidak akan pernah tahu bagaimana masa lalu Diva.” Serena memutar kursi kerja Daniel agar membelakangi Daniel saat itu.
Daniel menatap Serena yang kini membelakanginya, sebelum menatap wajah Biao dan Tama secara bergantian. Pria itu menarik satu tangannya yang terkepal kuat. Memamerkan tangannya yang ingin memukul seseorang di hadapan Tama dan Biao.
Sedangkan Tama dan Biao hanya bisa menunduk karena tidak berani mengeluarkan kata pembelaan.
“Pergilah, urus semuanya.” Daniel memutar tubuhnya membelakangi Biao dan Tama. Ia lebih memilih merayu Serena siang itu, daripada memberi pelajaran kepada Tama.
Dengan langkah cepat, kedua pria itu pergi meninggalkan ruang kerja Daniel. Walaupun mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti.
“Tama, kau ini.” Biao menutup pintu ruang kerja Daniel dengan hati-hati. Menatap wajah sahabatnya dengan kesal.
“Biao, kau pergi kemana bersama Tuan Daniel tadi? Kalau kau datang lebih cepat, Aku tidak akan menceritakan semuanya pada Nona Serena.” Tama melipat kedua tangannya di depan dada.
“Aku dan Tuan Daniel turun ke lantai bawah. Memberi pelajaran kepada beberapa karyawan yang sudah berani bergosip tentang Nona Serena.” Biao kembali mengingat amarah Daniel waktu mereka tiba di lantai bawah.
“Apa yang dilakukan Tuan Daniel?” tanya Tama penasaran.
“Ya, seperti biasa. Beberapa vas bunga pecah. Beberapa karyawan wanita di berhentikan secara tidak terhormat.” Biao berjalan menuju ke arah ruang kerja miliknya.
“Kesalahan mereka sudah tidak terampuni lagi. Kenapa mereka begitu berani menceritakan hal yang berhubungan Nona Serena.” Tama juga berjalan mengikuti langkah kaki Biao.
Biao menggeleng kepalanya, “Tama, kau juga belum lolos. Tuan Daniel akan memberimu hukuman, kalau saat ini ia tidak berhasil membujuk Nona Serena. Pikirkan saja alasanmu untuk membela diri.” Biao masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang tidak terbaca lagi.
Tama menarik napas dengan gusar saat memikirkan kecerobohannya siang itu, “Nona, kenapa jadi aku yang salah.” Pria itu juga masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Memikirkan alasan-alasan brilian yang bisa membela dirinya saat di depan Daniel nanti.