
Di Gudang
Kenzo dan pasukannya baru saja tiba di markas utama milik White Tiger. Kehadiran Kenzo di sambut satu tembakan oleh para pengawal, yang menjaga bagian depan gudang. Dengan sigap, semua orang yang di bawa Kenzo menyerang balik. Baku tembak terjadi dengan durasi yang cepat. Untuk jumlah kecil yang berbaris di depan gudang, sangat mudah di taklukan oleh Kenzo saat ini.
“Kalian semua tetap waspada. Jangan pernah lengah sedikitpun.” Kenzo memberi arahan kepada semua pasukan yang ia miliki. Dua orang mendobrak pintu pengamanan depan gudang.
Kenzo dan yang lainnya masuk ke dalam dengan gerakan cepat. Beberapa orang yang berada di dalam gudang, mengeluarkan senjata dan beberapa bom asap. Pasukan Kenzo menyebar dengan cepat sambil menembak.
Kenzo bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari gudang senjata. Mengeluarkan beberapa senjata yang ia miliki menembak dengan tepat sasaran. Beberapa lawannya tidak lagi bisa bergerak. Semua lawan runtuh di permukaan lantai yang berdebu.
Baku tembak terjadi dengan sangat hebat. Suara tembakan itu, memenuhi seisi gudang. Dalam waktu singkat, Kenzo berhasil menguasai gudang milik White Tiger. Tanpa kurang satupun pasukan yang ia miliki.
“Wubin tidak ada di tempat ini.” Kenzo kembali berpikir dengan club yang kini di serang Daniel.
“Daniel!” ucapnya panik.
“Ada apa, Tuan?” Seorang pria memperhatikan perubahan sikap Kenzo saat ini.
“Daniel. Kita harus segera menolongnya. Jika Wubin tidak ada di markas ini, dia pasti ada di club saat ini. Daniel tidak akan berhasil, jika berhadapan dengan Wubin langsung.”
“Baik, Tuan. Saya akan mengatur pasukan kita untuk menuju ke arah club.” Pria itu menunduk hormat, sebelum pergi ke arah pasukan yang berkumpul.
Kenzo berlari cepat menuju mobil. Sedetikpun waktu yang kini ia miliki, tidak lagi ia sia-siakan. Siang ini, target utamanya adalah mengalahkan Wubin dan semua pasukan milik White Tiger.
Di Club
Daniel menggenggam satu pistol. Ia menembak ke segala arah, tempat musuh berada. Biao dan pasukan lainnya, juga menyerang tanpa belas kasih. Ratusan peluru telah mereka keluarkan dalam waktu yang singkat. Siang itu, club milik Arion terlihat sunyi. Hal itu memberi kemudahan kepada Daniel dan Biao untuk menguasai club milik Arion.
“Bos, saya sudah memeriksa setiap ruangan. Wubin tidak ada di sini.” Biao mendekati posisi Daniel dengan napas yang tidak beraturan.
“Apa sudah ada kabar dari Kenzo?” Daniel memandang serius.
“Belum, Tuan. Kita harus berangkat ke rumah itu. Titik temu kita di rumah itu bersama Tuan Kenzo.” Biao mengingatkan rencana awal mereka.
“Baiklah, kita harus gerak sekarang juga.”
Daniel dan Biao berlari ke arah mobil. Langkah mereka terhenti saat melihat rombongan Kenzo yang baru saja tiba di club itu. Daniel mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia berdiri di samping mobil, menatap tajam wajah Kenzo yang kini berjalan cepat ke arah dirinya.
“Kenzo, apa kau menemukan Wubin di gudang itu?” tanya Daniel penuh rasa penasaran.
“Tidak, apa kau tidak menemukan Wubin di sini?” Kenzo berhenti di hadapan Daniel.
“Biao sudah memeriksa semua tempat. Tapi Wubin tidak ada di tempat ini juga.” Daniel menjawab dengan raut wajah kecewa.
“Kita harus cepat. Wubin pasti berada di rumah itu. Aku harus segera menyerangnya, sebelum ia berencana untuk kabur. Persediaan senjata yang ada di gudang juga sudah kami kuasai. Saat ini, Wubin sudah kehilangan 50% pertahanannnya.” Wajah Kenzo sudah di penuhi raut wajah bahagia. Ia yakin, pertempuran ini akan ia menangkan.
“Tuan, sudah ada yang menyerang rumah itu saat ini.” Seorang pria mendekati Kenzo dan Daniel.
“Apa?” Kenzo terperanjat kaget. Ia bahkan belum mengirim satu orangpun untuk menyerang rumah itu.
“Siapa yang ingin menyerang Wubin? apa seseorang juga memiliki dendam padanya?” Daniel terus berpikir dengan sosok penyerang rumah Wubin saat ini.
“Tidak ada. Kecuali ….” ucapan Kenzo terhenti.
“Shabira!” ucap Daniel dan Kenzo bersamaan.
“Wanita itu, mulai tidak patuh dengan perintahku. Aku akan menghukumnya, jika ia terluka.” Kenzo berlari cepat ke arah mobil.
Daniel juga masuk ke dalam mobil. Rombongan Daniel dan Kenzo membawa laju mobil mereka dengan cepat. Mobil itu meluncur ke tempat Wubin saat ini berada.
Di Rumah Arion
Shabira dan beberapa pasukannya berhenti di gerbang besar rumah itu. Satu pria menembak beberapa penjaga yang berjaga. Satu wanita berjalan ke arah gerbang. Mengotak atik gerbang, untuk mematikan laser listrik yang ada pada gerbang itu. Tidak menunggu lama, gerbang besar itu berhasil terbuka.
Shabira melajukan mobilnya, masuk ke dalam halaman rumah mewah itu. Beberapa pria yang berjaga di balkon atas menembaki mobil Shabira dan yang lainnya. Lima penembak jitu yang sudah di persiapkan Shabira, menembak penghalang-penghalang itu dengan mudah.
Shabira turun dari dalam mobil. Mendongakkan kepalanya ke atas dengan senyuman tipis.
“Rumah ini lumayan juga. Tapi aku tidak akan membiarkanmu bersembunyi, Wubin.”
Shabira mengokang senjata yang ia miliki. Senjata laras panjang menjadi pilihannya saat ini. Beberapa pengawal yang ia miliki berjalan cepat untuk mendobrak rumah. Belum sempat pasukan Shabira masuk, mereka sudah di sambut ledakan bom dengan skala kecil. Shabira menghentikan langkah kakinya, memberi kode kepada semua pasukan yang ada di belakang untuk lebih berhati-hati.
Shabira membangi dua pasukan yang ia miliki. Baku tembak terjadi di mana-mana. Rumah yang tadinya rapi dan bersih. Kini sudah berantakan dan dipenuhi banyak cairan merah. Semua orang yang ada di rumah di habiskan oleh pasukan Shabira tanpa tersisa satupun.
Shabira dan rombongan lainnya, memeriksa lantai atas yang terlihat sangat sepi. Satu anggota Shabira berlari cepat, mendekati posisi Shabira saat ini.
“Bos, ada beberapa pelayan wanita yang berkumpul di dapur. Apa kita juga harus menghabisi mereka? mereka terlihat tidak berdaya,” ucap salah satu wanita tangguh.
Mata Shabira sudah di penuhi kebencian, “Habiskan semuanya. Jangan sisakan satu orangpun di rumah ini. Musuh adalah musuh.” Shabira memalingkan wajahnya dari wanita itu.
“Baik, Bos.” Wanita itu pergi untuk melaksanakan perintah Shabira.
Shabira memandang ke arah depan, ia kembali membayangkan sakitnya Serena saat mengalami kecelakaan waktu itu.
“Ini masih pembalasan untuk perbuatanmu yang pertama, Wubin. Aku akan membunuhmu untuk membalaskan perbuatan keduamu terhadap Kak Erena.”
Shabira mengganti senjata laras panjangnya dengan sebuah pistol. Berjalan perlahan mendekati satu ruangan utama. Beberapa pasukan yang ia miliki terus bersikap waspada untuk melindungi Shabira.
Tak..Tak..
Suasana begitu hening. Hanya terdengar suara high heels yang kini di kenakan Shabira. Shabira menarik napas dalam sebelum mendobrak pintu itu. Menodongkan pistol ke depan untuk menembak seseorang yang ada di dalam ruangan itu. Wajahnya berubah kecewa, saat ia tidak menemukan satu orangpun di dalam kamar itu.
“Bos, kamar ini kosong,” ucap salah seorang pria.
“Periksa kamar lain,” perintah Shabira dengan cepat.
“Baik, Bos.” Rombongan Shabira pergi, meninggalkan Shabira sendiri di kamar itu.
Shabira berjalan perlahan masuk ke dalam kamar itu. Memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada di dalam kamar itu. Shabira mendekati meja yang terletak di samping jendela kaca. Menarik laci secara perlahan, untuk memeriksa isi laci tersebut.
Satu figura kecil ia temukan. Matanya terbelalak kaget, saat ia melihat foto Arion dan Zeroun dengan begitu akrab.
“Apa mereka bersahabat? tapi kenapa sekarang mereka menjadi musuh.” Shabira diam sejenak.
Shabira tahu, ada seseorang di belakang tubuhnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan menembak ke arah bawah.
Duarr!
“Sayang, ini aku.” Kenzo berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya. Memandang wajah Shabira dengan raut wajah kesal dan kecewa.
Shabira meletakkan figura itu di atas meja, “Maafkan aku.” Wajahnya tertunduk penuh rasa bersalah.
“Untuk apa?” Kenzo berjalan perlahan ke arah Shabira.
“Aku tidak akan duduk manis di rumah, jika melihat musuhku berkeliaran di luar dengan gembira.”
“Kau wanita yang ceroboh. Apa yang terjadi pada hidupku, jika terjadi sesuatu pada dirimu, sayang.” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.
Shabira melepas pelukannya, ia berlari ke arah jendela saat mendengar suara mobil, “Itu pasti Wubin, kita harus segera mengejarnya.”
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Knzo bingung.
“Seseorang pergi membawa mobil, melalui jalan samping.” Shabira menarik tangan Kenzo.
“Kita harus cepat mengejarnya.”
Kenzo dan Shabira berlari dan menuruni anak tangga dengan cepat. Di bawah mereka berjumpa dengan Daniel dan Biao.
“Apa kalian menemukan sesuatu?” tanya Daniel dengan raut wajah khawatir.
“Shabira melihat seseorang lari menggunakan mobil. Kami akan mengejarnya,” jawab Kenzo cepat.
“Baiklah, aku akan membereskan isi rumah ini. Setelah itu akan menyusul kalian.”
Kenzo dan Shabira berlari menuju mobil. Kenzo melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Tidak ingin kehilangan jejak, dari sosok musuh yang saat ini mereka cari.
.
.
Tarik napas sebelum lanjut baca🤭🤭