
Rumah Utama Edritz Chen
Hari yang cerah terganti dengan malam yang begitu dingin. Satu persatu salju mulai turun untuk menyelimuti kota Sapporo. Pohon-pohon yang semula berwarna hijau kini telah terganti dengan warna putih. Jalanan yang tampak ramai juga sudah terlihat sunyi. Hanya ada tumpukan es dimana-mana. Setiap orang memilih untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga di dalam rumah.
Shabira dan Kenzo juga ada di rumah Daniel saat ini. Mereka ingin menyambut salju pertama bersama dengan Serena dan Daniel di rumah utama. Walau di kelilingi dengan es yang cukup dingin, namun suasana rumah utama masih tetap terasa hangat.
Di sebuah ruang makan berukuran luas, terdengar jelas canda tawa di sana. Terlihat juga beberapa pelayan yang sedang sibuk ke sana ke mari menyiapkan hidangan di atas meja makan. Pak Sam membuatkan mie ramen sebagai menu makan malam mereka saat menyambut musim dingin. Seluruh orang di minta oleh Tuan Edritz untuk ikut dalam makan malam di meja besar itu.
Serena tersenyum memandang wajah orang-orang tercintanya yang kini mengelilingi meja makan. Hatinya merasa sangat bahagia. Ketenangan dan keharmonisan seperti ini memang selalu ia impikan sejak dulu. Di saat pria yang ia cintai terus saja menggenggam tangannya, di saat itulah Serena merasakan ketenangan di dalam hatinya.
Sharin, Tama dan Biao juga ada di meja makan itu. Ketiga bawahan Daniel itu terlihat mengukir senyum saat mendengar candaan ringan antara Daniel dan Kenzo. Pak Sam dan Pak Han juga duduk di salah satu kursi untuk menikmati makan malam bersama. Tidak ada jarak antara bawahan dan atasan di meja makan itu. Semua orang terlihat seperti keluarga yang saling melengkapi satu sama lain.
Setelah beberapa menit kemudian. Suasana makan malam itu telah berakhir. Mangkuk-mangkuk yang sebelumnya penuh juga hanya tersisa kuah beberapa sendok saja. Para pelayan wanita lagi-lagi sibuk untuk membersihkan meja makan itu.
“Serena, apa kau baik-baik saja?” Ny. Edritz masih terus saja mengkhawatirkan menantu kesayangannya. Sejak kembali dari bertarung tadi sore, wanita paruh baya itu belum menemukan waktu yang tepat untuk mewawancarai Serena.
“Serena baik-baik saja, Ma. Lihatlah, tidak ada yang terluka kan?” Serena mengukir senyuman indah sambil memamerkan tubuhnya yang baik-baik saja.
Ny. Edritz menghela napas lega, “Mama sangat mengkhawatirkanmu. Apa pria itu sudah tidak ada lagi di dunia ini?” tanyanya penuh rasa penasaran.
“Serena dan Daniel sudah berhasil membunuh pria itu, Tante. Tante tenang saja. Selama musim dingin kita akan hidup dengan tenang.” Kenzo angkat bicara. Pria itu menatap wajah Shabira sebelum melanjutkan perkataannya, “Bahkan musuh kami kali ini berlari saja tidak bisa. Bagaimana mungkin ia berpikir untuk mencari masalah dengan keluarga besar kita.”
Daniel tertawa saat mendengar perkataan Kenzo, “Tapi dia cukup ahli saat melemparkan senjata tajam.” Daniel memandang telapak tangannya yang kini di perban.
“Itu karena kau terlalu panik. Padahal aku juga bisa menghindarinya tanpa membuatmu terluka tadi,” sambung Serena cepat.
“Sudah-sudah. Kalian kalau sudah berkumpul selalu saja membuat Mama pusing.” Ny. Edritz beranjak dari duduknya, “Pa, ayo kita istirahat di kamar saja. Mama sangat lelah hari ini.”
Tuan Edritz mengukir senyuman sebelum ikut beranjak dari kursi itu. Pria paruh baya itu menatap wajah semua orang sebelum mengeluarkan kata, “Makan malamnya sudah selesai. Kalian bebas melakukan apa saja setelah ini.”
Semua orang yang ada di meja makan itu mengucapkan selamat malam kepada Tuan dan Ny. Edritz. Wajah masing-masing pemilik nama terlihat berseri. Tuan dan Ny. Edritz pergi meninggalkan meja makan itu. Diikuti Pak Sama dan Pak Han yang merasa dirinya tidak berkepentingan.
Serena tertarik untuk berbincang dengan Sharin malam itu, “Sharin, kau memiliki bakat yang luar biasa. Jika bukan tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa memenangkan pertarungan tadi siang dengan sempurna,” ucap Serena sambil menatap wajah cantik Sharin.
“Terima kasih, Nona. Saya sangat senang bisa membantu Nona Serena dan Tuan Daniel.” Sharin menundukkan kepalanya dengan malu-malu.
“Sharin ini keponakan Tama, Sayang. Dia hanya magang selama tiga bulan di S.G.Group.” Daniel menatap wajah Serena dengan senyuman.
“Hanya magang? Bahkan Sharin memiliki bakat untuk bisa menjadi karyawan tetap di S.G. Group,” sambung Serena cepat. Wanita tangguh itu benar-benar kagum dengan kemampuan yang dimiliki gadis berusia 20 tahun itu. Bahkan, di usianya yang sekarang. Serena tidak bisa melakukan hal yang dikuasai Sharin seperti tadi siang.
Tama mengukir senyuman bahagia saat melihat wajah Sharin. Sejak awal ia memang percaya, kalau Sharin pasti bisa di handalkan.
“Tuan, saya permisi dulu.” Biao beranjak dari kursi. Pria itu ingin mengangkat panggilan masuk yang baru saja ia terima. Daniel mengangguk pelan dengan senyuman.
“Saya kuliah di Amerika, Nona. Tetapi, sejak kecil saya tinggal di kota Marioka, Nona.”
“Marioka?” celetuk Serena. Kota itu adalah kota yang sama saat Tuan Wang membawanya pergi meninggalkan Hongkong setelah kecelakaan. Di kota Marioka Serena hidup dengan kesederhanaannya. Bahkan, di kota itu juga dirinya dan Daniel pertama kali bertemu. Ada raut wajah sedih saat Serena kembali mengingat nama kota itu.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” Daniel menggenggam erat tangan Serena. Pria itu tahu kalau terjadi sesuatu di dalam hati istrinya saat ini. Ekspresi wajah Serena berubah dalam waktu singkat, setelah Sharin mengucapkan nama kota itu.
Serena menghela napas, “Kota itu memiliki banyak kenangan indah bersama dengan Papa, Daniel.”
Sharin terlihat bingung dan takut. Wajah majikannya berubah sedih setelah dia memberitahu kota kelahirannya.
“Daniel, sepertinya kita juga harus kembali beristirahat. Tubuhku juga terasa lelah saat ini,” ucap Kenzo pelan. Pria itu merasa kalau suasana meja makan itu tidak lagi bersahabat. Jika di bahas lebih lanjut lagi, akan membuat Serena semakin sedih. Bagaimanapun juga, di kota itu Serena memulai hidupnya yang baru setelah ia melupakan semua ingatannya. Semua hal yang pernah terjadi di Hongkong, telah terkubur saat Tuan Wang membawanya ke kota itu.
“Kak, Kakak jangan sedih. Tuan Wang sudah bahagia di sana. Kakak juga memiliki calon bayi yang kini ada di dalam perut Kakak. Jika Kakak sedih, mereka juga akan ikut sedih nantinya,” sambung Shabira yang berusaha untuk membujuk Kakak angkatnya itu.
Serena mengukir senyuman terpaksa, “Aku ingin istirahat.”
“Aku akan menemanimu, Sayang.” Daniel juga ikut beranjak dari kursi. Pria itu merangkul pinggang Serena dan membawanya ke kamar untuk beristirahat.
Di meja makan, Shabira dan Kenzo saling memandang satu sama lain. Sepasang suami istri itu juga tahu bagaimana kesedihan Serena saat itu.
“Tama, kami juga mau ke kamar untuk beristirahat. Sebaiknya kau juga segera istirahat,” ucap Kenzo.
“Silahkan, Tuan,” ucap Tama sambil tersenyum kecil.
Sharin dan Tama ikut beranjak dari kursi saat Shabira dan Kenzo mau pergi meninggalkan meja makan. Kini yang tersisa di meja makan hanya ada Tama dan Sharin. Tama kembali duduk di kursi sebelumnya sambil memikirkan Anna. Sejak pagi ia berencana untuk menjemput wanita itu. Namun takdir berkata lain. Tiba-tiba saja ada banyak masalah yang terjadi hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk menghubungi wanita itu.
“Paman, Sharin ke kamar duluan ya,” ucap Sharin pelan.
“Ya, kau juga harus istirahat.” Tama menepuk pelan kepala gadis itu dengan senyuman, “Terima kasih, Sharin atas pernjuanganmu hari ini untuk membantu Tuan Daniel dan Nona Serena.”
Sharin mengukir senyuman, “Aku juga tidak mau membuat Paman Tama malu.”
“Ya sudah sana, cepat tidur. Jangan lupa kenakan selimutmu karena cuaca malam ini akan terasa sangat dingin.”
“Siap, Paman.” Sharin berjalan meninggalkan meja makan. Wanita itu menatap sekeliling rumah mewah itu dengan seksama. Tatapan matanya tertuju pada kolam renang yang ada di balik kaca besar. Tiba-tiba saja Sharin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Wanita itu ingin melihat turunnya salju di halaman yang tidak jauh dari kolam renang itu berada.
Dengan hati-hati Sharin menggeser pintu kaca yang akan menghubungkannya ke arah kolam renang. Wanita itu berjalan pelan untuk mendekati kolam renang yang terlihat sangat indah. Langkahnya terhenti saat kedua bola matanya memandang pria yang ia kagumi di tempat itu.
“Paman tampan,” celetuk Sharin dengan wajah berseri.
Like, dan komen. untuk Votenya letak di Moving On aja ya. biar ada di rangking. terima kasih😘