Mafia's In Love

Mafia's In Love
Mawar Merah



Biao kini sudah berada di dalam kamar Serena. Dengan satu buket bunga mawar yang kini ada di genggaman tangannya.


“Biao, dimana Mr.X?” tanya Daniel dengan tatapan mencari.


“Mr. X tidak jadi berkunjung tuan,” jawab Biao pelan lalu melangkah ke arah Serena, “Ini ada titipan dari Mr. X nona,” memberikan buket bunga itu pada Serena.



“Wah, bunga ini sangat indah. Aku suka dengan warnanya. Sampaikan rasa terima kasihku pada Mr. X, Biao,” ucap Serena yang kini terlihat memeluk buket bunga mawar merah itu, dan menghirup wanginya dengan penuh penghayatan.


“Kenapa dia bisa senang seperti itu. Bunga itu terlihat biasa,” gumam Daniel dalam hati, tatapan matanya kembali ia alihkan pada Biao yang kini berdiri di sampingnya.


“Bukankah tadi kau bilang Mr.X sudah tiba, kenapa dia tidak jadi masuk?” tanya Daniel dengan sejuta rasa penasaran.


“Sebaiknya kita bicarakan hal ini di tempat lain tuan,” melirik ke arah Serena yang masih tersenyum bahagia.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Daniel penuh selidik.


Biao hanya bisa menatap wajah Daniel, tanpa ingin menceritakan semua yang telah terjadi.


“Apa yang terjadi?” tanya Daniel lagi, yang sudah mengerti dengan ekspresi wajah yang kini di tunjukkan oleh Biao.


“Mr. X dan ….” ucapanya terhenti.


Teriakan Serena yang tiba-tiba terdengar, mengalihkan pandangan Daniel dan Biao saat ini.


“Au, sakit!” teriak Serena lagi.


Kelopak bunga mawar merah sudah terlihat berserak di atas lantai. Serena menggenggam kuat kepalanya, dengan kedua tanganya. Matanya terpejam menahan sakit yang kini ia rasakan.


“Serena!” teriak Daniel yang langsung berlari cepat kearah Serena, “Biao, panggilkan Adit!” perintah Daniel cepat.


Biao langsung berlari cepat meninggalkan ruang rawat Serena. Satu pengawal yang berjaga kini ia perintahkan untuk memanggil Adit agar datang ke kamar Serena.


“Panggilkan dokter Adit! cepat,” teriak Biao lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Di dalam kamar, Daniel terlihat sangat panik. Rasa tidak tega telah menyelimuti isi hati Daniel. Hatinya benar-benar sakit, saat melihat Serena yang kini sedang menahan sakit.


“Dimana dia? kenapa lama sekali Biao!” teriak Daniel yang semangkin frustasi.


Tidak menunggu lama, Adit sudah masuk ke kamar Serena dengan langkah yang sangat cepat. Adit berjalan menghampiri ranjang Serena, diikuti beberapa perawat.


“Apa yang terjadi Daniel?” tanya Adit yang kini sudah berada di samping Serena, “Apa yang kau rasakan nona Serena?” sambungnya lagi.


“Aku tidak tahu, Serena berteriak tiba-tiba,” memandang wajah Serena yang masih tertutup oleh tangannya.


“Kepalaku sangat sakit dokter Adit!” ucap Serena pelan.


“Ijinkan aku untuk memeriksamu nona, berbaringlah,” pinta Adit pelan.


Serena mulai membaringkan tubuhnya secara perlahan, di bantu oleh Daniel yang kini ada di sampingnya. Tatapan Daniel semakin khawatir saat beberapa buliran air mata muncul dari mata Serena yang indah.


“Serena, kau akan baik-baik saja,” ucap Daniel pelan.


“Semua akan baik-baik saja Daniel. Aku akan menanganinya dengan baik,” sambung Adit yang sudah siap dengan beberapa alat untuk memeriksa keadaan Serena.


Daniel melangkah mundur dari hadapan Serena, beberapa perawat yang datang bersama Adit terlihat sudah melingkari ranjang Serena. Daniel beranjak pergi meninggalkan ruangan Serena, diikuti oleh Biao dari belakang.


“Apa yang terjadi padanya?” ucap Daniel lirih sambil menatap ke wajah Biao meminta penjelasan.


“Nona Serena akan baik-baik saja tuan,” jawab Biao pelan.


Sudah setengah jam Daniel dan Biao menunggu Adit yang kini ada di ruang rawat Serena. Rasa khawatir dan takut kembali melebur menjadi satu di dalam hati Daniel. Baru saja beberapa hari ini ia bernafas legah, karena melihat Serena yang sadar dari komanya. Namun, hari ini ia kembali dipenuhi rasa khawatir dan takut yang begitu besar.


“Apa ada sesuatu yang memaksa ingatan Serena? sesuatu tentang masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupnya Daniel?”


“Sesuatu?” ucap Daniel dan Biao secara bersamaan.


“Ya, apa kalian menanyakan sesuatu pada Serena? Hingga Serena mencoba untuk kembali mengingat masa lalunya.”


“Kau menuduhku? kalau aku yang menyebabkan Serena seperti itu?” ketus Daniel marah.


“Tidak, aku tidak menuduhmu Daniel. Tapi memang Serena seperti itu, karena ada sesuatu yang memaksa dirinya untuk kembali mengingat masa lalunya yang terlupakan.”


Daniel dan Biao hanya diam untuk berfikir sejenak. Hingga akhirnya, Biao menemukan titik terang atas kejanggalan yang menjadi penyebab Serena seperti itu.


“Setelah Nona Serena menerima buket bunga mawar merah yang baru saja diberikan Mr.X,” jawab Biao yang mulai berhasil menganalisa keadaan yang sebenarnya terjadi.


“Bungan mawar merah?” tanya Adit yang kembali mengingat, kelopak bunga mawar yang berserakan di samping ranjang Serena.


“Iya, benar. Bunga mawar merah itu penyebabnya,” sambung Daniel lagi.


“Pasti ada sesuatu dengan mawar merah itu,” ucap Adit pelan.


“Lalu, bagaimana dengan keadaan Serena?” tanya Daniel lagi.


“Kami sudah memberinya suntikan, untuk meredahkan rasa sakit di kepalanya.”


“Aku akan masuk menemuinya,” ucap Daniel cepat.


“Daniel!” panggil Adit lagi.


“Ada apa?” jawab Daniel singkat.


“Serena tidak akan mudah menerima masa lalunya! jika hal ini terjadi lagi, itu akan membuat keadaannya semakin memburuk. Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku katakan,” ucap Adit yang berusaha untuk menjelaskan keadaan Serena saat ini.


Daniel hanya mengangguk pelan, lalu kembali melangkah masuk ke dalam ruangan Serena. Di dalam kamar, Serena terlihat tidur dengan tenang. Tatapan Daniel kembali ia alihkan pada kelopak bunga mawar merah yang kini berserakan di lantai. Biao yang kini berada di belakang Daniel hanya diam tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi.


'Apa ini salah satu alasan mama menyembunyikan semuanya,' gumam Daniel dalam hati.


Sejenak, ruang rawat Serena kembali senyap. Satu jarum infus yang sempat dilepas, kini sudah terpasang lagi di tangan Serena. Daniel masih berdiri mematung, memandang wajah Serena dengan seksama.


“Biao, pergilah ke kantor. Aku akan menemani Serena hari ini,” perintah Daniel.


“Baik tuan,” setelah menunduk hormat, Biao pergi meninggalkan Daniel di sana.


Didepan kamar, Biao berpapasan dengan Diva yang kini sedang berjalan menuju kamar Serena. Diva terlihat berlari cepat dengan raut wajah takut, saat melihat Biao yang kini ada di hadapannya.


“Darimana saja kau, Diva?” tegas Biao dengan raut wajah marah.


“Maaf tuan,” jawab Diva pelan.


“Maaf? aku butuh jawaban. Bukan kata maaf,” bentak Biao lagi.


“Saya ijin pulang sebentar, untuk menemui putri saya tuan. Dia sedang sakit,” jawab Diva masih dengan nada yang dipenuhi ketakutan.


Biao hanya diam tanpa ingin berkata lagi, tatapannya ia alihkan pada satu lorong yang terbentang lurus yang kini ada di hadapannya.


“Maafkan saya tuan,” sambung Diva lagi.


“Pulanglah! hari ini nona Serena akan ditemani oleh tuan Daniel. Kau bisa menggunakan waktu yang singkat ini, untuk menemani putrimu,” berlalu pergi meninggalkan Diva yang masih mematung di sana.


'Apa aku sedang bermimpi?' batin Diva yang masih tidak percaya dengan perkataan Biao barusan.