
Serena baru saja bangun dari tidurnya. Daniel dan kebersamaannya selama ini, hadir di dalam mimpinya.
Tatapan matanya berubah sedih, saat melihat sosok yang kini memeluknya. Serena meletakkan pelan tangan Zeroun secara perlahan. Memandang ke arah langit-langit kamar. Serena kembali membayangkan wajah Daniel. Setiap pagi, ia selalu berada di pelukan Daniel. Dengan satu kecupan cinta, dan candaan sayang.
Daniel.
Darahnya mengalir cepat, saat nama itu kembali muncul di dalam pikirannya.
Hatinya benar-benar rindu dengan sosok pemilik nama. Serena beranjak dari tidurnya dan melangkah cepat ke kamar mandi.
Serena berendam di dalam bak mandi, untuk kembali menenangkan pikirannya. Bukan mendapat ketenangan, Serena kembali mengingat Daniel. Serena memandang ke arah shower dan membayangkan tubuh Daniel yang sedang mandi.
“Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku.” Serena menangis senggugukan di kamar mandi. Hatinya benar-benar terasa sakit.
Meskipun ia sudah bahagia bersama Zeroun, tapi bayangan Daniel terus menyiksa dirinya. Membuat ketenangan dalam dirinya, hilang begitu saja. Serena benar-benar merindukan Daniel dan ingin menemuinya.
Zeroun baru saja bangun dari tidurnya.
Matanya terperanjat kaget, saat melihat Serena tidak ada disampingnya. Zeroun berlari kencang, dan mengetuk cepat pintu kamar mandi.
“Erena, sayang. Apa kau ada di dalam!” teriak Zeroun penuh rasa khawatir.
Mendengar teriakan Zeroun dari luar, Serena mengusap semua air matanya. Serena menarik nafasnya dalam, dan menyelesaikan mandinya dengan cepat.
“Ya, aku di dalam,” teriak Serena dari dalam.
Zeroun kembali bernafas lega, saat mendengar jawaban Serena dari dalam. Zeroun tidak ingin, Serena pergi lagi dari sisinya. Zeroun berdiri di depan pintu kamar mandi, untuk menunggu Serena keluar dari sana.
Serena keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, menatap tajam ke wajah Zeroun dan mendekatinya. Serena memegang wajah Zeroun secara perlahan. Hatinya di penuhi dengan rasa nyaman, tiap kali ia berada di samping Zeroun.
“Maafkan aku, aku sudah melupakanmu,” ucap Serena lirih.
“Tidak sayang. Kau tidak perlu meminta maaf. Sekarang kau sudah kembali, aku bahagia melihatnya. Kita akan melangsungkan pernikahan kita yang tertunda,” ucap Zeroun dengan senyum bahagia.
“Pernikahan?” tanya Serena kaget.
“Ya, pernikahan. Kita sudah bertunangan sayang, kau pergi dua minggu sebelum pernikahan kita berlangsung.”
Zeroun menatap wajah Serena yang kini terlihat ragu, hatinya terasa perih saat Serena tidak kunjung memberi jawaban.
“Serena, ketika aku menatapmu dan kau tidak mengenaliku. Saat itu hatiku terasa sakit, aku sangat ingin merebutmu paksa,” sambung Zeroun lagi.
“Aku sudah menikah dengan Daniel,” jawab Serena pelan.
“Kau bisa bercerai dengannya, aku akan mengurus semuanya, sayang.” Memegang kedua pipi Serena, dan meyakinkannya dengan penuh harap.
“Tidak, jangan lakukan itu.” Serena menggenggam kedua tangan Zeroun, dan menjauhkannya.
“Apa maksudmu, Erena?” tanya Zeroun dengan nada tinggi.
“Aku tidak tahu, apa yang saat ini aku rasakan. Tapi aku ingin menemuinya.” Buliran air mata menetes di wajah Serena.
Zeroun mengepal kuat tangannya. Hatinya kembali terasa sakit, saat ia menerima penolakan dari wanita yang sangat ia cinta. Zeroun melangkah mundur dari hadapan Serena, menuju ke arah jendela. Zeroun memandang ke arah luar dengan tatapan kosong.
Serena berlari ke arah tubuh Zeroun, yang kini sudah menjauhi dirinya. Serena memeluk tubuh Zeroun dari belakang, dan meluapkan semua emosinya di sana.
“Maafkan aku, maafkan aku! Aku tidak bisa menghilangkan wajahnya dari pikiranku. Wajahnya selalu saja melekat dalam ingatanku.”
Serena menangis senggugukan, hatinya juga terasa perih. Saat berada di dua pria yang sangat ia cintai, Serena tidak memiliki kekuatan untuk memilih.
“Apa kau sudah melupakan cinta kita, Erena? Begitu mudahnya kau melupakanku.”
“Aku juga sangat mencintaimu, tapi …” Serena menahan perkataannya, “Aku juga jatuhcinta padanya, maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk menghapusnya.”
Zeroun memejamkan kedua matanya. Hatinya yang sempat sembuh, kini harus terasa sakit lagi. Zeroun membalikkan tubuhnya ke arah Serena.
“Ijinkan aku tetap mencintaimu, sayang.” Mengusap buliran air mata yang menetes di pipi Serena, “Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku.”
“Kau tidak marah padaku?” tanya Serena pelan, “Kau bisa membunuhku jika kau ingin, Aku tidak bisa merasakan hal ini. Aku ingat jelas, kalau papa yang sudah menyebabkan semua ini. Tapi dia sudah pergi, aku juga sangat merindukannya.”
Zeroun menggeleng pelan kepalanya, mengukir satu senyuman pahit, “Aku akan tetap mencintaimu, dan berusaha memenangkan hatimu. Kau bukan wanita yang bisa di paksa.”
“Apa aku boleh pergi menemui, Daniel?” tanya Serena dengan hati-hati.
“Pergilah, jika itu pilihanmu. Aku akan tetap memperjuangkan cintamu, sayang. Aku yakin, kau akan kembali padaku, suatu hari nanti.”
Zeroun melangkah ke sebuah lemari, dan mengambil satu buah jaket berwarna hitam.
Jaket yang ia kenakan, saat Serena mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang menyebabkan dirinya untuk melupakan Zeroun, dan membuka lembar baru bersama Daniel.
“Karena aku tahu, kita cuma punya waktu sedikit sebelum berpisah. Aku ingin hatimu tetap bersamaku, sebelum mengucap selamat tinggal.”
Zeroun memakaikan jaket hitam milik Serena. Hatinya kembali dipenuhi rasa sedih, saat wanita yang ia cintai kini ingin meninggalkannya. Zeroun berdiri tegab di hadapan Serena, memeluknya dengan penuh cinta.
Zeroun mendongakkan kepala Serena, untuk memberi satu ciuman perpisahan pada Serena. Serena memejamkan matanya sejenak, bayangan wajah Daniel yang tiba-tiba saja muncul, membuat Serena sadar, dan menjauhkan tubuhnya dari pelukan Zeroun.
“Aku hanya ingin menciummu, untuk yang terakhir kalinya,” pinta Zeroun lirih.
“Tidak, jangan lakukan itu. Aku akan semangkin berat untuk meninggalkanmu,” jawab Serena dengan kelembutan.
“Baiklah, jika kau tidak lagi menginginkannya.” Hatinya terasa hancur, lagi-lagi ia mendapat penolakan dari Serena.
“Maafkan aku, aku harus segera pergi!” Serena melangkah mundur, dan berlari kencang meninggalkan kamar.
Serena yang terkenal kuat dan licik, kini kembali meneteskan air mata karena cinta. Semua misi yang pernah ia lewati, membunuh tanpa belas kasih. Tidak pernah sedikitpun, menggoyahkan hatinya. Namun hari ini ia berubah menjadi lemah, karena cinta sudah memenuhi jiwa dan raganya.
Serena berlari cepat ke sebuah parkiran, masuk ke dalam mobil. Melajukannya dengan kencang, menuju ke arah bandara. Serena ingin segera kembali ke rumah utama, menemui Daniel, dan memeluknya dengan penuh kerinduan.
“Maafkan aku sayang, aku harap kau baik-baik saja,” ucap Serena pelan, dan kembali menambah kecepatan mobilnya.
Serena baru saja tiba di kota Sapporo. Tidak lagi menerima kesulitan, saat kini ia jauh lebih pintar. Serena melangkah cepat, turun dari jet pribadi. Seorang pria berbaju hitam sudah menyambut kedatangannya saat ini.
“Selamat datang nona, ini mobil yang anda minta.” Memberi satu kunci mobil, di hadapan Serena.
“Terima kasih!” jawab Serena singkat dan berlari kencang menuju ke sebuah mobil yang sudah di sediakan untuknya.
Mobil semangkin melaju kencang, saat sudah hampir tiba di rumah utama. Gerbang rumah utama telah terbuka, menyambut kedatangan Serena saat ini. Serena menghentikan mobilnya di pekarangan rumah, dan berlari cepat untuk masuk.
Beberapa pengawal menyambut Serena dengan penuh hormat. Serena menghentikan langkahnya sejenak, dan mendongakkan kepalanya untuk memandang rumah besar yang kini ada di hapannya.
“Ini rumahku, tempat tinggalku,” ucap Serena pelan, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Tama dan Biao sudah menyambut kedatangan Serena di depan pintu utama. Serena berlari kencang menuju ke arah pintu utama. Serena berdiri tegab di depan Tama dan Biao, dan tersenyum manis seperti biasanya.
“Selamat datang nona, tuan Daniel sudah menunggu anda di kamar,” ucap Tama dengan cepat.
Tidak lagi ingin menjawab perkataan Tama, Serena terus berlari kencang menuju ke arah kamar. Serena menjejaki anak tangga dengan begitu ahli, hingga kini ia sudah berdiri di depan pintu kamar miliknya dan Daniel.
Serena memegang handle pintu itu, dan mendorongnya secara perlahan. Serena melangkahkan kakinya dengan hati-hati, untuk masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Serena melihat Daniel yang terduduk diam meghadap ke jendela. Daniel tidak lagi menyadari kedatangan Serena, matanya terus ia fokuskan ke luar jendela.
Serena berdiri dengan perasaan senang, Menatap Daniel yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama hitam. Perban yang tebal mengikat di dadanya. Satu perban yang menutupi luka, bekas tembakan Serena saat itu.
Serena melangkah pelan mendekat ke arah Daniel, “Daniel …,” ucap Serena lirih.
Perlahan, Daniel mengalihkan pandangannya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Daniel tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat. Wanita yang sangat ia rindukan dan ia cintai, kini ada di hadapannya.
“Serena, kau kembali sayang,” ucap Daniel dengan suara yang serak.
Daniel beranjak dari duduknya dan berlari kencang ke arah Serena. Daniel memeluk Serena dengan begitu erat. Untuk melampiaskan rasa rindu yang kini menyiksanya.
“Kau sudah mengingat semuanya, sayang.”
Menggenggam erat rambut Serena, “Kau kembali padaku?” sambung Daniel dengan suara yang semangkin serak.
“Aku telah mengingat masa laluku,” jawab Serena dengan suara pelan. Meneteskan air mata yang di penuhi rasa bersalah.
“Akhirnya kau pulang ke pelukanku, sayang,” bisik Daniel penuh rasa cinta.
“Apa sakit?” Serena memegang perban yang kini ada di tubuh Daniel.
“Tidak sayang.”
Daniel mendongakkan dagu Serena yang masih menangis di hadapannya. Mengecup lembut pucuk kepala Serena dengan penuh kerinduan. Daniel turun ke bibir Serena dan mengecupnya dengan penuh kasih.
“Jangan menangis,” ucap Daniel pelan, sambil mengusap air mata yang kini menetes, “Apa kau baik-baik saja?” tanya Daniel penuh rasa khawatir.
“Aku baik-baik saja.” Serena kembali menatap perban itu, “Rasanya pasti sangat sakit.”
“Tidak sesakit, saat kau pergi meninggalkanku.” Kembali memeluk Serena, “Tetapi semua sudah terobati. Sekarang kau ada di pelukanku. Kau istriku Serena, dan hanya milikku.”
Daniel kembali mencium bibir Serena, panas dan penuh gairah. Rasa memilikinya semangkit dalam, dan tidak ingin lagi kehilangan Serena.
Saat ini Daniel sudah berhasil memenangkan cinta Serena. Meskipun Serena sudah kembali mengingat masa lalunya, tapi Daniel adalah pilihan hati Serena saat ini. Serena tetap mempertahankan cintanya pada Daniel. Meninggalkan semua masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupnya, meskipun ia sudah kembali mengingatnya.