
Tadinya aku gak mau up karena like gak smpek 500. Tapi, saat melihat banyak reader setia yang menunggu aku jadi GK tega...🥺.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
“Paman Tama. Gedung ini cukup tinggi. Apa Kau benar-benar bekerja di tempat ini?” Wanita cantik berambut pendek itu tidak lagi berkedip menatap megahnya gedung S.G.Group.
“Sharin, apa Kau bisa menutup mulutmu. Kepalaku sedikit pusing mendengar ocehanmu sejak tadi.” Tama berjalan ke arah lift diikuti wanita cantik berusia 20 tahun di sampingnya.
Sharin adalah gadis berusia 20 tahun yang memiliki rambut pendek berwarna cokelat. Alis matanya yang terlukis indah berpadu sempurna dengan bola matanya yang berwarna cokelat. Bibirnya mungil dan merah itu selalu saja tidak bisa untuk diam. Sharin gadis yang cerewet dengan segudang pertanyaan di dalam pikirannya. Wanita tidak mau kalah, cerdas namun selalu saja ceroboh saat melakukan segala hal.
Di usianya yang 20 tahun ini, Sharin sudah hampir selesai dengan studinya. Wanita muda itu kuliah di salah satu universitas ternama yang ada di Amerika.
“Paman, Aku hanya merepotkanmu selama 3 bulan. Sejak itu, Aku akan kembali kuliah dan menyelesaikan pendidikanku di Amerika. Kenapa Kau terlihat tidak suka seperti itu.” Wanita itu memajukan bibir merahnya dengan dua tangan menggenggam dokumen perantara dari kampus. Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam lift bersama dengan Tama. Wajahnya trlihat kesal saat mendengar teguran Tama pagi itu. Tama menatap wajah keponakannya melalui kaca yang mengelilingi lift.
“Kau mahasiswi terpintar dan termuda di kelasmu. Kenapa melihat gedung tinggi seperti ini, jadi berubah menjadi wanita kampungan seperti itu.” Tama berjalan keluar dari dalam lift saat pintu telah terbuka. Langkahnya sungguh cepat hungga wanita yang ada di belakangnya hampir tertinggal.
“Paman, kita memang orang yang tidak terlalu kaya. Aku juga kuliah karena beasiswa.” Sharin tidak mau kalah dengan Tama. Wanita itu kini menyadarkan Tama dengan status social yang mereka miliki selama ini. Kalau bukan uluran tangan Tuan Edritz, Tama memang tidak akan pernah bisa menjadi pria hebat hingga seperti sekarang.
Tama menggeleng kepalanya mendengar jawaban-jawaban yang keluar dari bibir gadis cantik itu. Tidak pernah terpikirkan sejak dulu, kalau keponakan cantiknya itu meminta bantuannya saat mencari tempat magang. Begitu banyak perusahaan di Amerika tempatnya kuliah, tetapi wanita itu justru memilih S.G.Group sebagai tempat magangnya selama 3 bulan.
“Kita akan bertemu dengan Tuan Daniel. Selama ini beliau tidak pernah menerima mahasiswi magang dengan alasan apapun. Mungkin karena Kau keponakanku, kini dia memberi ijin. Jangan terlalu berbuat ulah, karena itu bisa mencoreng nama baikku.” Tama berjalan pelan menuju ke arah ruangan kerja milik Daniel. Mengetuk pintu itu dengan durasi cepat dan pasti. Ada rasa khawatir di dalam hatinya sebelum kedua kakinya mealangkah masuk ke dalam. Mengingat tingkah laku keponakannya itu yang terlihat ceroboh selama ini. Di tambah lagi, sifat genit keponakannya itu sangat sulit untuk dikendalikan.
Tama masuk ke dalam ruangan Daniel setelah mendapat jawaban dari pemilik ruangan. Di dalam ruangan itu, ada Daniel dan Biao yang sibuk memeriksa beberapa berkas. Suara high Heels Sharin berhasil mencuri perhatian Biao pagi itu.
Sedangkan Daniel, masih fokus dengan pekerjaannya tanpa mau memandang tamu yang di bawa oleh Tama.
“Selamat pagi, Tuan. Ini Sharin, keponakan saya yang akan magang di S.G.Group selama 3 bulan.” Tama menarik tangan Sharin agar wanita itu tidak bersembunyi di belakangnya.
Daniel menatap wajah Sharin dengan senyuman, “Selamat datang Sharin. Tama sudah menjelaskan prestasi yang kau miliki selama ini. Jika selama tiga bulan ini kau bisa menguasai pekerjaanmu dengan baik, Aku berjanji untuk mempekerjakanmu di S.G.Group saat kau telah wisuda nantinya.”
“Terima kasih, Tuan Daniel.” Sharin menatap ke arah Biao. Satu kata yang langsung muncul saat Sharin menatap wajah Biao pertama kali. Pria tampan yang sangat mempesona. Bahkan Sharin tidak berkedip menatap dua bola mata tajam milik Biao. Bibirnya tersenyum indah sambil menggenggam kuat dokumen yang ada di depan dadanya. Mengigit bibir bawahnya sambil tersenyum malu. Tubuhnya bergoyang-goyang pelan.
“Sharin, berikan dokumen itu pada Tuan Daniel,” bisik Tama saat melihat keponakannya hanya tersenyum tanpa melakukan apa-apa.
“Paman Tama, paman ini sungguh tampan,” celetuk Sharin tanpa tahu keadaan. Tama memukul dahinya saat mendengar ocehan kecil keponakannya itu.
“Tuan, Maafkan saya Tuan.” Tama membungkuk berulang kali sebagai bentuk permohonan maafnya.
Biao yang sejak tadi menatap wajah Sharin juga tersenyum kecil. Sambil menggelengkan kepalanya, Biao melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“Sharin,” bisik Tama sambil terus mengoyang-goyang tubuh gadis itu.
“Iya paman, ada apa?” Sharin tersadar dari lamunannya dengan wajah bingung.
Sharin menatap dokumen yang ia genggam, “Oh, iya.” Dengan langkah hati-hati, Sharin berjalan ke arah meja kerja Daniel. Meletakkan dokumen itu di depan Daniel sambil tersenyum manis. Menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin selama berada di perusahaan ini, Tuan.” Sharin mencuri pandang ke arah Biao lagi. Saat melihat wajah serius Biao saat bekerja, membuat Sharin lagi-lagi memperhatikannya tanpa berkedip.
“Baiklah, mulai hari ini kau sudah bisa mulai bekerja. Tama yang akan membantu segala keperluanmu, Sharin.” Daniel meletakkan dokumen itu kembali ke atas meja.
“Terima kasih, Tuan.” Sharin mengukir senyuman indah sambil melirik ke arah Biao lagi.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Tama dengan senyuman.
Daniel mengangguk sebelum melanjutkan pekerjaannya. Dengan cepat, Tama menyeret gadis kecil berstatus keponakannya itu. Sungguh benar-benar merepotkan bagi Tama untuk menjaga wanita centil seperti Sharin saat ini.
“Paman Tama, siapa pria itu?” Sharin berdiri di depan Tama dengan wajah penuh tanya.
“Biao. Dia temanku selama bekerja di perusahaan ini,” jawab Tama sambil berlalu pergi menuju ke arah ruangan miliknya.
“Paman … Aku ingin berkenalan dengan Paman itu. Dia pria yang sangat tampan. Teman kuliahku akan iri jika aku bisa berpacaran dengannya.” Sharin terus saja mengoceh hal-hal yang tidak cukup masuk akal itu. Membuat Tama pusing tujuh keliling di buatnya. Tama menghentikan langkah kakinya saat Ia sudah tiba di ruang kerja miliknya.
“Mulai sekarang, ruangan ini juga akan menjadi milikmu. Kita akan berada di ruangan yang sama. Kau bertugas untuk membantu pekerjaanku dan Biao.” Tama menatap wajah Sharin dengan begitu serius.
“Satu lagi, jangan terlalu centil dengan Biao. Dia bukan pria normal seperti biasa.” Tama membuang tatapannya ke arah lain.
Sharin menutup mulutnya dengan dokumen,” Apa paman Biao menyukai pria seperti beberapa pria yang pernah Aku lihat di sosial media, Paman?”
Tama menggeleng, “Tidak seperti itu. Hanya saja ….” Tama menahan kalimatnya saat sadar dengan apa yang baru saja ia obrolkan dengan keponakannya itu.
“Sudahlah, untuk apa kau begitu ingin tahu tentang Biao. Ingat, kau di sini untuk belajar dan bekerja, bukan mencari jodoh. Sekarang, cepat masuk ke dalam.” Tama mendorong tubuh mungil Sharin dengan wajah kesal.
“Paman, apa benar yang Aku katakan kalau Paman Biao itu suka dengan sesama jenis.” Sharin masih menahan tubuhnya sambil menagih jawaban dari Tama.
“Masuk!” teriak Tama semakin kesal. Tidak pernah pria murah senyum itu berwajah kesal seperti ini. Hanya ada senyuman indah di bibirnya selama ini. Tapi, sejak Sharin muncul di hadapannya. Membuat Tama tidak punya pilihan lain, selain memasang wajah menyeramkan agar keponakan nakalnya itu menuruti perkataannya.
Sharin masuk ke dalam ruangan kerja milik Tama dengan wajah cemberut. Wanita itu berjalan mendekati meja besar yang ada di tengah-tengah ruangan. Wajahnya lagi-lagi kagum saat melihat ruangan besar dan mewah yang ada di hadapannya.
“Seluruh isi gedung ini sungguh sangat indah. Apa lagi ruangan milik Tuan Daniel tadi. Ukurannya bahkan lebih luas daripada rumah kami selama ini.” Sharin duduk di kursi hitam besar milik Tama.
“Aku seperti bos besar jika duduk di kursi ini,” ucap Sharin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Menyenagkan. Ternyata Aku tidak sia-sia masih memiliki paman Tama. Paman Tama memang selalu bisa di andalkan,” sambung Sharin sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan pagi itu. Wanita berusia 20 tahun itu lebih memilih tidur walau dengan posisi duduk.
.
.
dibawah ini foto Anna ya.😊