
“Sekarang kita ada dimana Daniel, hari sudah hampir gelap.” Serena mulai menyadari lokasi sekelilingnya.
“Aku tidak tahu Serena, sekarang kita ada dimana. Tapi kegelapan di malam hari, bisa melindungi kita dari para penjahat itu,” jawab Daniel sambil menatap wajah Serena.
“Daniel, kenapa mereka menginginkanku? siapa mereka Daniel?” tanya Serena dengan penuh kesedihan. Pikirannya di penuhi rasa bersalah, karena sudah menjadi penyebab kekacauan yang telah terjadi.
“Jangan pernah berpikir seperti itu Serena. Mereka tidak akan pernah bisa membawamu pergi. Aku akan selalu melindungimu Serena, meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya,” ucap Daniel tulus sambil memegang kedua pipi Serena.
“Kau mau melindungiku Daniel? Apa kau sudah bersedia menjadi temanku?” ucap Serena polos.
“Tidak Serena, tetaplah seperti ini menjadi istriku. Jangan Berubah untuk menjadi temanku” Sambil menarik Serena ke dalam pelukannya.
Perasaan nyaman dan tenang bercampur menjadi satu di dalam hati Serena. Matanya terpejam merasakan kehangatan pelukan yang diberikan oleh Daniel. Ada terukir senyuman di wajah Serena. Hal yang tidak pernah ada dalam impiannya. Sosok pria yang belum lama ia kenal dan sudah berstatus menjadi suaminya kini rela melindunginya dari bahaya manapun bahkan mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang ia miliki.
Aku tidak ingin lepas dari pelukanmu Daniel, posisi ini sangat nyaman.
Serena mempererat pelukannya, seakan tidak ingin jauh dari tubuh dari Daniel. Memejamkan matanya untuk sesaat.
Hanya ada cahaya bulan yang menembus sela-sela pohon. Udara sudah berubah menjadi dingin, tidak ada makanan atahupun minuman di sana. Daniel melepas jas yang ia kenakan untuk melindungi tubuh Serena dari rasa dingin yang menusuk tubuhnya.
“Jangan lakukan itu, kau akan kedinginan Daniel,” tolak Serena saat Daniel hendak menutupi tubuh Serena dengan jas yang ia miliki.
“Aku tidak lagi memperdulikan hal itu, kesehatanmu adalah hal utama saat ini Serena.”
“Bagaimana dengan Biao dan Tama, apa mereka baik-baik saja Daniel,” ucap Serena sambil melangkah ke sebuah pohon dan bersandar dengan rasa letih dan sepi yang menyelimuti hati.
“Aku harap mereka baik-baik saja Serena, kita harus segera mencari tempat aman untuk beristirahat malam ini.” Daniel memandang sekeliling yang ada dan hanya ada pepohonan besar yang rindang.
Malam yang sunyi, hanya ada Serena dan Daniel di sana. Pikiran keduanya masih hanyut dengan peristiwa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Bulan madu yang di rencanakan oleh Ny. Edritz dengan cukup pertimbangan itu harus berakhir dengan hilang nya Serena dan Daniel yang tersesat di tengah-tengah hutan.
Hanya keheningan yang menemani dan suara kerumunan jangkrik yang menjadi penghuni hutan di malam itu. Wajah pria yang ingin mencelakainya sangat tidak asing bagi hidupnya. Tapi, sekeras apapun ia mencoba untuk mengingatnya tetap tidak akan berhasil.
“Pria itu,” ucap Serena pelan.
“Kau mengenalnya Serena?” tanya Daniel penuh curiga.
Hanya menggelengkan kepala pelan, tangannya kembali meremas dres putih yang kini ia kenakan. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Sekuat mungkin ia kendalikan sakit yang kini menyerangnya. Ia tidak ingin membuat Daniel ada dalam masalah lagi dan repot atas keadaan yang ia ciptakan.
“Kau baik-baik saja Serena? Kau seperti kesakitan.” Daniel sambil memandang khawatir kepada Serena.
“Tidak, aku hanya memikirkan kejadian tadi,” jawab Serena bohong.
“Apa hubungannya dirimu dengan pria itu Serena. Dia terlihat sangat membencimu,” ucap Daniel mulai menyelidiki.
“Aku sudah janji pada mama, untuk selalu menjagamu Serena,” ucap Daniel sambil memandang wajah Serena.
Deg.
Tiba-tiba hati Serena terasa sakit. Seperti ada benda tajam yang baru saja mengiris hatinya. Kalimat yang baru saja di katakan oleh Daniel adalah sebuah penjelasan. Kalau rasa khawatir yang ia perlihatkan hanya untuk memenuhi janjinya kepada Ny. Edritz, bukan karena rasa sayang pada Serena.
“Kenapa aku sangat kecewa mendengarnya, seharusnya aku sadar sejak awal” Serena mendongak menatap cahaya rembulan .
Suasana kembali hening, tidak ada lagi obrolan di sana. Perasaan kecewa yang sudah memenuhi pikirannya kini membuat semua keadaan menjadi tidak berarti lagi. Ingin rasanya ia berteriak di hadapan Daniel, agar Daniel mau memperdulikannya dan selalu ada dirinya dihatinya. Tapi semua ini memang sudah di atur, bahkan perasaan yang dimiliki Daniel juga di atur olehnya agar nama Serena tidak semudah itu masuk ke dalam hatinya.
Dengan posisi saling bersampingan dan sama-sama bersandar pada sebuah pohon besar. Dingin yang semangkin menusuk membuat tubuh Serena menggigil. Terlihat Serena yang sedang mengigau kecil dengan mata terpejam.
“Papa … papa … papa ….”
“Serena, bangun Serena,” sambil menepuk-nepuk pipi Serena.
“Papa .…” Serena mengigau, dengan tetesan air mata yang terus mengalir.
“Apa yang terjadi. Tubuhnya sangat panas.” Daniel memegang kening Serena dan memperhatikan wajahnya yang sudah memerah.
“Kita harus keluar dari hutan ini.” Daniel mengangkat Serena ke dalam gendongannya.
Daniel terus berjalan menelusuri hutan yang tidak kunjung menemukan banTuan. Tubuhnya yang lelah sudah tidak terasa sama sekali, Kekhawatirannya terukir jelas di wajah Daniel.
“Serena, bangun Serena.” Sebuah kata yang berulang-ulang ia sebutkan. Namun tidak ada titik terang sedikitpun.
“Ya tuhan, apa lagi ini.” Mata Daniel melihat seseorang berjalan mendekat kearahnya, sebuah pistol sudah siap siaga untuk melindunginya dari bahaya.
Perlahan bayangan hitam itu semangkin mendekat, sosok bayangan seorang pria yang belum jelas raut wajahnya. Dalam diam dan tetap menggendong Serena, Daniel siap untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi beberapa detik lagi.
Seorang pria yang memang sudah tidak asing lagi dalam hidupnya sudah berdiri tegap di hadapan Daniel. Dengan wajah yang sudah tidak terbaca lagi, pria itu hanya memasang wajah peduli dan siap menolong Daniel dan Serena. Tidak ada terukir kebencian sama sekali di wajahnya.
Kini tubuh Daniel hanya bisa mematung tanpa bisa berkata sepata katapun, sosok yang sangat tidak di harapakan kehadirannya kini sudah ada di depan mata. Sambil menatap wajah Serena yang masih memejamkan mata, Daniel memberanikan untuk mengeluarkan satu kata yang sangat berat ia katakan.
“Daniel, apa yang terjadi pada Serena?” tanyanya sambil melangkah mendekat untuk melihat jelas wajah Serena.
“Dia sakit, demamnya sangat tinggi,” jawabnya singkat sambil membuang pandangannya ke arah bebas.
“Kita harus segera membawanya keluar dari hutan ini, kita harus segera membawanya ke dokter Daniel” Tawarnya dengan wajah penuh khawatir terhadap Serena.
Hanya diam, tidak bisa lagi menolak dan namun sangat berat untuk menerima. Keadaan Serena adalah hal yang utama saat ini. Daniel berusaha menuruti nalurinya dan melupakan ego yang ada di dalam pikirannya. Hanya menganggukkan kepala sebagia tanda setuju, Daniel mengikuti jejak langkah sosok yang ada di hadapannya untuk keluar dengan cepat meninggalkan hutan dan membawa Serena ke Rumah Sakit.