
Di Rumah Zeroun Zein.
Mobil Kenzo berhenti di halaman luas milik Zeroun Zein. Serena dan Kenzo keluar dari dalam mobil, saat dua pengawal membukakan pintu mobil. Serena memperhatikan sekeliling rumah Zeroun Zein dengan seksama. Halaman luas dengan rumah yang luas dan mewah. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah Zeroun yang ada di kota itu.
“Serena, ayo kita masuk.” Kenzo berjalan masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Kenzo di sambut oleh Lukas. Pria itu menunduk hormat saat melihat wajah Kenzo ada dihadapannya. Tanpa menunggu lama lagi, Kenzo berjalan ke arah tangga untuk menemui sang kekasih. Pria itu udah sangat merindukan Shabira meskipun hanya beberapa jam tidak bertemu.
Lukas memperhatikan Serena dari kejauhan. Pria itu berjalan mendekati posisi Serena yang masih berdiri di depan pintu utama.
“Nona, silahkan masuk.” Lukas membungkuk hormat di hadapan Serena. Beberapa pengawal juga menunduk saat melihat Lukas menunduk menyambut Serena.
“Terima kasih,” ucap Serena pelan sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah.
[Sayang, apa yang kau lakukan. Kenapa kau tidak masuk saja ke dalam]
Protes Daniel dari kejauhan saat mendengarkan ucapan Lukas.
Serena hanya tersenyum memandang Lukas sebelum menjawab pertanyaan Daniel dengan suara yang sangat pelan, “Aku hanya memperhatikan halaman rumah Zeroun. Dia memilik taman yang indah.”
[Aku akan membuatkanmu taman yang indah nanti!] ucap Daniel yang gak mau kalah.
“Serena,” sapa Zeroun dari kejauhan.
Serena memutar tubuhnya mencari sumber suara yang memanggil namanya. Wanita itu tersenyum manis saat melihat Zeroun berdiri di ujung pintu samping. Serena berjalan mendekati posisi Zeroun saat itu. Lukas mengikuti langkah Serena dari belakang.
“Kau tidak bilang mau datang. Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Zeroun dengan wajah serius.
“Aku hanya ingin mengambil Angel. Shabira akan menikah, akan sangat repot jika Shabira mengurus Angel.” Serena mengalihkan pandangannya ke arah kolam ikan yang terasa sejuk. Wanita itu berjalan ke arah Zeroun untuk melihat langsung kolam ikan itu.
“Sejak kapan kau suka ikan?” tanya Serena sambil berjongkok di ujung kolam.
Zeroun tersenyum mendengar pertanyaan Serena. Pria itu berjalan mendekati Serena di pinggiran kolam ikan. “Aku tidak terlalu suka dengan ikan. Rumah ini aku beli dengan kondisi yang seperti sekarang. Aku tidak membangun rumah ini dari awal.” Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
“Au,” teriak Serena tiba-tiba.
[Serena, apa kau baik-baik saja?] tanya Daniel dan Zeroun bersamaan.
Zeroun menyentuh tangan Serena untuk memeriksa tangan wanita itu.
Wajahnya terlihat begitu khawatir.
“Aku hanya kaget saja, saat ikan itu menyentuh tanganku,” jawab Serena dengan tawa kecilnya. Ia menutup mulutnya saat mendengar kekhawatiran Daniel dan Zeroun yang bersamaan.
“Kau ini!” ucap Zeroun kesal. Pria itu berjalan ke arah kursi yang ada di ujung kolam ikan.
Serena juga mengikuti langkah Zeroun dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Zeroun. Wanita itu memperhatikan kunci mobil yang baru saja dikeluarkan Zeroun dari dalam sakunya.
“Serena, Aku ingin kau menerima mobil ini. Anggap saja ini hadiah dariku sebagai sahabatmu.” Zeroun meletakkan kunci mobil di atas meja.
Serena hanya diam memandang kunci mobil itu. Bibirnya tidak bisa mengeluarkan kata sebelum Daniel memberikannya satu jawaban.
“Jika kau tidak ingin menerima mobil ini, Aku akan menyuruh Daniel untuk membelinya. Agar mobil ini tetap mejadi milikmu.” Zeroun melipat kedua tangannya sebelum bersandar dengan begitu santai.
Apa Daniel mendengar semuanya? kenapa ia tidak mengeluarkan kata. Apa ia tidak suka jika aku menerima mobil hadiah ini?
Serena masih belum mengeluarkan kata. Dengan penuh penghayatan ia menunggu jawaban dari Daniel untuk menerima kunci mobil itu.
Zeroun hanya memasang senyuman kecil saat Serena tidak kunjung mengambil kunci mobil itu. Kenzo dan Shabira tiba-tiba datang sambil mendorong stroller milik Angel.
“Angel.” Serena beranjak dari duduknya untuk melihat langsung wajah Angel.
Zeroun hanya bisa menahan kecewa saat kunci mobil itu tidak kunjung diambil oleh Serena.
“Kakak, apa kakak ingin mengambil Angel?” tanya Shabira dengan wajah sedih.
“Kau harus fokus dengan pesta pernikahanmu, Shabira. Aku juga akan memeriksakan keadaan Angel.” Serena menyentuh pipi Angel dengan begitu lembut.
“Kau mau pergi sekarang?” tanya Kenzo dengan wajah serius.
Serena menjawab pertanyaan Kenzo dengan satu anggukan kepala.
“Kau bisa menggunakan mobilku, Serena.” Kenzo menyodorkan kunci mobil miliknya.
Serena memperhatikan kunci mobil itu dengan wajah serius, “Aku sudah punya mobil,” jawab Serena dengan senyuman manis.
Serena berjalan ke arah meja, mengambil kunci mobil yang diberikan oleh Zeroun. Bibirnya tersenyum manis memandang wajah Zeroun, “Kau terlihat jelek jika berwajah sedih seperti itu, Zeroun Zein.”
“Kak, Aku ingin menemani Kakak. Tapi kami harus mengurus gaun pengantin,” ucap Shabira dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Aku bisa sendiri. Aku akan baik-baik saja bersama Angel.” Serena memegang kereta dorong itu.
“Aku pergi dulu,” ucap Serena dengan senyuman. Wanita itu memandang wajah Zeroun lagi sebelum pergi membawa Angel meninggalkan rumah Zeroun Zein.
“Daniel, kau sangat menyebalkan. Jika sejak awal kau mengijinkanku untuk menerima mobil ini, kenapa kau harus mengulur waktu untuk menjawabnya,” protes Serena dengan suara yang begitu pelan.
[Sayang, aku hanya ingin membalas perbuatan Zeroun. Dulu dia merebut mobil itu dariku, sekarang aku sudah puas karena berhasil membalaskan wajah kecewaku.] Daniel tertawa dengan begitu riang dari kejauhan.
Saat Kenzo menawarkan kunci mobil untuk Serena, detik itu juga Daniel mengeluarkan suara. Ia mengijinkan Serena untuk menerima hadiah dari Zeroun Zein. Pria itu tidak lagi cemburu terhadap sikap baik Zeroun kepada istrinya.
[Satu lagi sayang. Aku sudah mengirim pengawal untuk menjagamu. Jangan kabur dari pengawal-pengawal yang aku kirim.] ancam Daniel dengan penuh khawatir.
Dengan wajah kesal, Serena memasukkan Angel ke dalam mobil. Bibirnya tersenyum bahagia, saat ia bisa mengendarai mobil favoritnya.
“Sayang, apa pengawal yang kau kirimkan menggunakan mobil Sport?” tanya Serena dengan senyuman licik di bibir manisnya.
[Kenapa? apa ada yang salah jika mereka tidak menggunakan mobil sport? Serena! aku tidak mengijinkanmu untuk balapan. Itu terlalu bahaya.] teriak Daniel dari kejauhan, dengan ekpresi wajah yang sudah tidak terbaca lagi.
“Hanya beberapa kilometer saja,” jawab Serena dengan wajah berseri-seri. Wanita itu sudah siap untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Di rumah sakit.
Mobil pengawal yang dikirimkan Daniel tertinggal jauh di belakang. Dengan tawa kecil, Serena menurunkan Angel dari dalam mobil. Wanita itu masih menahan tawa saat mendengar omelan-omelan Daniel yang kini memenuhi telinganya. Sejak di dalam perjalanan, pria itu terus saja memarahinya.
“Daniel, apa kau tidak bekerja? Aku akan mematikan alat ini jika kau tidak bekerja.” Serena mendorong stroller Angel masuk ke dalam rumah sakit.
[Baiklah, Aku akan bekerja. Jangan balap-balap lagi ketika pulang nanti!] jawab Daniel dengan suara lembut. Apapun yang ia katakan tidak akan bisa merubah sifat Serena saat itu.
“Iya,” jawab Serena pelan.
Dari kejauhan, Serena melihat Adit berdiri di depan IGD. Pria itu terlihat bercerita dengan keluarga pasien. Serena berjalan perlahan untuk mendekati Adit.
“Sebaiknya anda tenang dulu, kami akan menolong anak anda.” Adit memandang kedatangan Serena. Ia berjalan mendekati Serena untuk memberi tahu ruangan Dokter yang bisa membantu Serena merawat Angel.
“Serena, perawat ini akan mengantarmu untuk menemui Dokter anak yang sudah aku siapkan.”
“Terima kasih, Dokter Adit.” Serena memasang senyuman sebelum berjalan menuju keruang dokter anak. Jantungnya berdebar dengan cepat karena khawatir dengan kesehatan Angel saat ini.
“Nona, silahkan masuk.” Perawat itu membukakan pintu agar Serena masuk ke dalam.
“Terima kasih,” jawab Serena dengan wajah cemas.
Di dalam ruangan, Serena sudah disambut oleh Dokter wanita yang akan memeriksa kondisi Angel. Serena duduk di salah satu kursi memperhatikan Dokter dan perawat itu membawa Angel ke atas tempat tidur. Angel terbangun saat itu, namun bocah kecil itu tidak menangis ataupun mengeluarkan kata. Dokter itu terlihat hati-hati dalam memeriksa keadaan Angel.
Selang beberapa menit kemudian. Dokter itu kembali menemui Serena di meja. Tubuh Angel kembali diletakkan di stroller yang ada di samping Serena.
“Nona, saya sudah selesai memeriksa keadaan Angel. Anak ini menderita penyakit cerebral palsy atau lumpuh otak. Tapi anda tenang saja, penyakit ini bisa disembuhkan selama Angel menjalani terapi yang rutin.”
“Mohon bantuannya dokter. Saya ingin Angel segera sembuh dan bisa berjalan seperti anak-anak pada umumnya.” Serena menatap wajah Angel dengan wajah sedih.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Nona. Anda jangan khawatir.” Dokter itu tersenyum memandang wajah Serena.
“Terima kasih, Dok.” Serena beranjak dari duduknya. Mengulurkan tangannya didepan dokter itu sebelum pergi membawa Angel pulang.
“Angel, kau akan segera sembuh.” Serena mengelus lembut pipi Angel sebelum mendorong Stroller Angel keluar dari ruangan itu.
Serena mendorong Stroller Angel dengan begitu tenang. Melewati lorong rumah sakit yang masih terlihat ramai. Setelah masuk ke dalam lift, Serena menekan tombol lift yang akan menghubungkannya ke areal parkir. Lift terbuka, wanita itu mendorong stroller Angel keluar dari dalam lift.
Arela parkir itu terlihat sunyi, membuat Serena kembali waspada. Dengan langkah cepat Serena mendorong stroller Angel menuju ke arah mobil yang jaraknya beberapa meter dari posisinya berdiri. Serena merasakan seseorang mengikuti langkahnya dari belakang. Perlahan Serena membuka pintu mobil untuk memasukkan Angel ke dalam mobil. Memasang sabuk pengaman di tubuh Angel, sebelum menyimpan strollernya di bagasi belakang.
Serena memperhatikan lagi parkiran yang tidak berpenghuni itu. Mengatur napasnya dengan begitu tenang. Dengan gerak cepat, wanita itu memutar tubuhnya untuk menendang sosok yang kini berdiri di belakangnya.
“Sayang, ini Aku.” Daniel menutup wajahnya dengan tangan. Saat kaki Serena hampir menyentuh wajahnya.
“Daniel, apa yang kau lakukan di sini? bukannya kau ada di S.G. Group?” Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Aku merindukanmu,” ucap Daniel dengan senyuman manis.
Serena hanya bisa menarik napas dengan tenang, saat melihat tidak ada bahaya yang mengancamnya. Wanita itu melempar kunci mobil kepada Daniel sebelum masuk ke dalam mobil.
Daniel menangkap kunci mobil itu sebelum berjalan ke arah kursi kemudi.
“Sayang, Angel akan segera sembuh.” Daniel memegang tangan Serena untuk memberikan kekuatan kepada wanita itu. Melalui handsfree, Daniel bisa mendengar jelas semua yang dikatakan dokter tentang kesehatan Angel.
“Kenapa ia bisa menderita penyakit seperti itu.” Serena menyentuh Angel yang kini tertidur dipelukannya.
“Bahkan ia tidak bisa mengucapkan kata, kalau ia merindukan Diva.”
Daniel mulai melajukan mobil Serena untuk meninggalkan rumah sakit. Gak banyak kata yang bisa ia ucapkan saat itu. Melihat kesedihan di wajah Serena, membuat dirinya merasakan luka yang sangat perih.
Sayang, Aku akan segera mencari keberadaan Diva. Meskipun wanita itu sudah tiada, aku pastikan kalau kita juga akan melihat jenazahnya. Aku tidak ingin kau terus-terusan bersedih seperti ini. Aku akan terus berusaha untuk menciptakan satu kebahagiaan agar dirimu selalu tersenyum.