Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 93



Mobil itu meluncur dengan kencang meninggalkan keramaian kota Thailand. Hingga siang yang terik sudah berganti dengan sore hari. Mobil itu berhenti di sebuah dermaga yang sangat luas. Satu kapal pesiar ukuran besar sudah siap untuk menyambut kedatangan Daniel dan Zeroun saat itu.


Dua pria berbadan besar membuka pintu belakang mobil. Memaksa tubuh Daniel dan Zeroun untuk keluar dari dalam. Menarik paksa tubuh mereka berdua untuk masuk ke dalam kapal yang sudah siap berlayar.


Daniel dan Zeroun hanya bisa diam mengikuti apa yang kini musuh mereka inginkan. Hanya kata selamat tinggal yang bisa mereka ucapkan di dalam hati. Mungkin esok mereka tidak bisa melihat dunia ini lagi. Mimpi untuk hidup tenang dan bahagia bersama orang yang mereka sayangi juga tidak akan pernah terwujud.


Langkah wanita itu terhenti di sebuah ruang besar yang ada di dalam kapal. Daniel dan Zeroun tersungkur di permukaan lantai. Beberapa pria berbadan tegab keluar dari beberapa pintu yang ada diruangan itu. Membawa tubuh Lukas dan Biao yang sudah terikat kuat dengan tali.


“Bos,” ucap Lukas sedih. Hatinya terasa sangat perih saat melihat tubuh Zeroun yang begitu mengerikan. Darah dimana-mana dengan wajah yang begitu pucat.


Sama dengan Lukas, Biao juga menatap sedih tubuh Daniel yang dipenuhi luka. Sejak dulu, dirinya yang bertanggung jawab atas keselamatan Daniel. Namun, detik ini ia merasa tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Daniel.


Satu pria berbadan tinggi keluar dengan langkah penuh kemenangan. Jaket hitam dan celana hitam dengan tubuh dipenuhi tato. Pria itu adalah orang yang merencakan semua kekacauan yang terjadi di Thailand.


“Selamat datang di istana saya, Tuan Zeroun Zein. Sangat senang bertemu dengan anda.” Pria itu memajukan langkahnya untuk menatap wajah Zeroun secara langsung.


“Cih, aku tidak pernah menyangka, kalau pemimpin besar Gold Dragon bisa berpenampilan menyedihkan seperti ini.” Pria itu memukul wajah Zeroun dengan pukulan yang begitu kuat.


“Jangan lakukan itu. Ambil saja nyawaku untuk menggantikannya,” ucap Daniel dengan wajah sedih.


“Apa yang kau katakan,” ucap Zeroun tidak suka.


“Hahahahaha,” Pria itu tertawa dengan begitu bahagia.


“Kau juga akan mati, Tuan. Kalian berempat akan mati hari ini juga.” Pria itu memutar tubuhnya untuk menjauhi posisi Zeroun dan Daniel.


“Daniel, apa yang kau katakan? kau memang sangat bodoh!” Zeroun semakin kesal mendengar ucapan Daniel.


“Zeroun, jika kita selamat saat ini. Aku akan menyerahkan Serena hanya untukmu. Kau harus bertahan untuk melewati semua ini.” Daniel berbisik pelan kepada Zeroun.


“Aku akan segera mati, sebaiknya kau yang harus memikirkan cara untuk lari dari sini.” Zeroun memandang Lukas dengan tatapan penuh arti, ada satu komunikasi yang terjalin di antara keduanya. Setelah beberapa detik menatap wajah Lukas, Zeroun kembali menunduk bingung. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Lukas saat itu. Bantuan yang akan menolong mereka saat itu akan datang besok pagi.


“Zeroun, maafkan aku. Kau sahabat terbaikku, Aku tidak akan pernah rela jika kau pergi dengan cara seperti ini. Pasti ada cara agar kita bisa selamat dari tempat ini.” Daniel masih menyimpan harapan, kalau akan ada bantuan dari langit yang menolongnya saat itu.


“Seharusnya kau menjaga Serena saat ini. Jika kita berdua mati, wanita itu akan berubah menjadi wanita gila.” Zeroun memicingkan kedua matanya menatap Daniel.


Daniel hanya bisa menunduk lagi saat mengingat nama Serena.


Andai Aku menyadari semua ini sejak awal, maka aku akan menyerahkan Serena sejak awal juga kepada Zeroun. Pria ini bisa melindungi Serena dengan baik, tidak seperti diriku. Aku memang pria yang begitu bodoh dan tidak berguna.


Beberapa pria berjalan mendekati tubuh Daniel dan Zeroun. Mengikat seluruh tubuh mereka dengan dengan tali. Membungkus kepala mereka dengan karung agar tidak bisa melihat apapun saat itu. Hal itu juga dilakukan kepada Lukas dan Biao.


Tubuh keempat pria itu diseret ke pinggiran kapal. Dengan wajah tertutup dan tanpa kata-kata terakhir. Tubuh mereka di dorong satu persatu kelautan, saat kapal itu berada di tengah lautan.


Daniel merasakan tubuhnya basah dan semakin susah bernapas. Ia juga tidak tahu, apa yang terjadi dengan Zeroun, Lukas dan Biao. Hatinya terasa sakit saat maut sudah menjemputnya di depan mata. Wajah Serena yang lagi tersenyum manis menjadi wajah terakhir yang ia lihat sebelum memejamkan mata. Pria itu tidak lagi sadarkan diri dan mengapung dilautan.


.


.


.


Hari yang gelap di sebuah pesawat pribadi milik ALCO Group. Tubuh ketiga pria itu tergeletak di atas tempat tidur. Tali dan penutup kepala yang ada sudah terlepas. Semua orang yang mengelilingi tempat itu terlihat khawatir dan sangat takut.


Daniel terbangun dan duduk di ujung tempat tidur. kepalanya masih terasa pusing. Ia duduk diam memperhatikan wajah Biao dan Lukas yang sudah membuka mata. Mereka bertiga terperanjat kaget dan menatap waspada kepada wajah-wajah asing yang kini memperhatikannya.


“Dimana ini?” tanya Biao lebih dulu.


“Selamat malam, Tuan. Sekarang anda berada di pesawat ALCO Group.”


“ALCO GROUP? maksudmu ini pesawat milik wanita licik itu?”


“Wanita licik? SONIA?” Lukas menatap tajam wajah Biao.


Biao mengangguk setuju saat mendengar perkataan Lukas.


“Maaf, Tuan. Nona Sonia mengirim kami untuk menolong Tuan Daniel dan yang lainnya. Kami datang tepat waktu setelah tubuh kalian di lempar kelautan. Satu tim penyelam yang kami kirim berhasil menemukan tubuh anda dan kami segera membawa anda semua ke bandara untuk kembali ke Jepang.”


“Apa kita sudah dalam penerbangan ke Jepang?” tanya Biao untuk memastikan.


“Benar, Tuan.” Pria itu menunduk hormat.


Lukas dan Biao beranjak dari tempat tidur mendekati tubuh Daniel. Lukas memutar-mutar kepalanya mencari keberadaan Zeroun dengan penuh khawatir.


“Pria itu masih di tangani oleh Dokter di ruangan lain. Lukanya terlihat sangat serius.”


“Apa aku boleh menemuinya?” Daniel ingin beranjak dari tempat tidur itu.


“Sebaiknya kita biarkan Dokter menyelamatkan nyawa Bos Zeroun,” ucap Lukas untuk menahan tubuh Daniel.


Daniel kembali diam menuruti permintaan Lukas saat itu. Meskipun ia kini merasa lega karena berhasil dari maut itu. Namun, kini hatinya kembali khawatir saat mendengar keadaan Zeroun yang kritis.


“Tuan, maafkan kami. Ini kotak P3K yang kami miliki. Dokter hanya fokus pada pria itu, jadi tidak mengobati luka anda. Ini ada pakaian untuk anda ganti.” Satu pelayan menyodorkan barang-barang itu hadapan Daniel.


“Jangan pedulikan keadaanku. Apapun caranya, tolong selamatkan Zeroun Zein. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.” Daniel mengambil baju itu untuk menutupi tubuhnya yang saat itu masih bertelanjang dada.


Sementara Lukas dan Biao masih mengenakan pakaian kotor yang sejak tadi mereka pakai.


.


.


.


Matahari sudah mulai muncul menerangi bumi. Pesawat itu semakin dekat dengan Jepang dan siap untuk mendarat beberapa menit lagi.


Daniel duduk di samping tempat tidur Zeroun. Memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Sejak tadi malam, Zeroun belum juga sadar.


“Zeroun, kenapa kau tidak bangun-bangun. Kita akan segera sampai di Jepang. Apa kau tidak ingin bertemu dengan Serena?” Daniel menunduk sedih saat Zeroun tidak kunjung menjawab perkataannya sejak tadi.


“Aku akan pergi menjauhi hidup kalian berdua. Aku akan menceraikan Serena, dan menyerahkan wanita itu kepadamu Zeroun. Kau harus segera bangun agar kau bisa menikah dengannya. Aku sudah berjanji padamu, jika kita selamat aku akan menyerahkan Serena untuk menjadi milikmu.” Daniel menundukkan kepalanya dengan perasaan bercampur aduk.


“Apa kau serius dengan perkataanmu, Daniel?” Zeroun membuka mata secara perlahan.


“Zeroun, kau sudah bangun? kau membuatku begitu takut. Apa yang harus aku katakan pada Serena, kalau aku pulang dengan membawa tubuhmu yang tidak lagi bernyawa.”


Zeroun beranjak dari tidurnya, menatap wajah Daniel dengan seksama. Ia masih ingat jelas dengan perkataan Daniel saat pria itu ingin menceraikan Serena.


“Daniel, apa kau tidak mencintai Erena? kenapa kau ingin menceraikan wanita itu dan memberikannya pada sainganmu.”


“Zeroun, semua sudah berakhir. Aku yang menjadi orang ketiga di antara hubungan kalian. Pernikahan kami juga tidak sah, karena kami menikah dengan dijodohkan dan saat itu Serena dalam keadaan amnesia.”


“Apa kau pikir wanita itu mau menerima keputusan ini?” ucap Zeroun dengan nada tidak suka.


“Serena pasti bahagia, saat ia tahu kalau ia bisa menikah denganmu.”


“Maaf, Daniel. Tapi aku tidak ingin bersama wanita itu lagi. Serena seperti sebuah cermin bagi hidupku. Semua yang aku lakukan bisa ia lakukan. Apa yang aku pikirkan, juga pasti selalu sama dengan isi pikirannya. Hubungan kami tidak terlalu berwarna jika dibandingkan dengan hubungan kalian saat ini. Kalian terlihat saling melengkapi satu sama lain.” Zeroun menyandarkan tubuhnya dengan posisi nyaman.


“Zeroun, Maafkan aku. Tapi aku dan Serena tidak akan pernah bisa bahagia jika namamu masih ada di hatinya. Kau harus kembali dengan Serena dan hidup bahagia.”


Zeroun tidak lagi ingin debat dengan Daniel saat itu. Satu pelayan masuk membawakan jus jeruk untuk Daniel. Namun, beberapa langkah ia berjalan pelayan itu tersandung. Hingga membuat baju baru yang ia kenakan lagi-lag kotor.


Zeroun tertawa dengan begitu riang melihat penampilan kotor Daniel pagi itu.


“Kau sangat kotor Daniel,” ucap Zeroun di sela-sela tawanya.


***


Kembali ke Rumah Sakit Adit.


Serena menatap tajam wajah Daniel dengan perasaan bercampur aduk. Begitu sulitnya kedua pria itu melewati hidup selama berada di Thailand. Bahkan hampir berakhir tenggelam di tengah laut, kalau tim penolong yang dikirim Sonia tidak datang tepat waktu.


“Kenapa kau mengejek Zeroun kotor dengan tawa yang tidak lucu itu?” tanya Serena sambil menyipitkan kedua bola matanya.


“Sayang, Aku harus mengeluarkan kata itu lebih dulu. Sebelum dia mengejekku duluan.” Daniel mempererat gengaman tangannya.


“Kau benar-benar ingin menceraikanku, Daniel?” tanya Serena dengan wajah sedih.


“Aku hanya berpikir, selama ini aku selalu menyiksa hidupmu. Sudah saatnya aku memberimu kebahagiaan. Tapi, kau justru memilihku dan ingin hidup bersama dengaku.” Daniel menatap wajah Serena dengan mata berkaca-kaca.


“Terima kasih, Sayang.” Daniel menyentuh dagu Serena mencium bibir istrinya itu dengan penuh cinta.


Serena tidak ingin membahas cerita Daniel lagi. Wanita itu juga mengkalungkan kedua tangannya dileher Daniel. Membalas ciuman Daniel yang terasa begitu hangat.


Terima kasih, sayang. Kau sudah melindungi Zeroun dengan sekuat tenaga yang kau miliki. Aku sangat bangga pada keberanianmu mengambil tindakan seperti itu, meskipun itu terdengar sedikit konyol. Tapi, saat ini yang terpenting kau dan sahabatku itu telah kembali dengan selamat. Terima kasih untuk semuanya sayang. Aku sangat mencintaimu Daniel Edritz Chen. Suamiku.