
Di dalam kamar, Serena menangis. Daniel memeluk tubuh serena dengan erat. Mengusap lembut pundak Serena, yang kini ada di pelukannya.
“Aku tidak bisa seperti ini terus Daniel, aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Kenzo.” Serena mendongakan wajahnya memandang Daniel.
“Iya … kita akan menceritakan semuanya. Tapi tidak sekarang.” Daniel menghapus buliran air mata yang menetes.
“Apa Kenzo akan memaafkanku?” tanya Serena dengan wajah sedih.
“Dia akan memaafkanmu. Semua akan baik-baik saja. Istirahat dulu di sini. Aku harus menemui Kenzo di bawah. Dia akan semangkin curiga.” Daniel menyentuh pipi Serena dengan lembut.
Serena mengangguk pelan.
Daniel melepas pelukannya, mengecup pucuk kepala Serena, “Jangan menangis lagi, sayang.” Daniel memutar tubuhnya, melangkah ke arah pintu.
Serena hanya diam memandang tubuh Daniel, yang semangkin menjauh dari dirinya. Serena memutar tubuhnya, berjalan cepat ke arah sofa. Ia duduk, mengambil handphone di atas meja.
“Zeroun, aku harus segera menghubunginya.”
Serena memasukkan nomor telepon Zeroun di layar handphonenya. Melekatkan telepon itu di telinga. Ia menarik napas dalam, sebelum mengeluarkan kata.
“Zeroun, ini aku.” ucapnya pelan.
***
Di bawah, Daniel mengajak Kenzo ke ruang utama. Tama dan Biao mengikuti Daniel dan Kenzo. Mereka tersenyum bahagia, dan bernapas lega melihat kekompakan Kenzo dan Daniel pagi ini.
“Kau yang paling ceroboh! kita tidak akan di marah sama pemilik sapi itu, jika kau tidak melempar kertas di dalam kandangnya.” ucap Daniel sambil tertawa lepas. Keduanya baru saja membahas, kenangan-kenangan indah waktu masih kecil.
Kenzo juga tertawa bahagia, “Itu semua idemu, Daniel. Kau selalu bersembunyi di belakangku, meskipun usiaku jauh lebih muda.”
“Sudah lama tidak seperti ini,” ucap Daniel, sambil bersandar dengan nyaman.
“Maafkan aku, Daniel. Cinta butaku padanya ….” Kenzo menghentikan kata-katanya.
“Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku tahu, rasanya mencintai dan sakitnya kehilangan.” Daniel tersenyum bahagia, memandang wajah Kenzo.
Sepertinya kau sudah menyadari perasaanmu kepada Serena, Daniel. Aku bisa melihat dari mata yang di penuhi bunga cinta. Apa kau mau berbaikan denganku, karena Serena. Tapi, kenapa Serena tidak terlihat bahagia pagi ini. Apa dia benar sedang sakit.
Kenzo melamun, sambil memandang wajah Daniel.
“Kenzo.” Daniel memecahkan lamunan Kenzo.
“Ada apa?” tanya Kenzo dengan ekspresi kaget.
“Kau melamun? apa memikirkan sesuatu?” tanya Daniel dengan wajah serius.
“Maafkan aku Daniel, tidak seharusnya aku seperti ini. Tapi … apa Serena benar sakit? atau dia menghindar dariku? Kau selalu memanggil Adit, tiap kali Serena jatuh sakit.” Kenzo berubah serius. Ia merasa kecewa, saat melihat wajah Serena pagi ini.
Daniel terdiam untuk sesaat, ia tidak ingin Kenzo tahu kebohongan yang baru saja ia ucapkan. Daniel mengukir satu senyuman manis, untuk menutupi rasa gugupnya saat ini.
“Serena baik-baik saja. Sejak tadi malam, ia merindukan ayahnya. Jadi kurang tidur.” Daniel kembali merangkai kebohongan.
Tama dan Biao hanya saling memandang. Mereka tahu, kalau Daniel menyembunyikan sesuatu yang penting.
Apa benar Nona Serena menghindari Tuan Kenzo?
Biao bertanya-tanya dalam hati.
Tidak salah lagi, pasti Nona Serena mengenal Tuan Kenzo sebelum ia amnesia.
Ucap Tama dalam hati, dengan penuh keyakinan.
“Baiklah, semoga semua baik-baik saja. Aku harus pergi, aku ingin menemui seseorang. Teman lamaku. Ia ingin membantuku menemukan Shabira.” Kenzo beranjak dari duduknya.
“Siapa?” tanya Daniel dengan penuh rasa curiga. Daniel juga berdiri dari duduknya.
“Zeroun Zein,” jawab Kenzo dengan senyuman manis.
Daniel hanya diam, ia tidak banyak bicara menyangkut nama Zeroun. Ia mengikuti langkah Kenzo ke pintu utama. Tama dan Biao juga mengikuti Daniel dari belakang.
“Aku pergi dulu. Aku akan sering-sering datang kemari. Jika ada waktu, bawa Serena ke rumahku. Dia juga harus tahu, kalau aku memiliki rumah yang besar seperti ini.” Kenzo mengedipkan matanya, ia meledek Daniel.
“Aku akan membawa Serena ke sana. Jika ada waktu senggang.” Daniel tersenyum bahagia.
Kenzo hanya mengangguk, sebelum masuk ke dalam mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Memperhatikan wajah Daniel dari balik spion, “Aku tahu, kalian memiliki masalah.”
Daniel masih diam mematung, memperhatikan mobil Kenzo yang sudah tidak terlihat. Ia sangat takut, kalau Kenzo terlalu akrab dengan Zeroun Zein. Pria yang paling ia benci saat ini. Pria yang kapan saja, bisa hadir memenuhi pikiran Serena.
“Tuan,” Tama memecah lamunan Daniel.
“Ada apa?” Daniel memandang wajah Tama.
“Mobil yang di minta oleh Nona Serena ….” ucapan Tama terhenti.
“Ada apa? apa kau tidak bisa mendapatkannya?” Wajah Daniel berubah serius. Menatap dingin ke arah Tama.
“Ada Tuan. Mobil itu sudah dapat. Tapi, penjualnya ingin bertemu dengan pembeli langsung. Selain anda, ada orang lain yang ingin membeli mobil itu. Mobil jenis itu, hanya di produksi lima unit di dunia. Negara kita hanya ada satu unit. Mobil itu keluaran terbaru, mobil paling cepat di dunia.”
Daniel diam sejenak. Ia bahagia karena bisa memberi hadiah untuk Serena hari ini, “Baiklah, kita akan pergi ke sana, sekarang.”
“Baik, Tuan.” Tama membungkuk hormat.
Daniel kembali masuk ke dalam. Ia berjalan ke arah kamar untuk menemui Serena. Daniel berjalan dengan santai, memegang handle pintu lalu mendorongnya perlahan. Daniel melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, secara perlahan. Ia tidak ingin menimbulkan suara sedikitpun.
Di dalam kamar, Serena berdiri di depan jendela. Memandang halaman rumah dari lantai kamarnya. Serena memandang pemandangan dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi nama Shabira.
“Sayang ….” Daniel memeluk Serena dari belakang.
“Apa Kenzo sudah pergi?” tanya Serena dengan lembut.
“Ya, dia ada urusan lain. Sayang … masih memikirkan masalah tadi?”
Serena melepas pelukan Daniel, ia memutar tubuhnya. Menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Hidupku penuh dengan permainan. Sejak kecil aku tidak pernah dekat dengan papa. Aku merindukan sosok mama, tapi tidak pernah aku dapatkan. Papa sibuk di kantor, mengurus bisnisnya. Hingga aku harus meninggalkannya, dan hidup bahagia di luar sana. Aku tidak pernah berpikir, dunia yang aku ciptakan adalah sebuah kesalahan. Aku sangat bahagia waktu itu. Tapi, dalam sekejap. Aku kehilangan semuanya, hingga di beri kesempatan untuk hidup dengan lingkungan baru. Tapi, sekarang semua kembali. Masa lalu dan masa depan berada di satu titik yang sama. Daniel, jika kau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?”
Serena menatap tajam wajah Daniel. Ada genangan air mata di pelupuk matanya yang indah.
Daniel mengusap lembut pipi Serena, “Maafkan aku sayang. Aku terlalu serakah kepadamu. Hingga aku tidak pernah memikirkan apa yang kau rasakan. Aku tahu, pria itu sangat mencintaimu. Dia akan melindungimu selamanya. Hari-harimu dulu, juga sudah dipenuhi dengan namanya. Tapi, aku tidak bisa melepasmu. Kau milikku. Kau wanitaku. Kau istriku. Kita sudah menikah. Aku sangat mencintaimu.”
Daniel menatap wajah Serena dengan penuh kesedihan. Hatinya terasa sakit, tapi melihat Serena bersedih, hatinya semangkin luka.
Serena tersenyum, “Daniel, jika kau ada di posisi dirinya. Apa kau mau merelakanku juga?”
Daniel terdiam untuk sesaat. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Serena saat ini. Ia tidak pernah ingin, ada di posisi Zeroun.
“Jangan di jawab. Aku tahu jawabannya.” Serena tersenyum manis memandang Daniel.
“Apa kau akan meninggalkanku, lagi?” Wajah Daniel berubah sedih.
Serena menggeleng pelan, “Kau akan tetap ada di hatiku. Daniel, berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu menjaga hati ini hanya untukmu. Jangan pernah dengarkan orang lain, percaya padaku.” Serena memegang kedua pipi Daniel.
“Sayang, apa yang ingin kau lakukan?” Wajah Daniel berubah dingin.
“Tidak ada.” Serena tersenyum manis.
Daniel menarik Serena ke dalam pelukannya, “Jangan lakukan hal bodoh yang membuat hidupku hancur.”
Serena meneteskan buliran air mata. Menahan rasa sakit yang kini ia rasakan di dalam hati. Serena memeluk Daniel dengan erat. Ia memejamkan matanya untuk menikmati pelukan hangat Daniel saat ini.
Suara ketukan pintu, memecahkan suasana hening itu.
Daniel melepas pelukannya, menatap wajah Serena dengan senyuman, “Sayang, aku harus pergi. Aku ingin membeli hadiah yang kau inginkan.”
Serena mengangguk pelan, “Hati-hati.”
Daniel mencium pucuk kepala Serena, “Aku yakin, kau akan menyukai hadiah ini,” ucap Daniel penuh dengan keyakinan.
Daniel memutar tubuhnya, langkahnya terasa berat untuk meninggalkan Serena.
Kenapa aku merasa, kalau kau akan meninggalkanku.
Daniel melanjutkan langkahnya, ia pergi meninggalkan Serena sendiri di dalam kamar.
Serena terus memperhatikan langkah Daniel, “Maafkan aku, Daniel ….”