Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 32



Biao yang saat itu telah fokus pada layar ponselnya. Pria itu mengangkat kepala secara perlahan. Dahinya mengeryit saat menatap wajah Sharin yang kini berdiri sambil memandang dirinya. Lagi-lagi wanita itu menggerak-gerakan tubuhnya dengan senyum malu-malu. Setiap kali Sharin memandang wajah Biao, selalu saja membuat dirinya salah tingkah.


“Maaf, Paman. Apa Sharin mengganggu?” tanya Sharin dengan nada yang sangat lembut.


“Sharin, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Biao pelan. Pria itu beranjak dari duduknya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku sebelum berjalan mendekati posisi Sharin berada.


“Sharin belum bisa tidur,” jawab Sharin sambil menunduk malu.


Biao mengangkat satu alisnya. Pria itu merasakan kalau wanita yang ada di hadapannya terlihat sedikit aneh. Kalau saja Sharin bukan keponakan Tama, mungkin Biao tidak akan mau di ajak berbicara malam itu.


“Malam akan terasa semakin dingin. Sebaiknya kau segera kembali ke kamar agar tidak kedinginan nantinya,” ucap Biao.


“Paman Tampan perhatian sekali,” jawab Sharin dengan bibir tersenyum.


Biao mengeryitkan dahi. Pria itu tidak tahu lagi harus berkata apa malam itu, “Jika kau tidak ingin masuk. Biar aku yang masuk duluan.” Biao melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Sharin sendirian di kolam renang itu.


“Paman tampan mau ninggalin Sharin sendirian di sini?” ucap Sharin dengan nada sedih.


Biao menghentikan langkah kakinya saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Sharin. Pria itu memejamkan matanya sambil mengumpat di dalam hati.


‘Tama, dimana kau. Kenapa kau membiarkan keponakan kecilmu ini berkeliaran di malam hari.


Biao berusaha menahan amarahnya. Pria itu memutar tubuhnya untuk menatap wajah Sharin lagi, “Apa kau mau ikut masuk bersama denganku?”


Sharin mengukir senyuman indah, “Tentu,” jawabnya cepat. Wanita itu berjalan lebih lebih dulu untuk meninggalkan Biao jauh di belakang.


“Tunggu dulu,” ucap Biao tiba-tiba. Mendengar teriakan Biao, membuat Sharin lagi-lagi mengukir senyuman. Wanita itu memutar tubuhnya untuk menatap wajah Biao.


“Ada apa Paman Tampan,” tanya Sharin pelan.


“Iya itu. Jangan panggil aku Paman tampan. Namaku Biao. Bukankah kita sudah kenalan. Kenapa kau memanggilku masih dengan sebutan seperti itu.” Biao mengeryitkan dahi. Pria itu merasa kurang nyaman saat Sharin terus-terusan memanggilnya dengan sebutan seperti itu.


“Maafkan saya, Paman Biao,” ucap Sharin pelan sambil menunduk penuh rasa bersalah.


“Biao. Namaku Biao. Panggil saja Biao. Jangan pake kata Paman di depannya. Aku bukan Tama yang bisa kau panggil dengan Paman. Kau bukan keponakanku.” Biao membuang tatapannya ke arah lain.


Sharin menghela napas sebelum mengeluarkan kata, “Tapi, kau teman Paman Tama.”


“Jika Tama memiliki cucu apa cucunya juga harus memanggilku Kakek?” Biao mengangkat satu alisnya.


“Kakek Biao,” celetuk Sharin asal saja.


“Kau!”


Kesabaran Biao sudah mulai hilang. Bagaimanapun juga, karakter Biao memang tidak seramah Tama. Pria itu mudah emosi saat suasana hatinya di rusak oleh orang lain. Apa lagi wanita. Cukup Sonia wanita yang selalu ingin ia bunuh salama hidupnya. Pria itu tidak ingin Sharin juga memiliki sikap yang menyebalkan seperti Sonia.


“Ada apa Sharin?” ucap Tama dari kejauhan. Pria itu muncul dengan wajah santai dan senyum manis ciri khasnya, “Paman cek di kamar kau tidak ada. Rupanya di sini.” Tama menatap wajah Biao dengan seksama.


“Sebaiknya kau harus mengajari keponakan tersayangmu ini agar memanggilku dengan benar.” Biao menatap wajah Tama dengan seksama.


“Paman tampan? Apa itu tidak benar?” ledek Tama malam itu. Ia berjalan mendekati posisi Biao dan menepuk pelan pundak sahabatnya, “Atau Paman Es?”


“Tama!” Biao menghela napas, “Kalian memang Paman dan keponakan yang sama saja,” ucap Biao sebelum pergi meninggalkan Sharin dan Tama. Pria berekspresi dingin itu cukup pusing di buat dua orang yang ada di hadapannya.


Tama tertawa saat mendengar jawaban Biao, “Atau Paman kulkas! Hei, Biao. Kau ingin Sharin memanggilmu dengan sebutan apa?” teriak Tama yang terus saja berusaha untuk meledek sahabatnya terbaiknya itu.”


“Paman, kenapa Paman mengejek Tuan Biao seperti itu,” ucap Sharin pelan.


“Nah, itu kau tahu cara memanggilnya dengan benar. Sharin, Sharin. Sudah sana segera tidur. Kau harus segera beristirahat. Lupakan saja semua kata yang sudah kau dengan dari Biao. Dia pria yang baik. Kau butuh waktu untuk bisa akrab dengannya. Paman yakin, kalian bisa dekat sebagai rekan kerja nantinya.”


Sharin menganguk pelan, “Sharin tidur dulu ya, Paman.”


Tama mengukir senyuman saat melihat kepergian Sharin malam itu. Setelah melihat Sharin hilang di balik dinding, Tama lagi-lagi memasang ekspresi bingung. Sejak tadi, pria itu berusaha untuk menelpon Anna. Tapi, entah kenapa keberaniannya sirna seketika setiap kali nomor Anna sudah terpampang di layar ponselnya. Ada rasa bingung untuk mengawali ucapannya saat itu, “Mungkin besok saja aku menghubunginya. Mungkin saja saat ini ia sedang sibuk.”


Perbedaan negara juga membuat waktu yang dimiliki Tama dan Anna tidak lagi sama. Sapporo masih menunjukkan pukul 10 malam. Sedangkan London masih siang. Untuk waktu saat ini, di London masih menunjukkan pukul dua siang. Tama tahu, jika ia menelpon Anna sekarang. Mungkin akan mengganggu jam kerjanya. Hingga akhirnya Tama memutuskan untuk menghubungi Anna besok siang saja. Di saat wanita itu istirahat di rumah pada malam hari. Di saat itulah waktu yang tepat untuk mereka bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalu hingga membuat mereka terpisah.


***


Shabira berdiri di depan jendela kamar sambil memegang kaca yang sudah berembun karena dingin. Dari lantai atas itu, terlihat jelas butiran-butiran air membeku yang jatuh ke permukaan tanah dan pepohonan. Sepanjang mata memandang hanya satu warna yang ditemukan. Rasa indah yang tersaji di depan matanya membuat Shabira melupakan dingin yang menusuk tulang saat itu. Wajah Shabira memerah karena dingin yang kini menyerangnya. Sesekali ia mengeluarkan napasnya dari mulut untuk menghangatkan tangannya yang hampir putih.


Dari belakang, Kenzo muncul dengan selembar selimut di tangannya. Pria itu menutup seluruh tubuh istrinya dengan selimut yang baru saja ia temukan. Bibirnya mengukir senyuman bahagia, karena bisa selalu berada di samping Shabira seperti ini. Kenzo tidak pernah menyangka. Kalau impiannya menyaksikan salju turun bersama dengan Shabira bisa terwujud.


“Apa kau tidak kedinginan? Kenapa tidak memakai baju tebal?” Kenzo memeluk tubuh Shabira dari belakang. Meraih kedua tangan Shabira dan mengusapnya agar kembali hangat.


“Aku sangat senang bisa melihat salju turun di kota ini. Jika bukan karenamu, aku tidak akan pernah melihat pemandangan indah seperti ini seumur hidupku.” Shabira menyandarkan tubuhnya di dada Kenzo, “Kenzo, apa ini kamarmu sejak kecil?” tanya Shabira sambil memperhatikan foto Kenzo yang ada di dinding.


“Ya. Setiap kali aku datang ke rumah ini. Kamar ini akan menjadi tempatku beristirahat. Aku sengaja memilih kamar yang letaknya cukup jauh. Jika dekat dengan Daniel, aku tidak akan bisa beristirahat di buatnya. Dia pria yang suka mengganggu ketenangan orang lain,” ucap Kenzo sambil tertawa saat membayangkan masa-masa kecilnya bersama Daniel.


“Kalian sangat dekat sejak kecil. Namun, saat dewasa kau mengajaknya berkelahi hanya karena aku pergi meninggalkanmu,” ucap Shabira dengan wajah sedih.


“Itu kesalahan terbodoh yang pernah aku lakukan. Seharusnya aku percaya padanya. Tapi, aku justru menyalahkannya saat itu.” Kenzo meletakkan kepalanya di pundak Shabira, “Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan melakukan hal seperti itu padanya.”


“Jika waktu di putar kembali. Keadaan tidak akan pernah sama seperti sekarang, Kenzo. Sedikit saja kita memperbaiki takdir kita di masa lampau. Hal itu akan berpengaruh besar untuk hidup kita di masa yang akan datang.” Shabira mengusap lembut rambut Kenzo, “Memang seperti ini takdir hidup kita yang sudah dipersiapkan.”


“Sayang, ayo kita tidur.” Kenzo mengecup pipi Shabira berulang kali.


Shabira mengukir senyuman sebelum mengikuti Kenzo menuju ke tempat tidur. Memiliki suami yang pengertian serta Kakak kandung yang sangat menyayangi merupakan kebahagiaan tiada tara bagi hidup Shabira.