Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 47



Siang yang terik hingga menusuk ke lapisan kulit. Suasana hati juga terasa panas dan tidak terkendali. Semua wajah tidak lagi bisa berseri. Hanya ada luka yang tidak tahu kapan akan terobati.


Kenzo melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Hatinya di selimuti rasa bersalah terhadap Daniel dan Shabira. Saat ini, pengawal yang ia kirim untuk menjaga Serena, harus mengalami kegagalan. Ia mengepal kuat setir yang kini ia kemudikan. Mobil itu menuju ke lorong tersembunyi miliknya. Tempat dimana, semua pasukan yang ia miliki kumpul untuk menunggu perintah.


Biao baru saja selesai menghubungi semua pasukan yang ia miliki. Ia menyuruh semua pasukannya untuk berangkat ke alamat yang diberikan oleh Kenzo. Meskipun sudah lama kenal dengan Kenzo, Daniel ataupun Biao tidak pernah tahu, kalau Kenzo memiliki tempat rahasia di kota itu.


Daniel duduk di samping Kenzo, ia hanya diam menatap ke luar jendela. Tangannya masih terkepal kuat, dendam dan emosi sudah melebur menjadi satu. Kesedihan dan rasa kehilangan, lagi-lagi melanda hatinya.


“Daniel, aku tahu apa yang saat ini kau rasakan. Maafkan aku, Daniel.” Kenzo memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.


“Setiap malam, Aku selalu memandang wajahnya, Kenzo. Aku sangat mencintai Serena. Setiap malam, hatiku di selimuti rasa takut, mengingat musuh Serena yang begitu banyak. Aku tidak pernah melihat darah dan orang yang merenggut nyawa di depan mataku."


Daniel, menarik napas dalam, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Sejak mengenal Serena, hampir setiap saat aku melihat hal seperti itu. Tapi, aku tidak pernah menyesalinya. Rasa cintaku kepada Serena, jauh lebih besar dibandingkan rasa takut. Andai aku menyetujui pernikahan kami sejak awal ... semua ini tidak akan pernah terjadi.”


Daniel kembali mengingat penolakannya, saat Tuan Edritz menjodohkannya kepada Serena.


“Daniel, semua sudah terjadi. Sekarang, kita hanya bisa berdoa, agar Serena tidak menjadi korban dalam peristiwa itu.”


Daniel kembali diam. Ia memandang ke arah jalan depan dengan raut wajah sedih.


Beberapa menit kemudian. Mobil Kenzo terparkir di markas miliknya. Beberapa mobil milik pengawal S.G.Group juga sudah berbaris rapi di sana. Kenzo dan Daniel di sambut hormat oleh semua bawahannya yang sudah berkumpul.


“Daniel, ayo kita masuk.” Kenzo berjalan lebih dulu.


Daniel dan Biao memperhatikan tempat itu dengan seksama. Ini pertama kalinya mereka menginjakan kaki di markas milik Kenzo.


Kenzo membawa Daniel dan Biao ke sebuah ruang pribadi miliknya. Satu pria berjas resmi menunduk hormat menyambut kedatangan Kenzo.


“Tuan, ini berkas yang anda minta.” Pria itu menyodorkan setumpuk kertas berisi info tentang White Tiger.


Kenzo berdiri di depan meja persegi. Daniel dan Biao juga mengelilingi meja kaca itu. Kenzo membuka berkas itu, meletakkan satu persatu di atas meja.


“Daniel, ini daftar markas milik Arion. Aku yakin, jika Serena masih hidup. Wubin akan menyembunyikan Serena di salah satu tempat ini.” Kenzo mengambil satu peta, membuka peta itu di atas meja.


“Club malam, Rumah Arion dan sebuah gudang tempat penyimpanan senjata. Ini adalah lokasi miliknya.”


“Apa kita menyerang tempat ini satu persatu?” tanya Daniel dengan raut wajah serius.


“Jika kita menyerang satu persatu, mereka akan memberi info pada yang lainnya, hal ini akan membuat Wubin membawa Serena lebih jauh lagi.” Kenzo mulai menganalisa keadaan saat ini.


“Jadi, apa rencanamu, Kenzo?” Daniel memandang wajah Kenzo.


“Aku menyerang gudang ini, Kau dan Biao menyerang Club malam. Siang seperti ini, tempat ini masih sunyi seharusnya, tapi tetap berhati-hati. Pastikan semua orang yang ada di club ini tidak bisa lari. Setelah kau berhasil hubungi aku, kita akan menyerang rumah ini bersama-sama.” Kenzo melingkari lokasi rumah Arion.


“Aku tidak akan menyisakan satu orangpun di sana.” Mata Daniel berubah tajam.


“Daniel, tetap berhati-hati. Jika kau hampir gagal, segera hubungi aku. Aku juga tidak akan menyisakan satu orangpun di gudang ini.” Kenzo memandang wajah Daniel dengan raut wajah khawatir.


“Tenang saja, Kenzo. Jangan khawatirkan aku,” jawab Daniel penuh percaya diri.


“Biao, aku lihat pasukan yang kau miliki juga lumayan banyak. Tapi, mereka bisa menghabiskan pasukanmu hanya dengan satu ledakan. Berhati-hatilah. Tetap waspada. Kuasai tempat ini.” Kenzo memandang tajam wajah Biao.


“Baik, Tuan.” Biao menunduk hormat.


Kenzo melihat jam melingkar di tangannya, “Sudah saatnya, ayo kita berangkat.” Kenzo berjalan meninggalkan ruangan itu.


Daniel dan Biao mengikuti langkah Kenzo dari belakang. Kenzo memberi arahan kepada semua bawahannya, memberi tahu strategi yang akan ia gunakan. Biao juga melakukan hal yang sama dengan Kenzo, sedangkan Daniel hanya diam memikirkan nama Serena. Hatinya masih di selimuti rasa takut, saat pihak rumah sakit mengantar hasil identifikasi korban nantinya.


“Tuan, semua sudah siap. Mari kita berangkat.” Biao memecah lamunan Daniel.


Daniel memandang ke arah rombongan Kenzo yang sudah memasuki mobil dan siap berangkat. Memandang wajah Biao dengan raut wajah sedih, “Apa Serena masih hidup?”


Biao tertunduk dalam, “Saya yakin, Nona Serena masih hidup, Tuan. Nona Serena wanita yang kuat, ia tidak akan pergi secepat ini.”


Daniel berjalan ke arah mobil, meninggalkan Biao sendiri di tempat itu. Sedangkan Biao, memandang punggung Daniel dengan raut wajah sedih.


Tuan, cinta anda selalu di uji. Ini pertama kalinya anda jatuh cinta dengan seorang wanita.


***


Di tempat lain, di sebuah taman.


Beberapa mobil hitam Mercedes berjajar di jalan. Pria dan wanita yang mengenakan jaket berwarna hitam, berbaris rapi. Mereka berdiri menghadap ke arah Shabira yang saat ini menjadi pimpinan.


“Aku tahu, kita semua sudah hidup tenang. Ada beberapa orang yang tidak hadir saat ini, aku tidak bisa memaksa. Misi ini tidak akan mendapat bayaran, kita tidak untuk mencari uang. Misi ini untuk membalaskan dendam atas perbuatan mereka terhadap Bos Erena. Kita akan melawan satu kelompok geng mafia. Ini akan menjadi drama yang bisa berakhir sedih atau bahagia. Hanya itu yang bisa aku katakan pada kalian. Jika ada yang ingin mundur, silahkan.” Shabira memandang wajah bawahannya satu persatu.


“Baik. Jika tidak ada yang mundur itu berarti setuju. Kita akan menyerang rumah utama milik Arion, pimpinan White Tiger. Saat ini, White tiger di pimpin oleh Wubin. Aku yakin, kita akan bertemu dengan Wubin di sana. Pria itu harus pergi meninggalkan dunia ini secepatnya. Aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri.” Shabira mengepal kuat tangannya.


“Bos, anda tenang saja. Kami akan berjuang dengan sekuat tenaga kami. Meskipun mati, kami rela jika ini untuk membalaskan dendam Bos Erena,” ucap salah satu wanita tangguh yang ada di barisan.


“Terima kasih. Ayo kita berangkat.” Shabira berjalan ke arah mobil miliknya, rombongan yang lainnya juga masuk ke dalam mobil masing-masing.


Dua mobil hitam berjalan lebih dulu di depan, untuk melindungi Shabira. Beberapa mobil lainnya berbaris di belakang mobil Shabira untuk menjaganya juga.


Shabira mulai menginjak gas mobilnya. Buliran air mata kembali menetes di pipinya.


“Kita baru saja jumpa kembali, Kak. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi.” Shabira menghapus buliran air mata yang menetes. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


.


.


Like dulu baru lanjut.