
Rumah Sakit.
Daniel memberhentikan mobilnya di depan rumah sakit. Mobil Kenzo dan yang lainnya juga tiba di waktu yang bersamaan dengan Daniel. Daniel turun dengan cepat dari dalam mobil, membuka pintu penumpang.
Seketika ia memandang ke arah mobil Biao yang berhenti dibelakang mobilnya. Daniel mengeluarkan tubuh Serena dari dalam mobil dan meletakkannya di atas brankar yang sudah di sediakan oleh perawat.
“Kak Erena ….” Shabira berlari cepat mendekati brankar yang kini membawa tubuh Serena.
Tubuh Zeroun juga diletakkan di atas brankar. Biao dan Lukas membantu beberapa perawat mendorong brankar itu. Daniel tidak lagi bisa mengeluarkan kata. Ia membantu beberapa perawat untuk mendorong brankar itu masuk ke ruangan IGD.
Suasana menjadi begitu menegangkan. Dua orang yang paling dekat dengan hidup mereka harus terluka dan tidak sadarkan diri. Beberapa pasukan Gold Dragon berjaga-jaga di depan rumah sakit. Sedangkan pasukan S.G.Group lebih memilih menjaga sang majikan dari jarak dekat.
Daniel duduk di kursi besi yang berbaris di depan ruang IGD. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Daniel, tenanglah. Semua akan baik-baik saja.” Kenzo memegang pundak Daniel untuk memberi kekuatan.
“Serena ….” Beberapa buliran air mata menetes dengan hati yang perih.
Shabira memanggil satu perawat yang melintas di hadapannya. Mendekati perawat itu agar perawat itu mau memeriksa keadaan Kenzo dan Angel saat ini.
“Permisi, apa anda bisa menolong saya?” tanya Shabira sambil menggendong tubuh Angel yang masih tertidur nyenyak.
“Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya Perawat itu.
“Anak ini, bisakah anda membantu saya untuk memeriksa keadaannya. Dan pria ini, dia terkena luka tembakan di tangan kanannya.” Shabira menatap wajah Kenzo dengan raut wajah khawatir.
“Mari Tuan, Dokter akan memeriksa luka anda.” Perawat itu menggiring Kenzo agar masuk ke dalam ruang IGD yang sama dengan Serena dan Zeroun. Kenzo juga membawa tubuh Angel masuk ke dalam IGD itu.
“Apa yang terjadi?” Daniel beranjak dari duduknya saat mendengar Kenzo terluka.
“Hanya luka kecil. Jangan terlalu khawatir.” Kenzo mengukir senyuman manis. Ia menatap wajah Shabira sebelum masuk ke dalam ruangan IGD itu.
Shabira hanya diam mematung melihat Kenzo masuk ke dalam ruang IGD itu. Hatinya juga terluka saat melihat orang-orang yang ia cintai kini terluka.
“Kenzo ….” ucap Shabira dengan nada yang sangat lirih.
Beberapa saat sebelum Kenzo dan Shabira tiba.
Shabira melompat ke dalam lautan bersama dengan Serena palsu. Tubuhnya masuk ke dalam lautan yang sangat dalam. Tangannya masih menggenggam erat tangan Serena palsu.
Tatapan matanya sedikit tidak jelas saat di dalam air, Serena palsu mengeluarkan belati dan ingin menusuknya. Shabira terus berupaya melindungi dirinya dari serangan mendadak saat itu.
Di waktu yang bersamaan, Kenzo muncul untuk menyelamatkan nyawanya. Pertarungan itu terjadi di dalam air. Hingga dalam waktu yang singkat, belati itu sudah menusuk tubuh Serena palsu. Kenzo dan Shabira berenang ke atas permukaan laut. Pria itu menggenggam tangan Shabira dengan kuat. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai lagi.
“Wanita itu bukan Kak Erena,” ucap Shabira dengan tubuh yang basah kuyup.
“Laura menjebak kita. Aku yakin, Daniel saat ini dalam bahaya. Kita harus cepat kembali ke rumah itu.” Kenzo menatap wajah Shabira dengan seksama.
Shabira mengangguk cepat, “Kak Erena pasti masih ada dirumah itu.”
Kenzo dan Shabira berenang ke tepian laut. Beberapa pasukan Gold Dragon sudah berdiri di tepi laut itu untuk menyambut Kenzo dan Shabira.
“Bos, apa anda baik-baik saja?” tanya salah satu pengawal dengan raut wajah khawatir.
“Aku baik-baik saja,” jawab Kenzo santai.
“Kalian cepat kembali ke rumah itu. Aku akan mengobati luka Kenzo.” Shabira menahan langkah Kenzo. Memperhatikan cairan merah yang masih menetes di tangan kanan Kenzo.
“Sayang, ini hanya luka kecil. Kita harus cepat tiba di rumah itu.” Kenzo menolak permintaan Shabira. Baginya keselamatan Daniel dan Serena adalah hal paling penting.
Shabira menggeleng cepat, “Jika aku yang terluka, apa kau juga akan membiarkannya begitu saja?”
“Sayang, aku masih bisa menahannya.” Kenzo memegang kedua pipi Shabira.
Shabira hanya diam sambil meneteskan air mata.
Kenzo menarik napas dalam, “Pergilah ke rumah itu,” perintah Kenzo singkat.
“Baik, Bos.” Semua pasukan Gold Dragon menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Kenzo dan Shabira di tempat itu.
“Ayo, aku akan mengobati luka ini.” Shabira menarik tangan Kenzo ke arah mobil.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak P3K yang ada di dalam mobil.” Shabira masuk ke dalam mobil untuk mencari kotak P3K.
Kenzo hanya diam memandang wajah Shabira. Saat Shabira masuk ke dalam mobil, Kenzo mengeluarkan belati yang sejak tadi ia simpan. Tanpa menunggu lama, Kenzo mengeluarkan peluru yang tertancap di tangan kanannya dengan belati.
“AAAAAAAAAA,” teriak Kenzo saat merasakan sakit yang luar biasa pada tangannya.
“Apa yang kau lakukan!” Shabira menangkis belati yang ada di genggaman Kenzo hingga terjatuh di atas tanah.
“Aku harus mengeluarkan peluru itu.” Kenzo menatap peluru yang sudah tergeletak di atas tanah.
Shabira tidak lagi bisa berkata-kata. Cairan merah keluar semakin deras, saat peluru itu berhasil keluar dari tangan Kenzo.
“Kenapa mobil ini tidak memiliki kotak P3K.” Shabira menunduk sedih saat ia tidak bisa melakukan apapun untuk memberhentikan darah yang keluar dari tangan Kenzo.
“Jangan sedih seperti itu.” Kenzo menyentuh wajah Shabira. Mengelusnya dengan lembut.
“Ambilkan kain yang ada di dalam mobil,” ucap Kenzo sambil tersenyum.
“Kain?” tanpa banyak kata, Shabira masuk ke dalam mobil untuk mencari kain yang dikatakan Kenzo.
Dalam hitungan detik, Shabira keluar dengan syal kain berwarna hitam,”Kain ini?” tanyanya lagi untuk memastikan.
Kenzo mengangguk cepat, “Ikatkan di luka ini. Kain itu bisa menghentikan pendarahan untuk sementara.”
“Wanita itu!” Shabira kembali mengingat penembakan yang dilakukan Serena palsu.
“Aku hampir saja kehilangan dirimu lagi tadi. Kenapa kau bisa ceroboh seperti itu.” Kenzo kembali mengungkit kesalahan yang dilakukan Shabira.
“Maafkan aku. Aku sangat takut kalau Kak Erena berada dalam bahaya. Hingga tidak menyadari, kalau wanita itu adalah palsu.” Shabira menunduk pernuh rasa bersalah.
“Maaf, apa kau pikir kata maaf bisa menyelesaikan masalah dengan cepat.” Kenzo menatap Shabira sambil melipat kedua tangannya.
Shabira mendongakkan kepalanya, memandang wajah kenzo dengan seksama.
“Apa kau tidak mau memaafkanku?” tanya Shabira dengan ekspresi wajah yang sedih.
Kenzo tersenyum manis, menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.
“Kalau saja kata maaf bisa menyelesaikan masalah, semua ini tidak akan pernah terjadi.” Kenzo mengusap pundak Shabira.
“Apa maksudmu, Kenzo?” Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh tanya.
“Sejak awal aku sudah tahu, siapa yang menyebabkan kekacauan ini.” Kenzo menundukkan kepalanya.
“Siapa?” Mata Shabira berubah tajam.
“Sonia,” jawab Kenzo singkat.
“Wanita itu!” tanya Shabira dengan penuh emosi.
“Aku tidak ingin memberitahu kalian bukan untuk melindunginya. Tapi ….” ucapan Kenzo terhenti.
“Kau memang ingin melindunginya. Jika kau mengatakannya sejak awal, orang yang akan aku bunuh adalah wanita itu.” Shabira memutar tubuhnya untuk meninggalkan Kenzo di tempat itu.
“Shabira!” Kenzo menarik tangan Shabira untuk menahan wanita itu pergi.
“Lukas sudah memberi pelajaran pada wanita itu. Aku yakin, saat ini dia juga dalam keadaan kritis.” Kenzo tahu, semua kejadian yang terjadi sebelum mereka pergi ke Tahiland.
“Lukas yang memberi pelajaran pada wanita itu?” tanya Shabira tidak percaya.
“Ya,” jawab Kenzo pelan.
Shabira tahu, bagaimana cara Lukas menghabisi musuhnya. Meskipun seorang wanita, Lukas tidak akan pernah merasa kasihan. Ia akan tetap menyiksa musuhnya tanpa ampun, walalupun musuhnya berlutut di hadapannya.
“Bukankan itu sudah cukup untuk memberinya pelajaran?” Kenzo menarik tubuh Shabira agar mendekatinya.
“Kita harus segera menolong Kak Erena,” Shabira kembali ingat dengan Laura.
“Ya, ayo kita berangkat.”
Kenzo dan Shabira masuk ke dalam mobil. Kenzo melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi menuju rumah Laura.
***
Shabira menatap wajah Daniel. Ia baru saja menceritakan tentang Serena palsu dan bagaimana Kenzo mendapat luka tembak kepada Daniel.
“Semua sudah berakhir. Kau dan Kenzo baik-baik saja, itu sudah cukup.” Daniel menunduk sedih.
“Tuan, Kenapa Kak Erena dan Tuan Zeroun bisa terluka? apa yang terjadi di sana?” Shabira menatap wajah Daniel untuk menagih satu penjelasan.
“Laura memasangkan bom pada tubuh Serena. Hal itu membuat Serena tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan Laura. Wanita itu menyuruh Serena untuk menembak Zeroun.” Daniel tersenyum pahit.
“Saat Lukas muncul dan membawa Angel kembali, aku pikir semua sudah berakhir. Serena menembak Laura hingga wanita itu tewas. Tapi ….” Daniel menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya.
“Musuh tiba-tiba muncul. Mereka tiba dengan jumlah yang cukup banyak. Beberapa penembak jitu sudah mengincar Serena dan Zeroun dari kejauhan.” Daniel memejamkan matanya saat mengingat tubuh Serena yang berlari untuk melindungi Zeroun.
“Wanita itu benar-benar licik. Dia pasti membocorkan rahasia Kak Erena selama ini.” Shabira duduk di samping Daniel.
“Wanita? apa yang kau maksud adalah Laura?” Daniel menatap wajah Shabira dengan seksama.
“Laura juga muncul karena wanita itu yang mengundangnya.” Shabira mengepal kuat tangannya.
“Lalu, siapa?” tanya Daniel penasaran.
“Sonia. Wanita ****** itu yang menyebabkan semua kekacauan ini,” ucap Shabira sambil menahan emosinya.
“Sonia?” tanya Daniel tidak percaya.
Biao dan Lukas berdiri tidak jauh dari posisi Daniel dan Shabira. Biao juga terperanjat kaget, saat mendengar perkataan Shabira.
“Ya, tapi pria itu sudah menghabisinya. Seharusnya kau jangan pergi sebelum nyawa wanita itu terbang ke langit.” Shabira menatap wajah Lukas dengan kesal.
Lukas hanya diam tanpa bisa melawan perkataan Shabira. Biao dan Daniel memandang wajah Lukas dengan seksama.
“Kau yang menyerang Sonia? tapi untuk apa?” tanya Daniel dengan raut wajah tidak percaya.
“Maafkan saya, Tuan Daniel. Selama ini kita terlihat seperti musuh. Tapi, sebenarnya Bos Zeroun tidak pernah ingin bermusuh dengan anda. Beliau sangat senang berteman dengan anda. Kemunculan Nona Erena memang membuat harapan baru bagi Bos Zeroun.” Lukas menunduk hormat.
“Bos Zeroun sudah berusaha untuk melupakan Nona Erena. Ia berencana untuk pergi meninggalkan negara ini. Tapi, ia tidak ingin Nona Erena dalam bahaya. Ia tahu, bagaimana kemampuan anda dalam melindungi Nona Erena. Musuh yang kami miliki sangat berbahaya, jika Bos Zeroun pergi mungkin saat ini anda juga tidak akan bisa menemukan Nona Erena.”
“Kau benar. Aku sudah mengerahkan semua kemampuan yang aku miliki. Tapi, tidak berhasil. Kalau saja Zeroun tidak membantu kami saat ini ….” Daniel terdiam, ia tidak ingin melanjutkan perkataannya.
“Tuan, semua sudah menjadi takdir. Anda jangan bersedih seperti itu.” Shabira menepuk pelan pundak Daniel.
“Anda juga sudah cukup baik dalam melindungi Kak Erena.”
Seorang dokter keluar dari dalam IGD dengan raut wajah bingung.