
Daniel membawa tubuh Serena masuk ke dalam. Terus memegang pinggangnya, dan tidak ingin melepaskannya.
“Ayo kita sarapan. Kau pasti sangat lapar.” Bisik Daniel di telinga Serena.
Serena tertawa geli sebelum menjawab Daniel, “Aku memang sangat lapar tuan muda.” Tersenyum manis.
Beberapa pelayan, kembali menyiapkan sarapan pagi untuk Serena dan Daniel. Serena mengambil dua lembar roti, dan memberinya selai cokelat dengan jumlah yang banyak. Daniel hanya tersenyum tipis, melihat kelakuan Serena.
“Kau sangat suka cokelat, sayang.”
“Ya, aku sangat suka cokelat. Apa lagi cake cokelat, Kenzo pernah membelikanku waktu itu.” Serena menutup mulutnya, karena lagi-lagi menyebutkan nama Kenzo di depan Daniel. Nama seseorang yang sangat di benci oleh Daniel.
Serena menunduk penuh rasa bersalah. Daniel hanya tersenyum memandang Serena. Memegang tangannya dengan lembut.
“Aku tidak marah, sayang. Kenapa kau sedih seperti itu?”
“Daniel, boleh aku bertanya sesuatu?” Menatap wajah Daniel dengan penuh keraguan.
“Apa yang ingin kau ketahui, sayang.” Mengecup punggung tangan Serena, “Katakan.”
“Kenapa kau sangat membenci Kenzo? Apa kalian bermusuhan sejak lama, Daniel.”
Daniel menarik nafas dalam, menyandarkan tubuhnya. Dan meletakkan tangan Serena di atas meja. Serena merasakan perbedaan sikap Daniel, ia menarik tangan Daniel dan menggenggamnya dengan erat.
“Maafkan aku, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya.”
“Hei, jangan seperti itu.” Mengelus pipi Serena dengan lembut, “Kita sarapan dulu. Aku akan ceritakan semuanya, nanti.” Daniel tersenyum manis.
“Benarkah. Kau tidak marah Daniel?” Wajah Serena kembali berseri.
“Tidak sayang. Cepat habiskan sarapanmu.”
Serena kembali memakan roti itu. Meminum satu gelas jus apel yang sangat menyegarkan. Daniel terus memandang wajah Serena dengan penuh cinta.
‘Sudah saatnya kau mengetahui semua tentang Kenzo, sayang. Kau akan tahu, kenapa aku sangat membenci pria itu,’ gumam Daniel dalam hati.
Serena mengabiskan rotinya, sambil memandang wajah Daniel. Hatinya terasa sedikit lega, saat Daniel tidak lagi marah pada dirinya. Akhir-akhir ini, Daniel memang benar-benar berubah. Ia jauh lebih sabar menghadapi Serena. Dan semangkin mencintai Serena, dengan sepenuh hatinya.
Beberapa saat kemudian, Daniel dan Serena sudah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Daniel menatap wajah Serena dan menggenggam erat tangannya.
“Serena, ayo kita berkeliling di taman belakang. Bukankah kau sangat menyukai bunga.” Daniel menarik tangan Serena dan membawa Serena untuk mengikuti langkah kakinya.
Daniel membawa Serena ke taman belakang. Taman bunga itu terlihat begitu indah. Aneka bunga bermekaran di sana. Taman bunga itu di rancang oleh Ny. Edritz langsung. Ny. Edritz memiliki selera yang sama dengan Serena. Keduanya menyukai aneka wangi dan warna bunga. Tidak jauh dari taman itu, ada kolam renang yang begitu luas.
Daniel Melangkah ke arah pendopo yang terletak di tengah taman. Daniel duduk berdampingan dengan Serena. Lagi-lagi hatinya terasa bahagia. Daniel terus memandang Serena, yang terlihat serius memperhatikan sekeliling taman.
“Pada siang hari, taman ini terlihat begitu jelas.”
“Aku tidak pernah ke sini sebelumnya.” Daniel menatap ke arah taman.
“Rumah ini sangat luas. Kau tidak akan bisa mengelilingi isinya dalam sehari.” Serena menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.
Daniel hanya tersenyum mendengar perkataan Serena. Memiringkan kepalanya, menghadap ke arah Serena.
“Mama yang membuat taman bunga ini.”
“Benarkah? mama sangat hebat. Taman bunga ini sangat indah, Daniel.”
“Bersama Kenzo.” Daniel kembali melanjutkan perkataannya. Serena hanya tertegun, mendengar perkataan Daniel. Nama Kenzo muncul, dan itu langsung dari mulut Daniel. Serena terus menatap wajah Daniel, untuk menagih satu penjelasan.
“Kami sepupu Serena,” Daniel memandang ke ke arah taman, “Sangat dekat. Rumah ini miliknya dan rumahnya milikku. Kami bersaudara, bersahabat. Kami sangat dekat.” Daniel memandang wajah Serena, “Tapi dia melakukan penghianatan, karena seorang wanita.” Menyelipkan rambut Serena ke belakang telinga, “Tapi, sekarang aku tahu, bagaimana perasaan Kenzo. Saat wanita yang sangat ia cintai, pergi meninggalkan hidupnya.”
“Karena seorang wanita?”
“Ya, dia mencuri aset yang aku miliki. Hingga malaikat cantik datang, untuk menolong S.G. Group.” Daniel memandang wajah Serena dengan penuh cinta.
“Malaikat? Apa kau bisa melihat malaikat di dunia nyata Daniel?”
Daniel hanya tersenyum dan kembali memandang ke arah taman, ‘Kau adalah malaikat itu, Serena,' gumam Daniel dalam hati.
“Daniel, kemana perginya wanita yang meninggalkan Kenzo?”
“Aku yakin, wanita itu punya alasan yang kuat. Kenapa dia meninggalkan Kenzo."
“Mungkin saja, Serena.”
Serena kembali diam, untuk mencerna semua cerita Daniel. Ia kembali teringat, pertemuannya dengan Kenzo saat di pantai, ‘Lagu itu, pasti untuk wanita yang sangat ia cintai.’
Suasana kembali hening. Serena dan Daniel, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Serena kembali mengingat Kenzo, sedangkan Daniel kembali memikirkan Zeroun.
‘Apa kau akan pergi meninggalkanku Serena. Seperti wanita itu meninggalkan Kenzo.’ Pikiran Daniel kembali di penuhi rasa takut, ia benar-benar cinta dengan Serena. Apapun caranya, akan ia lakukan untuk mempertahankan Serena.
Serena memandang ke arah kolam renang. Cuaca yang hangat, membuatnya terasa gerah dan ingin berenang. Senyum manis kembali muncul di bibirnya. Ini pertama kalinya, ia akan merayu Daniel untuk menuruti permintaannya.
“Daniel, apa kau bisa berenang?”
“Tentu.” Daniel menjawab cepat, dan memandang wajah Serena dengan penuh tanya.
“Aku tidak tahu Daniel, aku bisa atau tidak. Tapi aku ingin mandi di kolam itu.” Serena menunjuk ke arah kolam renang.
“Kau tidak bisa berenang Serena? bukankah waktu di vila,” Daniel menahan perkataannya.
“Aku tidak berenang waktu itu, aku hanya berendam dan duduk di pinggir kolam. Ayo Daniel, temani aku.” Serena menarik tangan Daniel, dan merayunya agar mau menemani.
“Baiklah, aku akan mengajarimu untuk berenang.” Daniel merangkul pinggang Serena, dan berjalan masuk untuk mengganti baju dengan pakaian renang.
Tidak menunggu lama. Daniel dan Serena sudah mengenakan pakaian renang. Serena berdiri di tepi kolam, untuk memperhatikan Daniel yang sedang berenang dengan ahlinya. Serena hanya tersenyum dan melempar percikan air ke arah Daniel.
Beberapa pengawal keluar dengan membawa jus jeruk. Suasana di kolam renang itu, di penuhi canda tawa. Serena terus tertawa bahagia, untuk menikmati harinya bersama Daniel.
“Serena, ayo. Kau harus masuk ke dalam kolam, jika ingin berenang.” Daniel menepi dan mendekati tubuh Serena.
“Aku sedikit takut.” Serena menatap kedalaman kolam itu.
“Kau tidak perlu takut, aku selalu menemanimu.” Daniel menggenggam tangan Serena, dan menariknya perlahan.
Serena masuk ke dalam kolam renang itu. Daniel memeluk tubuhnya dan menatap wajahnya dengan bahagia.
“Semua baik-baik saja bukan?”
“Wah, ini pertama kalinya aku berada di dalam kolam renang.” Serena tersenyum bahagia, menikmati separuh tubuhnya yang sudah berada di dalam kolam.
“Kau harus belajar untuk berenang Serena. Ayo kita masuk ke dalam air.”
“Jangan lepaskan tanganku Daniel.”
“Tidak akan sayang, ayo."
Perlahan Daniel menarik tangan Serena untuk masuk ke dalam kolam. Kini tubuh keduanya sudah berada di dalam air, Serena tersenyum bahagia melihat wajah Daniel. Hingga wajah Daniel berubah, Serena memandang wajah Zeroun di sana. Tertawa bahagia, dan mendekat untuk menciumnya.
Serena mendorong Daniel hingga genggaman itu terlepas. Serena kembali naik ke permukaan, dan bernafas dengan terengah-engah. Daniel menjadi panik, dan memandang wajah Serena dengan penuh rasa khawatir.
“Apa yang terjadi, Serena. Kenapa kau mendorongku.” Daniel memegang kedua pipi Serena.
“Pria itu Daniel,” ucap Serena terbata-bata, “Pria itu muncul di hadapanku.”
“Pria? Siapa Serena? Di sini hanya ada aku.”
Daniel menatap wajah Serena dengan penuh kekhawatiran.
“Zeroun.”
**Hari minggu authornya jga pgen istirahat.
Jangan nuntut 2 bab.
Besok di kasih lagi.
Like, komen dan vote**.