
Malam hari di rumah utama.
Semua orang sudah mengelilingi meja makan. Sendok dan garpu sudah rapi disamping piring. Beberapa pelayan pria terlihat sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas bertangkai. Tuan Edritz duduk dikursi utama sebagai orang yang paling di hormati. Disisi kanannya ada istri tercinta yaitu Ny. Edritz. Di sebelah Ny. Edritz ada Kenzo dan Shabira.
Bagian kiri Tuan Edritz terlihat Daniel dan Serena. Sebagai calon istri Adit, malam itu Diva juga berbaur dimeja makan. Wanita itu duduk disamping Serena. Beberapa pelayan yang sudah selesai dengan pekerjaanya berjalan menuju ke arah dapur.
Tidak jauh dari lokasi meja makan ada Pak Han, Biao dan Tama yang terlihat berdiri tegap. Ketiga pria itu memasang wajah bahagia saat melihat keharmonisan keluarga penghuni rumah utama. Satu pemandangan yang membuat suasana hati merasa nyaman dan tenang.
“Sayang, apa kau mau ini ?” Dengan senyuman manis, Daniel mengambilkan lauk untuk Serena. Pria berusia 29 tahun itu terlihat sangat bahagia, saat Serena berada di sisinya.
“Sayang, terima kasih.” Serena mencubit pipi Daniel. Mengeluarkan satu tawa kecil sebelum mengambil sendok dan garpu.
Shabira dan Kenzo terlihat menahan tawa. Meskipun usia pernikahan Daniel dan Serena sudah hampir satu tahun. Tapi, kelakuan sepasang suami istri itu terlihat seperti pengantin baru. Membuat semua jiwa jomblo meronta-ronta karena ingin disanjung seperti Serena.
“Sudah, sudah. Ayo kita makan.” Tuan Edritz angkat bicara. Suasana meja makan itu hening seketika. Semua orang hanya fokus pada makanan yang telah terhidang. Sesekali terdengar suara benturan dipiring kaca antara sendok dan garpu.
Selang beberapa menit kemudian. Acara makan malam itu telah selesai. Suasana hening itu sudah berganti dengan canda dan tawa. Setiap orang mengeluarkan kata untuk bercerita.
Serena memperhatikan Diva yang saat itu duduk disampingnya. Menggengam erat tangan Diva dengan satu senyuman manis. Sahabat terbaiknya itu terlihat melamun. Seperti memikirkan satu masalah yang tidak bisa ia ceritakan.
“Diva, apa yang kau pikirkan?” Mendengar pertanyaan Serena, semua orang kembali mengunci mulutnya. Perhatian semua orang hanya fokus pada wajah Diva.
Diva terlihat sangat gugup malam itu. Tidak pernah wanita yang memiliki anak satu itu bermimpi, bisa duduk dimeja makan yang sama dengan orang nomor satu di kota. Matanya berkaca-kaca, satu tangannya yang lain menggenggam rok yang saat itu ia kenakan.
“Nona, terima kasih.” Diva terlihat menahan tangis.
Serena tersenyum mendengar perkataan Diva.
“Diva apa kau mau menceritakan sesuatu kepadaku? apa yang sebenarnya terjadi? sejak kapan Laura menggantikanmu?” wajah Serena berubah serius. Masih membekas dengan jelas di dalam hatinya, bagaimana Laura menyekap dirinya dan menggantikan posisi Diva hanya dengan topeng.
“Saat anda pergi ke Hongkong untuk mencari Nona Shabira, Nona.” Diva menunduk sedih. Terlihat jelas aura wajahnya yang dipenuhi rasa bersalah. Hatinya terasa perih. Bendungan air mata yang sempat ia tahan, kini sudah menetes. Wanita itu berusaha untuk menghapus tetesan demi tetesan yang jatuh. Menarik napas dalam untuk menguasai suasana hatinya yang menjadi sedih seketika.
Serena menutup mulutnya dengan satu tangan, wanita itu kaget saat mendengar perkataan Diva. Karena Luara sudah berada lama di sini, disisinya. Namun, ia tidak pernah menyadarinya. Shabira menatap wajah Kenzo. Pria itu juga terlihat syok saat tahu, Diva yang selama ini berwajah ceria adalah Diva palsu.
“Diva selama ini kau ada dimana?” tanya Kenzo dengan wajah serius.
Diva kembali mengingat satu kejadian yang membuat trauma dalam hidupnya. Wanita itu menatap ke arah meja dengan tatapan kosong. Bibirnya terlihat gemetar saat ia harus kembali menceritakan peristiwa itu. Genggaman Serena di tangan Diva semakin kuat. Wanita itu juga menepuk pelan pundak Diva agar wanita itu tidak takut lagi.
“Saya di sekap di salah satu rumah kosong, Tuan. Seorang pria menjaga saya 24 jam tanpa jeda. Mereka mengancam saya akan membunuh Nona Serena, jika saya tidak ikut membantu mereka. Hingga suatu saat, semua orang yang menyekap saya hilang entah kemana.” Diva menahan sesak di dadanya. Wanita itu benar-benar trauma dengan kejadian yang pernah ia alami.
“Saya berusaha kabur dari tempat itu. Berlari seperti orang bodoh di tengah keramaian kota. sampai satu tangan menarik saya.” Diva mulai terlihat mengukir senyuman. Wajah pria yang kini ia cintai yang menjadi penyebabnya.
“Adit,” celetuk Daniel yang seolah sudah paham dengan alur cerita Diva.
Diva mengangguk pertanda setuju, “Benar tuan. Dokter Adit yang menarik tangan saya. Ia membawa saya ke rumahnya, menceritakan semua yang terjadi pada Nona Serena. Saya sangat sedih waktu itu. Tapi, saat diakhir cerita, Dokter Adit bilang kalau Nona Serena dan Angel sudah selamat. Saya bisa kembali bernapas lega.”
“Sepertinya kalian berjodoh, sejauh ini aku belum pernah melihat Adit dengan wanita.” Daniel mengukir satu senyuman bahagia. Saat mendengar cerita Diva yang berakhir bahagia.
Daniel meraih tangan Serena. Membuat wanita itu memandang wajahnya dengan senyuman.
“Adit benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayangnya, Aku tidak seperti itu saat pertama kali bertemu denganmu, sayang. Maafkan aku.” Daniel memasang wajah bersalah. Mengecup pucuk kepala Serena untuk beberapa detik.
“Jangan berkata seperti itu. Semua sudah berlalu.” Serena memasang satu senyuman indah.
“Diva, terima kasih. Karena kau rela berkorban untuk melindungi menantu saya. Pak Han memang tidak pernah salah dalam memilih orang.” Ny. Edritz memandang wajah pak Han dengan satu senyuman.
“Nyonya, saya bekerja untuk melindungi Nona Serena. Saya tidak akan pernah bisa mengkhianati Nona Serena. Nona Serena wanita yang sangat baik. Nona Serena memiliki hati yang mulia dan tulus.” Diva tersenyum memandang wajah Serena.
“Daniel setuju dengan perkataan Diva. istriku ini memang wanita yang memiliki hati yang tulus.” Daniel mengecup punggung tangan Serena. Membuat suasana meja makan itu berubah menjadi berisik. Semua orang kembali mengeluarkan ocehan-ocehan lucu, untuk menciptakan tawa di tempat itu.
Dari kejauhan terdengar suara sepatu pria yang berjalan dengan cepat. Biao dan Tama memutar tubuhnya untuk memperhatikan tamu mereka malam itu. Kedua pria itu saling memandang satu sama lain saat sudah mengetahui identitas sang tamu.
“Selamat malam, apa aku mengganggu acara makan malam keluarga Edritz saat ini?” Adit mengukir satu senyuman. Memandang satu persatu wajah penghuni meja makan. Pria itu berdiri di samping Tama sahabatnya.
“Tidak ada yang sakit, untuk apa kau kemari?” tanya Tama sambil mengangkat dua alisnya.
“Siapa yang sakit?” sambung Biao dengan wajah serius.
“Disini, bagian ini terasa sangat sakit.” Adit menepuk pelan bagian dadanya.
“Kau yang sakit? untuk apa kau ke rumah ini. Apa kau pikir rumah utama rumah sakit?” Tama merangkul pundak Adit.
“Sebaiknya kau pergi ke rumah sakit. Di sini tidak akan ada yang bisa menyembuhkan penyakitmu itu, Adit.” Tama ingin memajukan langkahnya untuk membawa Adit pergi meninggalkan ruangan itu.
“Tama, kenapa kau tidak mengerti. Tentu saja karena obatnya ada di sini.” Adit melepas paksa rangkulan Tama. Pria itu menatap wajah Diva lagi dengan satu senyuman.
“Kekasihku obatnya,” sambungnya dengan wajah berseri-seri.
Suasana ruang utama lagi-lagi dipenuhi tawa. Adit dan Biao hanya bisa mundur tanpa bisa protes lagi. Dengan santai Adit berjalan mendekati posisi Diva. Pria itu mengulurkan tangannya di hadapan Diva.
“Sayang, ayo kita jalan-jalan.”
Diva menunduk malu sebelum memandang wajah Adit, “Tapi, bagaimana dengan Angel. Angel masih tidur, nanti kalau dia bangun dan mencari-cari bagaimana?” jawab Diva dengan suara lembutnya.
“Diva, biar aku yang menjaga Angel. Kau pergi saja bersama Adit.” Serena menepuk pelan pundak Diva.
“Terima kasih, Nona Serena.” Adit mengedipkan sebelah matanya.
“Ayo sayang,” ucap Adit lagi.
Diva beranjak dari duduknya untuk mengikuti ajakan Adit. Wanita itu masih terlihat canggung saat harus berjalan sambil bergandengan tangan. Kepalanya menunduk karena tidak berani menatap semua orang yang saat itu menatap wajahnya.
“Adit dan Diva terlihat serasi bukan?” Serena menatap wajah Daniel, sebelum menatap punggung Diva dan Adit lagi.
“Kita juga serasi, sayang,” jawab Daniel yang seolah tidak mau kalah.
“Ma, Serena mau ke kamar Angel.” Serena beranjak dari duduknya.
“Aku ikut, Kak.” Sambung Shabira yang juga beranjak dari duduknya.
Kedua wanita itu berjalan menaiki anak tangga sambil bergandengan. Sesekali terdengar tawa kecil dari dua wanita itu.
“Daniel, aku juga ingin bercerita denganmu.” Kenzo menatap wajah Daniel dengan tatapan serius.
“Apa yang ingin kau ceritakan, Kenzo?” Daniel mengambil buah apel yang terhidang di atas meja.
“Ini tentang Z.E.Group. Zeroun memintaku untuk mempelajari cara kerja perusahaan. Sejak dulu, kau yang banyak tahu tentang dunia bisnis. Apa kau mau membantuku?” Kenzo memandang Daniel dengan wajah penuh harap.
“Tentu saja, ayo kita ke ruang kerjaku. Sepertinya di situ akan lebih nyaman jika ingin membahas soal pekerjaan.” Daniel beranjak dari duduknya.
“Daniel, papa juga ikut. Ada beberapa hal yang ingin Papa bahas juga tentang S.G.Group.” Tuan Edritz beranjak dari duduknya. Mengikuti langkah Daniel dan Kenzo. Biao dan Tama juga mengikuti langkah ketiga pria itu dari belakang.
Di meja makan, hanya tersisa Ny. Edritz dan Pak Han. Wanita paruh bayah itu tersenyum sesaat sebelum memasang wajah sedih. Melipat kedua tangannya di atas meja sambil menundukkan kepala.
“Nyonya, apa ada sesuatu yang kini menggangu pikiran anda?” Pak Han memandang wajah Ny. Edritz dengan kekhawatiran.
Ny. Edritz menggeleng kepalanya, “Pak Han, anda sudah lama bekerja dirumah ini. Bahkan sebelum saya ada di rumah ini. Anda sudah dipercayakan untuk mengurus rumah ini sejak dulu.”
Ny. Edritz memasang senyum kecil.
“Anda pasti tahu, bagaimana kehidupan keluarga saya. Kami selalu mendapatkan masalah yang begitu berat. Walaupun diakhir cerita kami selalu memenangkannya. Tapi, peristiwa itu membuatku menjadi takut. Aku tidak ingin rumah ini diterpa masalah lagi.”
“Nyonya, keluarga Edritz Chen adalah keluarga yang memiliki kekuatan cinta dan kasih sayang. Jika sebuah rumah dibangun dengan cinta. Seberat apapun masalahnya, akan tetap bisa untuk dilewati. Sebaiknya anda jangan terlalu banyak pikiran. Anda juga harus menjaga kesehatan anda, Nyonya.”
“Terima kasih, Pak Han.” Ny. Edritz beranjak dari duduknya. Berjalan dengan tenang menuju ke kamar pribadi miliknya. Sesekali wanita paruh baya itu memijat dahinya yang terasa sedikit berat.
Dari kejahuan, Pak Han menatap punggung Nyonya besarnya dengan satu senyuman penuh arti.
“Saya tahu, apa yang saat ini anda pikirkan. Semoga saja Nona Serena bisa segera hamil, agar kekhawatiran anda segera hilang. Nyonya.”