
Suara pintu terbuka. Adit muncul dengan wajah pucat. Napasnya juga terengah-engah. Dia berjalan cepat, mendekat ke arah Daniel dan Serena.
Melirik sesaat ke arah Biao, dan memfokuskan kembali pandangannya pada Serena.
"Apa semua baik-baik saja? Daniel, apa yang terjadi?"
Adit baru saja tiba di rumah utama. Satu sambutan yang mengejutkan. Saat Adit melihat beberapa pelayan sedang membersihkan bekas cairan merah.
Tidak ada yang mau untuk menjelaskan, semua pelayan hanya diam. Dengan penuh kekhawatiran, Adit berlari ke arah kamar.
Meskipun di penuhi raut wajah khawatir, tapi ia kembali bernapas lega. Saat melihat orang-orang yang ia kenal, masih dalam keadaan sehat.
"Sebaiknya segera periksa keadaan Serena, Adit." Memandang wajah Serena, "Aku sungguh khawatir."
Adit meletakkan tas hitam di atas meja. Membukanya perlahan, dan mengeluarkan beberapa perlengkapan.
Adit duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Mengambil tangan serena, dan memulai ritual pemeriksaannya.
"Apa dia ada di sana, saat peristiwa itu terjadi?" Adit memandang wajah Daniel dengan seksama.
"Serena juga ada di sana. Dia pingsan, saat penyusup itu semangkin mendekat." Daniel membuang napasnya kasar, "Apa dia takut?" Mengerutkan dahinya.
"Tidak Daniel, dia tidak takut. Peristiwa itu mengingatkannya pada masa lalu." Adit memandang ke arah Serena, dan meletakkan tangannnya perlahan, "Sepertinya, Serena mulai mengingat semua masa lalunya. Tidak lama lagi, dia akan sembuh Daniel."
Daniel hanya diam membisu. Ia tidak tahu, harus senang atau takut saat mendengar kabar itu. Ia tidak ingin Serena cepat sembuh dari sakitnya.
Daniel belum siap untuk kehilangan Serena. Ia sangat takut, jika Serena akan pergi meninggalkannya untuk menemui masa lalunya.
Melihat Daniel yang hanya melamun, Adit memukul pelan pundak Daniel.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
Daniel tersadar dari lamunannya, dan kembali memandang wajah Adit.
"Apa Serena akan segera sadar?"
"Serena akan sadar beberapa jam lagi. Sebaiknya kita bicara di luar, agar tidak mengganggunya."
Adit berjalan cepat meninggalkan kamar. Pak Han, Biao dan Tama juga mengikuti langkah Adit. Daniel masih berdiri mematung memandang wajah Serena. Ia masih belum siap untuk kehilangan Serena, secepat ini.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Serena."
Daniel melangkah ke arah pintu untuk menemui Adit dan yang lainnya di sana.
"Kita bicara di sana." Daniel melanjutkan langkahnya, menuju ke arah ruangan kerjanya.
Ketiganya mengikuti langkah Daniel dari belakang. Sedangkan Pak Han, beralih arah menuju dapur.
Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan gusar. Menjatuhkan dirinya di atas kursi besar, yang terletak di balik meja.
Adit, Biao dan Tama duduk menghadap ke arah Daniel. Sejenak suasana menjadi hening, menunggu Daniel mengeluarkan kata.
"Kita tidak bisa bersantai lagi. Masalah ini semangkin serius. Wubin tidak akan membiarkan Serena tetap hidup. Sepertinya Serena, salah satu musuh yang ingin ia musnahkan. Kita masih bisa menghindar, dari teror ALCO Group yang di pimpin Sonia." Daniel mengangkat ke dua tangannya di atas meja. Memandang ke arah Tama, "Ceritakan semua tentang Sonia, aku tahu kau telah menyimpan rahasia itu."
Tama kembali tertunduk dengan penuh rasa bersalah. Daniel sudah mengetahui penyelidikannya tentang Sonia. Biao juga tertunduk merasa takut. Karena sudah bekerja sama dengan Tama, untuk menyembunyikan semuanya.
"Maafkan saya tuan. Saya tidak menceritakan ini sejak awal."
"Tunggu, Sonia pemilik ALCO Group?" Adit menatap wajah Daniel dengan penuh keraguan.
Daniel mengangguk pelan, "Ya, dia putri Tuan Ananta." Daniel tersenyum tipis, "Sonia Ananta."
"Bagaimana mungkin, Aldi memasukkan putri dari musuhmu, Daniel?"
"Aldi tidak mengetahui semuanya, ia baru saja datang dan menceritakan semuanya."
"Maafkan saya tuan. Tapi dari penyelidikan saya, Sonia tidak ingin mengincar S.G.Group lagi. Dia menginginkan tuan Daniel. Dalam hal ini, saya mengkhawatirkan nona Serena," sambung Tama.
"Kau benar-benar di uji Daniel." Adit menyandarkan tubuhnya, dan membuang napas dengan kasar, "Apa solusi untuk semua ini?"
Biao kembali mengingat pertemuan Zeroun dan Kenzo di rumah sakit. Biao memandang wajah Daniel, sebelum mengeluarkan pendapatnya.
"Maaf tuan, tapi kita harus bisa membuat tuan Kenzo ada di pihak kita. Sepertinya, Tuan Kenzo sangat dekat dengan Zeroun Zein."
Daniel kembali tertegun mendengar pendapat Biao. Semua yang terjadi, memang saling keterkaitan.
"Mungkin karena sama-sama di bisnis gelap, membuat Zeroun dan Kenzo saling kenal," ucap Adit mulai serius.
"Dimana Kenzo berada?" Daniel menatap Biao sambil mengerutkan dahinya.
"Tuan muda Kenzo, ada di negara Z. Mencari kekasihnya yang belum di temukan, tuan."
"Apa kau sudah berhasil menemukan nama wanita itu?" Tatapan Daniel semangkin dingin melihat Biao.
"Sudah tuan. Wanita berinisial S itu, bernama Shabira. Salah satu mafia di Hongkong. Namun, saya tidak banyak mendapat informasi tentang wanita itu." Sambung Biao lagi.
"Shabira." Daniel menyandarkan kepalanya dengan santai. Senyum tipis terbentuk di ujung bibirnya. Daniel kembali mengingat kesalahannya. Saat ia menuduh Serena sebagai wanita itu, "Aku akan menemui Kenzo 3 hari lagi. Saat ini, kita fokuskan dulu pada Sonia dan pengamanan yang lebih ketat."
"Baik tuan," ucap Biao dan Tama bersamaan.
Daniel kembali mengingat penyerangan siang tadi. Ia kembali menyimlan tanda tanya, saat Biao dan Tama datang tepat waktu.
"Bagaimana kalian bisa datang di waktu yang tepat? Apa kalian sudah mengetahui semuanya? Biao, Tama."
Daniel dan Adit, kembali menatap Biao dan Tama. Memang satu hal yang mencurigakan. Karena Biao dan Tama datang, dengan membawa banyak pengawal bersenjata.
Biao dan Tama saling pandang, sebelum menjawab pertanyaan Daniel saat ini. Biao memberi kode kepada Tama, untuk menjelaskan semuanya.
"Sejak pagi, kami ...." Tama kembali menatap Biao, bibirnya sedikit ragu untuk menjelaskan semuanya.
"Apa masih ada rahasia yang kalian sembunyikan lagi?"
Tatapan mata Daniel sudah berubah semangkin dingin.
"Sejak tadi malam, kami sudah melihat penyusup itu tuan." Tama mulai memandang wajah Daniel, "Awalnya kami mengira, itu kiriman dari Zeroun Zein. Pria asing yang terus memperhatikan rumah utama." Tama memandang ke arah Biao dan menyuruhnya untuk melanjutkan semuanya.
"Tuan, Zeroun Zein menjadi tujuan utama penyerangan tadi. Mereka menyerang Zeroun Zein, sebelum datang ke rumah ini. Kami menyaksikan penyerangan itu. Saat kami melakukan penyelidikan di rumah Zeroun Zein tadi pagi." Sambung Biao.
"Siapa Zeroun Zein?" Adit menatap wajah Daniel dengan seksama, "Apa ada hubungannya dengan masa lalu Serena?"
"Zeroun Zein adalah kekasih Serena, di masa lalu. Sebelum ia amnesia, Adit," jawab Daniel pelan.
Pikirannya semangkin terasa kacau balau. Semua berkunjung di hidupnya, dalam waktu yang sama. Tidak memberikan kesempatan untuk dirinya hidup tenang.
"Kekasih?" Adit tertegun kaget. Ia kembali khawatir dengan hubungan Daniel dan Serena. Saat ia kembali mengingat semuanya.
Ruangan kembali hening, semua terpaku pada pikirannya masing-masing. Hingga Pak Han mengetuk pintu, untuk memberi kabar tentang Serena.
"Permisi tuan, nona Serena sudah sadar. Nona mencari anda, Tuan." Pak Han membungkuk hormat di depan Daniel.
"Serena sudah sadar?" Daniel beranjak dari duduknya, "Biao, aku mau semua data tentang musuh kita." Daniel melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan ruangan itu.
Adit dan Pak Han mengikuti langkah Daniel, sedangkan Biao dan Tama masih mematung di sana.
"Pikirkan strategi lagi, Tama. Idemu selalu bagus untuk hal seperti ini." Biao memandang wajah Tama penuh harap.
"Aku tidak menemukan strategi apapun saat ini. Ini pertama kalinya, aku membunuh orang."
Tama memandang wajah Biao, "Bagaimana bisa kau hidup seperti ini Biao. Apa kau menikmati hidup seperti ini, dulu?"
Biao menepuk pelan pundak Tama, "Aku memang lahir di jalan Tama. Sangat berbeda denganmu, yang di bekali ilmu yang tinggi."
Jawaban Biao sudah mewakili perasaannya saat ini. Tama tidak ingin mengungkit masa lalu sahabatnya lagi.
Readers,,, Like, Komen dan Votenya ya.
Author uda ketik dengan penuh suka cita ne...😂