
Pagi yang melelahkan, dengan berat Serena membuka kedua matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah, atas peristiwa yang menimpahnya semalam. Matanya tertuju pada sebuah bantal tanpa penghuni, yang berada disampingnya.
“Kemana dia?” Serena duduk dan mulai memfokuskan penglihatannya.
Serena beranjak dari tempat tidurnya. Matanya melebar, ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.30.
“Bodoh, kenapa aku bisa kesiangan seperti ini!” Serena segera berlari ke kamar mandi.
Perasaannya yang tidak karuan mulai ia lupakan. Semua ia fokuskan hanya untuk membersihkan dirinya, dan segera turun ke bawah untuk mengikuti tradisi sarapan pagi bersama keluarga. Satu tradisi yang memang selalu dilakukan di rumah utama.
Serena memilih dress santai berwarna putih. Dwngan cepat, Serena berlari kecil menuruni tangga.
Suara sendal Serena mengeluarkan irama, membuat semua orang yang berada di ruang makan fokus memandang Serena.
“Serena, hati-hati. Kau bisa jatuh jika berlari terburu-buru seperti itu,” ucap Ny. Edritz mengkhawatirkan Serena.
Daniel yang melihat tingkah laku Serena, hanya tersenyum tipis dan terus melanjutkan makannya.
“Maaf ma, Serena bangun kesiangan,” ucap Serena dengan napas yang belum normal.
“Bukannya kata Daniel, kau memang tidak ingin sarapan pagi di meja makan. Karena terlalu lelah?” perkataan Ny. Edritz membuat Serena memandang Daniel dengan wajah penuh tanya.
“Bukan Ma, tapi ....”
“Sayang, apa kau lupa jika tadi aku sudah membangunkanmu, dan kau menjawab seperti itu.” Daniel menarik tangan Serena untuk duduk di sampingnya.
“Sudahlah, sekarang kita lanjutin sarapannya,” tegas Tuan Edritz yang mengerti kebohongan Daniel.
Pasti dia sengaja mengerjaiku seperti ini, karena tadi malam aku menertawakannya di mobil.
Serena mengutuk Daniel di dalam hati. Serena memandang Daniel dengan wajah kesal.
Kena kau! Kau pikir bisa selalu menang melawanku. Daniel tersenyum licik, memandang wajah Serena.
Suasana kembali hening setelah keributan yang di buat oleh Serena. Setelah selesai makan, Ny. Edritz memandang Serena dan Daniel dengan serius.
"Daniel, mama punya hadiah untuk kalian berdua," sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat di hadapan Daniel.
“Apa ini ma?” ucap Daniel sambil membuka amplop cokelat itu, “Paket liburan?” Daniel kembali menatap wajah Ny. Edritz.
“Iya, Mama sudah menyiapkan segalanya. Besok kalian akan berangkat Bulan madu,” ucap Ny. Edritz mantap.
“Bulan madu?” teriak Daniel dan Serena bersamaan.
“Iya, ada yang salah? Kenapa wajah kalian tidak bahagia?”
Tuan Edritz yang sudah mengetahui rencana sang istri, hanya bisa diam. Ia juga tidak memiliki kemampuan untuk membelah Daniel. Semua yang direncanakan Ny. Edritz memang harus segera di lakukan. Demi melindungi Serena, dari bahaya yang akan menimpahnya.
“Ma, Daniel masih banyak pekerjaan di kantor. Tama baru saja Daniel kirim untuk memantau masalah yang terjadi. Daniel tidak bisa liburan seperti ini, Ma ....” ucap Daniel pelan, yang mencoba untuk menolak permintaan sang ibu.
“Iya Ma, Serena juga ingin menemui Diva dan melihat keadaannya,” ucap Serena menolak.
“Jangan banyak alasan. Mama ingin kalian pergi,” ucap Ny. Edritz tegas dan tidak terbantahkan lagi.
“Tapi Ma ....” ucap Daniel berusaha menolak.
“Semua pekerjaan akan di urus oleh Biao. Kalian hanya perlu menyiapkan diri kalian untuk memberi mama seorang cucu.” Ny. Edritz tersenyum memandang Serena.
“Kamu mau memberikan Mama seorang cucukan, Serena?”.
Kenapa jadi kayak gini, aku harus jawab apa.
Jujur atau bohong. Masalah ini menyangkut seorang anak. Darimana aku harus menjelaskannya.
Serena terus berpikir keras, untuk mencari alasan.
“Serena....” ulang Ny. Edritz
“Daniel, hari ini kamu selesaikan urusan kantor. Mama tidak mau program kalian untuk memberikan mama cucu, harus terganggu karena pekerjaan.”
“Iya, Ma,” jawab Daniel singkat.
“Serena hari ini boleh ijin ke rumah sakit lagi, untuk melihat keadaan Diva, Ma.”
“Iya Sayang, boleh. Tapi harus ditemani beberapa pengawal ya. Mama tidak mau, orang yang ingin mencelakaimu itu datang menemuimu lagi.”
Kenapa mama memikirkan hal ini, aku tidak pernah menebak kalau mama sudah merencanakan bulan madu ini.”
Daniel yang masih tidak setuju dengan rencana bulan madu yang telah disiapkan.
Daniel segera beranjak dari tempat duduknya. Matanya terlihat memandang Serena sejenak, dan mengalihkan ke arah lainnya.
“Daniel pergi dulu, Ma,” ucapnya singkat.
“Daniel, kau tidak pamit dengan Serena?” tanya Ny. Edritz yang melihat Daniel mengacuhkan Serena.
“Sayang aku pergi dulu ya,” Daniel mencium kening Serena, sebagai pelengkap kebohongan yang ia buat.
“Iya, hati-hati,” balas Serena.
Daniel melangkahkan kakinya dengan cepat, rasa kesal yang saat ini ada di dalam hatinya tidak bisa ia lampiaskan.
Ny. Edritz hanya diam memandang kelakuan Daniel. Ia sangat tahu, apa yang saat ini dirasakan oleh Daniel.
Tapi Ny. Edritz tidak memiliki pilihan lain. Ia ingin menyelesaikan semua masalah, yang berhubungan dengan masa lalu Serena.
“Serena,” ucap Tuan Edritz.
“Iya, Pa.”
“Kami sangat menyayangimu.” Tuan Edritz tersenyum memandang Serena. Matanya teralihkan melihat ekspresi Ny. Edritz yang berubah menjadi kesedihan.
“Serena juga sangat menyayangi kalian.”
“Apa kau menyayangi Daniel?” tanya Tuan Edritz.
Deg, pertanyaan Tuan Edritz membuat Serena mati kutu. Tangannya meremas dres putih yang kini ia kenakan. Bibirnya seperti bisu tidak bisa mengeluarkan kata.
“Mama dan Papa tahu, semua ini hanya karena paksaan kami. Tapi kami ingin kalian selalu bahagia Serena,” tambah Ny. Edritz dengan wajah sedih.
“Maafkan Serena, Ma. Tapi Serena selalu berusaha, untuk menjadi istri yang baik untuk Daniel.” Serena tertunduk menatap bawah.
“Serena, Mama dan Papa mengerti, apa yang terjadi di antara kalian. Mama merencanakan bulan madu ini, untuk membuat kau dan Daniel semangkin dekat.” Perkataan Ny. Edritz membuat Serena menyadari. Kalau selama ini, sikap pura-pura yang ia lakukan bersama Daniel. Ternyata telah diketahui oleh Ny. Edritz.
“Iya, Ma. Serena akan belajar untuk mencintai Daniel. Dan membuat Daniel mencintai Serena,” ucap Serena mantap.
“Terima kasih sayang, jangan pernah meninggalkan Daniel dalam keadaan apapun Serena, berjanjilah sayang,” pinta Ny. Edritz dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, Ma. Serena tidak akan meninggalkan Daniel apapun yang akan terjadi," jawab Serena tulus.
“Mama senang mendengarnya Serena.”
Selesai melakukan perbincangan serius, dan cukup menguras perasaan itu. Serena pamit kepada Tuan dan Ny. Edritz untuk menemui Diva.
Ditemani beberapa pengawal, Serena pergi menaiki mobil yang dikemudikan oleh supir pilihan untuk menjaga Serena.
Kenapa harus begini, kenapa aku sangat susah untuk mencintai Daniel. Tapi, Daniel juga merasakan hal sama denganku. Aku tidak ingin terus terusan mengecewakan mama.
Serena memandang ke arah luar jendela. Pikirannya masih melayang ke persiapan bulan madu.
Pandangan matanya terhenti, saat ia melihat sosok yang tidak asing berdiri di pinggir jalan. Pria yang memegang sebuah gitar.
“Kenzo?”