
Daniel masuk ke dalam kamar Serena dengan hati yang sangat bahagia. Perlahan ia melangkahkan kakinya sambil memandang wajah Serena yang cantik. Serena memasang wajah tidak suka saat melihat wajah Daniel muncul dari balik pintu.
“Sayang ….” ucap Daniel dengan penuh kelembutan.
“Kau mengatur semua ini karena tidak percaya dengan cintaku padamu, Daniel?” Serena memasang wajah cemberut favoritnya.
“Sayang, bukan begitu maksudku.” Daniel mendekati tubuh Serena dengan penuh rasa bersalah.
“Lalu, untuk apa?” Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.
Daniel tersenyum manis, “Sayang, Aku hanya ingin di dalam hatimu ini hanya ada cinta yang tulus untukku. Kau tidak mencintaiku hanya karena rasa bersalah atau rasa kasihan.” Daniel memegang kedua pipi Serena dengan lembut.
“Katakan padaku kalau kau benar-benat mencintaiku? aku butuh pengakuan yang ku dengar langsung saat ini.” Daniel menatap wajah Serena dengan serius.
“Aku mencintaimu,” ucap Serena.
“Sekali lagi,” jawab Daniel cepat.
“Aku mencintaimu, Daniel.”
“Lagi, aku belum yakin.” Daniel mengenggam erat rambut Serena, mendekatkan wajahnya di depan Serena.
“Aku sangat mencintaimu, Daniel Edritz Chen.” Serena tersenyum bahagia.
“Sekali lagi.” Daniel menatap mata Serena yang kini ada di hadapannya. Mengecup bibir Serena dengan penuh kerinduan dan cinta.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tidak ada nama lain di hatiku selain namamu, Daniel.” Serena mengucapkan kalimat itu dengan napas terengah-engah. Matanya terpejam, hidung keduanya saling bersentuhan. Serena merasakan hangatan hembusan napas Daniel saat itu. Ia juga mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang milik Daniel.
“Aku juga sangat mencintaimu, Serena.” Daniel melepas pelukannya, menjauhi Serena. Pria itu mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya. Satu kotak cincin berwarna merah, kini ada di genggaman tangannya. Daniel membuka kotak itu secara perlahan untuk memberi tahu Serena isi di dalamnya.
“Sayang, maukah kau menikah denganku?” ucap Daniel dengan wajah Serius.
Serena tertawa terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Daniel. Ia tidak pernah percaya, kalau Daniel akan melakukan hal itu saat ini.
“Daniel, kita sudah menikah. Untuk apa kau melamarku seperti ini?” tanya Serena dengan tawa kecil.
“Sayang, pernikahan kita terjalin karena satu paksaan. Perjodohan kedua orang tua kita yang membuat kita akhirnya menikah. Di tambah lagi, selama ini pernikahan kita di selimuti kebohongan karena kau melupakan semua masa lalumu. Penikahan kita terjalin bukan karena cinta.” Daniel masih menunggu jawaban dari Serena dengan begitu sabar.
Serena menarik napas dalam, sebelum mengeluarkan kalimat selanjutnya.
“Iya, Daniel. Aku mau menikah denganmu,” jawab Serena dengan satu senyuman manis.
“Yes, akhirnya aku diterima saat melamar wanita yang aku cintai.” Daniel mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak. Menyematkan cincin itu pada jari manis Serena, tidak lupa ia mencium punggung tangan Serena untuk mengungkapkan kebahagiannya.
“Kenapa kita harus bertunangan di rumah sakit lagi?” Serena menyipitkan kedua matanya.
Daniel kembali tersadar, saat pertunangan pertama mereka terjadi di rumah sakit. Karena paksaan dari Ny. Edritz waktu itu.
“Maafkan aku sayang. Mungkin memang rumah sakit yang akan selalu menjadi saksi hubungan kita.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.
“Apa setelah tunangan kita akan menikah?” tanya Serena pelan.
“Tentu saja, aku akan menggelar pesta pernikahan sebelum kita pergi bulan madu.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena dengan bahagia.
“Daniel, aku tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk hal seperti itu,” protes Serena.
Daniel tertawa kecil saat mendengar perkataan Serena, “Hanya pesta ulang tahun. Aku akan mengundang semua karyawan S.G.Group dan seluruh orang-orang terdekat di dalam hidup kita.”
Serena mempererat pelukannya pada pinggang Daniel, “Aku belum menyiapkan kado untukmu.”
“Cintamu itu adalah kado terindah yang pernah aku terima seumur hidupku, sayang.”
“Benarkah?” Serena mendongakkan wajahnya menatap wajah Daniel.
“Sayang, kenapa wajahmu sangat menggoda.” Lagi-lagi pria itu mencium bibir Serena tanpa permisi. Hatinya selalu saja ingin mencium bibir Serena, setiap kali melihat wajah wanita berstatus istrinya itu.
“Aku ingin kau segera sembuh dan pulang ke rumah.” Daniel memasang wajah penuh arti.
Serena tertawa saat mendengar perkataan Daniel. Wanita itu mengusap lembut wajah Daniel yang kini ada di hadapannya.
“Aku mencintaimu, Daniel.”
Suara pintu yang tiba-tiba terbuka mengagetkan momen indah di antara keduanya. Lukas menyeret pria paruh baya lalu mendorong pria itu hingga jatuh di permukaan lantai. Dari balik pintu, Zeroun, Shabira dan Kenzo juga muncul dan masuk ke dalam kamar Serena.
“Siapa pria ini? kenapa kau membawanya masuk ke dalam kamar Serena?” protes Daniel kepada Zeroun.
Zeroun berjalan mendekati tubuh Daniel, Pria itu berdiri di samping Serena dan Daniel sambil menatap benci kepada pria yang sudah dipenuhi luka itu.
“Kak Erena, pria ini yang kakak maksud bukan?” Shabira menatap benci wajah pria itu.
“Tangan Kanan Big Bos Queen Star.” sambung Shabira lagi.
“Apa ada yang ingin anda katakan? saya rasa anda sudah tahu, kenapa sekarang anda ada di sini,” ucap Serena dengan begitu tenang.
Pria itu mencoba untuk bangkit dari duduknya. Namun, tangan Lukas menahan tubuhnya agar tidak banyak bergerak dan tetap diam di tempat.
“Erena ….” ucap pria itu dengan tatapan menghina.
“Kenapa baru sekarang kau mencariku? apa karena baru sekarang kau menyadari semuanya?”
Serena memalingkan wajahnya memandang wajah Shabira, “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena kalian sudah memberiku seorang adik yang sangat manis.”
Cih! pria itu semakin benci menatap wajah Serena.
“Apa kau pikir Big Boss mengangkatmu sebagai pengganti dirinya itu tanpa tujuan?” Pria itu mulai mengutaran isi hatinya.
“Malam itu, kau yang gadis polos datang untuk meminta bantuan kepada Big Boss agar bisa menjadi wanita jagoan dan tidak mudah di kalahkan. Apa kau pikir itu semua gratis, Erena?” Pria itu tersenyum menyeringai.
“Aku sudah tahu, itu semua tidak akan pernah gratis,” Serena menatap wajah pria itu dengan tatapan membunuh.
“Sejak awal, Big Boss ingin Shabira yang menjadi pemimpin Queen Star untuk kedepannya. Dia berusaha keras untuk membuat Shabira menjadi wanita yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tapi, sayangnya wanita ini tidak pernah bisa menjadi sosok yang ia inginkan. Lalu, malam itu kau datang. Dalam waktu yang cepat, kau bisa menguasai semua teknik menembak yang ia miliki. Kalau saja kau tidak memenuhi kriteria yang big boss inginkan, kau pasti sudah di bunuh sejak dulu.”
“Beruntungnya, kau sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ia mengirimmu ke kota yang sama dengan Zeroun Zein, untuk mengirimmu sebagai orang yang bisa membalaskan dendamnya. Tapi, kau malah menjadi wanita lemah saat bertemu pria itu.” Pria itu menatap wajah Zeroun dengan tatapan kebencian.
“Aku selalu menekanmu untuk membunuhnya bukan? dengan alasan, kalau Zeroun Zein sudah mengetahui identitasmu. Tapi kau tidak juga membunuh pria itu. Kau malah merusak semua rencana big boss dengan membubarkan Queen Star, dan memilih hidup bahagia bersama pria itu. Sungguh menjijikkan.”
Serena mengepal kuat tangannya, saat mendengar semua kenyataan pahit itu. Dengan cepat, Shabira mengeluarkan pistol untuk membunuh pria yang sangat ia benci itu.
“Jangan Shabira!” teriak Serena cepat.
“Kak, sejak awal pria ini sudah mengetahui semuanya. Ia menjadikan kita sebuah boneka mainannya.” Shabira sudah tidak sabar untuk menarik pelatuk pistolnya.
“Jangan Shabira, ada satu hal yang belum aku tanyakan padanya,” ucap Serena lagi.
Shabira menurunkan senjata yang ia miliki, menatap wajah Serena dengan penuh tanya.
“Apa yang belum kakak ketahui, semua sudah jelas. Kalau dia ingin Kakak membunuh Kak Zeroun.”
Serena tersenyum tipis sebelum memandang wajah pria itu lagi.
“Tuan, apa selama ini anda mengikuti hidup saya? bahkan saat saya lupa ingatan?” Mata Serena berubah tajam sebelum ia melanjutkan perkataannya.
“Darimana kau mengetahuinya?” Wajah Pria itu berubah panik.
“Kau pria yang membuat orang yang paling aku cintai meninggal dunia!” Serena mencengram kuat seprei tempat tidurnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu terbelalak kaget saat mendengar pertanyaan Serena.
“Kau memang wanita yang cerdas, Erena.” Pria itu tertawa tanpa beban.
“Ya, aku yang menyebabkan Tuan Wang meninggal. Aku hanya membantunya agar ia cepat mencapai surga. Karena ide konyolnya itu, dia membuat boneka terbaikku ini kembali menjadi gadis lemah tak berdaya.”
Serena kembali ingat, kalau Dokter yang menangani Tuan Wang saat di rumah sakit adalah wajah pria yang sama dengan pria yang kini ada di hadapannya.
Serena memejamkan matanya sebelum menatap wajah Zeroun yang kini berdiri di sampingnya.
“Aku sudah selesai, kau boleh menghabisi nyawanya sekarang, Zeroun.”
Zeroun menatap tajam wajah pria itu dengan penuh kebencian.
“Lukas!” teriak Zeroun dengan penuh kebencian.
Tanpa banyak kata lagi, Lukas menyeret pria itu untuk meninggalkan kamar Serena. Semua orang menatap penuh kebencian kepada pria itu.
“Erena, apa kau marah padaku? kau juga seorang pembunuh Erena, kau tidak bisa menghilangkan kenyataan itu. Kita sama-sama pembunuh!” teriak pria itu dengan penuh bahagia.
Lukas memukul pundak pria itu hingga pria itu tidak sadarkan diri. Dengan begitu ringan, Lukas menyeret pria itu.
“Sayang ….” Daniel memegang tangan Serena. Menatap wajah Serena yang kini dipenuhi kesedihan.
“Aku sudah membunuh Papa. Aku yang menyebabkan Papa meninggal.” Buliran air mata menetes lagi karena kepedihan hatinya.
“Gak sayang, kau bukan pembunuh. Itu hanya masa lalu ….” ucap Daniel dengan lembut.
“Serena, jangan bicara seperti itu. Kau bukan pembunuh, kau malaikat di antara hidup kami semua.” Zeroun juga membantu Daniel untuk membujuk Serena.
“Kak Erena, Kakak jangan sedih seperti itu. Pria itu akan segera mendekati ajalnya dan membayar semua perbuatannya.” Shabira juga merasa kesal dan sakit hati atas pernyataan terakhir pria itu.
Serena hanya diam untuk menahan rasa bersalah yang kini memenuhi isi pikirannya. Meskipun saat ini ia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tapi semua itu masih belum cukup untuk membuat dirinya melupakan semua perbuatannya di masa lalu.
Maafkan aku, Papa ....