Mafia's In Love

Mafia's In Love
Daniel dan Serena



Daniel telah berhasil membawa Serena, kembali ke kamar apartemen. Wajahnya terlihat panik, melihat keadaan Serena. Tanpa lama berpikir, Daniel segera menghubungi seseorang yang ia kenal untuk membantu masalahnya saat ini.


“Segera ke apartemenku, aku membutuhkan bantuanmu.”


Panggilanpun terputus, kini pandangannya hanya tertuju pada Serena yang masih tidak sadarkan diri.


“Dasar gadis bodoh, aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di kamar ini. Kenapa kau malah turun ke bawah. Apa yang akan aku katakan pada Mama, jika tadi kau dalam bahaya.” Daniel terus memandang wajah Serena.


Seseorang mengetuk pintu, Daniel menatap ke arah pintu sebelum mengeluarkan kata, “Masuk.”


Biao muncul dari balik pintu dengan ekspresi dingin ciri khasnya, “Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanya Biao dengan raut wajah panik, sambil melangkah pelan mendekati Daniel.


“Aku baik-baik saja. Tapi dia,” jawab Daniel pelan yang kembali memandang ke arah Serena.


“Saya sudah menyuruh Nona Serena untuk menunggu, Tuan. Tapi ….” Biao menghentikan perkataannya, dan memandang ke arah Serena penuh pertanyaan.


Seharusnya aku tahu sejak awal. Kalau Nona Serena tidak akan semudah itu, menuruti pekataanku.


Umpat Biao kesal, dalam hati.


“Aku sudah menghubungi Adit. Dia akan segera datang untuk memeriksa keadaan Serena.” Daniel menatap tajam wajah Biao.


Adit adalah salah satu sahabat yang dimiliki Daniel saat ini. Sahabat terbaik, yang selalu ada saat ia memiliki masalah di S.G. Group. Selain pengusaha sukses, Adit juga berprofesi sebagai seorang dokter. Bahkan bisnis yang bergerak di perusahaannya, juga seputar farmasi. Adit juga memiliki satu buah Rumah Sakit, tempat ia menyalurkan bakat kedokterannya.


“Tuan, saya rasa Mr. X bukan hanya seorang CEO di perusahaannya. Sepertinya, dia juga memiliki bisnis gelap. Hal itu membuat dirinya di buruh oleh musuhnya,” ungkap Biao sambil kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


“Saya tidak tahu tentang itu, itu tugasmu untuk menyelidikinya,” jawab Daniel santai. Saat ini, pikirannya masih dipenuhi dengan kesehatan Serena.


“Saya akan segera menyelidikinya, Tuan.” Biao menunduk, dan melangkah pergi meninggalkan Daniel dan Serena di dalam.


“Tunggu, Biao!” teriak Daniel, menatap wajah Biao dengan serius.


“Maaf, Tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya Biao, yang kini sudah membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Daniel.


“Dimana kau menemukan Serena?” tanya Daniel penasaran.


Satu kalimat tanya yang baru saja dikatakan oleh Daniel, membuat Biao kembali mengingat sosok Kenzo. Hatinya benar-benar dipenuhi rasa bersalah yang besar, terhadap sang majikan.


“Nona Serena,” ucap Biao pelan merasa bingung harus menjawab jujur atau tidak, Biao terlihat sangat gugup.


“Apa ada yang kau sembunyikan Biao?” tanya Daniel penuh curiga.


Sikap Biao sangat jelas terlihat, kalau ia sedang menyembunyikan rahasia dari Daniel. Namun, belum sempat Daniel menekan Biao agar jujur kepada dirinya. Tiba-tiba…


Tok tok....


Suara ketukan pintu, membuat Daniel dan Biao mengalihkan pandangannya. Sesosok pria baru saja membuka pintu, untuk masuk ke dalam.


“Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?” ungkap Adit santai yang baru saja tiba di sana, “Apa yang terjadi dengan Nona muda keluarga Edritz?” Adit melangkah ke arah Serena, dan memegang pergelangan tangan Serena.


“Aku tidak mengerti, kenapa dia mudah sekali pingsan,” ucap Daniel sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.


“Aku rasa dia kelelahan dan belum makan,” ungkap Adit.


“Maksudmu dia pingsan karena kelaparan?” tanya Daniel ragu sambil mengerutkan dahinya.


“Sungguh merepotkan,” decak Daniel kesal.


“Aku mendengar ada keributan tadi. Siapa yang ingin menyerangmu?” tanya Adit penasaran yang kini sudah duduk di hadapan Daniel.


“Aku tidak mengenal mereka, penyerangan itu terjadi secara tiba-tiba.” Daniel menopang kepala dengan tangan kanannya.


”Aku rasa keluarga Edritz memiliki musuh yang bertambah banyak,” ucap Adit santai.


“Kau belum menjawab pertanyaanku, Biao.” Satu kalimat yang diucapkan Daniel, berhasil membuat Biao kembali bingung.


“Nona Serena pergi ke pantai, Tuan. Saya pikir Nona tidak suka diikuti pengawal, hingga akhirnya Nona pergi secara diam-diam,” ungkap Biao yang masih menutupi kehadiran Kenzo.


Pantai? semalam dia pergi ke Taman Bunga. Sekarang dia pergi ke Pantai. Dasar wanita bodoh, apa dia tidak bisa berdiam diri di rumah. Bahkan rumah itu sudah dilengkapi taman bunga dan kolam renang yang luas.


Protes Daniel dalam hati, tanpa tersirat rasa curiga sedikitpun.


“Daniel, Apa pernikahanmu dengan Serena baik-baik saja? Apa Sonia melakukan sesuatu padamu?” tanya Adit dengan khawatir. Ia tahu kehadiran Sonia di samping Daniel bisa merusak pernikahan sahabatnya itu.


Adit salah satu teman Sonia dan Aldi. Mereka bertiga memiliki hubungan yang cukup dekat. Setelah pernikahan Daniel, Aldi menghilang dan menjauh dari hidup Sonia. Hal itu membuat Adit kehilangan sosok sahabat terbaiknya.


“Aku bisa mengatasinya,” jawab Daniel singkat.


“Seharusnya Aldi tidak memaksamu, untuk mempekerjakan Sonia di S.G. Group, Daniel.”


“Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu Adit.” Daniel membuang tatapannya.


“Terserah kau saja, Daniel.” Adit menyandarkan tubuhnya di sofa.


Biao menuangkan minuman bersoda, ke dalam gelas kosong yang ada di hadapan Daniel dan Adit, “Saya permisi, Tuan.” Biao membungkukan tubuhnya setengah hormat.


“Tunggu, Biao,” pintah Daniel, “Apa Mama sudah mengetahui hal ini?”


“Nyonya tidak mengetahui kehilangan Nona Serena, Tuan. Saya sudah menghubungi Nyonya dan memberitahu, kalau Nona Serena akan menginap di Apartement malam ini.”


“Kau boleh pergi sekarang.” Danie meneguk minuman dari gelas yang kini ia genggam.


Tanpa banyak kata lagi, Biao melangkah pergi keluar dari ruangan Apartemen itu. Hatinya masih merasa bersalah atas kehadiran Kenzo yang sudah ia tutupi.


“Tunggu Biao, Aku ikut pergi denganmu. Aku tidak akan berlama-lama di dalam ruangan, yang berisi sepasang kekasih ini.” Adit berdiri dan melangkah mendekati Biao.


“Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Adit. Kau satu-satunya sahabat terbaikku,” ucap Daniel kesal saat melihat kepergian Adit.


“Aku akan menemuimu lain hari, sekarang sudah larut malam.” Adit menutup pintu dari luar.


“Dia sungguh menyebalkan.” Daniel melangkah ke arah tempat tidur untuk memandang wajah Serena, “Apa kau akan tidur sampai besok pagi?” tanya Daniel pelan. Ia terus memandang wajah Serena yang sedang memejamkan mata.


Melihat tidak ada tanda-tanda Serena akan segera sadar, Daniel memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya di sana. Dilihatnya Handphone yang berisi beberapa pesan dari sang Ibu.


Apa kau memutuskan untuk mempercepat Bulan Madu kalian di Apartemen?


~Mama


“Ini bukan bulan madu yang sudah kurencanakan, Ma. Tapi kekacauan yang disebabkan oleh menantu kesayanganmu itu,” jawab Daniel pelan sebelum melanjutkan ritual berendamnya.