Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 68



Shabira tersenyum manis melihat Angel yang kini tertidur dengan lelap. Mengelus lembut pipi Angel, dan kembali mengingat foto kecilnya dulu. Shabira mengambil foto yang tersimpan di dalam dompetnya.


“Hanya foto ini yang aku miliki. Sejak kecil, aku sudah di didik untuk menggunakan tembak dan membunuh manusia. Hingga saat besar, aku terlatih untuk menjadi pembunuh bayaran. Tidak pernah berpikir sebelumnya, kalau aku masih memiliki keluarga.” Shabira mengecup lembut pipi Angel.


“Kau juga mengalami hal yang sama denganku bukan? kehilangan Diva saat kau masih kecil seperti ini.”


Shabira memandang pintu yang terbuka tiba-tiba.Wajahnya berseri saat melihat Kenzo yang muncul dari balik pintu itu.


Shabira menghapus air mata yang sempat menetes membasahi wajahnya, “Apa Kak Erena sudah bangun?”


Kenzo berjalan cepat mendekati tubuh Shabira, “Ada apa? kenapa kau menangis sayang?” Kenzo menghapus buliran air mata yang membasahi pipi Shabira.


“Aku, hanya sedih melihat Angel. Ia harus kehilangan Diva saat usianya masih tiga tahun.” Shabira memandang wajah Angel.


“Kita belum mendapat kabar tentang Diva, ada kemungkinan Diva masih selamat.” Kenzo menarik dagu Shabira.


“Jangan sedih lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini.”


Shabira mengukir senyuman penyesalan. “Maafkan aku ….”


Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya, “Aku sangat mencintaimu, Shabira.”


“Aku juga mencintaimu, Kenzo.” Shabira memeluk Kenzo dengan erat. Memejamkan matanya untuk menikmati kebersamaannya saat ini.


Tok … Tok …


Seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Kenzo melepas pelukannya dari tubuh Shabira. Seorang pria bertubuh tegab masuk dan membungkuk hormat di hadapan Kenzo saat itu.


“Selamat siang, Bos. Beberapa musuh masih berkeliaran di kota ini. Mereka masih ingin emnyerang kita. Ini daftar musuh yang saat ini menyerang kita.” Pria itu menyodorkan beberapa foto.


Kenzo menerima foto itu, membukanya satu persatu.


“Tidak ada satupun di antara mereka yang mengenal wajah Kak Erena.” Shabira melipat kedua tangannya.


Kenzo memandang pengawal itu, “Ini hanya musuh kecil. Aku harap kau bisa mengatasinya.”


“Baik, Bos. Saya akan segera mengatasi musuh-musuh ini. Saya permisi dulu, Bos.” Pria itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar Angel.


“Kita harus tetap memperkuat keamanan di rumah sakit ini. Bagaimanapun juga, Rumah Sakit ini berada di negara musuh kita.” Kenzo memandang wajah Shabira.


“Kita harus segera membawa Kak Erena dan Tuan Zeroun kembali ke Jepang. Di sana jauh lebih aman daripada di sini.” Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh harap.


“Aku akan segera mengurus semuanya, setelah Serena dan Zeroun bangun.” Kenzo mengukir senyuman.


“Terima kasih,” ucap Shabira dengan bahagia.


“Apa itu fotomu waktu kecil, sayang?” Kenzo memprhatikan foto kecil yang sejak tadi di genggam Shabira.


“Ya, jika aku benar adik Zeroun Zein. Pria itu pasti mengenali wajah ini.” Shabira memandang fotonya dengan wajah sedih.


“Kita akan segera menanyakan hal ini ketika Zeroun sadar. Apa kau bahagia?” Kenzo memandang wajah Shabira dengan seksama.


“Aku tidak tahu, apa yang kini aku rasakan Kenzo. Kabar ini terlalu medadak. Aku tidak tahu, harus sedih atau bahagia.” Wajah Shabira berubah sedih.


“Apa yang membuatmu sedih, sayang?” Kenzo mengerutkan dahinya.


“Apa aku dibuang waktu masih kecil oleh kedua orang tuaku? kenapa mereka tidak pernah mencariku?” Buliran air mata menetes saat Shabira mengingat perjuangan hidupnya yang begitu berat.


“Jangan bicara seperti itu.” Kenzo menghapus air mata yang menetes di wajah Shabira.


“Kenzo, apa Tuan Zeroun mau memiliki adik seperti diriku?” tanya Shabira dengan perasaan sedih.


“Apa kau sedang menghiburku?” Shabira mengalihkan pandangannya kearah Angel.


“Aku tidak bisa melihatmu sedih seperti ini, Shabira.”


Shabira memandang wajah Kenzo sambil tersenyum, “Aku tidak akan pernah sedih, jika kau selalu ada di sampingku seperti ini.”


Kenzo membalas senyuman Shabira.


Jepang.


Rumah Sakit Adit.


Sonia duduk dengan bersandar di sebuah bantal. Aldi duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur Sonia. Menggenggam tangan Sonia dengan raut wajah khawatir.


“Sonia, apa yang sebenarnya terjadi?” Aldi memandang wajah Sonia terlihat sedih.


“Aldi, kau benar. Aku tidak bisa memaksakan cintaku pada Daniel. Karena cinta, aku menjadi seperti ini.” Sonia menunduk dengan penuh rasa bersalah.


“Apa yang sudah kau lakukan, Sonia?” tanya Aldi dengan penuh rasa penasaran.


“Serena seorang mafia, Aldi. Identitasnya selama ini tidak ada yang mengetahuinya. Aku membongkar identitas Serena untuk membuatnya celaka.” Sonia memandang wajah Aldi dengan beberapa buliran air mata yang menetes deras.


“Seharusnya aku tidak menjadi wanita yang kejam seperti ini. Bahkan Daniel sekarang pergi untuk menolongnya. Bagaimana kalau Daniel juga dalam bahaya.”


Aldi melepas genggaman tangannya, “Apa kau masih mencintai, Daniel? kau masih menyimpan harapan kalau Daniel akan mencintaimu, Sonia?”


“Bukan itu maksudku Aldi,” ucap Sonia pelan.


“Sonia, tadinya aku berpikir kau sudah berubah karena luka itu. Tapi, kau masih saja jahat.” Aldi beranjak dari duduknya.


“Aldi, jangan salah paham. Bukan seperti maksudku. Aku tidak akan mengusik rumah tangga Serena dan Daniel lagi. Tapi, saat ini keselamatan Serena juga terancam. Serena memiliki musuh yang begitu banyak. Semua orang mengira, kalau selama ini Serena sudah tiada. Aku memberi kabar kepada musuh-musuh Serena kalau ia masih hidup. Meskipun hari ini mereka menang melawan wanita itu, tapi masih ada banyak musuh yang mengincar nyawa Serena.”


“Apa kau sudah menyesali semua perbuatanmu, Sonia?” tanya Aldi untuk memastikan perkataan Sonia.


Sonia menganggukkan kepalanya, “Aku harus menemui Serena dan minta maaf padanya.”


Aldi tersenyum bahagia, saat mendengar perkataan Sonia siang itu.


“Aku akan menemanimu untuk menemui Daniel dan Serena. Sekarang, kau harus banyak istirahat dan jangan memikirkan apapun.” Aldi membantu Sonia berbaring di atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Sonia.


“Aldi, temani aku. Jangan tinggalkan aku, aku sangat takut.” Sonia memegang kuat tangan Aldi.


“Aku akan tetap di sini untuk menemanimu, Sonia.” Aldi kembali duduk di kursi itu untuk menemani Sonia.


Ia kembali bernapas lega saat melihat Sonia sudah berubah.


‘Sonia, aku harap kau benar-benar tulus dengan apa yang baru saja kau katakan.


Sonia mulai memejamkan mata. Memegang erat tangan Aldi. Sonia masih trauma dengan penyerangan yang dilakukan oleh Lukas pada malam itu. Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, kalau ia akan berhadapan langsung dengan pembunuh berdarah dingin seperti Lukas.


Bahkan, semua pengawal yang ia miliki juga tidak sanggup melawan Lukas. Meskipun jumlah pengawal Sonia jauh lebih banyak dari pada Lukas. Tapi, Lukas dapat mengalahkan semua pengawal Sonia hanya dengan satu gerakan saja.


.


.


Author Uda bagi Crazy up buat Readers. Bagi Readers yang punya Koin bsa bagi di tips, dan yg cma punya Poin bisa vote.


Terima kasih...😊