Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 50



Di rumah sakit.


Kenzo berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Satu perawat, mendekati posisi Kenzo dan membawa Shabira ke dalam ruang IGD. Di depan pintu IGD, Kenzo berpapasan dengan Adit.


“Adit, tolong Shabira. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.” Kenzo memohon dengan penuh kesedihan.


“Shabira? Siapa Shabira?” Sejak awal, Adit tidak pernah tahu hubungan percintaan Kenzo.


“Wanita yang sangat Aku cintai. Tolong dia, Aku mohon, Adit.”


“Baiklah. Aku akan menolongnya. Bersabarlah.” Adit masuk ke dalam IGD.


“Shabira. Kau harus bertahan, sayang.”


Kenzo berjalan ke arah kursi. Ia kembali ingat dengan Daniel dan pasukan besaryang ia miliki. Kenzo mengambil handphone, untuk menghubungi Daniel saat ini.


“Daniel, dimana kau saat ini? apa kau baik-baik saja?”


[Aku dan Biao selamat. Kami pergi sebelum bom di rumah itu meledak. Wubin menjebak kita. Ia sudah mengelilingi rumah itu dengan bom. Kita kehilangan banyak pasukan. Hanya 20% yang tersisa.] Daniel menjelaskan keadaan sebenarnya.


“Kita sudah berhasil mengalahkan Wubin. Shabira sudah menembak pria itu dengan tangannya sendiri.” Kenzo memandang sedih pintu IGD.


[Kenzo, dimana saat ini kau berada?]


“Rumah sakit. Kaki Shabira terluka, ia tidak sadarkan diri saat ini.” Kenzo memejamkan matanya saat membayangkan luka pada kaki Shabira.


[Dirumah sakit mana? aku akan segera ke sana.]


“Rumah sakit milik Adit.”


Daniel memutuskan panggilan teleponnya. Kenzo menatap layar handpone sesaat, sebelum memasukkan handphone itu kembali ke dalam saku. Ia berdiri saat Adit keluar dari ruang IGD.


“Kenzo. Shabira hanya mengalami syok, sehingga ia jatuh pingsan. Soal cedera yang ada di kakinya, itu tidak terlalu serius. Akan segera sembuh saat ia banyak istirahat.”


“Apa aku bisa menemuinya?”


“Tentu. Kami akan memindahkan Shabira ke ruang rawat.”


Adit memandang ke arah pintu. Beberapa perawat mendorong brankar. Di atas brankar, Shabira masih memejamkan mata. Kenzo mendekati brankar itu, membantu para perawat untuk mendorongnya.


“Sayang. Cepat sembuh. Aku di sini untuk selalu menemanimu.”


Adit belum berani mengeluarkan kata. Meskipun saat ini isi kepalanya di penuhi ribuan pertanyaan.


“Aku akan menunggu waktu yang tepat, untuk menanyakan semua ini.” Adit berjalan ke arah yang berlawanan dari Kenzo.


Di ruang rawat VVIP.


Kenzo duduk di samping ranjang Shabira. Menggenggam tangan Shabira dengan begitu erat, “Sayang, bangun. Jangan siksa aku dengan cara seperti ini.” Kenzo mengecup tangan Shabira.


Shabira mulai membuka mata secara perlahan. Pandangan matanya terlihat masih belum jelas. Ia memperhatikan keadaan sekitar dengan seksama.


“Kak Erena. Dimana kakak berada ….” ucapnya dengan nada yang sangat lirih.


“Sayang, ini aku ….” Kenzo mendekatkan wajahnya di depan wajah Shabira.


“Dimana Kak Erena?” Buliran air mata menetes satu persatu.


“Kita akan segera menemukannya. Saat ini, pikirkan kesehatanmu, Shabira.” Kenzo mengecup pelan pucuk kepala Shabira.


Suara pintu terbuka. Daniel dan Biao baru saja tiba di dalam ruang rawat Shabira. Mereka berjalan cepat mendekati tempat tidur Shabira.


“Apa kau baik-baik saja, Shabira?” Daniel memperhatikan keadaan Shabira yang terlihat lemah tidak berdaya.


“Saya baik-baik saja, Tuan. Apa udah ada kabar tentang Kak Erena?” tanya Shabira dengan raut wajah penuh tanya.


Daniel menggeleng sedih, “Belum ada.”


Shabira kembali diam. Ia juga merasakan sedih yang luar biasa. Saat mengingat Serena tidak lagi ada di sampingnya.


Suara handphone berdering. Kenzo mengangkat handphone itu dengan jantung yang berdebar cepat.


“Apa hasilnya sudah keluar?” tanya Kenzo cepat. Pihak rumah sakit yang mengevakuasi rumah Diva yang saat ini mengubunginya.


Daniel dan Shabira menatap tajam wajah Kenzo. Mereka juga menunggu berita itu saat ini.


“Baiklah. Terima kasih.” Kenzo memasukkan handphone itu ke dalam saku.


“Sayang. Mereka bilang. Mereka menemukan satu jenis kelamin wanita. Aku harap itu bukan Serena.” Kenzo menunduk sedih.


“Tentu itu bukan Serena. Aku yakin itu Diva atau tetangganya. Serena pasti masih hidup.” Daniel menjawab perkataan Kenzo dengan cepat. Meskipun saat ini hatinya juga di selimuti rasa takut, tapi Daniel menghapus semua pirasat buruk itu dari dalam pikirannya.


“Aku yakin. Kak Erena masih hidup.” Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh harap.


“Kau harus memeriksa setiap sudut kota ini, Kenzo ....” pinta Shabira lagi.


“Sayang, kita kehilangan banyak pasukan hari ini. Aku harus mengumpulkan pasukan baru untuk itu. Beberapa pasukan yang tersisa, sudah aku kirimkan untuk memeriksa kota ini, tapi belum ada jawaban hingga saat ini.” Kenzo menatap wajah Shabira dengan rasa bersalah.


“Aku juga sudah kehilangan banyak pasukan hari ini.” Daniel memandang wajah Biao.


“Biao, pergilah. Kumpulkan pasukan baru untuk kita.”


“Baik, Tuan.” Biao menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Shabira. Ia berpapasan dengan Adit yang juga ingin masuk ke dalam.


“Biao, kau juga ada di sini?” ucap Adit dengan wajah penuh tanya.


“Saya menemani Tuan Daniel, untuk menjenguk Nona Shabira. Tuan, Saya permisi dulu.” Biao pergi meninggalkan Adit.


Adit berjalan perlahan mendekati tempat tidur Shabira, “Hai Nona. Saya dokter yang bertanggung jawab untuk mengobati anda. Bisa saya periksa tangan anda.” Adit memandang wajah Kenzo dengan senyuman.


“Apa kau bisa mundur sedikit, Kenzo.”


Tanpa banyak protes, Kenzo menjauh dari posisi Adit. Ia tidak ingin mengganggu Adit dalam proses pemeriksaan Shabira.


“Nona, gerakkan kaki anda perlahan.” Adit membuka selimut Shabira, untuk memeriksa keadaan kaki Shabira saat ini.


Shabira berhasil menggerakkan kakinya secara perlahan.


“Jangan di paksa, Nona. Lakukan hal itu secara perlahan.” Adit menutup selimut.


“Terima kasih, Dokter ….” Shabira menghentikan ucapannya, menunggu Adit menyebutkan nama.


“Adit. Senang bertemu dengan anda, Nona Shabira. Anda pasti wanita yang sangat spesial untuk Kenzo. Pria itu menangisi anda saat anda berada di dalam ruangan IGD tadi.” Adit melirik ke arah Kenzo untuk meledek.


“Ya, aku tahu itu. Dia pria yang sangat cengeng bukan?” Shabira tersenyum memandang Kenzo.


Kenzo juga tersenyum bahagia, saat melihat Shabira kembali tersenyum seperti itu.


Aku akan menemukan Serena, untukmu sayang ….”


Adit memandang wajah Daniel yang berdiri mematung, “Daniel, kau juga ada di sini? dimana Serena? kenapa dia tidak ikut denganmu?”


Suasana berubah hening, saat Adit kembali menyebutkan nama Serena. Adit memperhatikan satu persatu raut wajah sedih yang kini ada di hadapannya.


“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? apa yang terjadi dengan Serena? apa dia baik-baik saja?” Adit terus menagih satu penjelasan kepada Kenzo dan Daniel.


Shabira kembali meneteskan air mata saat mengingat nama Serena, “Kami juga tidak tahu, dimana saat ini ia berada.” Shabira menghapus air mata dengan cepat.


Daniel berjalan ke arah sofa. Kenzo berjalan mendekati Shabira. Adit memperhatikan wajah kenzo dan Daniel secara bergantian, sebelum berjalan ke arah sofa yang sama dengan Daniel.


“Katakan padaku, apa yang telah terjadi, Daniel?” Adit sudah di selimuti kekhawatiran.


“Serena berada di rumah Diva. Rumah itu di bom. Hingga saat ini, aku belum bisa menemukannya. Tim medis hanya menemukan satu wanita di lokasi kejadian, aku harap itu bukan Serena.” Daniel menunduk sedih.


“Daniel, kau harus sabar. Ini cobaan untukmu. Aku yakin, Serena masih hidup.” Adit menepuk pelan pundak Daniel.


Daniel hanya diam tanpa ingin menjawab.


“Pulanglah. Hari sudah larut malam. Kau harus istirahat untuk menenangkan pikiranmu.” Adit berusaha untuk membujuk Daniel agar ingin pulang ke rumah.


“Apa yang dikatakan Adit benar. Pulanglah, Daniel. Aku akan menjaga Shabira di sini.” Kenzo memandang wajah Daniel.


Daniel beranjak dari duduknya, memandang wajah Shabira dengan seksama, “Jaga Shabira dengan baik, kenzo. Serena akan sedih, jika melihat keadaan Shabira saat ini. Kau harus segera sembuh, Shabira.”


“Terima kasih, Tuan. Ini hanya luka kecil, saya akan segera sembuh.” Shabira memandang wajah Daniel dengan penuh bahagia. Ia semakin yakin, dengan sifat tulus Daniel kepada Serena.


Daniel berjalan ke arah pintu, Adit mengikuti langkah Daniel dari belakang. Kini, hanya tersisa Kenzo dan Shabira di ruangan itu. Kenzo meraih tangan Shabira, mengecupnya dengan durasi lama.


“Ini terakhir kalinya kau membangkang, Sayang. Jangan lakukan hal ini lagi.”


“Maafkan Aku ….” ucap Shabira dengan nada lirih.