Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 59



Mobil hitam itu melaju dengan kencang menembus terik matahari pagi. Waktunya telah tiba, untuk menyerang dan menyelamatkan nyawa Serena.


Kenzo terus saja memegang tangan Shabira. Ia tidak ingin Shabira berada dalam bahaya lagi. Kejadian kemarin, sudah memberi pelajaran yang tidak pernah ia lupakan seumur hidup.


Mulai detik ini, ia bertekad untuk terus melindungi Shabira dan meletakkan Shabira di sampingnya. Meskipun pertarungan yang akan mereka hadapi sangat berbahaya.


Shabira memandang keluar jendela. Hatinya diselimuti rasa takut saat mengingat aksi yang akan ia lakukan hari ini. Hanya berjumlah empat orang dan tidak terlalu berpengalaman, membuat hati Shabira di selimuti keraguan.


Apa kami akan menang? semua ini terjadi secara bersamaan. Andai saja waktu itu aku tidak gegabah menghidupkan Queen Star, pasti saat ini Queen Star bisa membantuku.


Kenzo memandang wajah Shabira sebelum memandang jalan lurus yang ada di depan. Mencengkram tangan Shabira dengan erat, untuk memecah lamunan Shabira saat ini.


“Sayang. Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu. Setelah semua ini berakhir, kita akan segera menikah dan hidup bahagia.” Kenzo mengecup punggung tangan Shabira dengan lembut.


Shabira tersenyum manis, “Sayang … Aku sangat mencintaimu,” ucap Shabira dengan nada yang sangat manja.


“Aku tahu itu ….” Kenzo menambah laju mobilnya.


Mobil itu melewati jalan yang sangat sunyi. Sepanjang jalan hanya ada padang rumput yang sunyi. Padang rumput itu terletak di belakang gedung-gedung yang memenuhi kota. Shabira memperhatikan lokasi itu dengan seksama. Ini pertama kalinya ia mendatangi tempat tersebut.


“Kenzo. Tempat apa ini?” Shabira menatap wajah Kenzo dengan seksama.


“Ini jalan menuju rumah Laura. Apa kau tidak tahu? bukannya dulu kau menyelidiki James.” Kenzo mengerutkan dahinya.


“Tapi aku tidak pernah tahu tentang Laura. Hanya Kak Erena dan Zeroun yang tahu. Kami juga hanya menyelidiki markas besar James saat itu.” Shabira menarik napas dalam sebelum bersandar dengan tenang.


“Markas James sudah di tutup. Laura membuat markas baru di tempat ini. Sebuah rumah dengan gaya kuno. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke halaman rumah itu. Rumah itu di pagar dengan bom-bom yang tidak terlihat. Jika kau menjejaki kaki di tempat yang salah, maka ….” Kenzo menatap wajah Shabira.


“Tubuhmu akan hancur berkeping-keping dan tidak berbentuk lagi. Bahkan tidak dikenali.” Kenzo menceritakan keamanan rumah Laura dengan begitu detail dan serius.


“Apa kau sedang menakutiku, saat ini? Kenzo, kau lupa kalau aku tidak takut dengan apapun.” Shabira melipat kedua tangannya.


“Termasuk kehilangan diriku,” celetuk Kenzo dengan santai.


“Sayang … itu hal yang beda.” Shabira memeluk sebelah tangan Kenzo.


“Shabira, pegang senjatamu.” Mata Kenzo berubah tajam dan waspada. Beberapa gerombolan orang tampak memenuhi lokasi pertemuan dirinya dan Daniel.



“Siapa mereka?” Shabira mengambil pistol, menggenggam pistol itu dengan erat.


“Tenang sayang ….” Kenzo memberhentikan mobilnya di depan gerombolan orang itu.


Shabira hanya tersenyum tipis, menurunkan senjata yang sempat ia genggam karena waspada, “Bukannya sejak awal aku sudah bilang. Pria itu tidak akan tinggal diam saat Kak Erena dalam bahaya.”


“Daniel tidak setuju untuk menceraikan Serena. Kenapa Zeroun mau membantu kita?” Kenzo menatap wajah Shabira dengan seksama.


“Sayang, itu pasti hanya gertakan Tuan Zeroun aja,” jawab Shabira dengan santai.


“Gertakan?” Kenzo semangkin bingung, ia belum mengerti dengan perkataan Shabira.


Shabira memegang kedua pipi Kenzo dengan lembut, “Zeroun tidak akan melepas Kak Erena kepada pria yang tidak mau berjuang. Zeroun hanya ingin melihat, sebesar apa cinta Tuan Daniel untuk Kak Erena. Dia gak mau melepaskan Kak Erena dengan mudah. Maka dari itu, dia menyampaikan ancaman itu untuk melihat reaksi yang akan diberikan oleh Tuan Daniel.”


“Ya, seharusnya aku tahu hal itu sejak awal. Zeroun sangat mencintai Serena. Bahkan ia rela mengorbankan nyawanya untuk Serena.”


Kenzo menatap wajah Shabira yang kini hanya berjarak beberapa centi dengannya. Menarik dagu Shabira untuk mengecup bibir merah yang basah.


Tapi … belum sempat ia menyentuh bibir Shabira. Ketukan di jendela mobil mengalihkan pandangan keduanya. Shabira tersenyum manis, ia melepas sabuk pengaman yang melindungi. Membuka pintu mobil untuk turun.


“Kenapa pria ini muncul di sini! mengganggu saja!” ucap Kenzo dengan kesal.


Kenzo juga turun dari mobilnya, untuk menemui pria bertubuh tegab yang berdiri di samping mobilnya.


“Selamat pagi, Tuan.” Lukas menunduk hormat di hadapan Kenzo.


“Bos Zeroun tidak akan ikut bertarung. Luka di perutnya masih basah. Dokter memintanya untuk beristirahat total agar luka itu tidak bertambah parah.” Lukas menjelaskan keadaan Zeroun yang sebenarnya. Ia tidak ingin, Kenzo memberi penilaian jelek tehadap Bos yang paling ia hormati itu.


“Sayang, dimana Tuan Daniel? kenapa dia lama sekali?” Shabira berdiri di samping Kenzo. Menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Hei, kita berjumpa lagi.” Shabira tersenyum manis. Ia kembali mengingat kejahilan yang pernah ia berikan kepada pria yang tidak kenal senyum itu.


“Selamat pagi, Nona.” Lukas membungkuk hormat.


“Jangan terlalu formal.” Shabira menutup mulutnya dengan tangan.


Kenzo memandang mobil hitam yang berjalan mendekati posisi dirinya saat ini, “Daniel pasti ada di dalam mobil itu.”


“Tuan. Selama penyerangan anda yang memimpin pasukan Gold Dragon. Saya harus kembali untuk menjaga keselamatan Bos Zeroun.” Lukas menatap wajah Kenzo dengan seksama.


“Sampaikan rasa terima kasihku pada Zeroun.” Kenzo tersenyum manis.


“Baik, Tuan.” Lukas menunduk hormat sebelum berjalan ke arah mobil. Menatap mobil Daniel dengan tatapan tajam, sebelum masuk ke dalam mobil.


“Aku harap, setelah masalah ini selesai. Anda bisa menjaga Nona Erena dengan baik, Tuan Daniel!” Lukas menatap wajah Daniel yang baru turun dari dalam mobil. Menginjak gas mobilnya untuk meninggalkan lokasi tersebut.


.


.


Daniel memandang pasukan Gold Dragon dengan seksama. Sejak awal, ia tidak pernah kenal dengan pasukan yang dimiliki Zeroun Zein. Biao berdiri di belakang Daniel, dengan sikap yang sangat waspada.


“Kenzo, siapa mereka?” Daniel memperhatikan satu persatu wajah sangar dari pria bertubuh tegab itu.


“Mereka semua adalah pasukan Gold Dragon.” Kenzo tersenyum dengan bahagia.


“Gold Dragon? bukankah kau bilang, pria itu tidak ingin membantu kita?” Daniel menatap wajah Kenzo dengan tatapan serius.


“Anggap saja kita mendapat pertolongan dari langit.” Kenzo tidak ingin menceritakan alasan Zeroun sebenarnya.


Shabira mengokang pistol yang ia miliki. Beberapa Gold Dragon juga mengokang senjata yang mereka miliki. Keadaan sangat mencengkam, saat melihat rombongan mobil hitam berjalan mendekat ke posisi mereka saat ini.



“Apa Laura sudah tahu, kalau kita berkumpul di tempat ini?” Daniel juga mengokang senjatanya dan siap menarik pelatuk pistol itu.


“Jangan lakukan apapun, sebelum mereka menyerang!” teriak Kenzo dengan suara yang lantang.


“Baik, Bos!” ucap Gold Dragon bersamaan.


Mobil-mobil hitam itu berhenti dan menyusun barisan yang sangat rapi. Beberapa pria mengenakan jas resmi turun dari mobil secara bersamaan.


Tatapan semua orang terbelalak kaget, saat melihat logo yang melekat pada jas hitam pria-pria misterius itu.


“Tuan, ini ….” ucapan Biao terhenti.


.


.


Bersambung terus Thor...🤭


Crazy up donk...


Apa mau dikata. Jumlah vote 20k kita crazy up, GK smpek 20k GK ada crazy up.


Author sayang Readers ...💞💞💞