Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 34



“Sonia?” ucap Kenzo dari kejauhan.


Sejak awal, Kenzo sudah berdiri santai sambil bersandar di tembok. Ia hanya menonton pertunjukan pagi yang terjadi di rumah utama Daniel Edritz Chen.


Shabira memandang tajam wajah Kenzo. Kenzo berjalan perlahan, mendekat ke arah meja makan.


Daniel memandang wajah Tama dan Biao, “Urus semua masalah di S.G. Group. Aku harus mengurus masalah yang ada di sini.”


“Baik, Tuan.” Tama dan Biao menunduk hormat, sebelum pergi meninggalkan ruang makan.


Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Kenzo, yang berdiri tidak jauh dari posisi Shabira.


“Apa kau sudah sarapan, Kenzo?” tanya Daniel dengan senyuman.


“Sudah,” jawab Kenzo singkat.


“Ayo, kita akan membicarakan semuanya di sana.” Daniel merangkul pinggang Serena. Membawa semua orang ke arah ruang utama.


Shabira dan Kenzo mengikuti langkah kaki Daniel dan Serena. Sesekali Shabira melirik ke arah Kenzo.


Untuk apa dia ke sini? apa untuk menuduhku lagi. Kau sangat menyebalkan.


Kenzo hanya diam. Ia tidak ingin mengeluarkan kata untuk Shabira, meskipun saat ini hatinya sangat merindukan Shabira.


Ingin sekali rasanya aku menarik tubuhmu ke dalam pelukanku, Shabira.


Daniel dan Serena duduk secara bersamaan. Keduanya duduk di sofa yang sama. Sedangkan Shabira dan Kenzo, lebih memilih duduk berjauhan dengan sofa yang berlainan.


Serena dan Daniel saling memandang, sambil tersenyum. Mereka tahu, apa yang saat ini memenuhi isi pikiran Kenzo dan Shabira.


“Kenzo, apa kau yakin akan duduk berjauhan seperti itu dari Shabira?” tanya Daniel meledek.


“Di sini jauh lebih nyaman,” jawab Kenzo dengan santai.


“Baiklah, aku tidak mengijinkanmu untuk berpindah tempat lagi. Dari awal kau duduk di situ, duduklah dengan nyaman hingga akhir permainan.”


Serena mencubit perut Daniel dengan pelan, “Kau selalu saja meledek orang lain,” bisik Serena di telinga Daniel.


“Aku yakin, dia akan menyesal jika sudah mendengar penjelasanku,” jawab Daniel penuh dengan percaya diri.


Shabira hanya diam menunduk. Tidak banyak kata yang bisa ia ucapkan saat ini. Semua ia serahkan kepada Daniel dan Serena.


“Kenzo, sebelum aku memulai cerita panjang ini. Aku ingin bertanya sesuatu, sejak awal apa kau tidak pernah bertemu Sonia? apa kau tahu bagaimana wajahnya?” tanya Daniel penuh selidik.


“Aku tahu wajahnya. Aku bertemu dengannya dua kali waktu itu.” Kenzo kembali ingat, makan malam yang dipersiapkan Tuan Daeshim untuk dirinya dan Sonia.


“Baikah. Aku tidak perlu menjelaskan tentang Sonia padamu.” Daniel menarik napas dalam.


Daniel memandang wajah Shabira, “Shabira, kau bisa menanyakan tentang Sonia kepada Kenzo, di akhir cerita.”


Shabira hanya diam, ia melirik ke arah Kenzo dengan tatapan cemburu.


Daniel memulai ceritanya. Ia mengawali ceritanya dengan pertunangan yang terjadi di rumah sakit.


.


.


“Hingga akhirnya, aku jatuh cinta pada Serena sampai detik ini.”Daniel mengakhiri ceritanya yang berdurasi sangat lama. Memeluk erat pinggang Serena. Serena tersenyum manis.


Kenzo hanya diam. Ia sudah salah paham pada Shabira. Saat ini hatinya diselimuti rasa bersalah terhadap Serena dan Shabira.


“Apa ada yang ingin kau katakan?” Shabira memandang wajah Kenzo dengan tatapan kesal.


“Maafkan aku,” ucap Kenzo dengan raut wajah bersalah.


“Aku yang salah, Kenzo. Tidak memberi tahumu sejak awal. Kalau aku lupa ingatan.” Serena tersenyum manis.


Kenzo mengukir senyuman, “Sejak awal aku tahu, kau wanita yang baik. Hanya saja ….”


“Hanya saja, Kak Erena seorang mafia dulunya, hingga kau ragu padanya, bukan?” Shabira menyambung perkataan Kenzo.


“Kenzo, kau melanggar aturan main pagi ini.” Daniel menghalangi langkah Kenzo. Kenzo kembali duduk di sofa yang tadi ia duduki.


Serena dan Shabira tertawa lepas, “Baiklah, permainan pagi ini untukmu. Biar aku yang berpindah ke sofa itu.” Sahbira beranjak dari duduknya, dan duduk berdampingan dengan Kenzo.


“Jika seperti ini, tidak melanggar peraturan bukan?” tanya Shabira kepada Daniel.


“Aku rasa tidak,” jawab Daniel santai.


Suasana pagi itu berubah menjadi penuh canda tawa. Shabira dan Kenzo kembali berbaikan. Serena tersenyum bahagia, karena bisa menyatukan keduanya. Rasa bersalahnya sudah hilang.


“Tapi aku belum mendengar cerita tentang Sonia.” Protes Shabira di sela-sela tawa.


Kenzo kembali diam. Lidahnya terasa kaku, saat harus menyebutkan nama Sonia di depan Shabira.


“Sonia itu wanita yang cantik.” Serena angkat bicara, ia melirik ke arah Daniel, untuk kembali mengingatkan Daniel atas usaha Sonia untuk memisahkan hubungan mereka.


Daniel tersenyum manis, “Aku hanya mencintaimu, sayang.” Daniel memeluk tubuh Serena.


“Kau kenal dengan Sonia, Serena?” tanya Kenzo penasaran.


“Tentu saja, ia bekerja di S.G. Group untuk mendapatkan hati sang CEO.” Serena tersenyum dengan penuh arti.


“Sayang, jangan membahas itu. Ayo kita ke kamar, mungkin Kenzo dan Shabira butuh waktu untuk berdua.”


Daniel beranjak dari duduknya, menarik tangan Serena agar berdiri.


“Tunggu, Tuan. Anda belum membantu saya mencari tahu tentang Sonia. Kenapa wanita itu berhubungan dengan dirimu juga.” Shabira memandang wajah Kenzo dan Daniel untuk menagih satu jawaban.


“Shabira, Sonia adalah wanita yang dijodohkan Tuan Daeshim untuk Kenzo.” Serena tersenyum penuh kemenangan di pagi ini.


“Wanita itu pelakor di antara hubungan kita Kak?” Wajah Shabira berubah marah.


Serena mengangguk cepat, ia menyetujui julukan baru yang di ucapkan Shabira untuk Sonia.


“Sayang, tapi aku hanya mencintaimu.” Daniel kembali merangkul pinggang Serena untuk merayu.


“Aku juga hanya mencintaimu, Shabira.” Kenzo merangkul pinggang Shabira.


“Aku akan membantumu untuk menghadapi wanita itu, Kak,” ucap Shabira dengan hati penuh emosi.


“Jangan marah seperti itu. Kau terlihat jelek jika marah.” Kenzo meledek Shabira.


“Apa kau membela wanita itu? apa kau ingin menikah dengannya?” Shabira menatap tajam wajah Kenzo, kali ini dia yang memegang kartu As.


“Bukan, bukan begitu, maksudnya ….” ucapan Kenzo terhenti.


“Kau mencintainya?” tanya Shabira cepat.


“Sayang ….” Kenzo terus berusaha untuk menjelaskan, tapi Shabira tidak memberi kesempatan.


“Sebaiknya kau ….”


Kenzo mengunci bibir Shabira dengan satu kecupan di bibir. Daniel dan Serena tersenyum. Daniel membawa tubuh Serena pergi meninggalkan ruang utama.


Memberi waktu kepada Shabira dan Kenzo untuk saling melepas rindu.


“Apa wanita bisa diam ketika di cium?” tanya Daniel pelan.


“Aku rasa itu tidak berhasil untuk semua wanita,” jawab Serena santai.


Daniel menghentikan langkah Serena yang ingin menaiki satu anak tangga. Serena memadang Daniel dengan senyuman, “Apa yang kau pikirkan? tatapan itu sangat mencurigakan.” Serena menyipitkan kedua matanya.


“Aku sangat mencintaimu.” Daniel mengecup bibir Serena dengan cepat. Mata Serena terbelalak kaget, ia tidak pernah menyangka, kalau Daniel akan menciumnya di tempat yang banyak dilalui para pelayan dan pengawal.


Daniel memeluk Serena semangkin erat, ia tidak memberi kesempatan kepada Serena untuk menolak ciuman itu.


Suasana pagi yang di teror oleh penyusup kiriman Sonia, berakhir dengan penuh cinta. Bukan hanya Kenzo dan Shabira yang kembali menyatu. Tapi Cinta Daniel dan Serena semakin kuat. Kini Kenzo sudah berada di pihak Daniel, kekuatan Daniel untuk melindungi Serena akan semakin kuat.