Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 24



Pagi kembali bersinar. Serena sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Shabira juga sudah bersiap-siap untuk pergi dari sana. Menyiapkan beberapa barang penting miliknya.


“Kakak, kenapa aku melihat ada sesuatu yang beda di antara kalian berdua. Apa kalian bertengkar?” tanya Shabira dengan penuh selidik.


“Jangan pikirkan masalah orang lain. Pikirkan caramu menghadapi Kenzo nantinya.” Serena berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Aku gampang kak. Kenzo tidak akan tega melihat aku menangis, aku akan meminta maaf sambil menangis di hadapannya. Dia pasti akan memaafkanku,” jawab Shabira dengan penuh percaya diri.


“Aku tidak yakin, jika cara itu akan berhasil.” Serena berdiri dari duduknya.


“Apa sekarang Kenzo sudah berubah.” Wajah Shabira berubah sedih.


“Aku hanya bercanda. Kenzo akan memaafkanmu. Ayo kita keluar.”


Serena menarik tangan Shabira, membawanya pergi meninggalkan tempat itu.


Zeroun dan Lukas sudah menunggu di depan mobil. Lukas membawa mobil sendiri. Serena berjalan ke arah pria yang bertanggung jawab atas tempat itu. Ia mengucapkan terima kasih, karena sudah mau melindungi Shabira.


Zeroun hanya memperhatikan Serena dari kejauhan, hatinya masih kecewa atas sikap Serena tadi malam.


“Aku yakin, dia akan meminta mobilmu. Dia tidak akan mau satu mobil denganku lagi.” Zeroun memandang wajah Lukas.


Sementara Lukas, hanya diam mendengar perkataan Zeroun.


Serena berjalan bergandengan dengan Shabira. Keduanya tersenyum dengan bahagia. Menatap wajah Zeroun dan Lukas bergantian.


“Shabira, nanti malam kita akan berangkat. Kau pergi ambil barang-barang yang kau inginkan di rumah. Lukas akan mengantarkanmu. Kita berjumpa di bandara nanti malam.”


“Baik Kak. Kakak hati-hati ya.” Shabira berjalan ke arah mobil Lukas. Ia melempar tatapan mata tidak suka kepada Lukas, sebelum masuk ke dalam mobil.


“Saya permisi, Bos.” Lukas menunduk hormat sebelum masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan lokasi itu.


Zeroun hanya diam memandang Serena. Ia tidak pernah tahu, apa yang saat ini di pikirkan oleh Serena. Zeroun melipat kedua tangannya dan bersandar di bemper mobil.


“Sayang, ayo kita nikmati waktu liburan kita. Kita punya waktu dua belas jam untuk bersenang-senang.” Serena tersenyum di depan Zeroun.


Zeroun tercengang, ia menatap wajah Serena dengan tatapan tidak percaya. Melepas kedua tangan yang terlipat, dan berdiri tegab menghadap tubuh Serena.


“Ayo cepat, waktu kita tidak banyak. Aku sudah menyusun beberapa tempat untuk kita kunjungi hari ini.” Serena masuk ke dalam mobil.


Zeroun memandang Serena dengan tatapan tidak percaya, “Apa yang saat ini ia pikirkan.” Zeroun menarik napas dalam, sebelum masuk ke dalam mobil.


Zeroun memandang wajah Serena tanpa ekspresi, sebelum melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sesekali Zeroun memandang ke arah Serena yang sibuk dengan memo kecil yang kini ia genggam. Serena memegang pulpen dan menulis beberapa tempat yang ingin ia kunjungi hari ini.


“Aku harap, hari ini kita bisa mengunjungi semuanya.” Serena meletakkan memo itu di depan Zeroun. Sebelum mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Zeroun mengambil kertas itu, membacanya satu persatu. Ia kembali mengingat nama-nama tempat itu. Serena pernah berjanji, untuk mengunjungi tempat itu bersama dengan dirinya.


“Apa yang kau rencanakan? Aku tidak perlu belas kasihmu lagi.” Zeroun mencengkram kuat kertas itu. Melemparnya ke luar jendela.


Serena hanya diam tanpa ingin menjawab. Ia tahu, kalau Zeroun akan membawanya ke tempat itu hari ini.


Setidaknya aku bisa membuatmu bahagia, sebelum meninggalkanmu untuk selamanya. Aku akan menjadi lebih tenang. Meskipun semua keputusanku, akan menyakiti hatimu.


Zeroun membawa Serena ke tempat pertama yang di tulis oleh Serena. Satu buah cafe yang terletak di atas tebing. Dari cafe itu bisa melihat pemandangan kota yang indah. Tempat itu di khususkan untuk para pasangan. Jumlah bangku yang tersedia di setiap meja, hanya dua. Tempat romantis, yang di impikan semua pasangan yang sedang di mabuk cinta.


“Ayo kita turun.”


Serena turun lebih dulu dari dalam mobil. Zeroun juga turun dengan wajah tidak bersemangat. Ia memperhatikan tempat itu, dan ingin kembali masuk ke dalam mobil.


“Jangan seperti itu. Ayo kita masuk dan nikmati tempat ini.”


Serena merangkul tangan Zeroun layaknya sang kekasih. Zeroun hanya menurut tanpa ingin mengeluarkan kata.


Di meja, Serena terlihat sangat bahagia. Ia memberikan waktunya hari ini hanya untuk Zeroun. Melupakan Daniel untuk sementara. Zeroun masih tidak tersenyum, ia tahu kalau akhirnya Serena akan meninggalkan dirinya.


“Tersenyumlah. Apa kau sudah lupa, caranya tersenyum.” Serena mengambil gelas yang berisi jus. Meminumnya perlahan.


“Aku sudah lupa cara tersenyum, sejak kau pergi dari hidupku.” Zeroun beranjak dari duduknya, meninggalkan Serena sendiri di sana.


Serena hanya diam. Ia tahu isi hati Zeroun saat ini. Ia tidak akan pernah berhasil membuat Zeroun memaafkan kesalahannya. Serena menahan buliran air mata yang akan jatuh, dan berdiri mengejar Zeroun.


Tempat demi tempat, di kunjungi oleh Zeroun dan Serena. Tapi tidak ada satu tempatpun yang membuat Zeroun bahagia, dan bisa kembali tersenyum. Serena sudah menyerah. Ia tidak memiliki cara lagi untuk mendapatkan maaf dari Zeroun.


Hingga malam tiba. Mobil Zeroun sudah berjalan menuju ke bandara. Serena diam melamun memandang keluar jendela. Hatinya masih dipenuhi rasa bersalah yang begitu besar. Mobil itu melewati pesisir pantai. Serena tersenyum memandang pantai itu.


“Berhenti!” ucap Serena tiba-tiba.


Tanpa banyak kata, Zeroun menghentikan mobil itu. Dengan cepat, serena keluar dari dalam mobil. Ia berlari ke pesisir pantai dengan cepat. Zeroun memandang Serena dari dalam mobil. Melihat ke arah jam tangan yang melingkar.


“Apa lagi yang ia rencanakan.” Zeroun ikut keluar dari dalam mobil. Berjalan ke posisi Serena berada.


Suasana begitu sepi dan sangat mencekam. Hanya tersisa tubuh yang di selimuti dinginnya malam. Waktu terasa begitu cepat berlalu, hingga tidak ada kesempatan lagi untuk menetap di situ. Ombak tinggi tampak menerjang batu karang.


Angin menggoyangkan pepohonan dan rambut Serena. Serena duduk di atas pasir pantai. Memandang ke arah pantai dengan senyuman terpaksa. Dingin malam tidak lagi terasa. Zeroun mendekati Serena, melepas jas miliknya dan melindungi tubuh Serena dari udara dingin.


Zeroun duduk di atas pasir, berdampingan dengan Serena. Menatap ke arah pantai, yang terlihat terang karena cahaya rembulan.


“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku sudah mengkhianati janji kita. Tidak banyak yang bisa aku lakukan. Setelah malam ini, aku tidak akan mengingat namamu lagi,” ucap Serena dengan nada lembut, ia tidak ingin memandang wajah Zeroun.


“Kau wanita yang jahat Erena. Apa kau tahu, kalau aku rela memberikan nyawaku hanya untukmu. Aku terus mengingat namamu saat kau tidak ada. Dan saat kau kembali, lihatlah. Apa yang aku dapat. Kau ingin melupakanku dan pergi bersama pria lain.” Zeroun berdiri dari duduknya, lagi-lagi ia pergi meninggalkan Serena dan menghindari perdebatan.


“Zeroun, tunggu!” Serena menghentikan langkah Zeroun. Ia berlari mengejar Zeroun.


“Aku tidak ingin mendengar perkataan apapun lagi, Erena. Cukup, sampai di sini. Sekarang kita pulang.” Zeroun membuang tatapannya dari Serena.


Serena mengeluarkan pistol yang sejak tadi ia bawa. Menggenggamnya erat, sambil memandang punggung Zeroun.


“Aku tahu, kau tidak akan membiarkanku hidup bahagia dengannya. Kau akan terus menghantui hidupku dengan rasa bersalah. Kau bisa membunuhku sekarang. Aku mencintaimu, Zeroun Zein. Tapi aku juga mencintai suamiku. Aku wanita yang serakah bukan? Aku tidak bisa seperti ini terus. Kau harus memilih, melepaskanku atau membunuhku!” Serena menyodorkan pistol itu ke arah Zeroun. Ia menarik napasnya dalam, membuangnya perlahan.


Zeroun berbalik arah, ia menatap wajah Serena dengan penuh kebencian. Zeroun mengambil pistol itu dan memegangnya dengan erat.


“Jika aku tidak bisa mendapatkanmu. Pria manapun tidak akan bisa mendapatkanmu, Erena! Kau hanya milikku. Aku tidak akan membiarkan dirimu bahagia, bersama orang lain.”


Zeroun mengangkat pistol itu di hadapan Serena. Melekatkan pistol itu di kulit dahi Serena. Ia mengertakkan giginya dengan kuat. Memandang Serena dengan hati yang di penuhi emosi. Tatapan matanya sangat dingin.


Serena memejamkan matanya. Ia tidak lagi bisa membantah. Semua ini adalah resiko yang harus ia ambil. Buliran air mata, menetes satu persatu membasahi wajah serena.


Perlahan Zeroun menarik pelatuk pistol itu, matanya benar-benar dipenuhi api amarah. Semua kenangan indah bersama Serena telah musnah detik itu juga. Ia memandang Serena sebagai musuh yang harus ia habisi.


“Maafkan aku Erena. Keputusanku akan sangat mengecewakanmu!” Zeroun menarik pistol itu dari wajah Serena, dan melepas satu tembakan ke atas langit. Membuang pistol itu ke pasir pantai. Dan pergi meninggalkan Serena sendiri di sana.


“Zeroun! kenapa kau tidak bisa memaafkanku?” teriak Serena dari kejauhan.


Zeroun menghentikan langkah kakinya, berputar memandang Serena dari kejauhan, “Kau tidak pernah tahu Erena, betapa sakitnya hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu dan berharap kau masih peduli padaku. Sejak kau kembali, pernahkah kau mengingatku, Erena? bahkan setiap detik hidupku hanya ada namamu,” teriak Zeroun dari kejauhan.


“Kau tidak pernah ada di posisiku! kau tidak pernah tahu, betapa tersiksanya hatiku melakukan semua ini padamu. Tolong, jangan persulit semuanya.”


Serena memandang wajah Zeroun dengan wajah memohon.


Zeroun berbalik badan. Belum sempat ia melangkah, Serena sudah menghentikan langkah Zeroun. Ia memeluk Zeroun dari belakang, dengan kuat ia mengunci tangannya di perut Zeroun.


“Biarkan aku memelukmu. Aku tahu, besok tidak akan bisa seperti ini lagi.” Serena memejamkan mata, satu persatu buliran air mata membasahi kemeja milik Zeroun.


Zeroun diam untuk sesaat, tubuhnya sangat ingin berbalik dan memeluk Serena saat ini. Tapi ia tidak ingin semakin terluka. Zeroun melepas tangan Serena dan pergi meninggalkan Serena. Ia tidak lagi berbalik badan, untuk memandang wajah Serena. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan, untuk mempertahankan Serena.


Serena terjatuh di atas pasir. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya sangat luka saat ini.


“Aku tidak boleh menangis.” Serena berusaha menghapus buliran air mata yang menetes dengan sendirinya.


“Aku tidak boleh menangis, hanya karena berpisah denganmu. Aku harus bisa melupakanmu, aku harus bisa merelakanmu pergi dari hidupku.” Meskipun sudah ia tahan, tapi air mata tetap saja menetes. Serena kembali menangis mengingat hidupnya.


“Hatiku juga terluka parah karena ini. Setiap detik kau hadir dalam pikiranku,” ucap Serena prustasi.


Di dalam mobil. Zeroun memukul setir mobil, mengepal kuat tangannya.


“Aku benci padamu, Erena. Aku benci!” Zeroun berteriak keras melampiaskan amarah dan kekecewaannya.


Zeroun menyandarkan tubuhnya di kursi. Memejamkan matanya sejenak, untuk menenangkan pikirannya, “Bagaimana bisa aku merelakanmu bersama orang lain. Itu lebih sulit aku lakukan, dari pada kau meminta nyawaku.” Zeroun menarik napas dalam, mengatur emosinya saat ini.


Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, Zeroun mulai berhasil mengatur napasnya. Emosinya sudah bisa di kendalikan.


Suara pintu terbuka, Serena kembali masuk ke dalam mobil. Ia memasang sabuk pengaman dan duduk dengan manis. Ia tidak lagi memandang wajah Zeroun.


Pandangannya ia fokuskan ke jalan depan. Tidak ada lagi air mata. Serena hanya diam tanpa ingin mengeluarkan kata lagi.


Zeroun kembali melajukan mobilnya. Mobil itu meluncur dengan cepat, ke arah bandara.


.


.


Beberapa saat kemudian.



Di dalam jet pribadi, Shabira dan Lukas sudah ada di dalam. Shabira tersenyum, saat melihat Zeroun dan Serena tiba. Ia beranjak dari duduknya dan mendekati tubuh Serena.


“Kakak, kenapa kakak lama sekali.” Menarik tubuh Serena dan membawanya duduk. Shabira memasang sabuk pengaman Serena. Ia terus memperhatikan wajah sedih Serena saat ini. Tanpa banyak kata, Shabira kembali duduk. Ia memperhatikan wajah Zeroun dan Serena secara bergantian.


Kali ini aku tidak salah lagi. Sesuatu pasti telah terjadi di antara mereka.


Serena memejamkan mata karena lelah. Ia tertidur dengan bersandar. Suasana di dalam jet pribadi itu terasa sangat hening. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan kata. Zeroun juga sudah terlihat memejamkan mata.


Hanya Lukas dan Shabira yang masih terjaga, dan saling memandang.


“Hei, Lukas. Apa kau tahu, apa yang terjadi di antara mereka?” bisik Shabira pelan.


“Jangan terlalu ikut campur. Urus saja, urusanmu dengan pria itu.” Lukas memejamkan mata, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Shabira.


“Kau sangat menyebalkan.” Shabira ikut tidur. Menikmati perjalanan malam menuju ke kota Sapporo. Tempat pria yang sangat ia cintai.