
Hari yang cerah telah terganti. Setelah selesai bermain-main salju. Biao dan Sharin akhirnya memutuskan untuk pulang. Kini Biao melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah dan hati-hati. Salju di jalanan membuat jalan menjadi licin.
Sharin duduk di samping Biao dengan bibir tersenyum. Wanita itu memandang keluar jendela kaca dengan hati bahagia. Sebentar lagi semua kegiatannya di kota Sapporo hanya akan menjadi kenangan yang sangat indah. Setelah tiba di Amerika, Sharin ingin fokus dengan studinya. Cita-citanya untuk menjadi wanita karir yang sukses harus bisa untuk ia raih.
“Sharin, apa kau tidak lapar?” tanya Biao dengan basa-basi. Pria itu belum mau berpisah dengan Sharin secepat ini.
“Aku nanti akan makan di apartemen, Paman,” jawab Sharin sambil memandang wajah Biao.
Biao mengangguk pelan dengan hati kecewa. Ini pertama kalinya ada wanita yang berani menolak ajakannya. Sharin memang wanita yang cukup menarik dan penuh tantangan bagi Biao.
Beberapa saat kemudian, Biao menghentikan mobilnya di parkiran Apartemen Sharin. Tatapannya terhenti saat melihat Sharin yang sedang tertidur dengan wajah polosnya.
Biao mengukir senyuman saat memperhatikan wajah cantik Sharin saat itu. Tanpa ia sadari, tangannya kini berusaha untuk menyentuh wajah Sharin. Langkahnya terhenti saat Sharin menggerakkan kedua bola matanya secara tiba-tiba. Biao menjauhkan tubuhnya agar tidak menimbulkan rasa curiga Sharin malam itu.
Sharin mengucek-ngucek kedua matanya sambil memperhatikan lokasi yang ada di depannya, “Paman, apa kita sudah sampai?”
Biao menganguk pelan tanpa mengeluarkan kata.
Sharin melepas sabuk pengamannya. Bibirnya mengukir senyuman lagi, sambil memandang wajah Biao, “Terima kasih Paman atas hari bahagianya. Aku janji ini yang terakhir,” ucap Sharin sambil memukul pelan pundak Biao.
“Terakhir?” celetuk Biao dengan dahi mengeryit.
Sharin mengangguk, “Iya, yang terakhir. Aku akan kembali ke amerika besok.”
“Besok?” teriak Biao dengan wajah histeris.
“Iy-Iya. Apa ada yang salah?” tanya Sharin ragu-ragu.
“Bukankah waktu magangmu belum ada tiga bulan?” protes Biao sambil menatap wajah Sharin.
“Iya, tapi aku harus membuat laporan sebelum masuk kuliah. Jadi, satu minggu terakhirku aku gunakan untuk membuat laporan selama magang. Tuan Daniel juga sudah mengetahui hal ini.”
“Tapi aku tidak mengetahuinya,” ucap Biao cepat.
Sharin mematung. Pikirannya di penuhi tanda tanya. Bagaimana mungkin Biao harus tahu semua urusannya. Bahkan Biao bukan siapa-siapanya saat ini.
“Soal itu, aku minta maaf. Karena lupa memberi tahu, Paman.” Sharin memandang ke arah lain. Tiba-tiba saja suasana di dalam mobil itu terasa sangat canggung.
“Kau tidak bisa pergi begitu saja, Sharin,” ucap Biao pelan.
“Kenapa tidak bisa, Paman?” tanya Sharin dengan penuh takut.
“Karena ....” ucapan Biao terhenti saat ponselnya berdering. Nama Daniel terukir di layar ponselnya saat itu. Biao tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat panggilan masuk itu.
“Selamat malam, Tuan,” ucap Biao dengan penuh kesopanan, “Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana.” Biao memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
“Paman, saya mau masuk. Sekali lagi, terima kasih karena sudah mengantar saya selama ini,” ucap Sharin sambil membuka pintu mobil. Dengan cepat Sharin menutup kembali pintu mobil itu dan berlari masuk ke dalam apartemen.
Biao mengangkat satu tangannya sambil berusaha untuk mencegah Sharin pergi. Namun, tiba-tiba saja Biao mengurungkan niatnya. Masih ada banyak hal penting yang ingin ia katakan kepada Sharin saat itu. Biao tidak ingin gagal untuk mendapatkan Sharin. Tapi, perintah Daniel juga tidak bisa ia langgar begitu saja. Saat ini Daniel membutuhkan bantuannya. Biao tidak ingin terlambat.
“Aku akan menemuinya besok pagi,” ucap Biao sambil melajukan mobilnya untuk meninggalkan lokasi apartemen itu.
***
Rumah Utama.
Danie dan Serena kini ada di dalam ruangan kerja. Tama juga ada di dalam ruangan itu. Mereka memasang wajah serius dengan situasi yang cukup menegangkan. Ketiga penghuni ruangan itu saling memandang satu sama lain. Serena menggenggam beberapa lembar foto milik Daniel. Berulang kali Serena menatap wajah yang ada di foto sebelum membalik foto itu. Satu jarinya tampak mengetuk-ngetuk meja dengan durasi yang lama.
Suara pintu terbuka. Biao muncul dengan ekspresi dingin favoritnya. Pria itu berjalan masuk ke dalam dengan langkah cepat dan pasti. Sekilas hatinya juga merasa aneh dengan suasana ruangan itu. Walau kini sedang musim dingin, tapi ruangan itu terasa sangat panas hingga memuat tubuh Biao ingin mengeluarkan keringat.
“Biao, apa kau mengenal orang ini,” ucap Serena dengan wajah tidak suka.
Beberapa lembar foto berserak di atas meja. Biao mengeryitkan dahi sebelum mengambil salah satu lembar foto itu. Daniel menekuk kepalanya dengan wajah pasrah. Sedikit saja Biao salah berbicara, maka habislah dia malam ini.
“Ini ....” ucapan Biao tertahan. Pria itu menatap wajah Daniel dengan tatapan penuh tanya.
“Jangan menatap wajahnya,” teriak Serena sambil melempar bantal kursi ke wajah Daniel agar kedua pria itu tidak bisa saling bekerja sama.
Tama hanya bisa menekuk kepalanya. Bahkan Tama yang mendapat jadwal wawancara dadakan Serena lebih dulu sebelum Biao. Untung saja, Tama pria yang cukup cerdas untuk membela dirinya. Hingga Serena percaya dengan kata-katanya dan tidak menuduhnya lagi.
“Katakan, Biao,” ucap Serena sambil memicingkan kedua bola matanya, “Kata Mama, sejak kecil kalian selalu bersama. Bahkan hingga hari ini. Tama bisa mengelak hari ini karena dia bertemu Daniel saat Daniel telah memegang S.G. Group. Tapi, kau! Tidak ada alasan bagimu untuk mencari alasan. Katakan dengan jujur kepadaku. Siapa wanita ini!” Serena melipat kedua kakinya layaknya bos yang sedang menghukum bawahannya yang bersalah. Tidak sulit bagi Serena untuk memasang wajah seperti itu.
“Foto ini di ambil saat kami berkunjung ke Amsterdam, Nona.” Biao mengeluarkan keringat dingin yang diiringi debaran jantung yang tidak karuan.
“Aku tidak menanyakan dimana foto ini di ambil. Yang aku tanyakan, siapa dua wanita yang ada di dalam foto itu? Kenapa hari ini ada seseorang yang mengirim paketan ini ke rumah dan menulis kata-kata rindu. Bahkan dia ingin kalian mengunjunginya lagi hari ini.”
“Apa itu benar, Nona?” tanya Biao spontan.
Daniel menepuk dahinya sambil menahan napas. Tidak pernah terpikirkan kalau Biao kini bisa terjebak dengan kata-kata Serena.
“Ya,” jawab Serena sambil melirik ke arah Daniel. Padahal foto itu secara tidak sengaja ia temukan di gudang. Dengan suasana hati yang buruk, Serena membesar-besarkan masalah foto itu.
Ada dua wanita berambut cokelat muda dengan bola mata berwarna abu-abu. Daniel dan Biao juga ada di dalam foto itu sambil memegang bahu kedua wanita itu. Bisa di bilang gayanya tidak terlalu mesra. Tetapi, entah kenapa membuat hati Serena tiba-tiba merasa cemburu. Di tambah lagi, kedua wanita itu cukup cantik.
“Sayang, aku suda-” Daniel mengunci mulutnya saat Serena belum memberinya ijin untuk berbicara.
“Maafkan saya, Tuan. Tapi saya harus berkata jujur pada Nona Serena malam ini,” ucap Biao dengan wajah yang cukup menyakinkan.
Daniel dan Tama kini menatap tajam wajah Biao. Kapan saja pria itu mengatakan kebohongan, mungkin Serena akan segera menerkamnya dan memberinya hukuman.
“Nona, dua wanita ini adalah pendiri panti asuhan di Amsterdam. Saya dan Tuan Daniel waktu itu mengadakan acara amal untuk mengenalkan S.G. Group di kota itu. Kami bertemu dengan seorang anak kecil yang cukup menarik. Setelah mengikuti anak itu, kami menemukan panti asuhan itu.” Biao menghela napas sebelum melanjutkan cerita masa lalu itu.
“Kami tertarik untuk berinvestasi. Dua wanita itu meminta kami untuk berfoto sebagai kenang-kenangan. Mereka meminta kami untuk datang kembali ke tempat itu. Saat itu, fotonya hanya berjumlah beberapa lembar. Sebagian diberikan kepada kami, sebagian lagi mereka yang simpan. Kemungkinan saat ini, mereka lagi membutuhkan bantuan kami hingga mengirim foto-foto ini, Nona.”
Daniel mengukir senyuman manis. Semua cerita milik Biao sama persis dengan cerita yang ia katakan sebelumnya dengan Serena. Pria itu kini merasa berada di posisi yang cukup aman.
Serena menganguk pelan. Sepertinya wanita tangguh itu tidak lagi curiga dengan suaminya. Serena justru semakin kagum dengan sifat dermawan yang dimiliki oleh suaminya itu.
“Kau sangat menggemaskan, Daniel,” ucap Serena sambil mencubit pipi Daniel. Wanita itu kembali mengukir senyuman indah miliknya.
Biao dan Tama menghela napas lega. Di lihat dari ekspresi wajah Serena, sudah bisa dipastikan kalau masalah malam ini telah selesai dengan solusi yang pas.
“Aku tidak mungkin membohongimu, Sayang. Wanita pertama yang aku cintai hanya dirimu.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya, “Bahkan yang pertama kali aku sentuh.”
Ucapan Daniel membuat aliran aneh di dalam tubuh Serena. tiba-tiba saja wajah cantik Serena berubah warna seperti sebuah tomat.
Biao dan Tama saling menatap satu sama lain. Dua pria itu sudah tidak lagi merasa nyaman berada di ruangan yang sama dengan sepasang suami istri itu.
“Tuan, kami permisi dulu,” ucap Biao dan Tama secara serempak. Dua pria itu memutar tubuhnya dengan cepat untuk menghindari pemandangan yang tidak layak untuk di pandang.
Daniel dan Serean tertawa dengan bahagia saat melihat dua orang kepercayaannya itu.
“Lihatlah. Wajah mereka, Daniel. Apa mereka memikirkan yang aneh-aneh karena kalimat terakhirmu?” ucap Serena dengan tawa kecilnya.
Daniel mengecup bibir Serena saat wanita itu belum siap. Satu tangannya mengusap lembut rambut Serena. Hatinya cukup bahagia karena bisa melihat istrinya tertawa ceria seperti itu lagi. Bagi Daniel, wajah cemberut Serena seperti tadi sama seperti gemuruh petir yang muncul saat hujan badai. Sungguh mengerikan.
Serena mengalungkan kedua tangannya di leher Daniel. Kini hatinya yang sempat curiga dan cemburu telah terobati. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mengikuti kemauan Daniel. Hal itu sebagai bentuk kata maafnya karena telah menuduh Daniel tadi.