
Matahari yang cerah kembali muncul di permukaan. Setelah kondisi Serena membaik, Adit memindahkan tubuh Serena ke dalam ruang perawatan VVIP.
Serena masih memejamkan mata dengan tenang. Seluruh alat medis sudah dilepas dari tubuhnya. Hanya tersisa jarum infus di tangan Kanannya.
Semua orang sudah berkumpul di dalam kamar Serena. Shabira dan Kenzo berdiri di sisi kanan. Tuan dan Ny. Edritz berdiri disisi kiri. Sedangkan Adit berdiri di ujung tempat tidur Serena untuk memperhatikan wajah Serena. Tama sibuk mengurus masalah yang ada di S.G.Group.
Serena menggerak-gerakkan jari-jarinya, hingga membuat Adit kembali mengukir senyuman. Serena membuka matanya secara perlahan untuk melihat wajah orang-orang yang kini melingkarinya.
“Daniel ….” ucap Serena pelan.
Adit berjalan mendekati Serena untuk memeriksa keadaan Serena setelah sadar.
“Kau sudah semakin membaik, Serena.” Adit meletakkan tangan Serena kembali ke atas tempat tidur.
Serena menatap satu persatu wajah yang kini ada di hadapannya. Buliran air mata menetes saat ia tidak menemukan wajah Daniel maupun Zeroun di tempat itu.
“Kak Erena,” ucap Shabira pelan.
“Shabira, dimana Daniel?” ucap Serena pelan dengan bibir yang masih pucat.
Shabira hanya bisa diam, ia tidak mampu untuk menjelaskan kepada Serena kalau belum ada kabar baik yang ia terima hingga pagi ini.
“Ma, dimana Daniel?” Serena menatap wajah Ny. Edritz dengan kesedihan.
Ny. Edritz juga tidak bisa menjawab. Wanita paruh baya itu menyentuh tangan Serena dengan wajah sedih, “Sayang, jangan pikirkan Daniel dulu. Daniel akan segera pulang.”
Suara pintu terbuka secara tiba-tiba. Semua orang menatap kearah pintu. Daniel berdiri di balik pintu itu dengan wajah yang dipenuhi luka. Baju yang ia kenakan juga kotor dan dipenuhi darah yang kering. Daniel berjalan dengan kaki yang sedikit pincang. Pria itu tersenyum memandang wajah Serena.
Shabira tidak lagi bisa bernapas dengan normal. Detak jantungnya juga berdetak dengan begitu cepat. Hatinya di selimuti kekhawatiran saat tidak melihat kehadiran Zeroun di samping Daniel.
“Kak Zeroun ….” ucap Shabira dengan penuh kesedihan. Ia belum siap untuk menerima kabar buruk pagi ini.
Daniel tersenyum berjalan masuk. Setelah Daniel berjalan masuk ke dalam kamar Serena. Zeroun, Lukas dan Biao juga muncul dari balik pintu. Semua orang kembali mengukir senyuman bahagia.
Shabira berlari kencang untuk memeluk tubuh Zeroun dengan penuh deraian air mata.
Serena menatap wajah Daniel dan Zeroun bergantian. Ia juga mengukir senyum bahagia, saat melihat Daniel dan Zeroun kembali dalam keadaan selamat.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” Daniel meraih tangan Serena, mengecupnya berulang kali.
“Aku baik-baik saja. Jika kau sakit aku juga akan sakit. Jika kau sehat aku juga akan cepat sehat.” Serena mengukir senyuman. Ia kembali ingat dengan perkataan Daniel waktu itu.
“Sayang, aku sangat merindukanmu.” Daniel mencium pucuk kepala Serena sambil memejamkan mata.
“Daniel anakku, kau baik-bai k saja? mama sangat mengkhawatirkanmu, Nak.” Ny. Edritz menghapus air mata yang menetes.
Daniel memutar tubuhnya untuk memandang wajah Ny. Edritz. Pria itu memeluk tubuh mama yang paling ia sayangi seumur hidupnya.
“Daniel baik-baik saja, Ma. Kami semua sudah pulang dalam keadaan selamat,” ucap Daniel pelan.
“Mama sangat takut, Daniel.” Ny. Edritz menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Daniel.
Tidak jauh dari tempat tidur Serena, Shabira juga masih memeluk tubuh Zeroun dengan penuh deraian air mata.
“Kak, jangan tinggalkan aku lagi. Aku sangat menyayangi Kakak.” Shabira memejamkan mata di depan dada bidang Zeroun.
“Jangan menangis seperti itu. Aku baik-baik saja.” Zeroun mengusap rambut Shabira yang panjang.
Dari kejauhan Adit memperhatikan luka yang ada di tubuh Daniel dan Zeroun. Pria itu juga mengerutkan dahinya saat melihat Lukas dan Biao yang dipenuhi dengan luka pukulan.
“Kalian berempat ikut denganku. Aku akan memberian kalian pakaian ganti dan mengobati semua luka yang ada di tubuh kotor kalian itu.” Adit berjalan ke arah pintu.
“Tubuh kotor kalian itu bisa mengganggu kesehatan pasienku.” Sambung Adit lagi.
Daniel melepas pelukannya dari tubuh Ny.Edritz. Begitu juga dengan Zeroun. kedua pria itu saling menatap satu sama lain sebelum tertawa terbahak-bahak.
“Aku sudah bilang, kau sangat kotor kenapa kau tidak percaya Zeroun.” Daniel meledek keadaan Zeroun saat itu.
“Hei, Daniel. Dokter itu juga bilang kalau kau juga kotor. Kau terlalu bersemangat ingin menemui Erena, hingga lupa dengan tubuhmu yang kotor itu bukan?” Zeroun tersenyum menahan tawa.
“Zeroun ayo kita ke ruangan Adit. Kau harus tahu, kalau Adit jauh lebih menyeramkan kalau lagi marah dibandingkan musuh-musuh kita tadi malam.” Daniel merangkul pundak Zeroun dengan begitu santai.
“Aku masih memegang rahasiamu, kau harus bersikap baik padaku, Daniel.” Zeroun mengikuti langkah Daniel dengan ocehan yang tidak jelas.
Biao dan Lukas juga tersenyum penuh bahagia melihat keakraban Daniel dan Zeroun pagi itu.
“Apa kau mau bergandengan denganku, Lukas?” Biao meledek Lukas dengan senyuman kecil.
Lukas tertawa ramah sebelum mengembalikan ekspresinya yang dingin.
“Jangan samakan aku dengan Tama.” Lukas berjalan lebih dulu mengikuti Daniel dan Zeroun.
“Hei Lukas, kau yang memaksaku berbuat seperti ini tadi malam. Kau harus bertanggung jawab,” protes Biao sebelum pergi mengejar Lukas.
Semua orang yang ada didalam kamar berkedip dengan ekpresi tidak percaya.
“Aku sungguh menyesal sudah mengkahwatirkannya begitu dalam. Dengan mudahnya mereka tertawa.” Kenzo melipat kedua tangannya memandang kesal ke arah pintu.
Tuan Edritz mendekati Ny. Edritz, “Ma, apa itu Biao kita? kenapa dia bersikap seperti itu? apa dia mengalami amnesia atau sejenisnya?” Tuan Edritz tidak pernah menyangka, kalau Biao bisa berubah seperti itu.
“Mungkin dia terlalu sering berada di samping Tama, jadi mengikuti sifat melow anak itu.”
Ny. Edritz juga menarik napas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan.
Serena mengukir senyuman yang sangat indah. Hatinya kembali bahagia dan tenang saat melihat keakraban yang terjalin antara Daniel dan Zeroun pagi itu. Pemandangan indah yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi sebelumnya.
“Kak, apa kakak juga tersenyum karena melihat tingkah mereka?” Shabira mengerutkan dahinya.
“Shabira, mereka berdua sangat manis bukan. Aku akan merubah mereka menjadi lebih manis lagi nantinya.” Serena menutup mulutnya dengan tangan.
“Kakak, mereka harus jadi pria yang maco. Jangan merubahnya menjadi pria lemah tak berdaya.” Shabira protes dengan wajah tidak suka.
“Mereka juga harus menyembunyikan sifat maco itu. Agar musuh tidak mengetahui kemampuan mereka yang hebat.” Serena memandang wajah Kenzo yang sejak tadi tersenyum memandang wajahnya.
“Seperti Kenzo. Sejak awal mengenal Kenzo, aku mengira dia pria yang begitu lembut dan lucu. Ternyata dia sama saja dengan yang lain. Memegang senjata dan bisa untuk menembak musuh. Aku sudah tertipu dengan wajah polosnya.” Serena tertawa lagi dengan bahagia.
“Aduh!” Serena memegang luka di perutnya yang tiba-tiba sakit.
“Serena ….” ucap semua orang bersamaan.
“Iya, iya. Maafkan aku. Aku terlalu bahagia, hingga gak bisa mengontrol tawaku saat ini.”
Shabira mengukir senyuman manis, sebelum mencubit perut Kenzo.
“Apa kau begitu manis dengan Kak Erena? kenapa di depanku terlihat sangar dan menyeramkan?” bisik Shabira pelan.
“Aku hanya mengimbangimu, sayang. Kalau sejak awal aku tahu sifat asli Serena, aku tidak perlu menyembunyikan wajah menakutkanku ini.” Kenzo tersenyum memandang Shabira.
“Apa seperti ini wajah pria yang manis,” Shabira mencubit kedua pipi Kenzo dengan begitu kuat.
“Awas saja kalau kau berani dekat dengan wanita lain. Karena Kau dekat dengan Kak Erena masih aku maafkan.” Shabira memasang wajah cemberutnya.
“Apa kau cemburu padaku, Shabira?” tanya Serena pelan.
“Aku gak cemburu sama kakak. Hanya saja, sifatnya ini sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia mendekati wanita lain saat aku jauh. Sangat tidak setia bukan?”
“Sayang, aku mendekati Serena karena setiap kali melihat wajahnya. Aku seperti melepas rindu denganmu. Serena sahabat terbaik yang pernah aku miliki.” Kenzo menarik tubuh Shabira untuk mendekat dengannya.
Tuan dan Ny. Edritz duduk di sofa sambil menikmati teh. Mereka hanya ikut tertawa saat mendengar perdebatan antara Shabira, Serena dan Kenzo.
“Ma, apa setelah ini kita kembali ke Rusia atau menetap di Jepang lagi?” Tuan Edritz menatap wajah Ny. Edritz dengan serius.
“Mama ingin kembali ke rumah utama. Mama ingin selalu berada di samping Daniel dan Serena.” Ny. Edritz memandang wajah Serena dengan senyuman.
“Papa akan mengirim orang untuk mengurus cabang di Rusia.” Tuan Edritz mengambil teh lalu meneguknya secara perlahan.
Menikmati momen indah yang kini ia rasakan. Masalah besar sudah terlewati tanpa harus ada yang hilang.