Mafia's In Love

Mafia's In Love
Kunjungan Serena Part. 1



Tama kembali memasukan handponenya ke dalam saku. Daniel yang sejak tadi ada di hadapan Tama, kembali menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Baru beberapa jam yang lalu dia menolak permintaan Adit. Detik ini justru Serena langsung yang meminta Daniel untuk menemui Ny. Edritz, melalui Tama.


“Nona Serena memutuskan, teleponnya tuan,” ucap Tama.


Daniel hanya diam, dan memejamkan kedua matanya. Pikirannya masih belum bisa tenang, saat mengingat rasa kecewanya terhadap Ny. Edritz.


“Tuan, apa tidak sebaiknya anda pulang?” bujuk Biao dengan hati-hati.


“Tidak!” jawab Daniel singkat.


“Maafkan saya tuan. Menurut saya, Ny. Edritz melakukan semua ini. Karena permintaan tuan Wang langsung. Tuan Wang lah yang sudah membersihkan semua masa lalu nona Serena. Hingga kita sulit untuk menemukannya,” sambung Tama.


“Aku tidak pernah menyangka, kalau mama bisa merahasiakan masalah seperti ini dariku,” jawab Daniel kecewa.


“Kesehatan nona Serena masih pada tahap penyembuan. Ny. Edritz juga sangat menyayangi nona Serena, ia tidak ingin nona Serena mengetahui hal ini,” ucap Biao.


“Saya sependapat dengan Biao, tuan.”


“Tuan, besok peresmian gedung Z. E. Group, milik Mr. X. Apa anda ingin membawa nona Serena?” tanya Biao pelan.


“Besok malam?” ulang Daniel lagi.


“Benar tuan,” jawab Biao cepat.


“Sebaiknya kita tidak lagi membahas hal itu saat ini. Aku ingin kita kembali fokus pada proyek baru ini,” perintah Daniel mengalihkan pembicaraan.


“Baik tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.


***


Di lantai bawah, di depan Lobi kantor. Mobil Serena baru saja tiba di parkiran. Supir yang kini membawa Serena, sudah turun dan membuka pintu untuk Serena. Namun Serena masih duduk diam, tidak ingin keluar dari mobil.


“Anda tidak turun nona?” tanya Diva bingung.


“Aku takut,” jawab Serena pelan.


“Takut?” ulang Diva lagi.


Serena mengangguk cepat, dan memandang ke arah Diva yang kini ada di sampingnya.


“Tapi kita sudah sampai di sini, apa nona Serena ingin kita kembali pulang?” tanya Diva cemas.


“Aku harus bisa membujuk Daniel, agar mau pulang untuk menemui mama.”


“Apa nona yakin?” tanya Diva yang masih ragu dengan keputusan Serena.


Serena turun dari mobil, secara perlahan. Kepalanya mendongak ke atas, untuk melihat tingginya gedung yang kini ada di hadapannya. Logo S.G. Group tertulis dengan jelas disana. Serena melangkah pelan untuk masuk ke dalam kantor itu. Diva mengikuti langkah Serena dari belakang. Ini pertama kalinya bagi Serena dan Diva menginjakkan kakinya di S.G. Group.


Satu security yang berdiri di dekat pintu masuk, menyambut kedatangan Serena siang ini. Meskipun Serena tidak pernah datang sebelumnya, Security itu telah mengerti status Serena saat ini. Karena melihat Serena turun, dari salah satu mobil yang sering digunakan Daniel.


“Pagi nona muda,” sambut Security itu dengan hormat.


“Aku ingin bertemu dengan Daniel,” jawab Serena cepat.


“Mari nona, akan saya antar ke dalam,” jawab Security itu pelan.


Serena dan Diva mengikuti langkah Security itu, tatapan matanya terus ia arahkan pada sekeliling kantor yang kini ada di depan matanya. Hatinya di penuhi rasa kagum, atas keindahan S.G. Group.


Security itu membawa Serena dan Diva ke arah pintu lift. Beberapa karyawan wanita yang belum pernah bertemu dengan Serena, hanya bisa memandang Serena secara sembunyi-sembunyi.


“Nona, setelah tiba di lantai 53. Anda bisa berjalan lurus, dan akan menemui ruangan tuan Daniel,” ucap Security itu.


“Baiklah,” jawab Serena yang langsung masuk ke dalam Lift.


Berada di dalam lift yang di kelilingi kaca, membuat Serena sedikit melirik penampilannya siang ini. Serena merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Sedangkan diva hanya memperhatikan tingkah Serena, sambil tersenyum manis.


Pintu Lift terbuka, Serena dan Diva berjalan lurus mengikuti petunjuk Security di bawah. Satu ruangan yang memang di khususkan untuk ruang kerja Daniel, Biao dan Tama. Tidak jauh dari Lift, terdapat satu pintu besar yang terdapat ruang rapat di sana.


Meskipun terlihat sunyi, tapi lantai itu berisi beberapa dekorasi yang menyejukkan mata. Beberapa hiasan bunga juga terselip di sudut ruangan. Di bagian kanan lantai itu, terdapat jendela kaca yang sangat besar. Kaca yang bisa digunakan untuk memandang pemandangan kota dari atas.


“Apa itu ruangan tuan Daniel, nona?” Menunjuk ke arah pintu besar yang ada di depan Serena saat ini.


“Sebaiknya kita tanya pada wanita itu,” ucap Serena yang langsung mengarah ke arah meja Sonia.


Sonia terlihat menyusun beberapa berkas, kegiatannya terhenti saat melihat Serena dan Diva yang kini melangkah mendekatinya.


“Untuk apa dia ada di sini,” ucap Sonia tidak suka.


“Permisi, apa itu ruangan tuan Daniel?” tanya Diva cepat.


“Benar,” jawab Sonia singkat, dan beranjak dari duduknya untuk melangkah mendekati Serena.


“Apa Daniel ada di dalam?” tanya Serena lembut.


“Daniel sedang sibuk, sepertinya ia tidak ingin di ganggu,” ketus Sonia.


“Tapi ini nona Serena, istri tuan Daniel,” sambung Diva lagi.


“Saya sudah tahu, saya bertemu dengannya waktu di pesta pernikahan.” Menatap tajam ke arah Serena.


“Maaf, saya ingin bertemu dengan Daniel.”


Serena membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam ruangan Daniel, namun dengan cepat Sonia menarik tangan Serena.


“Kau tidak boleh masuk!” teriak Sonia.


“Apa maksudmu? Aku hanya ingin bertemu dengan Daniel sebentar,” jawab Serena yang juga sudah meninggikan nada bicaranya.


“Daniel tidak pernah mencintaimu, kenapa kau mau menikah dengannya?”


Sejak dulu, Sonia memang sudah menyiapkan pertanyaan itu. Ketika suatu saat nanti ia bertemu dengan Serena. Hatinya sudah di penuhi rasa sakit, dengan ancaman Biao dan Tama. Sakit hatinya semangkin bertambah, saat melihat wajah Serena yang kini ada di hadapannya.


“Maaf, siapa nama anda?” tanya Serena.


“Sonia!”


“Sonia, saya tidak perlu menjawab pertanyaan anda. Detik ini, saya hanya ingin bertemu dengan Daniel. Tolong jangan halangi saya,” pinta Serena yang masih menahan emosi dalam dirinya.


“Kau memang tidak tahu malu,” umpat Sonia tidak suka.


“Nona, jaga bicara anda!” teriak Diva yang semangkin emosi mendengar ucapan Sonia.


“Aku yang pantas ada di samping Daniel, bukan wanita penyakitan seperti dirimu.”


Plaakk!


Satu tamparan keras Serena, baru saja ia berikan pada Sonia. Hatinya sudah di penuhi dengan amarah yang begitu besar. Tatapan mata Serena sudah dipenuhi api kemarahan. Kalimat terakhir Sonia, kembali membangkitkan jiwa membunuh yang pernah tersimpan di hatinya.


“Beraninya kau menamparku,” Masih memegang pipinya yang terlihat memerah.


“Bukan hanya menamparmu! Tapi aku juga bisa menghabisimu saat ini juga!” ancam Serena sambil menunjuk ke arah Sonia.


Sonia hanya diam, tidak berani lagi membantah. Selama ini Sonia hanya berpikir, kalau Serena adalah wanita yang lemah. Tamparan yang ia terima saat ini, membuktikan sifat Serena sesungguhnya.


‘Kalau saja ini tidak di kantor, aku sudah menjambak rambutmu,’ gumam Sonia di dalam hati.


Sementara Diva, hanya diam menyaksikan kelakuan Serena saat ini. Diva masih belum percaya dengan kelakuan Serena saat ini.


‘Apa ini benar nona Serena,’ gumam Diva dalam hati.


‘Kenapa dia bicara seperti itu. Ada hubungan apa antara Sonia dan Daniel?’ gumam Serena dalam hati.


Like, Komen dan Vote.


Jangan Lupa, di baca juga ya karya kakakku.


Cinta Untuk Dokter Nisa dan Arsitek Cantik