
“Apartemen?” ucap Serena ketika melihat gedung pencakar langit itu ada dihadapannya.
“Tuan Daniel meminta anda untuk menunggunya di sini, Nona,” ucap Biao santai. Biao turun dari mobil, dan membukakan pintu agar Serena turun.
“Aku harus segera pulang, Mama pasti sangat mengkhawatirkanku,” ucap Serena lagi.
“Maaf, Nona. Tapi sebaiknya anda ikuti saya untuk masuk ke dalam.”
Rasa lelah yang kini ia rasakan, membuat dirinya ingin segera istirahat. Tetapi apa daya dirinya, tidak bisa menolak semua aturan yang sudah ada. Mengikuti perintah Daniel adalah aturan yang saat ini harus ia patuhi.
Dasar orang kaya, seenaknya saja ia memperlakukanku. Apa dia tidak punya sedikit saja perasaan kasihan untukku. Aku sangat lelah.
Keluh Serena dalam hati.
Serena terus mengikuti langkah Biao. Menaiki lift, hingga berjalan menelusuri lorong yang sunyi.
“Tuan Daniel masih rapat dengan tamu penting, Nona. Sebaiknya anda masuk ke dalam, dan membersihkan diri anda. Semua perlengkapan, bahkan Pakaian anda sudah disiapkan.” Biao menghentikan langkahnya di salah satu pintu yang ada di lorong itu.
“Baiklah,” jawab Serena malas.
“Anda bisa menghubungi saya, jika memerlukan sesuatu, Nona.” Biao membungkukan tubuhnya, dan pergi meninggalkan Serena.
“Aku tidak ingin meminta bantuanmu,” ucap Serena kesal sebelum masuk ke dalam ruangan
Sebuah ruangan yang megah, terdapat sebuah kamar di dalam sana. Dapur yang terletak di sudut ruangan. Balkon yang bisa memandang pusat kota, dari ketinggian gedung tempat ia kini berada.
“Seperti mempunyai dua rumah dalam satu kota.” Serena mengambil dres yang tersedia di sana, dan melangkah masuk ke kamar mandi.
“Kenapa tubuhku sangat lelah sekali, perutku juga lapar. Dia menyiapkan semuanya, tapi kenapa tidak ada menyediakan makanan untuk ku makan,” keluh Serena yang masih berada di dalam bak mandi dengan perut kelaparan.
“Aku harus cepat menyelesaikan mandi, dan turun ke bawah untuk membeli sesuatu. Perutku sangat lapar.”
***
Sementara itu, di sebuah Restoran. Daniel mengobrol santai dengan Mr. X. Tidak ada wajah keseriusan di sana, setelah penjelasan yang diberikan oleh Sonia. Rapat itu berubah menjadi makan malam antar sahabat. Obrolan ringan yang mereka bicarakan, hanya seputar kehidupan pribadi. Tidak ada lagi hal yang menyinggung masalah pekerjaan.
Biao sudah tiba di Restoran, yang terletak di lantai dasar Apartemen. Restoran mewah yang biasa digunakan, untuk rapat para pengusaha sukses yang ada di kota itu.
Tatapan mata Daniel teralihkan, saat ia melihat kedatangan Biao. Meskipun ia belum menanyakan satu hal tentang Serena, namun kehadiran Biao di situ sudah menjawab pertanyaannya.
Ternyata dia sudah menemukannya.
Daniel tersenyum dalam hati.
“Tuan Daniel, apa anda sudah menikah?” tanya Mr. X pelan. Ia meletakkan sebuah gelas, kembali ke atas meja.
“Saya sudah menikah, Tuan. Baru saja menikah,” jawab Daniel santai.
“Dia pasti wanita yang beruntung, karena mendapatkan pria sukses seperti, anda.”
Tidak ingin membahas lebih dalam tentang pernikahannya, Daniel lebih memilih tersenyum menjawab pernyataan dari Mr. X.
“Kenapa anda menggunakan inisial Mr.X, Tuan? Apa anda tidak nyaman, menggunakan nama asli anda?” ucap Daniel yang mulai penasaran dengan Mr. X yang kini ada dihadapannya.
“Itu sebuah kejutan, Tuan Daniel,” jawabnya santai
“Kejutan?”
“Semua orang akan mengetahui siapa nama asli saya, di acara peresmian gedung Z. E. Group nanti, Tuan. Anda harus datang dengan membawa istri anda pastinya.” Mr. X mengambil gelas yang sudah berisi minuman, meneguknya perlahan.
“Baiklah. Saya akan menunggu undangannya, Tuan,” jawab Daniel
“Mungkin sekitar satu bulan lagi, Tuan Daniel. Masih banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan, untuk menyempurnakan gedung itu,” ungkap Mr. X, pikirannya kembali melayang pada masa lalu yang sangat ia rindukan.
“Apa anda sudah menikah, Tuan?” celetuk Daniel mengganggu lamunannya.
Serena baru saja tiba, di restoran yang sama dengan keberadaan Daniel. Serena memilih duduk di sebuah kursi, yang menghadap ke jendela. Pikirannya masih saja melayang, memikirkan hubungan Biao dan Kenzo.
Daniel dan Biao masih belum menyadari keberadaan Serena, begitu juga sebaliknya. Mereka masih asyik dengan kegiatan masing-masing.
“Tempat ini sangat indah,” ucap Serena, sambil terus memandang ke arah luar jendela.
Hingga segerombolan orang dengan jas serba hitam dan kemeja hitam, masuk ke dalam restoran. Masing-masing memegang senjata api. Para pengawal Daniel dan juga Mr. X, juga sudah mengambil posisi untuk melindungi sang majikan. Senjatapun telah mereka persiapkan.
“Tuan, sebaiknya anda pergi dari sini. Saya akan menghadapi mereka,” ucap Biao yang sudah siap mengeluarkan senapan.
Daniel mulai melangkah pergi dengan arah yang berlawanan, dari gerombolan orang tersebut. Sonia juga sudah berlari jauh meninggalkan restoran. Langkah Daniel terhenti, saat melihat Serena berdiri mematung di sudut ruangan.
“Serena, kenapa dia bisa ada di sini.” Daniel terus memandang Serena yang kini berdiri mematung.
Duarrrr
Suara tembakan di mulai. Biao mendekati Daniel. Ia ingin menyuruh Daniel, untuk pergi meninggalkan Restoran, secepatnya.
Hal itu berbeda dengan Mr. X. Dia justru memegang senjata, dan melawan musuh yang saat ini menyerangnya. Wajahnya terlihat santai menghadapi gerombolan orang asing, yang kini menyerangnya.
“Arion!” teriak Mr. X dengan nada kasar.
“Kita berjumpa lagi teman lamaku, dan aku pastikan kali ini kau tidak akan lolos,” balas Arion.
Arion menodongkan senapan, yang kini ia genggam. Mengarahkannya, tepat di hadapan Mr. X.
Dengan cepat, Biao menembak ke arah Arion. Luka itu tepat mengenai tangan kirinya. Para pengawal Arion juga kembali menyerang ke arah Biao.
“Tuan, anda harus segera pergi.” Biao bersembunyi di balik meja.
“Aku tidak mungkin meninggalkan Serena, dalam situasi seperti ini.” Tatapan mata Daniel masih tertujuh pada Serena.
“Kenapa Nona Serena harus ada di situ,” umpat Biao frustasi, saat matanya juga tertuju pada Serena.
Tidak puas dengan tembakan, mereka bergulat dengan saling memukul satu sama lain. Arion juga melihat kehadiran Serena. Ia menyuruh orang kepercayaannya, untuk membawa Serena pergi dari sana.
“Apa ini? Aku hanya ingin makan malam. Tapi kenapa terjadi keributan di sini. Suara tembakan itu, membuat kepalaku sangat sakit.” Serena memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Serena duduk di lantai, dengan wajah kesakitan. Semua kejadian yang ada dihadapannya, memaksa isi kepalanya untuk kembali mengingat masa lalunya. Serenapun kembali jatuh pingsan.
“Tuan, kita harus segera membawa Nona Serena pergi dari sini.” Daniel dan Biao melangkah dengan hati-hati, menuju tempat Serena berada.
Satu peluru telah Biao luncurkan, untuk menembak satu orang yang mendekati Serena. Daniel segera mendekat dan menggendong Serena dengan cepat. Membawanya pergi jauh dari sana. Pengawal Mr. X yang melihat kejadian itu, juga turut melindungi Daniel untuk pergi dengan selamat.
Merasa telah kalah, Arion mengurungkan niatnya untuk menyerang. Pria itu pergi dari tempat itu, diikuti oleh beberapa pengawal yang masih tersisa.
“Siapa wanita itu,” ucap Mr. X kepada Biao, yang tidak melihat wajah wanita yang ada di dalam gendongan Daniel.
“Istri Tuan Daniel, Tuan,” ucap Biao dengan napas terengah-engah.
“Kenapa dia ada disini?” tanya Mr. X lagi.
“Nona Muda memang menunggu Tuan Daniel, di kamar atas, Tuan." Biao masih penasaran dengan tamu tidak di undang yang tiba-tiba muncul itu, "Tuan, siapa mereka? Saya tidak mengenal mereka, kenapa mereka menyerang kami.”
“Bukan kau, tapi aku. Mereka ingin menyerangku,” jawab Mr. X santai.
“Apa anda memiliki musuh, Tuan? mereka terlihat sangat berbahaya,” sambung Biao lagi.
“Kau akan mengetahuinya nanti, aku harus pergi.” Mr. X melangkah pergi meninggalkan Biao, dan beberapa pengawal yang telah terluka.
“Aku harus menyelidikimu, Tuan.” Biao terus menatap tajam ke arah punggung Mr. X yang melangkah pergi menuju mobil.