
Di dalam kamar.
Daniel baru saja selesai mandi. Mengenakan pakaian santai, memandang tempat tidur dengan raut wajah sedih. Meskipun sudah berulang kali Serena pergi meninggalkan dirinya, tapi hari ini terasa sangat berbeda. Dia tidak lagi tahu posisi Serena, bagaimana keadaan Serena.
Daniel menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berulang kali Pak Han mengetuk pintu untuk mengingatkan Daniel makan malam, tapi ia tidak mau menjawab. Daniel tidaklagi berselera untuk makan saat ini.
“Sayang, apa yang harus aku lakukan untuk menemuimu ….” Daniel menatap langit-langit kamar dengan kesedihan yang begitu dalam.
Tok Tok
Untuk kesekian kalinya, Pak Han mengingatkan Daniel untuk makan malam. Daniel memandang ke arah pintu, mearik napas dalam, “Masuk!”
Pak Han berjalan perlahan ke dalam kamar, diikuti beberapa pelayan yang membawa makan malam untuk Daniel.
“Singkirkan makanan itu dari hadapanku!” Daniel beranjak dari tidurnya, memasang wajah tidak suka.
“Tapi, Tuan ….” Pak Han berusaha untuk membujuk Daniel.
“Pak Han, jangan buat saya membenci, anda. Saya belum mengetahui dimana berada Serena saat ini. Tidak tahu, apa dia sudah makan atau belum. Saya tetap tidak akan makan, sebelum mengetahui keberadaan Serena.” Daniel memejamkan matanya membayangkan wajah Serena.
“Maafkan saya, Tuan. Anda bisa memanggil saya, jika membutuhkan sesuatu.” Pak Han membawa pelayan-pelayan itu meninggalkan kamar Daniel.
Daniel tidak lagi memandang Pak Han. Ia naik ke atas tempat tidur untuk istirahat. Tubuhnya terasa sangat lelah dan tidak bertenanga. hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan seumur hidupnya.
“Sayang, dimanapun kau berada. Aku selalu berdoa agar kau baik-baik saja.” Daniel memejamkan matanya perlahan. Melupakan kesedihan yang kini melanda isi hatinya.
***
Thailand.
Sebuah rumah yang sangat luas dan jauh dari keramaian kota. Setiap sudut rumah itu di jaga pria bersenjata yang selalu bersikap waspada. Beberapa penjaga lainnya tampak berkeliling untuk memastikan keamanan rumah itu.
Di salah satu kamar, yang ada di dalam rumah itu.
Serena terbangun dari tidur panjangnya. Ia memperhatikan sekelilingnya yang terlihat gelap. Tangan dan kakinya terikat dengan begitu kuat. Tubuhnya dipenuhi luka bekas pukulan. Bahkan ia sendiri tidak sadar, kapan ia mendapatkan pukulan itu. Mulutnya di tutup kain agar tidak bisa berteriak. Di tempat yang tidak terlalu jauh, Serena melihat Angel yang tertidur pulas.
Serena kembali mengingat Diva dan kejadian yang terjadi di sana.
“Bom itu ….”
Serena dan Diva duduk berhadapan. Diva ingin menceritakan keberadaan ayah Angel. Belum sempat Diva mengeluarkan kata, pandangan mata Serena berubah kabur, ia tidak lagi bisa memandang dengan jelas. Luna baru saja tiba di rumah Diva.
“Nona, apa yang terjadi?’ ucap Luna dengan raut wajah khawatir.
Belum sempat ia mendekati posisi Serena, Diva lebih dulu menusuk punggung Luna, hingga cairan merah berkucur deras. Serena melihat bayangan smaar-samar itu, sebelum ia merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuhnya melayang-layang di udara, seperti di gendong oleh seseorang. Setelah mendengar suara ledakan yang begitu keras, Serena udah ada di dalam mobil.
Ledakan itu menghancurkan seluruh bangunan rumah Diva. Semua mobil milik keluarga Edritz Chen juga terbakar. Kobaran api menutupi reruntuhan. Semua pengawal dan orang-orang yang ada di sekitar lokasi terpental jauh. Beberapa orang yang berada dekat di titik pusat Bom, tubuhnya hancur tidak terbentuk lagi. Suasana pagi itu sungguh sangat mengerikan. Tidak ada yang bisa memprediksi sebelumnya, kalau bom itu akan merenggut nyawa mareka dengan cepat dan tanpa perlawanan.
“Seseorang menjebakku dengan obat tidur, dan meledakkan rumah Diva.” Serena menatap ke arah pintu yang terbuka. Cahaya terang juga menembus masuk melalui pintu itu. Serena menatap wajah wanita yang kini mendekati ke arah tubuhnya.
“Selamat malam, Erena. Senang bertemu denganmu.” Wanita itu berjongkok di hadapan Serena dengan senyuman licik. Ia membuka kain yang menutupi mulut Serena.
“Diva, apa yang kau lakukan?” Serena terbelalak kaget, saat melihat Diva yang melakukan semua perbuatan keji ini terhadap dirinya.
“Apa sekarang kau ingat dengan wajahku, Erena?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Serena terdiam, ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan musuh masa lalunya, “Laura!”
“Ingatanmu sangat bagus, Erena. Apa kau bahagia bertemu denganku lagi?” Laura tersenyum licik, ia berjalan ke arah Angel.
“Jangan sentuh Angel, Laura!” teriak Serena.
“Kau sangat menyayangi bayi ini, Erena? apa dia sangat berharga dalam hidupmu?” Laura memandang wajah Serena dengan tatapan licik.
“Pembunuh tidak boleh memiliki hati dan belas kasih. Apa kau melupakan prinsip itu, Erena? Hingga bayi ini membuatmu menjadi lemah, padahal dia bukan siapa-siapa bagimu.”
“Dimana Diva!” Serena menantang Laura dengan teriakan.
“Diva? Aku lupa memberi tahumu. Kalau aku sudah membuang tubuhnya yang tidak lagi bernyawa di jalanan.” Laura tertawa dengan bahagia, hingga suaranya memenuhi isi ruangan.
“Kau wanita yang kejam, Laura!” Serena menatap benci wajah Laura.
“Kejam? kau membunuh kakakku dengan sangat licik, apa itu bukan tindakan kejam!” Laura menjambak rambut Serena dengan begitu kuat, hingga kepala Serena mendongak memandang wajah Laura.
“Apa kau ingin membalaskan dendam kakakmu, Laura?” Serena terus menantang perkataan Laura.
Laura melepas rambut Serena, “Ya, tapi aku tidak ingin kau mati dengan cepat. Aku ingin kau merasakan siksaan yang begitu perih.” Laura mengeluarkan belati kecil, dengan santai ia mengiris tangan Serena hingga cairan merah berkucur dengan sangat deras.
“Ini masih permulaan, permainan baru saja di mulai.” Laura pergi meninggalkan ruangan penyekapan.
Serena hanya diam memandang tangannya yang teriris, memperhatikan cairan merah yang menetes dengan deras di atas permukaan lantai.
“Aku harus bertahan.” Serena menarik napas dalam, dan mengatur napasnya dengan normal. Ia terus memperhatikan Angel dari kejauhan.
“Maafkan aku Angel. Karena perbuatanku di masa lalu, kau harus kehilangan Diva.” Wajah Serena berubah sedih. Hatinya terasa sangat sakit, saat membayangkan Diva yang tidak lagi ada di dunia ini.
Buliran air mata menetes membasahi pipinya, “Aku berpikir, kalau aku bertobat dan berjalan di jalan yang lurus, semua akan baik-baik saja. Aku tidak pernah berpikir, kalau perbuatanku di masa lalu, akan menuntut pertanggung jawaban, saat ini.” Serena menangis dengan penuh penyesalan, atas perbuatannya di masa lalu.
Perlahan, Serena mulai mengantuk. Tubuhnya terasa sangat lemah karena kehilangan banyak cairan merah. Serena kembali tidak sadarkan diri. Ia tertunduk di kursi itu dengan posisi duduk.
Suasana ruangan itu terlihat sepi dan tenang. Tidak ada suara lain selain suara angin yang berhembus. Angel juga tidur dengan tenang, di dalam box bayi yang tertutup kain tipis.
.
.
Selamat Hari raya Idul Fitri Readers...
Maafin segala kesalahan author ya.
Author sayang Readers...
😘😘😘😘😘