
Daniel tertegun kaget mendengar semuanya. Ia masih ingat jelas dengan nama ALCO GROUP. Perusahaan kejam yang sudah menjebaknya. Meskipun pria itu akhirnya meninggal, tapi Daniel masih terus menyelidiki ahli warisnya. Ia tidak pernah menyangka, kalau ahli waris yang ia cari berada di S.G.Group. Bekerja untuknya menjadi bawahan.
Daniel memang tidak pernah menyelidiki Sonia. Semua ia percayakan pada Aldi. Daniel hanya tahu, kalau Sonia wanita muda yang butuh uang untuk bertahan hidup.
"Aku tidak pernah berpikir hingga sejauh ini." Daniel menatap tajam wajah Aldi, "Apa dia datang untuk menghancurkan S.G.Group lagi?"
Aldi menggeleng kepalanya cepat, "Tidak Daniel, dia datang ke S.G.Group untuk mendapatkanmu. Ia sudah jatuh cinta padamu. Dia tidak akan mungkin berhasil, menghancurkan S.G.Group lagi. Sekarang S.G.Group sudah sangat kuat Daniel."
Serena hanya diam dan terus mencerna perbincangan itu. Dia tidak pernah menyangka, kalau Sonia mencintai Daniel hingga begitu besar. Sampai ia rela berpura-pura menjadi wanita biasa. Rasa cemburu itu kembali muncul. Hatinya terasa sedikit perih.
"Apa Tama belum menceritakan semuanya? Aku tahu, dia juga menyelidiki ALCO Group akhir-akhir ini. Sepertinya dia juga tahu, kalau Sonia adalah pewaris ALCO Group."
"Tama? Kenapa dia tidak menceritakan semuanya padaku." Emosi Daniel mulai memuncak.
Daniel mengepal tangannya kuat, saat tahu Tama menyembunyikan satu rahasia penting itu.
"Hei, jangan marah seperti itu. Aku yakin dia punya alasan. Tama dan Biao tidak pernah mengecewakanmu, Daniel. Bersabarlah, dia akan menjelaskan semuanya."
"Daniel." Suara lembut Serena, mengalihkan pandangannya. Daniel menarik napas panjang, dan membuangnya perlahan. Ia tidak ingin membuat Serena takut lagi.
Serena meraih tangan Daniel, dan melepas kepalan itu perlahan. Menggenggamnya dan tersenyum memandang wajahnya, "Jangan marah, kau akan terlihat jelek bila marah."
Daniel kembali tersenyum, dan mencium tangan Serena.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."
Aldi berdehem kuat, untuk memecah keharmonisan itu.
"Aku seperti pengganggu di sini."
Daniel dan Serena kembali menatap wajah Aldi, yang terlihat kesal.
"Kenapa kau tidak menikah saja. Kau bisa merasakan hal ini setiap saat." Daniel merangkul pinggang Serena.
"Ya, baiklah. Aku ke sini bukan untuk menceritakan pernikahan. Tapi membahas tentang Sonia." Aldi beranjak dari duduknya, "Berhati-hatilah Daniel. Jaga istrimu dengan baik. Aku harus pulang. Masih banyak hal yang harus aku urus."
"Senang bertemu denganmu, Aldi."
Daniel dan Serena beranjak dari duduknya. Memperhatikan Aldi yang berjalan ke arah pintu utama. Hingga pria itu masuk ke dalam mobil, dan berlalu pergi.
Serena kembali menatap wajah Daniel. Terlihat jelas raut wajah khawatir di sana. Daniel masih memikirkan kejahatan Sonia. Ia tidak ingin, Serena dalam bahaya.
"Aku akan baik-baik saja." Serena tersenyum manis dan membelai lembut pipi Daniel.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, sayang."
Daniel menarik dagu Serena, dan mendekatkan bibirnya. Mencium Serena lembut, dan memeluknya dengan sayang.
***
Di dalam mobil, Aldi masih memikirkan Sonia. Rasa cintanya yang sempat hilang, kini kembali muncul. Ia tahu kalau Sonia adalah wanita jahat, tapi ia tidak pernah bisa untuk menghapus cintanya. Aldi tidak ingin Sonia celaka, karena cinta butanya.
"Sonia, aku harus menemuimu."
Aldi menambah kecepatan mobilnya, menuju ke arah gedung ALCO Group.
Beberapa menit kemudian, Aldi telah tiba. Aldi memparkirkan mobilnya, tidak jauh dari pintu masuk. Perlahan ia turun dan memandang gedung itu dengan seksama.
"Aku sudah menolong wanita, yang memiliki gedung ini."
Aldi membuang napasnya kasar, dan melangkah ke pintu masuk. Seorang satpam menyambut kedatangan Aldi.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Baik tuan, silahkan masuk. Anda harus membuat janji dengan resepsionis di sana." Menunjuk ke arah wanita cantik, yang berdiri di balik meja besar.
"Baiklah, terima kasih."
Aldi melangkah cepat ke arah resepsionis itu. Dia mengukir satu senyuman manis, sebelum menyapa wanita itu.
"Selamat siang cantik. Apa aku bisa bertemu dengan nona Sonia saat ini?"
"Selamat siang tuan, saya akan menghubungi nona Sonia terlebih dahulu. Maaf, bisa sebutkan nama anda tuan."
"Aldi."
"Baik, terima kasih tuan." Resepsionis itu mengambil telepon, dan mulai menghubungi Sonia. Tidak butuh waktu lama, ia sudah memutuskan panggilan teleponnya.
"Anda sudah di tunggu oleh nona Sonia, tuan. Anda bisa menemui nona Sonia, di lantai 50."
"Ok, terima kasih."
Aldi membenarkan jas yang kini ia kenakan. melangkah ke arah lift. Hatinya kembali di penuhi keraguan. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi. Saat nanti ia bertemu langsung dengan Sonia.
Aldi sudah tiba di lantai 50. Pandangan matanya, langsung tertuju pada sebuah pintu. Di sana tertulis jelas "Ruangan Direktur Utama". Aldi berjalan perlahan menghampiri wanita, yang berada tidak jauh dari pintu tersebut.
"Selamat siang tuan, anda sudah di tunggu nona." Wanita itu membukakan pintu ruangan, "Silahkan masuk."
Aldi tidak ingin mengeluarkan kata lagi. Ia masuk ke dalam ruangan itu dengan cepat.
Di dalam, Sonia terlihat berdiri menghadap ke arah jendela kaca. Tubuhnya berbalik, saat mendengar kedatangan Aldi.
"Selamat siang, Aldi. Senang bertemu denganmu."
Sonia tersenyum manis, dan melangkah ke arah meja, "Silahkan duduk." Sonia duduk di sebuah kursi besar.
Aldi berjalan ke meja itu, dan duduk menghadap Sonia.
"Aku tahu, kau tidak akan diam. Kau pasti ingin mengagalkanku, bukan?"
Sonia memandang wajah Aldi, dengan penuh kekecewaan.
"Sonia, maafkan aku. Tapi aku ke sini sebagai sahabat. Aku tidak ingin, kau melakukan hal bodoh."
"Hal bodoh kau bilang!" Sonia berdiri dari duduknya, mendaratkan tangannya kasar. Lalu menggebrak meja itu dengan kuat, "Aku yang pertama kali mengenalnya, bukan wanita itu. Dan dia malah menikah dengannya. Aku sudah bersabar selama ini, Aldi. Tapi dia tidak pernah memandangku." Sonia berteriak dengan keras, untuk melampiaskan emosinya.
"Aku tahu, Sonia. Tapi itu udah pilihan hidup Daniel. Takdir hidupnya, kau harus menerimanya dengan ikhlas." Aldi berdiri dari duduknya.
"Tidak, aku tidak bisa merelakan dia bahagia dengan wanita itu. Wanita itu harus mati di tanganku!"
Sonia memandang Aldi dengan tatapan membunuh.
"Kau sudah keterlaluan, Sonia. Kau bukan Sonia yang dulu. Aku sangat kecewa padamu. Lakukan apapun yang membuatmu senang. Tapi aku pastikan, kau akan menyesal!"
Aldi pergi meninggalkan ruangan itu dengan kekecewaan. Usahanya untuk membujuk Sonia, telah gagal.
Di dalam, Sonia masih memandang sinis ke arah pintu. Ia tidak ingin mendengarkan perkataan Aldi lagi. Cinta benar-benar menutup hatinya.
"Aku tidak akan pernah menyesalinya, Aldi. Aku akan menang dalam pertarungan ini."
Sonia kembali duduk ke kursi hitam itu. Mengambil figura kecil yang ada di atas meja. Memandang wajah Daniel yang selalu ia simpan di sana.
"Aku pasti akan memenangkan hatimu, Daniel. Wanita itu, akan ku singkirkan untuk selamanya."
Like, Komen, Vote