Mafia's In Love

Mafia's In Love
Perhatian Daniel



Di dalam kamar, Daniel masih duduk diam memperhatikan wajah Serena yang masih tertidur karena pengaruh obat. Lagi-lagi hatinya merasa ada yang aneh dengan debaran jantung yang kini ia rasakan tidak normal. Wajah Serena selalu menjadi penyebab utama dari debaran jantung yang tidak beraturan itu.


Perlahan Serena membuka kedua matanya, hatinya sangat bahagia. Saat pertama kali ia membuka mata, wajah Daniel adalah orang pertama yang ia lihat saat ini. Senyum indah terpancar jelas di bibir Serena. Perlahan Serena mengangkat tangannya untuk memegang kepala yang kini masih terasa sakit.


“Serena,” sapa Daniel yang masih dipenuhi rasa khawatir.


“Kau tidak ke kantor, Daniel?” tanya Serena, melirik sebentar ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 1 siang.


“Apa kau baik-baik saja Serena?” tanya Daniel lagi, tanpa menjawab pertanyaan Serena sebelumnya.


“Aku baik-baik saja Daniel,” jawab Serena penuh kebohongan.


“Kau harus makan Serena,” mengambil satu piring nasi yang sudah tersaji di atas meja.


“Apa kau menyiapkannya untukku?” tanya Serena terharu.


“Tidak, pak Sam yang menyiapkannya! aku tidak ingin kau berlama-lama di rumah sakit,” jawab Daniel ketus.


‘Kenapa dia jadi marah seperti itu, menyebalkan!’ batin Serena.


“Cepat makan, dan habiskan semuanya,” menyodorkan satu piring nasi yang sudah dilengkapi lauk-pauk.


Perlahan Serena melirik ke arah tangan kanan yang kini sudah terpasang jarum infus. Matanya kembali ia alihkan ke tangannya yang sebelah kiri.


‘Bagaimana caranya aku makan dengan tangan kiri,’ batin Serena yang masih belum menerima nasi yang diberikan oleh Daniel.


“Serena!” celetuk Daniel.


“Dimana Diva?” tanya Serena sambil mencari keberadaan Diva yang tidak terlihat di dalam kamar.


“Diva pulang, kata Biao putri nya sedang sakit. Jadi Biao memberinya ijin untuk tidak bekerja,” kata Daniel.


“Angel sakit ya,” ucap Serena dengan wajah kecewa.


Perutnya yang lapar sudah menuntut Serena untuk segera memakan makanan yang kini ada di hadapannya.


Namun, rasa kecewa harus ia rasakan karena tidak bisa memakan makanan yang kini sudah tersedia.


‘Kenapa dia tidak juga mengambil makanan ini, bukannya dia wanita yang tidak bisa menahan lapar!’ batin Daniel masih memandang wajah Serena yang terlihat bingung.


“Daniel, letakkan saja makanannya di meja itu,” menunjuk ke arah meja yang ada di sampingnya.


“Kau tidak lapar Serena?” tanya Daniel penasaran.


“Aku sangat lapar, tapi ….” melirik ke arah tangan yang kini sudah terpasang jarum infus.


‘Bagaimana dia akan makan, jika tangannya terpasang jarum seperti itu. Aku memang bodoh!’ batin Daniel yang sudah mengerti kesulitan Serena saat ini.


Daniel tidak meletakkan piring itu di atas meja. Satu sendokan nasi lengkap dengan secuil lauk dan sayur, ia arahkan di hadapan mulut Serena.


“Kenapa?” tanya Daniel yang menatap Serena tidak kunjung membuka mulutnya.


“Tidak ada,” membuka mulut dan mengunyah nasi itu secara perlahan, ada senyum bahagia yang kini melingkar di bibir Serena. Perhatian Daniel sudah berhasil membuat hatinya bahagia.


‘Kenapa dia tidak pernah berubah, selalu saja menyebalkan. Dasar orang kaya!’ gumam Serena dalam hati.


“Kau harus menghabiskan semua makanan ini,” ucap Daniel dengan wajah tidak bersalah.


“Aku sudah kenyang,” ketus Serena yang kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.


‘Kenapa dia marah, apa kata-kataku sudah keterlaluan. Bodoh! dia sedang sakit, tidak seharusnya aku memperlakukan dirinya seperti biasa!’ gumam Daniel dengan kesal di dalam hati.


“Sebaiknya kau pulang ke rumah Daniel, aku tidak keberatan jika aku sendirian di dalam kamar ini,” ucap Serena dengan kesal.


“Serena, maafkan aku,” ungkap Daniel singkat.


Serena kembali menatap wajah Daniel, pendengarannya masih tidak percaya ketika Daniel mengucapkan kata maaf kepada dirinya. Satu kata yang mustahil untuk di ucapkan seorang Daniel Edritz Chen, apa lagi kata itu di tujukan pada Serena. Istri yang sangat ia benci dan menjadi penyebab semua masalah dalam hidupnya.


“Serena!” ucap Daniel yang hampir kesal.


“Iya, aku akan menghabiskannya,” jawab Serena yang kembali membuka mulutnya untuk makan, ‘Kenapa dia bisa memiliki dua sisi yang berubah-ubah,’ batin Serena lagi.


Terdengar satu keributan yang terjadi di depan kamar Serena. Keributan itu terdengar jelas di telinga Daniel dan Serena yang kini ada di dalam. Aktifitas makan Serena yang baru berlangsung setengah jalan, harus terhenti karena keributan itu.


“Kenzo!” celetuk Serena pelan.


Daniel meletakkan piring itu di atas meja dengan kasar. Dengan langkah gusar, Daniel melangkah menuju ke arah pintu yang membatasi kamar Serena dan keributan yang telah terjadi. Mendengar nama Kenzo kembali disebutkan, membuat amarah yang ia miliki kembali membara. Satu kepalan tangan yang sudah tergenggam kuat sudah siap ia layangkan pada orang yang sangat ia benci saat ini.


Serena hanya diam tanpa kata, bibirnya tidak lagi bisa mengeluarkan satu kata pembelaan bagi Kenzo. Suasana akan semangkin memburuk tiap kali ia menyebut nama Kenzo dihadapan Daniel. Rasa khawatir sudah menyelimuti hati Serena saat ini. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, hanya berdoa agar semua baik-baik saja.


“Untuk apa kau ke sini lagi!” bentak Daniel dengan wajah yang sudah merah padam.


Terlihat beberapa luka sudah melekat di beberapa titik sekitar wajah Kenzo. Beberapa pengawal juga sudah tergeletak di lantai. Tangan memerah yang di penuhi dengan darah sangat terlihat jelas di punggung tangan Kenzo. Tatapan mata Kenzo yang tajam ia alihkan pada wajah Daniel yang kini berdiri di hadapannya.


“Kita harus bicara Daniel!” ucap Kenzo cepat.


“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi Kenzo! apa lagi berbicara denganmu!” jawab Daniel yang masih menahan amarah dalam dirinya.


“Kau boleh membenciku Daniel, tapi aku ke sini untuk menolong Serena!” jawab Kenzo yang mencoba untuk menjelaskan tujuan ia datang.


Satu pukulan yang sejak tadi sudah di tahan oleh Daniel, kini mendarat tepat di wajah Kenzo. Kesabaran yang dimiliki Daniel sudah habis tidak tersisa, saat melihat Kenzo yang masih peduli pada Serena.


“Aku akan menjaganya dengan baik! kau tidak perlu mengkhawatirkannya!” ucap Daniel dengan ekspresi yang menakutkan.


“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Maafkan aku Daniel,” ucap Kenzo dan berbalik arah meninggalkan Daniel yang masih berdiri di sana.


Meskipun Kenzo memiliki niat yang baik untuk melindungi Serena. Namun kehadiran dirinya tidak akan pernah di sambut oleh Daniel. Kenzo sangat mengerti kebencian Daniel saat ini karena kesalahannya dulu. Tidak ingin membuat Daniel semangkin membenci dirinya, Kenzo mengalah untuk pergi meninggalkan Daniel.


‘Maafkan aku Daniel, entah sampai kapan kau bersikap seperti ini padaku,’ batin Kenzo yang kini melangkah cepat untuk menjauhi Daniel.


Jangan lupa like, komen dan Vote.


karena cuma itu semangat author nulis...🤗🤗🤗