
Pagi yang cerah. Secerah wajah merona Serena pagi ini. Setelah mendapat puluhan ciuman dari Daniel, keduanya berjalan beriringan ke lantai bawah. Daniel merangkul pinggang ramping Serena, sambil mengukir senyum manisnya.
“Sayang, nanti siang Aku dan Diva ingin jalan-jalan.” Serena menghentikan langkahnya, memandang wajah Daniel.
“Jalan-jalan kemana?” Daniel mengerutkan dahinya.
“Ke mall. Aku sudah lama tidak jalan-jalan ke mall itu. Di sana ada banyak makanan yang aku suka.” Serena sudah membayangkan beberapa makanan yang ingin ia beli nanti.
“Boleh. Tapi ….” ucapan Daniel terhenti, ia memandang wajah Serena dengan serius.
“Jangan kirim pengawal untuk mengintaiku lagi.” Serena menatap tajam wajah Daniel.
“Tidak sayang … aku hanya ingin bilang untuk hati-hati.” Daniel tersenyum lagi.
Daniel dan Serena melangkahkan kaki di anak tangga terakhir. Daniel melepas rangkulan pingganganya saat suara handphone berdering dari saku.
“Kenzo, ada apa?” Daniel memandang wajah Serena sambil tersenyum.
“Baiklah.” Daniel memutuskan panggilan masuk Kenzo.
“Sayang. Kenzo akan mengantar Shabira pulang nanti malam.” Daniel memandang wajah Serena.
“Shabira masih di rumah Kenzo?” tanya Serena dengan wajah bahagia.
“Ya. Ada urusan penting yang ingin mereka selesaikan.”
Serena diam sejenak. Hatinya kembali dipenuhi kebahagiaan yang tiada tara hari ini. Shabira dan Kenzo bisa bersatu lagi. Daniel dan Serena berjalan ke arah meja makan untuk sarapan.
Di ruang makan, Pak Han tidak ada di ruang makan. Hanya ada Tama dan Biao, serta dua pelayan yang menata makanan. Tama dan Biao menunduk hormat untuk menyambut kedatangan Daniel dan Serena di sana.
“Selamat pagi, Tuan … Nona,” ucap Tama dan Biao bersamaan.
“Selamat pagi Tama, Biao.” Serena tersenyum manis.
Dua pelayan membukakan kursi untuk Daniel dan Serena. Kedua pelayan itu menunduk hormat sebelum pergi ke arah dapur.
“Tuan. Pagi ini kita kedatangan tamu di S.G.Group.” Tama angkat bicara. Ia kembali mengingatkan Daniel untuk pergi lebih cepat ke S.G.Group.
“Apa itu perusahaan dari Rusia?” Daniel kembali mengingat, agenda kerjanya yang belum selesai.
“Benar, Tuan.” Tama menundukkan kepala sesaat.
“Rusia? apa ada perusahaan asing lagi yang bergabung dengan S.G. Group?” tanya Serena penasaran.
“Papa membuka cabang S.G.Group di Rusia, sayang. Mereka datang ke sini, hanya untuk bertamu saja.”
Serena terdiam untuk sesaat. Ia melanjutkan sarapan paginya. Isi kepalanya kembali mengingat Ny. Edritz yang tidak kunjung pulang ke rumah utama.
Daniel merasakan perbedaan sikap Serena pagi ini. Ia memegang tangan Serena, mengusapnya dengan lembut, “Ada apa, sayang ….”
“Aku rindu sama Mama.” Wajah Serena berubah sedih.
“Nanti, setelah pulang dari pulau. Kita akan pergi untuk menemui Mama.”
Wajah Serena kembali berseri, “Benarkah? terima kasih, sayang.” Serena mengecup pipi Daniel dengan penuh cinta.
Daniel tersenyum bahagia, “Apa hanya segitu hadiahnya?”
Tama dan Biao menunduk malu. Meskipun hal itu sering terjadi di depan mata mereka.
“Apa kau tidak ingin seperti itu, Biao?” bisik Tama di telinga Biao.
“Aku tidak akan menikah.” Biao merapikan jas yang kini ia kenakan. Memasang wajah angkuh di depan Tama.
“Tuan Daniel juga tidak mencintai Nona Serena dulunya. Tapi lihatlah sekarang.” Tama tidak pantang menyerah, ia terus membujuk Biao agar ingin membuka hati untuk seorang wanita.
“Tama, pikirkan masa depan S.G.Group. Jangan pikirkan hal lain saat ini. Aku tidak tertarik dengan wanita manapun.” Biao memalingkan wajah dari Tama.
Tama menunduk bingung.
Aku sudah sejauh ini merayunya untuk mencari pacar. Kenapa hatinya tidak tersentuh sama sekali. Aku tidak ingin seperti ini sampai tua.
Tama sudah membayangkan, jika di masa-masa tuanya nanti. Ia berada di samping Biao sebagai jomblo abadi. Tama menggeleng takut.
Semua orang memandang wajah Tama dengan raut wajah bingung.
“Apa yang tidak boleh terjadi, Tama? Kau tidak ingin aku dan Serena pergi bulan madu?” Daniel menatap tajam wajah Tama.
Tama menggeleng penuh rasa bersalah, “Tidak, Tuan. Bukan itu yang saya maksud.” Tama melirik ke arah Biao untuk mencari pembelaan.
Biao menahan tawa, pagi ini ia sudah berhasil membuat Tama ketakutan menjadi jomblo abadi.
Tolong aku, Biao. Kenapa kau tersenyum penuh kemenangan seperti itu.
Tama memandang wajah Biao untuk memberi kode.
Biao mengatur posisinya menjadi formal lagi, “Maksud Tama, ia tidak ingin anda pergi tanpa pengawal, Tuan. Meskipun bulan madu, anda tetap harus membawa banyak pengawal di sana.”
Tama kembali mencerna perkataan Biao.
Bulan madu? apa Tuan Daniel merencanakan bulan madu kedua dengan Nona Serena.
“Apa seperti itu yang kau pikirkan, Tama?” Daniel menunggu jawaban Tama.
“Iya, Tuan. Apa yang dikatakan Biao benar.” Tama menunduk lagi, untuk menutupi kebohongannya.
Daniel tidak lagi membahas masalah Tama. Ia memandang wajah Serena sebelum beranjak dari tempat duduknya. Daniel menarik tangan Serena dan membawanya pergi meninggalkan meja makan. Tama dan Biao mengikuti langkah Daniel dan Serena dari belakang.
Biao masih menahan tawanya. Tama semangkin kesal memandang wajah kemenangan Biao pagi ini.
“Apa kau bahagia? wajahmu tampak berseri, Biao.” Tama berbisik di telinga Biao.
“Tama, aku tidak ingin membahas masalah wanita lagi. hal itu sangat membosankan.” Biao berjalan lebih dulu, membuka pintu mobil untuk Daniel. Tama masuk ke dalam ke dalam mobil untuk mengemudi.
Daniel menghentikan langkahnya di depan pintu utama. Memandang wajah Serena yang sejak tadi terlihat sangat berseri, “Apa kau sangat bahagia, bisa berjalan-jalan di luar rumah tanpa pengawal?”
Serena tersenyum penuh arti, “Sayang, aku harap kau tidak berubah pikiran.”
“Tentu tidak. Ingat janjimu, sayang. Jika hari ini kau dalam bahaya, kau tidak bisa menolak pengawalku lagi.” Daniel mencium pucuk kepala Serena.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan merepotkanmu.” Serena menyipitkan kedua matanya sambil tersenyum.
Biao menundukkan kepala sambil memikirkan sesuatu.
Nona. Hari ini Tuan akan kedatangan tamu penting. Apa kau bisa berdiam diri di rumah untuk tidak membuat masalah.
Daniel berjalan masuk ke dalam mobil. Serena tersenyum manis memandang kepergian mobil Daniel pagi ini. Serena memutar tubuhnya untuk memandang pengawal yang berdiri di depan pintu utama.
“Apa kau melihat Diva? apa Diva sudah datang?”
“Sudah, Nona. Diva ada di belakang. Ia sudah datang sejak satu jam yang lalu.” Pengawal itu menjawab pertanyaan Serena sambil menunduk hormat.
Serena tidak lagi mengeluarkan kata. Ia berjalan ke arah dapur untuk menemui Diva.
“Hari ini akan sangat menyenangkan.”
***
Di dalam mobil, Daniel sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Biao memandang wajah Daniel untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini.
“Tuan. Ada hal penting yang ingin saya katakan.”
Tama dan Daniel memandang wajah Biao.
“Ada apa? katakan,” jawab Daniel singkat.
“Wubin sempat menghilang. Tapi, beberapa hari ini saya mendapat informasi, kalau dia berada di kota ini lagi. Nona Serena akan berada di luar. Apa itu tidak membahayakan keselamatan Nona, Tuan.”
“Aku harus memberinya kepercayaan. Serena selalu tahu, kalau kita mengirim pengawal untuk menjaganya.” Daniel menutup layar laptopnya. Saat ini, hatinya dipenuhi keraguan yang begitu besar atas keselamatan Serena.
Serena. Aku harap kau baik-baik saja.
Tama melirik jam tangan yang melingkar, hari sudah semangkin siang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.