
Kehamilan Serena sudah berjalan selama dua bulan. Setelah USG, Daniel dan Serena tahu, mereka akan memiliki dua anak kembar. Walaupun jenis kelamin masih mereka rahasiakan. Daniel dan Serena ingin mengetahui jenis kelamin buah hati mereka saat sudah lahir. Setiap kali melakukan pemeriksaan, Dokter itu selalu hati-hati agar jenis kelaminnya tidak terlihat.
Kehamilan Serena kali ini sangat berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Kali ini, Serena merasakan proses yang namanya nyidam. Bahkan sifatnya yang tangguh itu sudah berubah menjadi wanita manja. Serena menjadi mudah menangis dan marah tanpa alasan. Membuat Daniel harus sabar saat menghadapi perubahan sikap Serena.
Malam itu. Di ruang kerja yang ada di rumah utama. Daniel terlihat sibuk memeriksa laporan bulanan S.G.Group. Wajahnya terlihat sangat serius saat memeriksa lembar demi lembar laporan yang baru saja di serahkan oleh Tama. Di depan Daniel, seperti biasa. Biao dan Tama duduk dengan kesibukan mereka masing-masing.
Suasana ruangan itu terasa sangat tenang. Hanya ada suara jarum jam yang menunjukan waktu setiap detiknya. Ketiga pria itu dikagetkan dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka.
Daniel memukul wajahnya dengan tumpukan kertas yang ia genggam. Baru saja 15 menit ia lolos dari Serena. Kini wanita hamil itu sudah muncul di ruang kerja miliknya.
Tama dan Biao hanya bisa menunduk sambil menahan tawa. Sikap Daniel malam itu adalah sikap yang selalu mereka tunggu-tunggu. Sifat angkuh, dingin dan arogan itu sudah terganti dengan sifat sabar dan ramah.
“Daniel ….” rengek Serena sambil terus berjalan mendekati kursi Daniel. Mantan Bos Mafia itu tidak peduli dengan kesibukan suaminya saat ini. Dengan tenang, ia duduk di atas pangkuan Daniel. Menatap wajah Biao da Tama secara bergantian.
“Sayang, apa yang kau inginkan? apa pisang bakar itu sudah habis?” tanya Daniel dengan penuh kesabaran.
“Tidak enak, Biao membawanya terlalu lama. Pisang itu sudah dingin.” Serena memasang wajah cemberut dengan tangan terlipat di depan dada.
Daniel melirik ke arah Biao dengan tatapan penuh arti. Mengukir senyuman agar Serena tidak lagi marah dan cemberut.
“Lalu, sekarang mau apa?”
Setelah mendengar pertanyaan Daniel. Dengan sigap, Tama dan Biao memegang kertas dan pulpen untuk mencatat keinginan Serena. Wanita itu tidak pernah mau mengulang perkataannya. Tama dan Biao bersikap waspada agar tidak salah saat membelikan makanan yang diinginkan oleh Nona Mudanya.
“Aku tidak ingin makanan.” Serena menatap kertas dan pulpen yang digenggam Tama dan Biao dengan senyuman kecil. Ia sangat tahu dengan apa yang ada di dalam pikiran dua pria setia suaminya itu.
“Lalu, apa yang kau inginkan? Ini sudah malam, kenapa tidak beristirahat saja di kamar.”
“Apa kau mengusirku?” Protes Serena dengan hati sensitifnya.
“Bukan, bukan begitu maksudku sayang.” Daniel memejamkan mata sejenak. Mengatur napasnya agar tidak membantah perkataan Serena malam itu. Meletakkan dua tangannya di depan perut Serena.
“Anak kita ingin Mamanya untuk istirahat. Mereka tidak ingin mamanya kelelahan.”
Sepertinya rayuan Daniel berhasil saat itu. Serena mengukir senyuman indah saat mendengat perkataan Daniel. Menatap wajah Daniel dengan kedua tangan di pipi Daniel.
Dengan cepat, Biao dan Tama menunduk dalam. Sudah tahu dengan adegan selanjutnya yang akan terjadi.
Serena mengecup bibir Daniel tanpa peduli dengan keberadaan Tama dan Biao di ruangan itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan manja.
“Aku ingin jalan-jalan naik sepeda motor.”
Ketiga pria itu terbelalak kaget. Menatap wajah Serena dengan seksama. Sepertinya kali ini, permintaan wanita hamil itu sedikit berbeda dari biasanya.
Daniel mengukir senyuman, “Sayang, ini sudah malam. Angin dingin tidak bagus untuk kesehatan.”
“Jika siang terlalu panas, Aku ingin mengelilingi kota pada malam hari dengan sepeda motor.”
“Sendirian?” Daniel mengeryitkan dahinya.
“Tentu saja denganmu,” jawab Serena sambil memicingkan kedua matanya.
Tama dan Biao terlihat menahan tawa. Sejak dulu, mereka tidak pernah melihat Daniel mengendarai sepeda motor. Bagaimana mungkin, malam ini Serena meminta Tuan Mudanya untuk menggonceng dengan sepeda motor.
“Daniel ….” rengek Serena saat Daniel tidak kunjung memberi jawaban.
“Jika kau tidak mau melakukannya, Aku akan menghubungi Kenzo.” Serena mengambil ponsel Daniel yang tergeletak di atas meja.
“Kenzo? apa hubungannya dengan Kenzo?” tanya Daniel dengan wajah bingung.
“Kenzo bisa mengendarai sepeda motor. Tidak seperti dirimu,” jawab Serena dengan wajah kesal.
Daniel menahan ponsel yang ada di genggaman Serena, “Ok, Ok. Jangan hubungi Kenzo.”
“Kita akan jalan-jalan malam ini?” Wajah Serena berseri.
Daniel mengangguk, menatap wajah Tama dan Biao secara bergantian, “Siapkan semuanya. Masalah ini kita bahas besok lagi.”
“Baik, Tuan.” Tama dan Biao beranjak dari duduknya. Mereka ingin menyiapkan semua keperluan Daniel dan Serena untuk berjalan-jalan dengan sepeda motor. Tentu saja, hal yang utama dilakukan adalah membeli sepeda motor untuk kendaraan utamanya.
“Sayang, apa masih mual?” Daniel memeluk Serena. Mengecup tubuh istrinya dengan penuh cinta.
Serena menggeleng pelan, “Untuk malam ini tidak terlalu parah seperti tadi pagi.”
“Benarkah? kemarilah.”
Serena mengganti posisinya dengan duduk mengahadap ke arah Daniel. Tubuhnya bergoyang-goyang saat Daniel menggerakkan kursi kerjanya. Memberi kecupan-kecupan di setiap tubuh Serena. Membuat wanita itu merasa geli dan tertawa bahagia.
“Aku sangat mencintaimu, sayang.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Suamiku.”
Daniel mengecup bibir Serena dengan begitu mesra. Mengunci kedua tangannya dipinggang Serena agar wanita itu tidak terjatuh.
Suara ketukan pintu, memecah suasana romantis itu. Daniel melepas kecupannya di bibir Serena. Memandang ke arah pintu.
“Masuk,” ucap Daniel cepat.
Pak Han muncul dari balik pintu dengan senyum khas favoritnya.
“Selamat malam, Tuan, Nona. Tuan Kenzo dan Nona Shabira ada di bawah.”
“Benarkah?” Serena beranjak dari pangkuan Daniel. Wajahnya terlihat berseri saat mendengar nama Kenzo dan Shabira.
“Katakan untuk menunggu, Aku akan segera menemuinya.” Daniel memberi kode agar Pak Han segera keluar meninggalkan ruangan itu.
“Baik, Tuan.” Pak Han menunduk sebelum berjalan ke arah pintu. Menutup pintu itu dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara sama sekali.
“Daniel, Ayo kita turun.” Serena menarik tangan Daniel dengan penuh semangat.
“Sayang, kau belum menyelesaikannya.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.
“Apa kau ingin menyiksaku seperti ini?” Wajah Daniel berubah sendu.
Serena tahu, keinginan suaminya saat itu. Dengan wajah merona malu, Serena mengecup bibir suaminya. Memberikan sentuhan kepada pria yang sangat ia cintai. Daniel melakukannya dengan penuh kelembutan. Menjaga kedua buah hatinya agar tetap nyaman di dalam perut. Setiap sentuhan Daniel melambangkan rasa cintanya kepada sang istri. Setiap hari, rasa cinta Daniel dan Serena selalu bertambah. Saling menyayangi dan menjaga adalah prinsip mereka berdua saat ini.
Like 500 Aku tambah 1. Like 1000 aku tambah 2.😊