Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 58




Matahari mulai muncul ke permukaan. Cahayanya sudah kembali menyinari bumi. Hangatnya membuat embun yang melekat di dedaunan kering. Udara masih segar untuk di hirup. Kicauan burung juga masih terdengar jelas saat itu.


Serena duduk diam di sebuah kursi. Perutnya terasa sangat lapar, karena sudah dua hari ia tidak makan. Tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak bertenaga lagi. Serena banyak kehilangan darah saat ini.


Tangan ini terasa sangat perih ….


Serena menatap luka yang sudah mengering, sebelum memandang box bayi Angel. Wajahnya berubah sedih, hatinya di selimuti rasa khawatir. Sejak tadi malam ia terbangun, Angel sudah tidak ada lagi di dalam box bayi itu.


Diva, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan Angel saat ini. Sejak awal kita bertemu, aku sudah mengenalmu dengan begitu baik. Sejak kapan Laura mencelakai dirimu dan Angel. Bahkan aku sangat bodoh, tidak bisa membedakan suaramu dengan suara Laura saat itu. Maafkan aku Diva, aku masih berharap kalau kau masih hidup dan bertahan di suatu tempat.


Buliran air mata terus menetes membasahi wajahnya yang sudah di penuhi darah kering. Tangan yang terluka juga sudah membengkak dan hampir infeksi.


Keadaan Serena saat ini, memang sungguh memprihatinkan. Sangat jarang, untuk beberapa orang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu. Serena memang memiliki kemampuan yang hebat untuk bertahan hidup.


Ruangan penyekapan Serena diselimuti kesunyian yang begitu mencekam. Tidak ada satu suarapun yang terdengar di sana. Serena menatap ke arah luar jendela. Ia terus memperhatikan padang rumput luas yang terbentang di luar sana.


Dimana ini … sepertinya aku belum pernah ke tempat ini.


Serena memalingkan pandangan matanya, saat mendengar suara pintu terbuka secara perlahan.


Tak … Tak …


High Heels hitam yang dikenakan Laura terdengar sangat jelas, karena ruangan itu terasa sunyi. Wanita itu mengenakan tangtop dan celana pendek berwarna hitam. Satu pistol berukuran kecil tersimpan rapi di salah satu saku celananya.


Laura berjalan mendekati Serena dengan senyuman menghina. Tanpa belas kasih, ia menaik rambut Serena dengan kuat.


“Kau masih bernapas, Erena! padahal pagi ini aku sudah menyiapkan pemakaman untukmu.” Menghempas rambut Serena dengan kasar.


“Apa kau tahu, Erena. Pria bernama Kenzo sudah mengirim orang untuk menyerangku.” Laura menatap wajah Serena dengan tatapan tajam.


“Pria itu terlalu ceroboh bukan? dia ingin menyerangku di sini!” Laura menarik penutup mulut Serena.


“Semua oang yang ia kirim, sudah menjadi abu di jalanan.”


Serena hanya diam, ia tidak ingin membalas perkataan Laura saat ini. Meskipun hatinya diselimuti rasa khawatir terhadap keselamatan orang-orang tersayang, yang ia miliki.


Kenzo dan Shabira pasti datang ke sini untuk menolongku. Tapi, ini terlalu beresiko. Daniel juga pasti ikut dengan mereka, pria itu juga tidak bisa tinggal diam di rumah. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin mereka semua dalam bahaya.


“Satu hal yang harus kau ingat, Erena. Kalau gadis kecil itu sudah memakai gelang yang sangat cantik. Gelang itu akan meledak, saat kau melakukan hal yang tidak aku suka.” Laura menatap tajam mata Serena.


“Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Biarkan Angel tetap hidup.” Serena memohon demi keselamatan Angel.


“Ya, aku juga ingin anak kecil itu tetap hidup. Hal itu akan mempermudah hidupku untuk mengatur hidupmu, Erena.” Laura menegakkan tubuhnya.


“Masuk!” Laura berteriak, saat ia tahu ada anak buahnya yang berdiri di depan pintu.


Wanita memakai pakaian seksi masuk ke dalam ruang tawanan Serena. Ia membuang tatapan benci kepada Serena sebelum menunduk hormat untuk Laura.


“Selamat pagi, Bos. Zeroun Zein juga tiba di sini. Kami sudah mengirim orang untuk melacaknya, tapi belum bisa menemukannya. Pria-pria ini juga sudah tiba di negara ini. Mereka hanya berempat.” Wanita itu memberikan beberapa lembar foto.


Laura membuka satu persatu foto dengan senyuman tipis.


“Kau ingin lihat, Erena.” Laura menatap wajah Serena dengan tajam, sebelum melemparkan tumpukan foto itu di depan wajah Serena.


“Kita haus bersiap-siap untuk menyambut tamu kehormatan hari ini.” Laura memutar tubuhnya dan melangkah pergi.


“Laura! jangan sakiti mereka. Aku akan membayar nyawa James dengan nyawaku!” teriak Serena dengan kencang.


Laura menghentikan langkah kakinya, memutar tubuhnya memandang wajah Serena.


“Bukan aku yang akan membunuh mereka. Tapi, kau Erena. Aku ingin, kau merasakan sakitnya kehilangan.” Mata Laura berubah tajam.


“Laura! mereka tidak bersalah!”


“James juga tidak bersalah! tapi kau membunuhnya tanpa alasan. Kau mendapatkan uang dengan cara membunuh, Erena! sekarang saatnya kau merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan. Bahkan, jika kau mati! Aku belum bisa memaafkan kesalahanmu!” Laura melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan itu.


Serena menunduk sedih, dengan buliran air mata yang terus menetes.


“Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan?” ucap Serena dengan hati yang dipenuhi penyesalan.


***


Laura berjalan ke satu ruangan yang menjadi tempat favoritnya. Mengambil minuman beralkohol, meneguknya dengan cepat. Ia membanting botol itu ke permukaan lantai dengan penuh emosi.


“Dimana anak itu?” Laura menatap wajah bawahannya dengan tajam.


“Masih ada di kamar, Bos. Perawat yang kita kirim, menjaga anak itu dengan baik.” Wanita itu menunduk takut.


“Bawa anak kecil itu pergi dari sini!”


“Baik, Bos!” Wanita itu pergi meninggalkan Laura.


Laura memandang punggung bawahannya dengan tatapan dingin. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang lembut. Mengambil pistol yang tersimpan. Memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol itu.


“Kali ini aku tidak akan kalah lagi. Aku akan membalaskan dendam Kak James. Kalian semua harus mati di tanganku!” Matanya melebar, di penuhi dendam.


***


Gedung-gedung tinggi terlihat menjulang ke langit. Kota sudah dipenuhi dengan kerumunan orang yang berlalu lalang. Rumah Laura berada di sudut kota, di kelilingi padang rumput yang luas.


Salah satu gedung tinggi itu, berdiri tegak dengan posisi menghadap ke rumah Laura. Zeroun menjadikan gedung itu sebagai tempat untuk mengintai rumah Laura saat itu.


Zeroun duduk dengan tenang, sambil membidik sasaran melalui senjata api laras panjang. Ia dapat melihat dengan jelas keadaan rumah Laura, meskipun dari jarak yang lumayan jauh. Lukas berdiri di belakang Zeroun, memperhatikan Zeroun.


“Bos. Kapan kita mulai menyerang?” Lukas sudah tidak sabar untuk membunuh Laura saat ini.


“Setelah Kenzo tiba,” jawab Zeroun santai.


“Anda ingin semua anggota Gold Dragon membantu Kenzo di tempat itu?” Lukas mengerutkan dahinya. Ia tidak lagi bisa memahami jalan pikiran Zeroun saat ini.


“Mereka tidak akan menang melawan Luara. Kerahkan semua Gold Dragon untuk menuruti perintah Kenzo.” Zeroun kembali membidik ke arah rumah itu.


“Baik, Bos!” Lukas menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Zeroun di tempat itu.


Zeroun tersenyum tipis, saat mengingat amarah Kenzo di rumahnya siang itu.


Kau akan selalu jadi sahabat terbaikku, Kenzo.