
Serena memandang keluar jendela. Ia tersenyum bahagia, saat membayangkan wajah Angel. Baby kecil yang sangat lucu dan imut. Tiap kali ia mengingat Angel, hatinya terasa tenang dan sangat bahagia.
Biao memperhatikan Serena dari balik kaca spion. Ia juga tersenyum bahagia, saat melihat Serena tersenyum. Meskipun di dalam hati yang paling dalam, masih tersimpan sedikit keraguan atas perasaan Serena terhadap Daniel. Biao takut, kalau Serena akan meninggalkan Daniel lagi. Hal itu akan membuat hidup Daniel menjadi hancur. Saat ini, satu-satunya kebahagiaan Daniel ada pada diri Serena.
“Biao, apa Diva tahu kalau kita akan berkunjung?” Serena mengalihkan pandangannya ke depan.
“Tidak, Nona. Diva tidak mengetahui kehadiran kita.”
“Ini akan jadi kejutan untuknya,” ucap Serena dengan penuh percaya diri.
“Nona satu-satunya majikan saya, yang ingin menemui pelayan biasa seperti Diva. Hati anda sungguh mulia, Nona.” Biao masih fokus dengan kemudinya, ia tersenyum berbicara dengan Serena.
“Diva juga manusia. Dia punya hati dan perasaan. Dia teman yang selalu menemaniku, saat aku lupa semuanya.” Serena kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Diva. Hingga peristiwa penembakan yang dilakukan Arion.
“Anda sudah mengingat semuanya, Nona. Apa anda punya keinginan untuk kembali pada dunia anda dulu?” tanya Biao dengan hati-hati.
“Sebenarnya, Dunia hitamku sudah hilang. Aku tidak lagi berstatus sebagai pimpinan geng mafia Queen Star, saat mengalami kecelakaan,” jawab Serena dengan santai.
Biao terperanjat kaget. Ia tidak pernah tahu, kalau Serena sudah meninggalkan dunia mafia miliknya. Selama ini, yang ada dalam pikiran Biao kalau Serena akan kembali pada dunianya dulu.
“Siapa yang mencelakai anda, Nona? Maafkan saya Nona, saya terlalu banyak tanya pada anda.”
“Tidak masalah, Biao. Aku bahagia bisa berbagi cerita ini padamu. Wubin yang mencelakaiku malam itu. Dia masih hidup sampai sekarang bukan?” Serena membuang pandangannya keluar jendela. Tiap kali ia mengingat nama Wubin, dendam itu kembali muncul di dalam hatinya.
“Wubin, Nona? pria itu hampir saja kehilangan nyawanya. Waktu itu, aku sudah berhasil menangkapnya. Tapi ia seperti belut yang sangat licin. Dia bisa dengan muda, kabur dari tempat penyekapan. Padahal ada puluhan orang yang menjaganya,” ucap Biao dengan penuh kecewa.
“Jangan salahkan dirimu, Biao. Wubin memang tidak mudah untuk di kalahkan. Dia itu pembunuh bayaran. Setiap pembunuh, tidak akan pernah mau menunjukkan identitasnya. Dia akan menghilang dan muncul di waktu yang tidak kita tahu.”
Serena memejamkan matanya. Menahan rasa perih yang kini ia rasakan. Hatinya di penuhi rasa bersalah, saat mengingat wajah-wajah korbannya dulu.
“Nona, apa anda baik-baik saja?”
Biao memperhatikan Serena dari balik spion. Ia tahu, kalau wajah Serena berubah menjadi sedih seketika.
“Aku baik-baik saja. Mungkin sedikit lelah saja. Akhir-akhir ini, terlalu banyak pikiran. Apa kita akan segera sampai?”
Serena kenal jalan ke rumah Diva. Ia pernah sekali datang kerumah itu. Melewati jalanan lurus yang sunyi. Di ujung jalan ada gang sempit yang hanya bisa di masukin satu mobil. Lokasi perumahan Diva juga tidak terlalu ramai. Hanya sekitar 20 rumah yang ada di lokasi itu. Jarak rumah satu dengan yang lainnya, juga terbilang cukup jauh.
“Benar, Nona. Kita sudah hampir sampai.” Biao mengurangi kecepatan mobilnya saat memasuki gang sempit.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mobil yang di tumpangi oleh Serena dan Biao tiba di rumah Diva. Biao berlari cepat dari balik kemudi, untuk membukakan pintu Serena. Serena turun dengan satu senyuman.
Beberapa pengawal yang menjaga rumah Diva, menunduk hormat menyambut kedatangan Serena pagi itu.
“Silahkan, Nona.” Biao memberi jalan untuk Serena.
Serena melangkah perlahan ke arah pintu. Belum sempat ia mengeluarkan kata, Diva sudah keluar dari dalam rumah.
“Nona Serena.” Diva memeluk tubuh Serena dengan bahagia. Ia sangat bersyukur, bisa melihat Serena lagi.
Serena menyambut pelukan Diva, ia menepuk pelan pundak Diva sambil tersenyum bahagia, “Apa kau baik-baik saja, Diva?”
“Saya baik-baik saja, Nona. Mari masuk, Nona.” Diva menarik tangan Serena untuk masuk.
Biao hanya berdiri tegab di depan pintu, ia tidak ingin mengganggu kebersamaan Diva dan Serena saat ini.
“Duduklah, Nona. Saya akan membuatkan teh untuk anda.”
“Tunggu, Diva. Dimana Angel? Aku sangat merindukannya.” Serena menghentikan langkah Diva.
“Ada di kamar, Nona. Dia sedang tidur. Biar saya bangunkan.”
“Jangan, jangan. Biar aku saja yang ke kamar. Kasian jika harus mengganggunya tidur.” Serena berdiri dari duduknya.
“Silahkan, Nona ….” Diva membuka pintu kamar.
Serena berjalan ke arah pintu, ia tersenyum manis saat melihat Angel tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidur.
“Saya permisi dulu, Nona.” Diva membungkukan tubuhnya sebelum kembali ke dapur.
“Apa dulu kecil, aku lucu seperti Diva. Andai papa masih hidup, aku akan memaksanya untuk bercerita. Tentang masa kecilku yang indah.” Serena mengusap pucuk kepala Angel, menciumnya dengan penuh sayang. Buliran air mata menetes di pipinya. Serena menghapus setiap buliran air mata yang jatuh. Ia tidak ingin mengganggu Angel. Serena berdiri dari tempat tidur itu. Berbalik badan.
Serena menemukan Diva berdiri di depan pintu. Diva tersenyum manis memandang wajahnya.
“Nona, apa Nona baik-baik saja?” Diva mendekati tubuh Serena, memegang tangan Serena karena khawatir.
“Aku baik-baik saja, Diva. Ayo kita keluar. Angel akan bangun jika kita berisik.” Serena menarik tangan Diva, membawanya pergi meninggalkan kamar.
“Silahkan di minum tehnya, Nona.” Diva menyodorkan segelas teh di hadapan Serena. Ada beberapa kue kering yang disediakan oleh Diva untuk Serena.
“Terima kasih, Diva.” Serena mengambil teh itu, meneguknya perlahan. Serena kembali meletakkan gelas itu di atas meja.
“Nona, semalam saya dengar kalau Nona di culik. Apa benar, Nona? Apa nona baik-baik saja? Siapa yang menculik anda? Apa wanita yang bernama Sonia itu, Nona?” tanya Diva dengan penuh khawatir, ia tahu berita penculikan Serena beberapa hari yang lalu.
“Aku tidak ingin membahas itu,” ucap Serena dengan lembut.
Serena kembali melamun, ia ingat dengan nama Sonia. Wanita licik yang sangat ingin mencelakai dirinya. Bahkan ingin merebut Daniel dari sisinya. Sonia hampir saja menghilangkan nyawa Angel waktu itu. Ia sangat benci dengan Sonia sejak saat itu.
“Nona ….” Diva menyentuh tangan Serena, memecahkan lamunan Serena.
“Iya, Diva. Apa terjadi sesuatu?” tanya Serena khawatir.
“Tidak, Nona. Tapi anda melamun. Apa yang anda pikirkan, Nona?” Diva memandang wajah Serena dengan penuh tanda tanya.
“Aku hanya memikirkan beberapa hal yang tidak harus di pikirkan,” jawab Serena dengan santai.
“Anda harus menjaga kesehatan anda, Nona. Jangan terlalu banyak pikiran.” Diva mengusap lembut tangan Serena.
“Iya, Diva. Aku harus kembali. Aku tidak ingin menahan Biao terlalu lama. Ia harus kembali ke S.G. Group untuk membantu Daniel.” Serena beranjak dari duduknya.
“Anda tidak ingin menunggu Angel bangun, Nona?”
“Mungkin lain kali, aku bisa bermain dengannya lagi.” Serena tersenyum manis, melangkah perlahan ke arah pintu. Diva mengikuti langkah Serena dari belakang.
“Nona, besok saya akan kembali ke rumah utama. Tapi, nona. Bolehkan saya meminta satu hal.” Diva tertunduk takut.
“Apa itu? jika aku bisa bantu, akan aku bantu Diva. Katakan saja.” Serena memegang pundak Diva.
“Nona, ijinkan saya pulang setiap hari. Saya ingin tidur bersama Angel setiap malam,” ucap Diva penuh dengan permohonan.
“Kau bisa melakukan hal itu. Kenapa harus takut seperti itu?” tanya Serena bingung.
“Maaf, Nona. Pekerja di rumah utama tidak di perbolehkan keluar masuk sembarangan di sana. Ini demi keamanan rumah utama juga. Kita tidak ingin mengambil resiko, kalau ada mata-mata yang masuk ke rumah utama.” Biao memotong pembicaraan Serena dan Diva. Ia menjelaskan peraturan rumah utama, yang belum diketahui oleh Serena.
“Tapi Diva memiliki anak. Kita tidak bisa memisahkan Angel dari ibunya.” Serena menatap tajam wajah Biao.
“Maafkan saya, Nona. Sejak dulu hingga sekarang, peraturan itu tidak akan pernah berubah.” Biao membungkuk hormat.
“Biao, tapi ….” ucapan Serena terhenti.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya mengerti maksud Tuan Biao. Maafkan saya Tuan, saya sudah membuat masalah.” Diva menunduk takut. Ia tidak lagi berani memandang wajah Biao.
“Aku akan bicara sama Daniel. Dia akan mengijinkanmu untuk pulang hari. Aku harus pergi Diva. Jaga Angel dengan baik.” Serena memutar tubuhnya.
“Baik, Nona. Terima kasih sudah berkunjung di rumah kecil milik saya.” Diva masih tertunduk takut.
Serena berjalan ke arah mobil. Biao membukakan pintu untuk Serena. Ia menatap tajam wajah Biao.”
“Silahkan, Nona.” Biao menundukkan kepalanya.
Serena tidak menjawan perkataan Biao. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk diam di sana. Biao menutup pintu mobil dengan kencang, dan berlari kecil ke arah depan. Biao masuk ke dalam mobil. Ia memperhatikan mobil hitam yang terparkir tidak jahu dari rumah Diva. Ia tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam mobil.
“Aku ingin ke S.G. Group.” perintah Serena singkat.
“Baik, Nona.” Biao melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Diva. Dari balik kaca, Diva masih berdiri di teras rumah.