
Shabira masih berdiri mematung, di depan pintu utama. Menatap kepergian Serena dan Daniel. Ia terus saja mengingat kebahagiaan Zeroun dan Serena waktu dulu. Hatinya menolak, kalau Serena harus berpisah dari Zeroun.
Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku akan menyatukan kalian kembali.
Biao dan Tama berjalan menghampiri Shabira. Biao jalan lebih dulu, untuk menghindari perdebatan dengan Shabira. Sedangkan Tama, berhenti di depan Shabira sambil membungkuk hormat dan tersenyum.
“Maaf, Nona. Sebaiknya anda segera masuk ke dalam dan membersihkan diri. Anda sudah di tunggu Nona Serena di meja makan.”
Shabira memandang wajah Tama, “Katakan pada Kak Erena. Aku tidak ikut sarapan.” Shabira berjalan masuk ke dalam. Menaiki anak tangga dengan cepat dan masuk ke dalam kamar.
Tama hanya menggeleng kepala, melihat sifat Shabira hari ini, “Aku tidak pernah menyangka, kalau Tuan Kenzo bisa jatuh cinta dengan wanita seperti dirimu, Nona.” Tama mengikuti lagkah Biao ke arah meja makan.
Di meja makan, Daniel dan Serena sudah duduk manis. Daniel terus saja menatap wajah Serena. Hari ini Serena terlihat lebih ceria. Ia sudah berhasil melepaskan Zeroun dari hatinya. Tidak ada lagi beban dalam pikirannya. Daniel kembali mengingat, mobil yang terparkir di halaman depan. Ia tahu kalau mobil itu pemberian dari Zeroun untuk Serena. Hatinya terasa sakit dan cemburu.
“Sayang, dari mana kau mendapatkan mobil itu?” tanya Daniel dengan raut wajah polos.
“Mobil?” Serena kembali memikirkan, maksud perkataan Daniel pagi ini.
“Ya, mobil di depan. Bukankah itu mobil yang kau minta?” tanya Daniel lagi.
“Itu bukan mobilku. Mobil itu milik Shabira.” Serena mengambil dua lembar roti, meletakkan selai cokelat di dalamnya.
“Shabira?” tanya Daniel kaget. Ia tidak pernah menyangka, kalau mobil yang ia rebutkan jatuh ke tangan Shabira. Kekasih Kenzo.
Serena mengangguk cepat, ia melihat Pak Han yang sedang mengatur para pelayan untuk bekerja. Serena melambai tangan untuk memanggil Pak Han. Daniel mengikuti arah pandangan Serena. Ia memperhatikan wajah Pak Han, sebelum bertanya pada Serena, “Untuk apa memanggil Pak Han? apa kau menginginkan sesuatu?”
“Aku hanya ingin menanyakan soal Diva. Apa dia sudah masuk kerja atau belum. Aku tidak menemukannya sejak tadi.” Serena tersenyum manis.
Pak Han berjalan cepat mendekati Daniel dan Serena. Ia membungkuk hormat sebelum mengucap salam, “Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak Han, apa Diva sudah datang?” tanya Serena dengan wajah serius.
“Belum, Nona. Diva masih dalam perjalanan.”
Daniel hanya fokus pada nasi gorengnya pagi ini. Ia mendengar pembicaraan Serena dan Pak Han, tanpa ingin protes.
Serena memandang wajah Daniel, “Apa Diva sudah boleh pulang sore, Sayang?” Serena mulai merayu Daniel, untuk mendapatkan ijin.
“Aku mengijinkannya. Dia wanita yang baik, kata Tama.” Daniel tersenyum manis.
Serena kembali memandang wajah Pak Han, “Pak Han, jika Diva sudah tiba, suruh dia menemuiku.”
“Baik, Nona.” Pak Han membungkuk hormat, sebelum pergi meninggalkan Daniel dan Serena.
Serena memandang ke arah Biao dan Tama yang baru saja tiba.
“Selamat pagi, Nona. Nona Shabira tidak ingin sarapan di meja makan. Mungkin ia ingin sarapan di kamar. Saya akan menyuruh pelayan, untuk mengantar makanan ke kamarnya,” ucap Tama.
Serena terdiam sejenak, ia tahu bagaimana sifat Shabira, “Biar saya yang mengantar sarapan untuknya.” Serena tersenyum manis.
Daniel meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong. Mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya. Memegang tangan Serena dengan lembut, sebelum mengeluarkan kata, “Sayang, apa kau baik-baik saja? apa terjadi sesuatu dengan dirimu dan Shabira?” tanya Daniel penuh selidik.
Serena menggeleng, “Semua akan baik-baik saja. Sekarang cepat bekerja, aku akan mengantarmu ke depan.” Serena beranjak dari duduknya. Menutupi rasa kecewanya terhadap Shabira pagi ini.
Daniel memandang wajah Serena, tanpa ingin protes lagi. Beranjak dari duduknya, dan merangkul pinggang Serena. Membawa tubuh Serena ke arah pintu utama. Tama dan Biao menunduk hormat, memberi jalan untuk Daniel dan Serena.
Aku tahu, apa yang kini kau rasakan. Seharusnya wanita itu segera bertemu Kenzo, agar tidak menyusahkan hidupmu lagi.
Serena kembali mengukir senyuman, saat berada di depan pintu utama. Daniel mencium pucuk kepala Serena, “Aku pergi dulu, Sayang.” Sebelum masuk ke dalam mobil, Daniel melirik mobil sport yang ia perebutkan itu.
“Kalau bukan karena pria itu. Mobil itu akan menjadi milikmu, sayang.” Daniel masuk ke dalam mobil saat pintu sudah di buka oleh Tama.
“Saya permisi dulu, Nona.” Tama dan Biao membungkuk hormat, sebelum masuk ke dalam mobil.
Serena hanya tersenyum, memandang Daniel dari depan pintu. Suara klakson di hidupkan Tama, sebelum melajukan mobilnya.
Serena terus memandang mobil Daniel, yang semangkin menjauh. Wajahnya berubah sedih, ia tidak tahu, harus mulai dari mana saat ini. Pertemuan Kenzo dan Shabira harus segera terjadi.
“Shabira, kau pasti sangat kecewa saat ini.”
Serena memutar tubuhnya, melangkah masuk ke dalam. Ia menuju kamar Shabira, di temani satu pelayan yang membawa sarapan.
Serena berdiri di depan pintu, mengetuk pintu itu dengan durasi cepat. Tidak menunggu lama, pintu itu terbuka. Shabira memberi jalan kepada Serena untuk masuk ke dalam. Pelayan itu menghidangkan sarapan di atas meja, membungkuk hormat sebelum pergi.
Serena duduk di sofa dengan santai. Ia memandang wajah Shabira, yang kini juga duduk di sampingnya.
“Aku tidak pernah tahu, apa yang ada di dalam pikiran Kakak. Kenapa Kakak meninggalkan Zeroun dan menikah dengan pria itu. Selama ini aku tidak pernah tahu, apa yang terjadi dengan hidup Kakak. Kabar terakhir yang aku terima, kalau Ratu Mafia Queen Star telah meninggal dalam insiden kecelakaan. Aku tahu, kalau itu Kakak.”
Shabira menarik napas dalam, menahan buliran air mata yang akan jatuh.
“Tapi Kak. Aku tahu, kalau Zeroun Zein tidak pernah melakukan kesalahan untuk hidupmu. Kenapa kau menikah dengan pria ini.” Buliran air mata tidak lagi tertahan. Shabira menangis di depan Serena.
“Shabira, Aku punya alasan memilih jalan ini.” Serena mengambil tangan Serena, meletakkannya di atas pangkuan.
“Kakak, apa yang terjadi padamu? apa yang dilakukan pria itu hingga kau mau menikah dengannya? apa dia memaksamu?” tanya Shabira dengan penuh penasaran.
“Shabira, ada hal yang tidak pernah aku ceritakan padamu. Kalau aku masih memiliki satu orang tua. Tuan Wang adalah ayah kandungku.” Serena kembali mengingat Tuan Wang, raut wajahnya berubah sedih.
Shabira terperanjat kaget, ia tidak pernah tahu kalau Serena masih memiliki keluarga. Selama ini mereka hidup di jalan dengan bebas, tanpa aturan ataupun kerinduan terhadap keluarga.
“Ya Shabira. Aku sangat menyayanginya. Setelah kecelakaan, aku mengalami amnesia. Melupakan semua yang pernah terjadi, termasuk dirimu. Permintaan terakhirnya, adalah pernikahanku dengan Daniel. Ini satu cara agar aku bisa berbakti padanya. Perlahan, rasa bakti itu berubah menjadi cinta. Aku mencintai Daniel, Shabira. Dia pria yang baik.” Serena memandang wajah Shabira.
“Apa itu alasannya, kenapa kakak baru ini menemuiku?”
Serena mengangguk pelan, “Ingatanku baru saja kembali beberapa hari yang lalu. Kau tahu, hatiku sangat bahagia saat bisa mengenali Zeroun lagi. Tapi status pernikahan ini, dan semua yang sudah terjadi ….” Serena menahan perkataannya. Menunduk sedih.
“Kakak, maafkan aku.” Shabira memeluk Serena.
“Aku harus melepasnya. Aku mencintai Daniel saat ini. Aku tidak ingin menyakiti Zeroun, lebih jauh lagi. Dia sudah cukup menderita selama ini.” Buliran air mata menetes.
“Kakak, maafkan aku. Seandainya waktu mendengar kecelakaan aku pergi mencarimu, semua ini tidak akan terjadi.” Shabira kembali merasa bersalah.
Serena mengelus punggung Shabira, “Semua sudah terjadi Shabira. Tidak ada lagi yang bisa kita sesali.”
“Kak, aku tidak ingin menyusahkan dirimu lagi. Aku akan menemui Kenzo hari ini.” Shabira melepas pelukannya, menatap wajah Serena dengan seksama.
“Aku akan menemanimu ke sana.” Serena menyentuh pipi Shabira.
Shabira menggeleng, “Jangan Kak, Aku akan menemuinya sendiri. Aku bisa mengatasi semuanya.” Shabira tersenyum untuk menyakinkan Serena.
“Shabira, meskipun Arion sudah pergi. Tapi Wubin masih ada di luar sana. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu.”
“Kakak jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya. Lagian aku punya ini.” Shabira menunjukkan pistol yang ia dapat dari tempat tinggal lamanya.
“Kau memintanya pada pria itu?” tanya Serena tidak percaya.
Shabira mengangguk cepat, “Pelurunya bisa menembus kaca anti peluru. Ini senjata yang baru saja mereka rakit. Aku tidak sabar untuk mencobanya.” Shabira membidik ke luar jendela.
“Jangan lakukan di sini.” Serena menurunkan senjata itu.
“Aku sudah lama tidak menembak. Akan seru jika aku berjumpa dengan Wubin langsung bukan.”
Serena menarik napas dalam, “Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Gunakan senjata itu hanya untuk berjaga-jaga. Jangan cari masalah lain. Kau harus ingat dengan janjimu, untuk meninggalkan dunia mafia.”
“Siap, Bos.” Shabira meletakkan tangan di ujung dahi, sebagai bentuk hormat.
“Aku kakakmu, bukan Bos lagi.” Ledek Serena dengan penuh tawa.
“Kakak sampai kapanpun, tetap menjadi Bosku. Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan kakak dalam bahaya. Semua ini kesalahanku, seandainya aku menemui kakak ….” ucapan Shabira terhenti. Ia kembali menyesali, langkah yang ia ambil waktu itu.
“Jangan sedih lagi, lupakan semuanya. Sekarang, kau bisa kembali bahagia dengan Kenzo.” Serena memeluk tubuh Shabira.
Suasana ruangan terasa begitu tenang dan nyaman. Perselisihan antara Shabira dan Serena juga sudah teratasi. Serena menceritakan awal pertemuannya dengan Daniel, hingga ia jatuh cinta. Shabira tidak lagi memaksa egonya, meskipun hatinya masih ingin melihat Serena dan Zeroun bersatu.
Shabira memakan sarapan yang tersedia di atas meja. Serena bersandar dengan nyaman di samping Shabira. Keduanya terlihat seperti kakak adik yang saling menyayangi.
Sejak kecil, Shabira sudah hidup di jalan. Ia tidak pernah mengenal kasih sayang dari keluarga. Selalu hidup dengan penuh kekerasan, di jalan. Hingga membuat Shabira terdidik, menjadi wanita yang tangguh. Ia memiliki jasa yang besar, dalam melindungi hidup Serena selama ini. Baginya, nyawa miliknya akan ia pertaruhkan untuk melindungi nyawa Serena.
Tok … Tok…
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan keduanya. Serena menyuruh masuk, seseorang yang mengetuk pintu kamar Shabira.
Diva masuk ke dalam dengan langkah pelan. Ia terlihat sedikit takut, saat melihat wajah Shabira.
“Diva, kau baru datang? aku punya kabar baik untukmu.” Serena menyambut kedatangan Diva pagi itu.
Sementara Shabira, hanya diam. Ia memandang Diva dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Iya, Nona. Saya baru saja datang. Maafkan saya, Nona.” Diva masih menunduk takut.
“Jangan sungkan. Kita teman bukan. Daniel sudah mengijinkanmu, untuk pulang setiap sore. Angel akan sangat bahagia.”
Diva mengangkat kepalanya, memandang wajah Serena dengan penuh bahagia, “Apa anda serius, Nona?”
Serena mengangguk cepat sambil tersenyum, “Ya, ini semua demi Angel. Aku tidak ingin ia sedih, saat berada jauh darimu.”
“Terima kasih, Nona.” Diva tersenyum manis.
“Oiya, ini adikku Shabira.” Serena memandang wajah Shabira dan menyuruhnya untuk menjabat tangan dengan Diva.
Shabira hanya diam. Hatinya menolak untuk menjalin hubungan dekat dengan Diva.
“Maafkan saya, Nona. Mungkin Nona Shabira tidak suka dengan saya. Saya hanya pelayan.” Diva menunduk sedih.
“Shabira, apa yang kau lakukan. Diva wanita baik,” protes Serena tidak suka.
Shabira menuruti perkataan Serena, ia berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Diva, “Senang bertemu denganmu, Diva.” Tersenyum terpaksa.
“Saya juga senang, bisa mengenal anda, Nona.” Diva mengukir senyum manis.
“Gitu akan terlihat manis.” Serena tersenyum puas.
Shabira masih terus memandang wajah Diva, dengan tatapan tajam.
Aku merasa, wanita ini bukan wanita biasa. Aku harus menyelidikinya sendiri. Kak Erena tidak akan mempercayai perkataanku saat ini. Dia terlihat dekat dengan wanita ini.