Mafia's In Love

Mafia's In Love
Hadiah Wubin



Daniel dan Serena, masih berada di ruang utama. Keduanya duduk di sofa besar, dengan penuh canda tawa.


Hari libur yang di ambil Daniel, benar-benar di habiskannya untuk Serena. Menikmati canda tawa Serena dan kebersamaan yang sempat terlewatkan.


Daniel menarik tangan Serena, dan memeluknya dari belakang, “Serena, apa kau bisa memasak?” Daniel berbisik di telinga Serena, yang kini ada di pangkuannya.


“Aku.” Serena menunjuk wajahnya, “ Aku tidak terlalu pintar memasak. Papa yang sering melakukan hal itu.” Wajah Serena berubah seketika. Pertanyaan Daniel mengingatkan Serena, kepada tuan Wang.


“Jangan sedih. Sekarang kami keluargamu, Serena.” Daniel mempererat pelukannya, “Apa kau mau aku masakkan sesuatu? Setelah berenang, aku sedikit lapar.”


“Kau bisa masak, Daniel?” Serena memandang wajah Daniel, dengan wajah tidak percaya.


“Bukankah masakanku enak. Kau sudah mencobanya waktu itu.”


Serena melepas tangan Daniel, yang melingkari perutnya. Meletakkannya perlahan dan beranjak dari pangkuan Daniel.


“Kapan kau memasak untukku, Daniel?”


“Di Apartemen.” Daniel juga berdiri dan menghadap ke arah Serena, “Nasi goreng spesial.” Mengedipkan sebelah matanya.


Serena kembali mengingat kejadian di Apartemen. Serena diam untuk sesaat, dan tertunduk dalam.


“Sarapan pagi itu.” Serena kembali memandang Daniel.


“Iya sayang, nasi goreng itu yang aku masak.” Daniel tersenyum manis, memandang wajah Serena, “Ayo kita ke dapur, aku akan memasakkan sesuatu untukmu.”


Daniel menggenggam tangan Serena, dan menariknya ke dapur. Baru saja beberapa langkah beranjak dari ruang utama, Daniel dan Serena kembali menghentikan langkahnya.


Duarr...! Duarr...!


Suara tembakan sangat jelas terdengar. Semua pengawal yang berjaga di depan, terjatuh ke lantai.


Daniel menarik tangan Serena, dan membawanya menjauh dari sana.


Serena terus mengikuti langkah Daniel. Namun, pandangan matanya masih terpusat ke arah pintu utama.


“Apa yang terjadi, Daniel?”


Duarr..!


Belum sempat Daniel menjawab, suara tembakan itu kembali muncul. Beberapa orang berseragam hitam-hitam, masuk ke dalam rumah.


Semua pengawal mulai berkumpul. Mengeluarkan senjata masing-masing, dan menghadang penyusup itu untuk masuk.


Daniel mengambil pistol yang tersimpan di pot bunga. Menodongkan pistol itu, ke arah musuh. Daniel menarik Serena, agar berada di belakang tubuhnya.


Daniel terus menembak dengan tangan kanan. Tangan kirinya, menggenggam erat tangan Serena.


"Tetap di situ Serena. Aku akan selalu melindungimu."


Serena hanya diam mematung, kepalanya semangkin terasa sakit. Suara tembakan itu, membuat bayangan masa lalunya kembali muncul.


Hingga Serena kembali jatuh pingsan di sana. Daniel menatap Serena dengan penuh khawatir. Penyusup itu memang mengincar dirinya saat ini. Mereka semangkin dekat ke arah danieldan Serena. Sedangkan beberapa pengawal penghadang, sudah tergeletak di lantai.


Dalam waktu yang bersamaan, Biao dan Tama juga muncul di sana. Bersama beberapa pengawal, yang juga memegang senjata api.


Mereka menyerang dengan cepat, hingga penyusup itu tidak tersisa satupun. Semua penyusup tergeletak di lantai, dalam keadaan tidak bernyawa.


“Panggilkan Adit! Cepat!”


Daniel mengangkat tubuh Serena dan membawanya ke kamar. Tama mengambil handphonenya dengan cepat, dan menghubungi Adit.


Pak Han yang baru saja muncul marena takut, juha berlari mengikuti Daniel. Memperhatikan setiap teteaan cairan berwarna merah, yang memenuhi lantai rumah utama.


Pak Han menghentikan langkah kakinya sejenak, "Apa yang terjadi. Kenapa mereka tiba-tiba menyerang rumah utama."


Sejak pertama kali ia bekerja di rumah utama, belum pernah ada musuh berhasil masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya, penyusup berhasil masuk.


Melihat Daniel yang semangkin menjauh, Pak Han kembali berjalan ke arah kamar Daniel.


“Tama, aku rasa tato di tangan itu menjadi satu petunjuk.” Biao memperhatikan semua tangan penyusup itu. Semuanya memiliki tato dengan bentuk yang sama.


“Apa itu milik Zeroun?” Tama menyamakan tato itu, dengan beberapa foto tato yang tersimpan di handphonenya.


Biao dan Tama terperanjat kaget. Tato itu milik salah satu mafia yang sudah berhasil mereka selidiki. Keduanya saling menatap, sebelum mengeluarkan satu kata yang sama.


“White Tiger.”


Wubin telah kembali. Ia membalaskan dendam Arion. Saat ini, geng mafia White Tiger telah di ambil alih oleh Wubin. Ia akan terus balas dendam, kepada semua musuh yang di benci Arion.


Kematian Arion di sebabkan oleh tuan Edritz. Hal itu membuat posisi keluarga Edritz Chen, tidak akan damai lagi. Serena yang juga menjadi musuh Arion, membuat Wubin terus menyusun rencana untuk menghancurkan Daniel.


Hari ini adalah satu peringatan perang yang di luncurkan Wubin. Ia mengirim beberapa penembak jitunya, untuk menyerang rumah utama. Membuat pertumpahan darah di sana. Hingga hidup penghuni rumah utama, tidak pernah merasa tenang lagi.


Di kamar, Daniel terus menepuk pelan pipi Serena. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


Daniel menatap ke arah pintu, saat Pak Han masuk ke dalam kamar.


“Di mana Adit! Kenapa dia belum tiba!”


Daniel semangkin kesal, saat Adit tidak kunjung muncul di hadapannya.


“Dokter Adit, masih di jalan tuan.” Pak Han membungkuk hormat. Ia sangat mengerti, perasaan Daniel saat ini.


“Serena sayang, bangunlah.” Daniel terus mengusap tangan Serena dan menciumnya berkali-kali. Rasa cinta yang begitu besar, juga menimbulkan kekhawatiran yang tak terhingga.


Langkah Biao dan Tama terdengar begitu jelas. Keduanya berlari cepat, menuju ke kamar Daniel dan Serena.


Tama mendorong pintu dengan gusar, dan masuk dengan napas terengah-engah. Begitu juga Biao, keduanya terlihat begitu sangat panik dan penuh kekhawatiran.


“Tuan. Penyusup itu adalah orang kiriman dari Wubin. Pria yang lolos dari penyekapan kita waktu itu.”


Daniel melepaskan genggaman tangannya dan berdiri dari duduknya. “Wubin?”


“Ya, tuan. Orang yang menjadi kepercayaan Arion. Yang sudah menyerang kita, di vila waktu itu.” Sambung Biao dengan napas yang hampir teratur.


Daniel kembali menatap wajah Serena dengan penuh kesedihan. Baru saja semalam ia bertemu dengan Zeroun Zein dan hampir kehilangan Serena.


Tadi pagi Aldi datang dengan membawa kabar buruk tentang Sonia. Namun, siang ini justru Wubin kembali muncul setelah sekian lama menghilang. Daniel kembali duduk di samping Serena. Menarik tangannya ke dalam genggamannya.


“Bagaimana kau bisa hidup dengan situasi seperti ini, sayang. Apa kau tidak lelah melakukan semua ini. Kau memiliki banyak musuh, Serena. Aku tidak ingin kehilangan dirimu.”


Daniel terus menatap mata Serena, dengan perasaan sedih. Ia tidak lagi memiliki solusi untuk menghadapi semua ini. Daniel memejamkan matanya sesaat, untuk menenangkan pikirannya.


Pak Han, Biao dan Tama juga tertunduk sedih. Keluarga Edritz Chen tidak pernah menggunakan senjata api yang mereka simpan. Bahaya tidak pernah muncul, dalam keluarga harmonis itu.


Tapi sejak Serena masuk, pertumpahan darah terus terjadi. Bahkan hari ini, mereka harus kehilangan banyak nyawa.


Biao melangkah mendekat ke Daniel. Dengan ragu dan penuh pertimbangan, ia memberanikan diri untuk menyampaikan solusi yang muncul di dalam pikirannya.


“Maafkan saya tuan. Tapi saat ini, kita butuh bantuan tuan muda Kenzo. Hanya dia yang selama ini berhadapan dengan para mafia.”


Daniel menatap wajah Biao sesaat, sebelum mengalihkannya ke Serena. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya masih terasa luka dan sulit untuk menerima Kenzo berada di sampingnya.


Tapi rasa cintanya yang besar untuk Serena, mulai meluluhkan hatinya. Ia tidak ingin, Serena terus dalam bahaya.


Daniel menatap wajah Biao dan berdiri dari duduknya.


“Baiklah, aku akan menemuinya.” Memandang wajah Serena lagi, “Semua ini aku lakukan, hanya demi dirimu Sayang.”


Semua orang yang berada di dalam kamar, kembali bernapas lega. Setelah sekian lama permusuhan Daniel dan Kenzo terjadi. Hari ini, demi Serena Daniel mau menerima Kenzo lagi.


Author cma punya waktu, buat satu bab.


Mohon pengertiannya ya. 🤗


Like, Komen dan Vote ya readers...