Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 85



Suasana ruangan serba putih itu kembali hening. Serena kembali berbaring untuk istirahat. Sedangkan Shabira dan Kenzo duduk di samping tempat tidur Serena. Sesekali pria yang kini mengenakan switer abu-abu itu, menjahili sang kekasih dengan menarik rambut panjang Shabira. Mencium aroma rambut Shabira yang membuatnya menjadi candu dan bisa bersemangat.


Serena menatap ke langit-langit kamar dengan perasaan lega. Jeritan hati yang sejak semalam ia rasakan berangsur hilang. Matanya masih berkaca-kaca setiap kali ia mengingat kedua pria yang berharga dalam hidupnya itu selamat. Serena menghapus sisa air mata yang masih menetes di pelupuk matanya. Tangannya terlihat gemetar karena rasa bahagia yang kini ia rasakan. Sebisa mungkin, wanita 25 tahun itu menyembunyikan perasaan harunya dari Shabira dan Kenzo.


Setiap kalimat pujian yang ia dengar dari bibir Kenzo untuk Shabira, juga menambah rasa bahagianya saat itu. Perlahan, Serena memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya saat itu. Debaran jantung yang berdetak dengan begitu kencang, kini mulai berangsur normal. Hembusan napas yang semula terasa berat, kini sudah terasa sangat ringan. Kedua tanganya kembali ia letakkan di sisi kanan dan kiri tubuhnya.


“Sayang, jangan lakukan itu lagi. Lihatlah, Kak Erena harus istirahat. Kita di sini untuk menjaganya bukan menganggunya.” Shabira menahan tangan Kenzo yang sejak tadi menjahilinya. Menatap wajah Serena yang terlihat sudah memejamkan mata.


Kenzo mengikuti arah pandang Shabira saat itu. Bibirnya juga tersenyum saat ia melihat wajah tenang Serena. Sosok sahabat yang sangat ia sayangi dan selalu ia lindungi. Sosok sahabat yang sudah mempertemukannya dengan sang kekasih. Sosok sahabat, yang juga berstatus sebagai sepupunya saat ini karena sudah menikah dengan Daniel.


Shabira menatap wajah Kenzo yang melamun memandang wajah Serena. Pria berkulit putih itu terlihat semakin berkarisma saat Shabira memandang wajahnya dari arah samping. Dengan jantung yang berdebar cepat, Shabira tersenyum bahagia menatap wajah Kenzo.


Dia sangat tampan, hingga aku tidak bisa memalingkan pandangan mataku kearah lain. Senyumnya yang begitu manis, selalu membuat hidupku lebih indah. Kenzo, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu.


Dari sebrang sofa, Tuan dan Ny.Edritz juga memandang ke arah dua sejoli itu. Seperti mengingat masa muda keduanya waktu dulu. Mereka berdua tertawa dengan wajah tersipu malu saat melihat hubungan mesra Shabira dan Kenzo pagi itu.


“Ma, ayo kita pulang. Daniel sudah kembali, Serena masih butuh banyak istirahat. Kita juga harus istirahat di rumah.” Tuan Edritz memegang tangan Ny. Edritz dengan mesra.


“Iya, Pa. Ayo kita pulang. Mama juga mau menyuruh Pak Sam untuk menyiapkan makanan untuk Serena.” Ny. Edrizt beranjak dari duduknya.


Berjalan pelan, masih dengan pandangan ke arah Kenzo dan Shabira. Setelah berada di ujung tempat tidur Serena, Ny. Edritz menatap wajah Serena yang sudah tertidur pulas dengan satu senyuman. Hatinya sangat tenang, melihat menantu kesayangannya itu sudah kembali sadar dan berhasil melewati masa kritisnya.


“Kenzo ….” ucap Ny. Edritz dengan begitu lembut.


Kenzo mengalihkan pandangannya ke arah Ny. Edritz. Beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati posisi Ny. Edritz saat itu.


“Iya, Tante. Ada apa?” Kenzo tersenyum saat ia sudah berhadapan langsung dengan Ny. Edritz.


“Tante mau pulang dulu. Nanti Tante akan kirimkan orang untuk mengantar makanan. Kalian di sini dulu ya, sampai Daniel kembali.” Ny. Edritz menatap wajah Shabira sambil tersenyum ramah.


“Wanita yang sangat cantik, Kenzo. Kau sangat pintar dalam memilih pendamping hidup.” Lagi-lagi Ny. Edritz mengeluarkan kata yang bisa membuat Shabira tersipu malu. Shabira tertunduk untuk menyembunyikan wajah merah meronanya.


“Hati-hati, Tante. Kenzo dan Shabira akan menjaga Serena dengan baik,” ucap Kenzo dengan senyuman.


Tanpa banyak kata lagi, Ny. Edritz menggandeng tangan Tuan Edritz. Membawa pria berstatus suaminya itu pergi meninggalkan ruangan Serena. Kepalanya masih terasa sakit, karena terlalu banyak pikiran yang memenuhi isi kepalanya.


Kenzo tersenyum manis memandang punggung Tuan dan Ny. Edritz yang hilang dari balik pintu. Memutar tubuhnya untuk memandang wajah Shabira yang tidak jauh dari dirinya.


“Sayang, kemarilah. Duduk di sini,” ucap Kenzo sambil berjalan menuju sofa.


Shabira memandang wajah Kenzo sebelum beranjak dari duduknya. Sekilas ia memandang wajah Serena lagi, untuk memastikan kalau Serena baik-baik saja. Perlahan, Shabira melangkahkan kakinya untuk mendekati Kenzo yang sudah duduk santai di sebuah sofa. Kedua tangan pria itu ia letakkan di sandaran sofa dengan posisi santai.


Namun, langkah Shabira terhenti saat mendengar suara pintu lagi-lagi terbuka secara perlahan. Wanita berambut panjang itu menatap penuh waspada kepada sosok yang muncul dari balik pintu. Sosok wanita mengenakan pakaian pasien dan pria berjas hitam menjadi sorot perhatiannya. Shabira mengerutkan dahinya saat melihat dua sosok yang tidak ia kenali berjalan masuk ke dalam kamar Serena.


“Ada apa?” Shabira menatap curiga ke arah Kenzo.


Tidak biasanya pria muda itu berlari untuk mendekati dirinya jika tidak ada sesuatu yang akan terjadi. Wajah panik Kenzo semakin menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar di dalam hati Shabira. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, Shabira memperhatikan wanita berambut pendek itu. Hatinya sudah dipenuhi perasaan tidak enak, sebelum ia mengetahui identitas dari wanita itu.


“Sayang, aku sangat lapar. Ayo kita keluar untuk sarapan.” Kenzo menggenggam tangan Shabira dan siap untuk menariknya keluar meninggalkan ruangan itu.


Namun, langkahnya terhenti saat tubuh Shabira tetap tertahan pada posisinya berdiri. Sambil memicingkan kedua bola matanya, Shabira menatap wajah dua orang itu dengan curiga.


Sonia masih berdiri kaku tanpa ekpresi. Satu tangannya menggenggam kuat tangan Aldi karena takut. Kedua matanya tampak berkedip-kedip berulang kali. Tubuhnya mulai gelisah dengan tenggorokan yang semakin kering.


Entah kenapa, suasana ruangan yang begitu dingin itu, bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat panas. Sonia tidak bisa lagi menelan salivanya karena tatapan membunuh dari Shabira. Peluh keringat berkucur deras hingga membasahi baju yang saat itu ia kenakan.


Melihat Kenzo berdiri di samping Shabira, membuat Sonia semakin yakin. Wanita itu adalah Shabira. Wanita yang menjadi tangan kanan Serena selama ia menjadi pembunuh bayaran. Sekaligus wanita yang sangat di cintai Kenzo sejak dulu. Sejak memiliki niat untuk berubah dan berada di jalan yang benar, Sonia tidak lagi memiliki keberanian untuk melawan orang lain. Perlahan Sonia membungkukan kepalanya untuk menghindari tatapan langsung dari tatapan mata Shabira.


Aldi berdehem pelan untuk mencairkan situasi yang mencekam di pagi itu. Perlahan ia mengelus lembut tangan pucat Sonia yang kini mencengkram kuat lengannya. Pria itu menatap wajah Shabira dengan satu ukiran senyuman manis, untuk menghilangkan tatapan curiga dari Shabira.


“Selamat Pagi, Kenzo. Kami ke sini untuk mengunjungi Serena. Kata Dokter Adit, Serena sudah sadar. Apa kami boleh menjenguknya?” Aldi memasang sikap waspada, kalau saja tiba-tiba terjadi hal yang tidak diinginkan saat itu.


“Serena masih tidur, dia harus banyak-banyak istirahat. Sebaiknya kalian kembali lagi nanti sore.” Kenzo memasang tatapan mata penuh kode kepada Aldi. Pria itu juga tidak ingin melihat Shabira hilang kendali saat mengetahui identitas Sonia pagi itu.


“Oh, kalau begitu saya permisi dulu.” Dengan langkah cepat, Aldi memutar tubuhnya dan Sonia. Ingin sekali saat itu ia menghilang dan muncul di tempat lain agar bisa selamat dari ancaman Shabira.


“Tunggu!” celetuk Shabira tiba-tiba.


Sambil memejamkan mata dan jantung yang berdebar cepat, Aldi dan Sonia menghentikan langkah kakinya. Masih dengan posisi yang membelakangi Shabira saat itu.


“Siapa kalian? kenapa kalian ingin menjenguk Kak Erena?” Perlahan Shabira memajukan langkah kakinya untuk berhadapan langsung dengan sosok yang belum ia kenali itu.


“Saya Aldi sahabat Daniel, ini tunangan saya.” Aldi memasang wajah menyeringai untuk menghilangkan rasa gugupnya pagi itu. Sama seperti Sonia, peluh keringat kini juga membanjiri wajahnya dengan bibir yang semakin pucat.


Suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan itu. Shabira memutar tatapan matanya untuk memandang kearah pintu lagi. Wanita itu menatap tajam pintu untuk memperhatikan sosok yang akan muncul dari balik pintu.


Tama muncul dengan seragam yang begitu rapi. Pria itu membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani Daniel. Hatinya di selimuti bahagia saat ia mendengar kabar kembalinya Daniel dan Biao beberapa menit yang lalu. Namun, wajahnya juga berubah saat melihat Sonia berdiri di dalam ruangan rawat Serena. Dengan wajah tidak suka dan penuh kebencian, Tama mengeluarkan kata untuk mengusir Sonia pagi itu.


“Sonia! untuk apa kau ada di sini?”celetuk Tama secara tiba-tiba.


Seperti sebuah gemuruh petir yang menyambar di siang bolong. Wajah Shabira berubah merah seperti terbakar api yang sangat panas. Dengan cepat kilat, wanita itu membalikkan tubuhnya untuk menatap langsung wajah wanita bernama Sonia. Wanita yang sangat ia benci dan sangat ingin ia bunuh beberapa hari ini.


“Kau wanita sialan itu!” Tangan Shabira terkepal sangat kuat hingga memutih. Matanya melebar seperti siap untuk melahap mangsanya saat itu.