Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 74



Semua orang tertegun saat mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Serena. Ny. Edritz melepas tangannya dari Serena, beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sofa.


“Sebaiknya, Papa saja yang menjawab semua pertanyaan Serena. Mama kurang paham dengan pertanyaanmu sayang.” Ny. Edritz tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


“Sayang, kenapa kau menanyakan hal itu?” Daniel menatap wajah Serena dengan seksama.


“Maafkan aku Daniel, aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu saat ini. Hanya saja, aku sedikit iri saat melihat kesetiaan Biao dan Tama terhadap dirimu. Bahkan aku tidak bisa setia kepadamu, seperti mereka.” Serena menunduk dengan wajah sedih.


Daniel terpaku pada posisinya, ia tidak bisa lagi mengeluarkan kata saat itu.


“Serena, kau salah. Papa mengirim Biao dan Tama, bukan karena tidak percaya dengan kemampuan Daniel. Tapi, kami sudah menganggap Biao dan Tama seperti anak sendiri. Jadi kami ingin, ketiga anak kami ini saling membantu satu sama lain layaknya saudara.” Tuan Edritz memandang wajah Biao dengan senyuman.


Serena mengukir senyuman penuh arti, “Saudara ….” Serena kembali mengingat hubungannya dengan Shabira.


“Sayang, sudah larut malam. Istirahatlah, kata Dokter jangan terlalu banyak pikiran. Jika besok pagi kau sudah jauh lebih baik, kita akan kembali ke Jepang secepatnya. Rumah sakit Adit jauh lebih canggih jika dibandingkan rumah sakit ini.” Daniel membantu Serena untuk berbaring di atas tempat tidur. Menarik selimut, untuk melindungi tubuh Serena dari rasa dingin.


“Tidur ya, mimpi yang indah. Aku akan selalu ada, untuk menemanimu.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena.


Serena mengukir senyuman indah, sebelum memejamkan mata.


Daniel berjalan ke arah sofa untuk berbicara dengan Tuan dan Ny. Edritz di sofa. Daniel menceritakan semua yang terjadi di rumah Laura. Ia juga melarang Ny. Edritz untuk membahas soal keguguran yang baru saja di alami oleh Serena.


Suasana kamar itu kembali hening. Mereka lebih memilih tidak mengeluarkan suara, agar Serena bisa istirahat dengan tenang. Serena terlihat memejamkan mata dengan napas yang teratur. Wajahnya terlihat sangat cantik, walaupun kulitnya masih terlihat pucat.


Tetapi Serena masih bisa mendengar jelas pembicaraan mereka semua walaupun kedua matanya terpejam. Buliran air mata kembali menetes di ujung matanya, saat ia mengingat kandungannya yang baru saja hilang.


Maafkan Mama, Nak. Mama gak bisa menjagamu dengan baik. Mama sangat menyayangimu.


***


Shabira dan Kenzo berada di kamar Zeroun. Suasana kamar itu juga terlihat tenang sama seperti suasana kamar Serena saat ini. Shabira dan Kenzo duduk di sofa yang menghadap Zeroun. Sejak kembali dari kamar Serena, Zeroun belum ingin berbaring di atas tempat tidur.


“Kak, Kakak harus segera istirahat. Kakak masih berstatus sebagai pasien. Luka Kakak juga masih basah.” Sudah berulang kali Shabira merayu Zeroun agar mau beranjak dari duduknya. Tapi, semua rayuannya saat itu belum berhasil untuk membujuk Zeroun.


“Kakak belum ngantuk, Shabira.” Sebisa mungkin, pria yang memiliki sifat dingin itu menolak dengan lembut. Zeroun tidak ingin melukai hati adiknya yang baru beberapa jam ditemukan.


“Sayang, kita akan selalu menemani Kakak kesayangan kita ini. Jangan khawatir seperti itu. Lagian, Kakak iparku ini, pria yang kebal dengan luka apapun.” Kenzo memandang wajah Zeroun dengan senyuman tipis di bibirnya.


“Aku hanya belum ngantuk, Kenzo.” Zeroun bersandar dengan posisi santai.


“Shabira, siapa pria yang dimaksud oleh Serena tadi?” Kenzo menatap wajah Shabira dengan penuh tanya.


“Pria?” tanya Zeroun cepat.


Shabira mengangguk cepat, “Pria itu tangan kanan Big Bos Queen Star, Kenzo. Aku juga gak tahu, kenapa Kak Erena tiba-tiba ingin bertemu dengannya. Aku belum berhasil menghubungi pria itu.” Wajah Shabira berubah sedih.


“Siapa nama pria itu, Shabira? biar aku bantu untuk menemukannya.” Zeroun tahu, saat ini Serena juga masih dalam penyelidikan untuk memperjelas semua peristiwa yang terjadi.


“Gak mudah menemukan pria itu Kak. Dalam Queen Star semua orang tidak memiliki nama. Sehingga identitas semua anggota sangat sulit untuk di lacak.” Shabira menunduk sedih.


“Sayang, kenapa wajahmu berubah seperti itu?” Kenzo menggenggam tangan Shabira.


“Entah kenapa, tiba-tiba aku berpikir. Kalau Queen Star juga terkait dalam pembunuhan kedua orang tuaku dulu, Kenzo.” Sejak Serena meminta menghubungi pria itu, Shabira sudah menyimpan rasa curiga. Hanya saja, ia masih berhasil menyimpan rasa curiga itu di depan Serena.


Zeroun menatap wajah Shabira dengan seksama. Hatinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Shabira saat ini.


“Pertemuan Kakak dengan Kak Erena, seperti sudah direncakan waktu itu. Aku tidak tahu, siapa yang merencakan hal itu. Sebelum pergi ke kasino James, Aku mendengar perdebatan antara pria itu dengan Kak Erena. Pria itu memaksa Kak Erena untuk membunuh seseorang.” Shabira menarik napas dalam sebelum membuangnya secara perlahan.


“Apa pria yang diminta pria tua itu adalah Kak Zeroun?” Shabira menatap wajah Zeroun dengan seksama.


“Kalau memang Kakak yang ingin dibunuh pada malam itu, itu berarti … sejak awal Kak Erena sudah mengetahui kalau kita Kakak Adik.” Shabira memejamkan matanya, menahan rasa perih dan takut membayangkan jika yang kini ada di pikirannya menjadi nyata.


“Jangan berpikir terlalu jauh, Shabira. Kita harus menyelidiki kebenarannya dulu. Aku tahu, bagaimana sifat membunuh Serena sejak dulu. Tapi, jika ia tahu sejak awal kalau kalian Kakak beradik, Serena pasti sudah menceritakan semuanya sejak kemarin.” Kenzo berusaha membela Serena saat itu.


“Apa yang dikatakan Kenzo, benar Shabira. Jangan berpikiran jelek dengan Erena seperti itu.” Zeroun memandang wajah Shabira dengan hati yang sudah dipenuhi keraguan.


“Kak Erena gak mungkin mau memberi tahu semua ini sejak awal. Karena, jika ia memberi tahu semua ini. Itu sama saja membongkar semua rencana yang sudah ia susun sendiri untuk membunuh Kakak.” Shabira mulai di sulut emosi.


“Shabira!” teriak Zeroun tidak terima.


“Sejak awal aku sudah bilang, jangan menuduh Erena seperti itu.”


Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya, “Sayang, hari ini kau sangat lelah. Kendalikan dirimu, jangan sampai emosi dan amarah itu memenuhi isi hatimu saat ini.”


“Kak Erena sudah jatuh cinta sama Kak Zeroun. Pasti karena hal itu, kenapa Kak Erena tidak berhasil untuk membunuh Kak Zeroun.” Shabira memejamkan mata. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Rasa sayangnya kepada Erena bahkan jauh lebih besar daripada kepada Zeroun. Hatinya masih dipenuhi harapan, kalau semua yang ia katakan bukan satu kenyataan yang sebenarnya. Tapi, bibirnya tidak bisa berhenti untuk mengeluarkan semua tuduhan itu.


“Aku akan membawa Shabira ke hotel. Zeroun, istirahatlah. Hari ini semua orang dipenuhi dengan pikiran yang berat. Kalian semua orang yang aku sayangi. Hari ini Serena juga baru saja kehilangan anak pertamanya, sebaiknya kita jangan menambah beban pikirannya. Setelah kembali ke Jepang, kita lanjutkan penyelidikan ini.” Kenzo beranjak dari duduknya. Masih merangkul tubuh Shabira yang terlihat lemah dan tak berdaya.


Zeroun mengangguk cepat, “Jaga Shabira untukku.”


Kenzo menganggukan kepalanya sebelum membawa tubuh Shabira pergi meninggalkan kamar itu. Sementara Zeroun beranjak dari sofa menuju ke tempat tidur. Tubuh dan pikirannya sama-sama terasa lelah saat ini.


Di dalam hatinya yang paling dalam, ia juga menyimpan harapan yang sama dengan Shabira. Kalau Serena tidak pernah terlibat dengan tragedi pembunuhan keluarganya di masa lalu.