Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 5



Di Rumah Utama


Serena duduk di depan meja rias. Memandang wajahnya dengan seksama. Serena kembali mengukir senyuman di bibirnya. Ia mengambil sisir dan menyisir rambut bergelombang miliknya. Pagi ini hatinya terasa tenang dan bahagia.


Beberapa masalah sudah hampir terselesaikan. Kehidupan di keluarga besar Edritz Chen, sudah berjalan normal seperti biasa. Beberapa masalah yang ada di S.G Group, semua sudah terselesaikan.


Daniel baru saja keluar dari kamar mandi. Bekas luka tembak masih terlihat jelas di dadanya. Daniel keluar tanpa mengenakan baju. Hari ini adalah hari ke 3 bagi Daniel tidak masuk kerja. Adit dan Serena melarang keras untuk dirinya bekerja.


“Sayang, kau sangat cantik.”


Daniel memeluk Serena dari belakang. Mencium aroma rambutnya yang wangi. Daniel memejamkan matanya untuk sejenak. Menikmati kebersamaan dirinya dengan Serena.


“Sudah selesai mandi?” Serena memiringkan wajahnya ke arah wajah Daniel. Meletakkan sisir itu kembali pada tempatnya.


“Aku mencintaimu,” bisik Daniel di telinga Serena, tanpa peduli dengan pertanyaan Serena sebelumnya.


Tok… Tok…


Suara ketukan pintu. Daniel masih terus memeluk Serena dengan erat.


“Masuk,” ucap Daniel cepat.


Pak Han masuk ke dalam kamar, diikuti beberapa pelayan. Membawa sarapan pagi untuk Daniel dan Serena. Sejak penembakan, Daniel lebih sering makan di kamar dari pada di ruang makan. Ia benar-benar mengurung Serena, dan tidak ingin wanita itu pergi lagi dari dirinya.


“Selamat pagi, Tuan. Ini sarapan yang anda minta.” Pak Han membungkuk hormat di samping Daniel.


“Daniel, kau bisa melepaskan pelukan ini. Tidak enak dilihat para pelayan,” bisik Serena di telinga Daniel.


Daniel melepas pelukannya. Berdiri tegab, menghadap ke arah Pak Han. Melipat kedua tangannya. Menatap tajam ke semua pelayan yang ada. Hatinya sedikit kesal, karena kedatangan Pak Han, merusak suasana bahagia dirinya dengan Serena.


“Jika sudah selesai, kalian boleh pergi secepatnya.” Daniel melirik tajam ke arah Pak Han.


“Baik Tuan. Saya permisi dulu.”


Pak Han kembali membungkuk hormat. Membawa semua pelayan, untuk keluar dari kamar itu. Ia sangat mengerti, kedatangannya sudah mengganggu Daniel dan Serena. Dengan penuh rasa bersalah, Pak Han melangkah cepat dan menutup pintu secara perlahan.


Serena beranjak dari duduknya. Memeluk Daniel dari belakang. Mengunci kedua tangannya di perut Daniel.


“Jangan bersikap seperti itu. Mereka mengantar makanan untuk kita.”


Sejak kembalinya ingatan Serena. Daniel berubah menjadi lebih posesif. Ia selalu marah, tiap kali ada orang yang mengganggu dirinya dan Serena. Daniel melepas genggaman Serena, membalikkan tubuhnya menghadap Serena.


“Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Kau tahu, itu sangat menyakitkan.” Daniel meletakkan tangan Serena di bekas luka tembak waktu itu.


Serena hanya tersenyum manis, tanpa ingin menjawab. Hatinya masih terbagi menjadi dua. Tiap kali berada di pelukan Daniel, ia sering kali mengingat wajah Zeroun. Serena masih menyembunyikan semua itu dari Daniel. Ia tidak ingin, membuat Daniel kembali kecewa.


“Apa kita bisa makan?” Serena memandang ke arah meja yang sudah berisi aneka makanan dan jus buah.


“Ayo kita makan.” Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya ke arah sofa.


Daniel dan Serena duduk berdampingan. Serena mengambil segelas jus jeruk hangat, menatap wajah Daniel yang ingin memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Serena kembali tersenyum, saat melihat wajah polos Daniel pagi ini.


Serena mengambil sepiring telur mata sapi, dan roti bakar spesial buatan Pak Sam. Serena menghabiskan menu sarapan paginya, dengan begitu lahap dan cepat. Daniel mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa makanan pada ujung bibir Serena. Menatap Serena dengan penuh cinta.


“Apa kau tidak bosan, memandangku seperti itu sejak tadi.” Serena meletakkan sendok garpu perlahan, menghabiskan jus jeruk hangat hingga tidak tersisa.


“Aku tidak pernah bosan memandang wajahmu, sayang. Wajahmu membuat candu.” Daniel mengedipkan sebelah matanya.


“Sayang, boleh aku tanya sesuatu?” Daniel menatap wajah Serena dengan begitu serius.


“Katakan, apa yang ingin kau ketahui.” Serena tersenyum manis memandang wajah Daniel.


“Kenapa pria itu memanggilmu dengan nama Erena?” Daniel menyelipkan rambut Serena ke belakang telinga. Meletakkan kepalanya berdekatan dengan wajah Serena saat ini.


“Namaku memang Erena, sayang.” Serena kembali mengingat, semua yang di rencanakan oleh Tuan Wang setelah kecelakaan.


“Erena? Kenapa berubah menjadi Serena?” Daniel mengerutkan dahinya, menatap wajah Serena dengan seksama.


“Papa mengubah semuanya. Dia mengirim seorang dokter, untuk menguasai seluruh pikiranku. Mengubah nama, sifat, prilaku, bahkan penampilanku. Papa yang melakukan semua itu.” Serena menunduk sedih, ia sedikit kecewa ketika dirinya harus di jauhkan dari kehidupan lamanya.


“Hei, jangan sedih seperti ini.” Daniel menarik Serena ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Serena.


“Aku yang salah Daniel. Seharusnya aku tidak pernah melupakannya.” Buliran air mata menetes di pipi Serena. Meskipun kecewa, tapi saat ini ia sangat merindukan Tuan Wang.


“Meskipun namamu Erena. Aku tetap akan memanggilmu Serena. Itu panggilan sayang untukmu. Semua tidak akan berubah. Namamu tetap Serena di rumah ini.”


Daniel melepas pelukannya, memegang kedua pipi Serena. Menghapus buliran air mata yang sudah menetes.


“Aku sangat merindukannya ....”


Serena kembali menangis, Serena menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Daniel. Hatinya terasa perih, saat mengingat kelakuan buruk yang pernah ia berikan kepada Taun Wang.


“Aku ada di sini. Kau bisa meluapkan semua kesedihanmu, sayang. Aku selalu bersamamu.” Daniel mencium pucuk kepala Serena.


“Daniel, apa kau tahu. Sejak kecil, papa sudah menjodohkan kita.”


“Apa maksudnya?” Daniel melepas pelukannya, mendongakkan wajah Serena agar bisa menatap wajahnya.


“Papa mengatur pertemuan untuk mengatur perjodohan kita waktu itu. Aku kabur dari rumah, dan tidak pernah kembali. Aku belum siap untuk menikah waktu itu. Hingga aku bertemu dengan seorang wanita yang tertembak. Aku menyelamatkan nyawanya, merawatnya hingga sembuh.” Serena menghentikan perkataannya.


“Apa yang terjadi pada wanita itu?” Daniel semakin tertarik dengan cerita Serena pagi ini.


“Wanita itu memberikan Queen Star padaku, Daniel. Sebelum ia meninggal, ia melatihku untuk menembak dan membunuh.”


Serena mengangkat kedua tangannya. Melihat kedua telapak tangannya. Buliran air mata kembali menetes di pipinya.


“Sudah banyak nyawa yang aku renggut Daniel. Bahkan nyawa orang tidak berdosa. Aku pembunuh.” Serena menangis senggugukan. Daniel kembali menarik tubuh Serena, ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, untuk mengurangi beban yang saat ini dirasakan oleh Serena.


“Jangan berkata seperti itu. Kau istriku Serena. Wanita terbaik yang pernah aku miliki. Kau Nona muda di keluarga besar Edritz Chen.” Daniel mencium pucuk kepala Serena berulang kali.


“Papa selalu menemuiku, melarangku. Ia pernah membawaku kembali pulang. Tapi aku mala kabur dan menembak semua pengawal yang ada di rumah. Papa sangat syok waktu itu.” Suara Serena semangkin serak, dia benar-benar sedih saat mengingat semua kesalahan yang pernah ia lakukan waktu dulu.


“Jangan menangis. Hatiku terasa sakit, setiap kali melihat air mata ini.” Daniel menghapus air mata yang menetes. Mencium Serena berulang kali. Mendekatkan wajahnya dengan Serena.


“Aku memiliki banyak musuh, Daniel,” jawab Serena dengan suara serak.


“Aku akan berusaha untuk melindungimu. Semua akan baik-baik saja.”


Daniel mendekatkan hidungnya dengan hidung Serena. Hingga saling bersentuhan. Keduanya memejamkan mata untuk sesaat. Serena terus berusaha melupakan masa lalunya. Meskipun itu hal sulit untuk ia lakukan saat ini.


Like, Komen, Vote