Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 16



Di Rumah Utama keluarga Daeshim Chen.


Setelah sekian lama berada di luar negeri, hari ini Kenzo kembali ke rumah utama milik keluargaDaeshim Chen. Mobil Kenzo berhenti di depan pintu utama. Beberapa pelayan sudah berdiri di sana.


Satu pengawal membuka pintu mobil, untuk memberi jalan kepada Kenzo. Ia turun dari mobil, dengan wajah tidak bersahabat. Kepala pelayan dan beberapa pelayan menyambut kedatangan Kenzo. Mereka menunduk hormat sebagai ucapan selamat datang.


“Selamat malam, Tuan.” Kepala pelayan membungkuk hormat.


“Selamat malam,” jawab Kenzo pelan, tanpa memandang.


Kenzo berjalan masuk. Satu pelayan mengeluarkan barang-barang Kenzo dari bagasi mobil. Kenzo menaiki anak tangga dengan langkah cepat. Ia ingin segera tiba di dalam kamar, untuk beristirahat.


Di depan kamar, satu pengawal menunduk hormat. Pengawal itu membukakan pintu kamar Kenzo. Kenzo masuk tanpa mengucapkan satu katapun. Ia berjalan cepat ke arah sofa. Menjatuhkan tubuhnya yang sangat lelah, di atas sofa yang empuk. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman.


Kepala pelayan yang sejak tadi ada di belakang, berdiri di samping Kenzo. Pria itu menunduk hormat, setelah meletakkan barang Kenzo di dalam kamar.


“Tuan, air sudah disiapkan. Anda ingin makan di kamar atau di bawah?” tanya pria itu dengan penuh hormat.


“Tinggalkan saya sendiri.” Kenzo memejamkan matanya yang terasa lelah.


“Maaf, Tuan. Beberapa hari yang lalu, Tama ke sini. Ia meminta anda untuk menemui Tuan Daniel di rumah utama.”


“Tama?” Kenzo kembali membuka matanya, ia memandang wajah kepala pelayan itu.


“Benar, Tuan.” Kepala pelayan itu hanya tertunduk.


Untuk apa Daniel ingin menemuiku? Aku sudah lama tidak mengganggu hidupnya dan Serena. Apa ada masalah baru yang tidak aku ketahui? Sebaiknya aku segera menemuinya. Aku juga ingin bertemu dengan Serena.


Kenzo melamun untuk sejenak, ia kembali sadar dari lamunannya dan menatap dingin pria itu, “Katakan pada mereka. Besok pagi aku akan datang ke rumah utama.”


“Baik, Tuan.”


Kepala pelayan menunduk sejenak, sebelum pergi meninggalkan Kenzo di kamar. Ia menutup pintu dengan hati-hati, agar tidak terdengar suara sedikitpun.


Kenzo masih memandang langit-langit kamar. Pikirannya masih dipenuhi dengan rasa penasaran atas undangan Daniel. Ia tidak pernah menyangka, akan mendapat undangan dari Daniel untuk kembali ke rumah utama, milik keluarga Edritz Chen. Rumah yang memang sejak dulu, sudah seperti tempat tinggal bagi dirinya.


Sejak perkelahian di Rumah Sakit, Kenzo tidak pernah muncul di hadapan Daniel maupun Serena. Ia tidak ingin membuat kesalahan yang sama pada Daniel. Kenzo pergi keluar negeri untuk mencari keberadaan Shabira. Sudah cukup lama ia pergi, tapi tidak juga berhasil menemukan Shabira. Hingga ia menyerah dan kembali pulang.


Kenzo beranjak dari duduknya, ia melangkah ke arah kamar mandi. Ia ingin membersihkan diri, sebelum istirahat malam ini. Pikirannya masih dipenuhi rasa kecewa, karena tidak berhasil menemukan Shabira.


***


Kembali ke Rumah Utama Edritz Chen.


Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya masuk ke dalam kamar. Serena berbaring di atas tempat tidur. Daniel Juga naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut, untuk menutupi tubuh Serena. Daniel mengusap lembut pucuk kepala Serena.


“Sayang … ada apa? kau terlihat sangat takut?” Daniel memperhatikan wajah Serena dengan seksama. Menyentuh pipi Serena dengan lembut.


Serena menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah, hingga jam pasir itu terlepas dari tanganku.”


“Kau berbohong ….” Daniel menyentuh dagu Serena. Ia tahu, kalau ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.


“Aku ….”


Daniel menghentikan ucapan Serena, ia mengecup bibir Serena. Daniel tersenyum manis, dan memandang wajah Serena dengan seksama, “Katakan padaku. Apa hubunganmu dengan Kenzo?”


Serena mematung. Ia tidak lagi berhasil untuk berbohong malam ini. Daniel sudah menyimpan rasa curiga terhadap dirinya. Serena menggenggam erat selimut yang kini menutupi tubuhnya. Bibirnya membisu tidak lagi bisa berbicara.


“Sayang … katakan. Jangan sembunyikan rahasia apapun dariku,” ucap Daniel dengan lembut.


“Shabira,”ucap Serena pelan.


“Shabira? wanita yang menjadi tunangan Kenzo?” Daniel mengerutkan dahinya. Ia masih tidak percaya, kalau Serena juga mengenal Kenzo di masa lalu.


Serena mengangguk takut. Serena memejamkan matanya untuk kembali berpikir jernih. Tatapan tajam dari Daniel, membuat dirinya semangkin susah untuk berkata-kata.


“Ceritakan padaku. Apa hubunganmu dengan wanita itu?”


“Shabira adalah orang kepercayaanku. Aku sangat menyayanginya. Dia sudah seperti adik kandungku sendiri.” Serena kembali mengingat wajah Shabira.


“Wanita itu menghilang di pesta pernikahannya, bukan? Apa kau tahu, penyebab wanita itu pergi, sayang.” Daniel mengusap lembut rambut Serena.


“Aku tidak tahu, dia pergi kemana. Tapi memang aku yang menyebabkan dia pergi meninggalkan Kenzo.” Serena kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Shabira.


“Sayang … kenapa kau memisahkan mereka?”


“Shabira dalam bahaya.” Serena memejamkan matanya sesaat, “Daniel, aku harus menemukan Shabira.”


“Iya, tapi dimana kita harus mencarinya?” tanya Daniel bingung.


Mengatakan Hingkong. Daniel menjauh dari tubuh Serena. Ia duduk bersandar di ujung tempat tidur. Menatap ke arah depan. Dia kenal negara Hongkong. Ia tidak ingin Serena pergi meninggalkan dirinya lagi.


“Aku akan menyuruh orang untuk mencarinya.” Wajah Daniel sudah berubah. Ia terlihat kecewa kepada Serena malam ini.


Serena bangkit dari tidurnya. Ia bersandar pada dada bidang milik Daniel, “Maafkan aku Daniel. Tapi tidak akan ada yang bisa menemukannya, selain aku.”


“Serena … apa kau akan pergi meninggalkanku lagi! bersama pria itu?”


Serena meletakkan satu jarinya di ujung bibir milik Daniel, “Percaya padaku, aku tidak akan meninggalkan dirimu, sayang. Dia juga sudah ada di negara ini.”


“Kau tahu, kalau dia uda di sini?”


Serena mengangguk pelan, “Dia mengikutiku tadi pagi. Saat aku pergi ke rumah Diva. Dia tidak berani untuk menemuiku.”


Daniel tersenyum bahagia, sebelumnya Biao sudah menyampaikan hal itu melalui pesan singkat.


Ternyata kau salah Biao. Serena tahu keberadaan Zeroun. Tapi, ia tidak ingin menemuinya lagi.


“Sayang … tapi aku tetap akan menemanimu mencari wanita itu. Besok akan kita bicarakan sama Kenzo, dia akan membantumu untuk menemukan Shabira.” Daniel terus berusaha, agar Serena tidak pergi meninggalkannya.


“Shabira tidak akan mudah di temukan dengan cara seperti itu Daniel. Jangan sampai Kenzo tahu, kalau aku orang yang sama dengan Erena. Dia akan sangat membenciku.”


“Kau takut, jika Kenzo membencimu?” Tatapan mata Daniel sudah berubah menjadi tatapan cemburu. Ia tidak ingin Serena terlalu dekat dengan Kenzo.


“Kami sempat menjalin persahabatan.” Serena memandang wajah Daniel. Ia tidak ingin Daniel salah paham pada dirinya dan Kenzo.


“Besok kita bicarakan lagi, sekarang waktunya tidur.”


Daniel membawa tubuh Serena ke dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Serena. Tangan kiri Daniel menjadi bantal Serena malam ini.


"Selamat malam ...." Serena memejamkan matanya perlahan, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang ia cintai.


Daniel masih memandang langit-langit kamar. Ia baru saja ingin berbaikan dengan Kenzo. Tapi masalah baru kembali muncul. Ia tidak ingin, Kenzo menyalahkan Serena atas Shabira.


Kenzo bukan orang biasa. Jika ia tahu kalau wanita yang paling ia cintai menghilang karena dirimu. Aku tidak tahu, hal kejam apa yang akan ia berikan kepadamu, sayang. Tapi …apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu, untuk melindungimu selamanya.


Daniel mencium pucuk kepala Serena. Ia tersenyum manis melihat Serena sudah tertidur dengan lelap.


***


Biao dan Tama baru saja menyelesaikan pekerjaan kantor. Tama mengangkat kedua tangannya, meregangkan ototnya yang terasa lelah. Biao berdiri dari duduknya, menyusun beberapa berkas dengan rapi.


“Apa Tuan muda Kenzo sudah kembali. Besok ia akan datang ke rumah ini.” Tama berdiri dari duduknya.


“Ya, persaudaraan Tuan Daniel dan Tuan Kenzo akan terjalin seperti dulu lagi.”Biao kembali memikirkan masa lalu Serena. Ia tahu, kalau Zeroun dan Kenzo adalah orang yang saling mengenal.


“Apa yang kau pikirkan?” Tama mengerutkan dahinya. Ia tahu, kalau Biao memikirkan sesuatu.


“Zeroun dan Kenzo, mereka sempat membicarakan wanita bernama Shabira.”


“Apa ada masalah?” tanya Tama dengan wajah serius.


“Nona Serena terlihat kaget, ketika Pak Han bilang, kalau Tuan Kenzo akan datang besok pagi.”


Tama dan Biao saling menatap, mereka memikirkan hal yang sama.


“Nona Serena kenal dengan Tuan Kenzo, sejak ia belum amnesia!” ucap Biao dan Tama bersamaan.


“Tapi Biao, sepertinya Tuan Kenzo tidak mengenal Nona Serena. Ia berhubungan baik dengan Nona Serena selama ini. Selama amnesia, Nona Serena juga berprilaku baik kepada Tuan Kenzo.”


Tama kembali duduk di kursi, meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia kembali memikirkan hari esok, hari pertemuan Serena dan Kenzo, saat Serena sudah mengingat masa lalunya.


“Kita lihat saja besok, apa yang terjadi. Tuan Daniel tidak akan membiarkan Nona Serena dalam bahaya.” Biao melangkah ke arah pintu.


“Biao, kenapa kau meninggalkan aku!” Tama beranjak dari duduknya untuk mengejar Biao.


“Apa kau ingin tidur juga?” tanya Biao tanpa ekspresi.


“Kau bercada Biao. Aku tidak pernah tidur. Aku hanya memejamkan mata untuk beberapa jam,” jawab Tama santai.


“Kau harus ingat, tidak akan menikah jika aku belum menikah.”


“Aku akan menyiapkan wanita yang baik, seperti Nona Serena, agar kau mau menikah.” Tama memukul pundak Biao sebelum masuk ke dalam kamar.


Biao tersenyum mendengar perkataan Tama. Ia berjalan ke arah pintu kamar miliknya, yang letaknya hanya beberapa meter dari kamar Tama.