Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 18



Ruangan kantor S.G.Group itu kini berubah hening. Semua orang larut dalam pikirannya masing-masing. Berbeda dengan Sharin yang tidak mendengar obrolan serius Paman dan atasannya itu. Wanita muda itu masih fokus dalam melaksanakan tugas yang diberikan Tama sambil mendengarkan musik dengan alat yang ada di telinganya.


Kali ini satu lagu favoritnya yang terdengar. Wanita itu mengangguk-ngangguk kepalanya sambil mengeluarkan potongan-potongan lirik yang ia hafal. Wajahnya benar-benar bahagia. Seolah-olah ia ada di dalam kamar kos-kosannya.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu kini memandang ke arah Sharin. Namun, wanita itu belum menyadari tatapan semua orang. Bibirnya yang mungil masih sibuk mengeluarkan lirik lagu dengan kepala bergoyang.


Tama menepuk dahinya saat melihat kelakuan konyol keponakannnya itu. Pria itu beranjak dari duduknya untuk memberi peringatan kepada Sharin.


“Tama,” celetuk Serena.


“Iya, Nona. Maafkan keponakan saya,” jawab Tama sambil menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.


“Biarkan dia seperti itu. Mungkin dia nyaman dengan lagu itu saat bekerja,” sambung Serena dengan senyuman.


Daniel mengukir senyuman saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya. Rasa cintanya semakin besar saat melihat kelembutan hati Serena saat itu.


Biao memandang wajah Sharin dengan seksama. Pria itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Belum pernah ia temukan bawahan yang cukup berani seperti Sharin. Kali ini, sifat polos Sharin itu cukup berhasil untuk menyita perhatian Biao.


Tama tidak jadi menganggu pekerjaan keponakannya itu. Pria itu kembali duduk pada kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Baru satu detik Tama duduk di kursinya, pria itu lagi-lagi dikagetkan dengan sikap keponakannya.


“Selesai!” teriak Sharin kegirangan. Wanita itu mengukir senyuman manis memandang wajah Tama.


“Paman, sekarang jaringannya sudah bisa digunakan lagi.” Sharin menatap wajah Serena dengan seksama. Wanita itu mematung saat memandang wajah cantik milik Serena.


“Hai, Sharin,” sapa Serena dengan senyuman. Wanita tangguh itu beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati posisi Sharin.


“Selamat siang, Nona,” ucap Sharin dengan wajah gugup. Dari segi penampilan Serena, Sharin sudah bisa menilai kalau Serena bukan orang biasa. Wanita itu kini menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan Serena.


“Jangan takut seperti itu,” ucap Serena sambil duduk di kursi yang sama dengan Sharin.


“Sharin, apa kau bisa membantuku?” tanya Serena dengan wajah penuh harap. Untuk melawan musuh mereka yang baru saat ini, Serena tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Wanita itu ingin melawannya dengan ilmu yang kini dimiliki oleh Sharin. Kali ini lawan barunya perusahaan yang bergerak pada bidang IT. Sudah bisa dipastikan, kalau kejadian seperti hari ini akan segera terulang kembali.


“Apa yang bisa saya bantu, Nona.” Sharin menatap wajah Serena dengan seksama.


“Tidak sekarang. Tapi nanti, saat Aku sudah menemukan ide untuk membalas perbuatan musuh kita.” Serena menepuk pelan pundak Sharin.


“Kau wanita yang cukup berbakat. Tama pasti senang memiliki keponakan seperti dirimu, Sharin.” Serena menatap layar laptop Sharin dengan wajah berseri.


“Kita harus segera berangkat ke restoran itu saat ini,” ucap Daniel.


“Baik, Tuan,” jawab Tama dan Biao secara bersamaan. Dua tangan kanan Daniel terlihat sibuk mempersiapkan berkas yang akan mereka bawa untuk pertemuan siang ini. Mendengar ajakan Daniel, Serena juga beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan ke arah Daniel dengan senyuman indah.


“Sayang, Aku ikut.” Serena merangkul lengan Daniel dengan mesra.


“Tentu saja, Aku akan mengajakmu, Sayang. Setelah selesai menghadiri pertemuan siang ini, Aku akan mengantarkanmu pulang.” Daniel mencubit ujung hidung Serena sambil tersenyum manis. Daniel merangkul pinggang ramping istrinya dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.


“Baiklah,” jawab Serena sambil mengikuti langkah Daniel.


Tama dan Biao juga sudah siap untuk berangkat. Biao membawa beberapa berkas lalu berjalan mengikuti langkah Daniel dan Serena dari belakang. Sedangkan Tama berjalan ke arah Sharin untuk menyuruh keponakannya kembali ke ruang kerja miliknya. Setelah selesai memberi tahu Sharin, Tama melanjutkan langkah kakinya.


Sharin lagi-lagi mengukir senyuman saat menatap wajah tampan Biao siang itu. Wanita itu memandang layar laptopnya dengan senyuman. Ada rencana yang terangkai rapi di dalam kepalanya. Gadis cantik itu kini ingin memadang wajah Biao secara diam-diam melalui camera CCTV yang akan di lalui oleh Biao nantinya.


“Ok, Paman tampan. Pekerjaan selanjutnya adalah menatap wajahmu dengan menggunakan laptop ini,” ucap Sharin sambil membawa laptop kesayangannya itu pergi meninggalkan ruangan Daniel. Wanita berusia 20 tahun itu sudah tidak sabar untuk memandang wajah tampan Biao melalui layar laptopnya.


Langkah kakinya ia percepat agar segera tiba di dalam ruangan Tama. Dengan hati-hati Sharin meletakkan laptopnya di atas meja. Wanita itu duduk di kursi hitam dengan posisi yang cukup nyaman.


“Ok, saatnya memandang wajah Paman tampan,” ucap Sharin yang sudah mulai memeriksa setiap camera CCTV yang ada. Wajahnya merona malu saat melihat ekpsresi dingin Biao.


“Paman tampan,” ucapnya sekali lagi. Sharin memukul-mukul meja kerja Tama karena terlalu bahagia bisa memandang wajah tampan Biao siang itu. Ia tidak pernah tahu, apa yang akan ia hadapi nantinya saat Biao tahu apa yang kini telah ia lakukan.


Setelah Biao berada di posisi yang lain, Sharin memutar camera CCTV lainnya. Wanita itu melakukan pengintaiannya hingga Biao dan yang lain tiba di lantai bawah. Setelah Biao dan atasannya itu masuk ke dalam mobil, Sharin mematikan rekaman camera CCTV itu. Wanita itu melanjutkan khayalannya saat mengingat wajah tampan milik Biao.


Suara pintu terbuka memecahan lamunan Sharin. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang masuk ke dalam ruangan Tama. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat Sharin duduk di kursi kerja milik Tama.


“Maaf, dimana Tama?” tanya Wanita itu sambil menatap bingung ke arah Sharin.


“Paman Tama sedang pergi bersama dengan Tuan Daniel dan yang lainnya, Nona,” jawab Sharin sambil mengukir senyuman indah.


“Pergi?”


Sharin mengangguk pelan, “Anda siapa Nona? saya akan memberi tahu Paman Tama saat dia kembali nanti.”


“Anna.”