
2 Tahun yang lalu ....
Wilayah Kota Sky, Hongkong.
Rumah Utama Wang.
Cuaca malam itu dipenuhi kilatan-kilatan dari langit. Suara gemuruh petir sesekali juga terdengar dari arah luar. Serena dan Tuan Wang duduk berhadapan di sebuah meja makan berukuran kecil. Mereka berdua tidak lagi memperdulikan suara gemuruh petir yang begitu mencengkam di luar rumah.
Suapan demi suapan makanan, Serena masukan ke dalam mulutnya. Matanya tidak teralihkan sedikitpun, hanya fokus pada piring yang ada di hadapan.
Tuan Wang meletakkan sendok dan garpu dengan begitu tenang. Hingga tidak ada mengeluarkan suara sedikitpun. Mengambil selembar tisu untuk membersihkan mulutnya. Tatapan matanya kembali ia fokuskan pada putri kesayangannya yang baru saja menginjak usia 23 Tahun itu.
“Papa, kenapa Papa menatapku seperti itu?” Serena meletakkan sendok dan gerpu diatas piring, hingga terdengar suara kaca yang bersentuhan.
“Erena, usiamu sudah 23 Tahun. Tapi kau belum juga memperkenalkan pacarmu kepada Papa.” Tuan Wang mengunci kedua jari tangannya, sebelum meletakkannya di atas meja.
“Papa, Erena belum mau pacaran. Selama ini Erena hanya fokus sama kuliah. Belajar dan terus belajar. Biar bisa mewarisi perusahaan Papa.” Serena mengedipkan salah satu bola matanya sambil tersenyum manis.
“Hanya kau putri yang Papa miliki. Semua kekayaan ini milikmu. Tapi, Papa ingin memberikan semua harta Papa setelah kau menikah. Kau harus segera menemukan pria yang bisa mengurus perusahaan. Agar kalian bisa menjadi orang ternama dan sukses seperti Papa.” Tuan Wang menatap wajah Serena dengan serius.
Serena beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Tuan Wang. Memeluk pria itu dari belakang sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Aku belum ingin menikah. Aku ingin berpetualang ke suatu tempat, Pa. Selama ini aku sudah menuruti Papa, sekolah dan belajar tentang ilmu bisnis.” Serena tersenyum saat membayangkan keindahan dunia. Ia sudah menyusun rencana untuk keliling dunia dan bersenang-senang.
“Erena, Papa sudah menyiapkan pria yang baik untukmu. Ia pewaris tunggal salah satu perusahaan di Jepang.” Tuan Wang membayangkan wajah Daniel, yang memang sejak dulu sudah ia persiapkan untuk menjadi suami Serena.
“Maaf, Pa. Tapi sebaiknya Papa hapus niat Papa itu. Aku tidak mau menikah karena perjodohan. Aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai.” Serena melepas pelukannya, berdiri di samping meja.
“Aku ingin sosok pria yang mengerti isi hatiku, walaupun aku belum berbicara. Pria yang bisa selalu membuatku tertawa. Pria yang selalu membuatku, memikirkan namanya siang dan malam.” Serena mengkhayalkan sosok pria yang belum pernah ia jumpai. Sosok pangeran yang sejak dulu ingin ia nikahi.
“Satu lagi, Pa. Erena gak suka pria yang berprofesi sebagai CEO. Pria seperti itu sangat lemah. Ia pasti selalu mengandalkan uang dan membayar pengawal untuk melindungi orang lain. Erena ingin punya suami yang bisa memegang pistol dan menembak. Pria seperti itu akan melindungi hidup Erena, dimanapun Erena berada.” Serena tersenyum penuh bahagia.
“Erena, Pria seperti itu tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam keluarga Wang. Pria seperti itu akan identik dengan hidup di jalanan. Sangat tidak pantas memegang perusahaan, dan memiliki nama yang terhormat.” Tuan Wang beranjak dari duduknya, menatap wajah Serena dengan tatapan tidak suka.
“Jika kau tidak bisa membawa pria yang sesuai kriteria Papa dalam waktu dekat. Maka Papa akan segera mengatur pertunanganmu dengan pria yang sudah Papa siapkan.” Tuan Wang memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Serena yang masih berdiri mematung.
Buliran air mata menetes dari pelupuk mata Serena. Hatinya terasa sakit dan perih, saat pria paruh baya itu bersih keras untuk menjodohkannya. Serena sangat benci dengan perjodohan. Menikah karena terpaksa bukan impiannya selama ini.
“Aku sudah menuruti semua permintaan Papa sejak aku kecil. Apapun yang Papa inginkan selalu aku turuti. Hanya tentang Pria yang ku cintai Papa tidak bisa mengabulkan permintaanku,” ucap Serena dengan hati yang dipenuhi rasa kecewa.
Serena menghapus air matanya yang menetes, dengan wajah marah.
“Baiklah, jika Papa bilang pria seperti itu tidak pantas untukku. Kita lihat, jika aku yang berubah menjadi seperti itu apa masih pantas untuk menikah dengan pria lemah yang Papa siapkan untukku itu.”
Sejak awal Serena sudah sangat membenci pria yang akan menjadi suaminya itu. Walaupun ia belum pernah melihat wajahnya, bahkan mengetahui namanya.
Di tengah hujan yang deras, Serena berlari kearah mobil. Melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah, untuk merubah jati dirinya karena kecewa.
“Aku harus bisa menjadi wanita yang bisa menembak. Agar aku bisa menemukan pria yang ahli dalam menembak. Aku akan semakin sial, jika menikah dengan pria berstatus CEO.” Serena menambah laju mobilnya. Menembus rintikan hujan yang lebat. Pemandangan depan sedikit tidak jelas, tapi Serena tidak ingin menurunkan laju mobilnya.
Hingga, tiba-tiba…
Serena mengerem mobilnya secara mendadak. Tubuhnya tertahan sabuk pengaman. Wajahnya berubah panik saat melihat sosok wanita yang tergeletak ditengah jalan. Hujan membasahi wanita itu. Rambutnya menutupi wajah.
“Siapa wanita itu?” Serena membuka pintu untuk mengecek keadaan yang ada. Sejak kecil Serena memang sudah memiliki sifat yang berani. Ia tidak mudah takut dengan bahaya.
Perlahan, Serena menurunkan kaki kanannya. Membuka payung untuk menghindari tubuhnya dari hujan yang menetes. Serena berjalan mendekati wanita itu. Menyentuh tubuh wanita itu sebelum memutar tubuhnya dan melihat wajahnya.
“Kau, terluka.” Mata Serena terbelalak kaget, saat ia melihat luka tembakan di bagian perut dan tangan wanita itu. Wanita itu membuka matanya perlahan, memandang wajah Serena dengan penuh kesedihan.
“Tolong aku, seseorang ingin membunuhku.” Wanita itu mencengram kuat tangan Serena.
Serena memperhatikan keadaan sekitar. Lokasi itu sangat sunyi. Serena mencari-cari keberadaan warga sekitar untuk membantunya menolong wanita itu.
“Tolong aku,” ucap wanita itu lagi.
Serena tidak lagi memiliki pilihan. Ia meletakkan payung yang sejak tadi ia genggam, meletakkannya di jalan.
“Ayo, aku akan menolongmu.” Serena mengangkat tubuh wanita itu. Memapah tubuh wanita itu untuk berjalan kearah mobilnya. Wanita itu berdiri dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.
“Masuklah, aku akan membawamu ke rumah sakit.” Serena membuka pintu mobil.
“Jangan, tolong jangan bawa aku ke rumah sakit. Pria itu akan menemukanku di sana.” Wanita itu menggengam erat tangan Serena.
“Kau terluka. Siapa yang akan mengobatimu jika kau tidak ke rumah sakit?” Serena menghapus air hujan yang membasahi wajahnya, agar bisa memandang wajah wanita itu dengan jelas.
“Bawa aku ke tempatmu. Akan ada dokter yang mengobatiku di sana, nantinya.” Wanita itu semakin lemah, ia masuk dan duduk di dalam kursi mobil.
Serena hanya diam tanpa protes, ia menutup rapat pintu mobilnya sebelum berlari kecil ke arah samping mobil.
“Aku akan membawamu ke tempat rahasiaku selama ini. Aku punya tempat persembunyian, yang gak bisa di lacak siapapun.” Serena mulai melajukan mobilnya.
Sejak kecil, tiap kali Serena marah dengan Tuan Wang. Ia selalu pergi ke tempat itu. Hanya tempat itu satu-satunya tempat yang tidak pernah bisa dilacak oleh Tuan Wang atapun polisi.
Berkali-kali Serena bersembunyi di tempat itu saat marah. Berkali-kali juga Tuan Wang tidak bisa menemukan lokasinya.
.
..
...
Episode Bonus karena author ge seneng, bnyk yg kasih tips koin🤭🤭
...
..
.
Terima kasih...😘😘😘😘😘